Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi tokoh yang paling dia benci
BRAK!
Suara tembakan terakhir menggema di dalam sebuah gudang tua di pinggiran Beijing. Seorang pria bertubuh besar jatuh tersungkur dengan mata terbuka lebar. Darah mengalir perlahan dari dahinya, sementara pistol berperedam di tangan wanita yang berdiri beberapa meter di depannya masih mengepulkan asap tipis.
Wanita itu mengenakan setelan serba hitam. Rambut panjangnya diikat tinggi. Wajahnya cantik, tetapi tatapannya sedingin es.
Namanya... Aurora Veyra.
Di dunia bawah tanah, nama itu adalah mimpi buruk bagi setiap targetnya. Tidak ada satu pun target yang pernah selamat dari cengkeramannya. Tidak pernah ada kata gagal dalam setiap misinya.
Karena dia adalah pembunuh bayaran terbaik di Beijing.
"Misi selesai," gumamnya puas sambil meniup ujung pistolnya.
Ponselnya bergetar.
Pesan itu berasal dari klien yang telah menggunakan jasanya.
Aurora memotret target yang sudah tidak lagi bernyawa. Tak lama setelah foto itu terkirim, ponselnya kembali bergetar. Sebuah notifikasi dari bank menyatakan bahwa uang sebesar lima ratus juta yuan telah masuk ke rekening pribadinya.
"Bagus," serunya sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang di tangannya.
Aurora tahu pekerjaannya memang salah dan sangat berbahaya. Namun, di dunia yang keras ini ia hanya hidup seorang diri. Jika tidak bekerja, maka ia akan mati karena kelaparan.
Baginya, lebih baik membunuh orang daripada harus menghancurkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
Menjadi pembunuh bayaran adalah pilihan yang menurutnya paling tepat daripada harus menjadi wanita penghibur.
Aurora melangkah keluar dari gudang tanpa menoleh lagi.
Di luar, hujan turun cukup deras.
Mobil sport hitam miliknya telah menunggu.
Ia masuk ke dalam mobil, melepas sarung tangan kulitnya, lalu mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya selesai juga."
Aurora mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah.
Sesampainya di apartemen mewahnya di pusat Kota Beijing, Aurora segera mandi dan berganti pakaian menjadi piyama longgar.
Ia membuat secangkir kopi hangat, mengambil sekotak camilan, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk.
"Nyamannya," serunya puas.
Tangannya meraih novel yang sejak pagi belum sempat ia selesaikan.
Judulnya...
Cinta Tulus Raja Mafia.
Aurora sudah mengikuti novel itu selama berminggu-minggu. Kini hanya tersisa satu bab terakhir.
"Semoga ending-nya bagus," harapnya.
Lalu ia mulai membaca.
Awalnya wajahnya masih terlihat santai.
Namun, semakin lama...
Alisnya semakin berkerut.
"Astaga..."
"Apa-apaan ini?"
Ia membaca semakin cepat.
Semakin dibaca, semakin membuatnya kesal.
Tokoh antagonis wanita bernama Shen Yuxin benar-benar membuat emosinya memuncak.
Wanita itu memiliki suami yang nyaris sempurna.
Lu Zhichen namanya.
Raja Mafia yang paling ditakuti di seluruh Beijing.
Tampan.
Kaya.
Setia.
Bahkan rela mati demi istrinya.
Namun, apa balasan Shen Yuxin?
Dia justru menyiksa suaminya tanpa ampun.
Menguras harta suaminya demi selingkuhannya.
Bahkan berkali-kali mencoba membunuhnya demi pria lain.
Aurora menutup novel itu sejenak.
"Dasar wanita bodoh! Kalau aku jadi dia... aku justru akan terus bersikap baik. Yah, tapi mau apa dikata. Dia cuma batu loncatan untuk pemeran utama wanita agar terlihat lebih menonjol," komentarnya sambil menggelengkan kepala.
Aurora kembali membaca hingga bab terakhir.
Di sanalah Lu Zhichen akhirnya menyerah.
Hatinya yang selama ini dipenuhi cinta perlahan berubah menjadi kebencian.
Semua berawal ketika seorang gadis berhati lembut, sahabat Lu Zhichen sejak kecil yang bernama Lin Xiaoran, menyelamatkannya dari penyiksaan Shen Yuxin.
