Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Persinggahan Masa Kecil
Tahun 70-an, Aku sempat tinggal di Semarang mengikuti Bapak yang menjadi mantri di Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang sebelum pindah ke Purwokerto.
Yang kuingat selama tinggal di sana adalah tentang rumah beratap seng tanpa listrik, berdinding papan, beralas tanah yang selalu bocor dan sering kebanjiran kala musim hujan di daerah Karangayu Semarang Barat.
Sering Aku terjaga tengah malam ketika Bapak membangunkan dan tergopoh menggendongku saat air banjir rob mulai menggenangi kampung kami sampai setinggi perut orang dewasa.
Sebelum kami pergi mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, Bapak pasti akan mengangkat Boi, anjing peliharaan kami, dan menaruhnya di atas meja kayu untuk menjaga rumah.
"Boi jangan ditinggal pak." Semula Aku selalu merengek mengkuatirkan nasibnya jika banjir rob mulai menggenangi hunian kampung Karangayu.
Bagusnya Bapak pintar menenangkan-ku, "Boi pintar berenang Pras, dia tidak akan tenggelam. Nanti dia akan menyusul kita jika banjir semakin besar."
Setelah itu, Bapak akan menggendongku ke arah jalan raya yang tak tergenang air rob diikuti Ibu yang membawa obor di belakang Bapak.
Semula Aku takut dengan gelap dan suara binatang malam yang begitu mengerikan menurutku. Bagusnya, Ibu yang sedang hamil adikku pintar mengalihkan rasa takut-ku dengan nyanyian lembutnya sepanjang perjalanan.
Begitulah ketika malam-malam berikutnya kami harus mengungsi lagi karena banjir rob Aku mulai terbiasa dan malah menikmatinya.
Dari nyanyian Ibu, Aku mengenal nama Semarang ketika mendengarkan petikan lagu Jangkrik Genggong yang selalu dinyanyikan Ibu.
" .... Semarang kaline banjir
Ja sumelang ra dipikir
Jangkrik upa saba ning tangga
Malumpat ning tengah jogan
Wis watake priya jare ngaku setya
Tekan ndalan selewengan ...."
Ketika banjir mulai surut yang memungkinkan kami meninggalkan tempat pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing, Aku selalu senang melihat Boi yang selalu kupikirkan di pengungsian berlari mengibaskan ekor saat mendekat menyambut kedatangan kami.
"Boiiiii...!" Teriakku riang setiap kali melihatnya lagi.
Betapa Boi berani sendirian di rumah yang gelap terkepung banjir membuatku kagum dan sangat menyayanginya.
Aku tak tahu kenapa Bapak memberi nama itu, mungkin untuk memudahkannya memanggil saja, karena banyak tetangga kami yang juga memelihara anjing untuk menjaga ayam peliharaan dari biawak yang selalu memangsanya saat malam.
Banyak biawak di sekitar kampung kami. Sarangnya ada di semak belukar rawa-rawa sekitar rumah kami.
Jika libur, Bapak sering mengajak Boi untuk berburu biawak bareng tetangga yang masing-masing juga membawa anjing peliharaannya.
Setiap kali berburu, biasanya cukup banyak yang diperoleh Bapak dan tetangga.
Biawak jantan yang berukuran lebih besar akan diambil minyaknya oleh Ibu dengan menggoreng lemaknya.
Dagingnya digoreng tanpa minyak. Yang menurutku rasanya mirip daging ayam, hanya lebih berminyak.
Tidak semua daging digoreng. Sebagian dijual Bapak bersama minyaknya ke toke tukang obat cina yang sering datang ke kampung kami.
Bapak dulu juga sering mengajakku berburu biawak. Tapi sejak Aku dan Tarman teman mainku jatuh terjengkang ke rawa, Bapak tak mau mengajakku lagi.
"Jangan main air setelah selesai !" Bapak mengingatkan Aku dan Tarman yang akan buang air besar di pinggiran rawa saat Aku mengikutinya berburu Biawak.
Perut kami tiba-tiba saja terasa mulas setelah puas menghabiskan rujak kangkung yang dibawa Tarman. Mungkin karena cabai yang dipakai sudah busuk tergenang banjir rob.
Belum lama kami mencari tempat yang nyaman untuk berjongkok di pinggiran rawa, seekor biawak besar tiba-tiba saja berlari liar ke arah kami.
"Aduh Praaaaas ....!" Teriakan Tarman mengagetkan Aku yang ada di sampingnya.
Biawak tadi menerjang muka Tarman dengan keras, diikuti Boi dan anjing kampung lain yang menyusul mengejarnya.
"Aduuuuh...!" teriak Tarman lagi, tangannya reflek meraih pundakku.
Tak ayal Aku berusaha sekuat tenaga menahan keseimbangan di pinggiran rawa.
Kesialan kami berlanjut saat rumput yang kujadikan pegangan akhirnya tak kuat menahan beban kami.
Akarnya ikut tercabut ketika tangan Tarman malah semakin kuat menarikku saat dia mulai jatuh terjengkang ke dalam rawa terkena terjangan biawak dan anjing-anjing yang terus memburunya tadi.
"Toloooong...!" Aku mulai berteriak panik.
Semuanya menjadi kacau saat Aku dan Tarman menangis meraung-raung ketakutan dengan muka berlepotan kotoran di tengah perkelahian anjing dan biawak yang saling menggigit.
"Hush... hush... hush...!"
Mendengar tangisan dan teriakan kami, orang-orang yang berburu biawak menghampiri kami. Bergegas memisahkan perkelahian biawak dan anjing di kubangan rawa tempat kami jatuh.
Cukup lama Bapak dan para tetangga akhirnya bisa mengangkat kami dari kubangan rawa, setelah mereka berhasil memisahkan anjing-anjing yang tak mau melepaskan gigitannya ketika sudah menerkam buruannya.
Untungnya Aku dan Tarman tidak terluka tergigit biawak atau anjing yang saling menyerang.
Sampai rumah, Ibu memarahi Bapak habis-habisan mengetahui sebab Aku berlepotan kotoran dan sejak itu dia melarangku untuk ikut berburu biawak lagi.
***
Tahun 1975, dua tahun setelah adik perempuanku lahir, Bapak dipindahkan dari Rumah Sakit dr. Kariadi Semarang ke Rumah Sakit Umum Purwokerto.
Perjalanan pertamaku naik mobil antar kota sangat menyiksaku.
Berhimpitan di mobil VW Combi yang penuh barang membuatku mabok dan muntah-muntah ketika memasuki jalanan Wonosobo yang berliku dan naik turun.
Barulah saat tiba di Kretek, kota kecamatan kecil yang masih masuk wilayah Wonosobo, Aku sedikit terbebas dari penderitaan itu.
Di Kretek kami singgah beristirahat di rumah pak Dhe, kakak Bapak yang menjadi polisi di sana sebelum meneruskan perjalanan ke Purwokerto.
"Pras .... " Aku menyebutkan nama panggilanku ketika pak Dhe menanyakannya.
Di belakang rumah dinas pak Dhe banyak pohon murbei yang sengaja ditanam untuk pakan ulat sutra yang dipelihara pak Dhe.
Buahnya yang manis sedikit asam menghilangkan rasa mualku saat anak pak Dhe yang sebaya denganku mengajak memanjat dan memetiknya.
"Yuk kita cari ikan."
Puas menikmati buah murbei, Anton dan Rudi anak kembar pak Dhe mengajakku ke sungai jernih tak jauh dari rumah pak Dhe.
Boi yang ikut dibawa pindah, berlari di depan kami sambil menggonggong keras, mengira akan diajak berburu biawak.
Barulah setelah sampai di sungai yang jernih dan berbatu, Boi menghentikan gonggongannya.
Sungai itu mengalir deras. Airnya terasa dingin seperti es membuatku cepat-cepat naik ke batu besar setelah melewati cebakan mencari tempat melemparkan tali pancing.
"Dapat .... Dapat .... !" teriakku girang.
Baru melemparkan pancing, ikan melem sebesar telapak tanganku berhasil kuangkat.
"Wah, kamu jago juga Pras !" teriak Rudi senang, melihat Aku berhasil mendapatkan ikan.
Tak lama, kami bergantian mengangkat ikan yang menyambar pancing.
Cukup banyak ikan yang kami dapat di sungai itu setelah sekitar satu jam memancing di sana. Ada ikan melem, tawes, dan lele terkumpul di keranjang bambu.
Gunung Sindoro Sumbing di kejauhan yang baru pertama kali kulihat membuatku semakin betah, tak mau cepat-cepat beranjak jika Bapak tidak menyusulku mengajak meneruskan perjalanan.
***
Jika di Semarang Aku tak tahu sama sekali tentang listrik, setelah tinggal di Purwokerto Aku mulai mengenal dan tahu tentang listrik.
Rumah dinas Bapak terletak di pintu belakang selatan Rumah Sakit Umum Purwokerto.
Bangunan tembok bergaya Belanda dengan pintu dan jendela yang tinggi serta lebar.
Atapnya genteng yang menyatu dengan atap rumah dinas bu Mar seorang bidan tetangga kami.
Ruang tamu rumah terbuka separuh, memudahkan siapa saja melihat jalan di halaman depan yang mengarah ke kamar mayat.
Di sebelah Barat halaman depan ada rumah dinas dokter serta bangunan bangsal besar yang masih kosong.
Jadi hanya rumah dinas Bapak dan bu Mar yang terisi saat kami pertama kali menempatinya.
Lampu pijar 110v yang menyala berkedip dari kawat elemennya menjadi hiburanku saat malam.
Menyenangkan berkumpul dengan Bapak, Ibu dan adikku saat makan malam di bawahnya setelah di Semarang Aku terbiasa ditemani lampu teplok minyak tanah ketika berkumpul di malam hari.
***