Sedikit demi sedikit...
Hati sang Raja Mafia mulai luluh.
Dia jatuh cinta kepada Lin Xiaoran.
Sedangkan Shen Yuxin...
Wanita itu kehilangan segalanya.
Keluarganya dibuat bangkrut.
Pria yang selama ini ia kejar ternyata hanya memanfaatkan kekayaannya.
Dia bahkan menikah dengan sepupunya sendiri, Shen Meilin.
Dan pada akhir cerita...
Lu Zhichen sendiri yang menembakkan peluru ke dada istrinya.
Kalimat terakhir dalam novel itu membuat Aurora mendengus kesal.
"Aku pernah mencintaimu lebih dari hidupku. Namun hari ini... aku sendiri yang akan mengakhiri hidupmu."
DOR!
Novel pun berakhir.
Aurora menatap langit-langit apartemennya.
"Lumayan... tapi sangat menyebalkan. Kasihan sekali Yuxin. Dia dimanfaatkan habis-habisan oleh pria yang ia cintai dan juga sepupunya sendiri. Lalu harus menanggung akibat dari semua perbuatannya dengan mati di tangan suami yang selama ini selalu ia sakiti," komentarnya lagi.
Saat hendak meletakkan novel itu di atas meja, buku tersebut justru terpental hingga masuk ke bawah meja.
Aurora mendecak pelan.Ia bangkit dari sofa untuk mengambilnya. Namun, lantai masih sedikit basah oleh tetesan air hujan dari sepatunya. "Kyaaa...!" Jerit Aurora menggema.Tubuhnya terpeleset.
BUG!
Kepalanya menghantam sudut meja dengan keras.
Pandangannya langsung menggelap.
Cangkir kopi terjatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Suara sirene ambulans terdengar samar di kejauhan.
Lalu...
Semuanya menjadi sunyi.
Entah sudah berapa lama berlalu.
Aurora perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa sangat sakit.
Namun, yang membuatnya membeku bukanlah rasa sakit itu.
Melainkan langit-langit kamar yang sama sekali asing.
Lampu kristal raksasa.
Tempat tidur berukuran sangat besar.
Perabotan bergaya klasik yang tampak begitu mewah.
Aurora menundukkan pandangan.
Di tangannya tergenggam sebuah cambuk kulit yang ujungnya berlumuran darah.
Sementara di hadapannya...
Seorang pria tampan sedang berlutut.
Punggung pria itu dipenuhi luka cambukan hingga darah merembes membasahi pakaiannya.
Aurora terkejut bukan main.
Ia refleks mundur, lalu melempar cambuk itu ke lantai.
"Apa yang terjadi? Kamu siapa?" tanya Aurora dengan suara bergetar ketakutan.
Belum sempat ia memahami keadaan, kepalanya mendadak terasa seperti dihantam ribuan palu tak kasatmata.
"Aaa... sakit...!"
Rasa nyeri yang luar biasa membuatnya memegangi kepalanya.
Dalam sekejap, kepingan-kepingan ingatan asing menerobos masuk ke dalam benaknya secara paksa.
Kenangan yang bukan miliknya mengalir begitu saja.
Di sisi lain, pria yang tubuhnya telah penuh luka justru menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
Padahal, wanita di hadapannya baru saja menyiksanya tanpa belas kasihan.
Pria itu merangkak menghampiri Aurora yang sedang kesakitan.
Aurora akhirnya mulai memahami situasinya.
Tubuhnya langsung membeku.
Ia telah masuk ke dalam novel yang baru saja selesai dibacanya.
Dan yang lebih buruk lagi...
Ia bukan menjadi tokoh utama, Lin Xiaoran.
Bukan pula tokoh pendukung.
Melainkan menjadi Shen Yuxin.
Tokoh antagonis yang paling ia benci.
Aurora tersenyum pahit.
"Mungkin ini hukuman dari langit."
"Setelah begitu banyak dosa yang kulakukan..."
"Aku justru dikirim ke dunia novel sebagai karakter paling menyebalkan."
"Dari sekian banyak tokoh..."
"Kenapa harus Shen Yuxin?"
Kepalanya kembali terasa semakin berat.
Pandangannya mulai kabur.
Kesadarannya perlahan menghilang.
Dan Aurora kembali jatuh tak sadarkan diri.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