Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Di lintasan empat, perenang andalan kita... RINDU PRAMESWARI!"
Suara membahana dari pengeras suara stadion akuatik langsung disambut oleh gemuruh sorak-sorai penonton. Spanduk besar bergambar wajahnya dibentangkan di tribun. Di usianya yang baru tujuh belas tahun, Rindu sudah terbiasa dengan semua kebisingan ini. Namun, alih-alih merasa bersemangat, dadanya justru terasa sesak.
Rindu melangkah mendekati balok start lintasan empat. Ia mengenakan baju renang kompetisi ketat berwarna hitam, kacamata renang yang merekat kuat, dan silikon cap yang menyembunyikan rambut panjangnya. Sambil menarik napas dalam-dalam, ia menatap lurus ke arah air kolam yang jernih di depannya. Baginya, permukaan air itu tidak ubahnya seperti sebuah cermin raksasa yang siap menelan seluruh jiwanya hidup-hidup.
Setiap kali kakinya naik dan mencengkeram ujung balok start, Rindu selalu merasakan sensasi yang sama: ia merasa seperti boneka kayu yang talinya sedang ditarik kencang. Ia tidak berdiri di sini karena ia mencintai olahraga ini. Ia di sini karena ia harus menang. Harus. Tidak ada pilihan kedua.
Pip!
Bunyi sensor elektronik tanda dimulainya balapan melengking tinggi.
Rindu melompat. Tubuhnya meluncur mulus ke dalam air, melakukan gerakan streamline yang sempurna tanpa riak berlebih. Di dalam air, semua suara sorakan penonton mendadak senyap, digantikan oleh gemuruh air yang memekik telinga. Rindu menggerakkan kedua lengannya dengan ritme gaya bebas yang cepat dan bertenaga. Kakinya melakukan kick dengan frekuensi konstan, membelah air, memburu dinding kolam di ujung sana.
Tumble turn pertama dilakukan dengan presisi tinggi. Saat tubuhnya berputar dan kakinya menendang dinding kolam untuk meluncur kembali, Rindu melirik samar ke lintasan sebelah. Ia memimpin. Jauh di depan.
Ketika tangannya menyentuh padel sensor di garis finish, Rindu langsung muncul ke permukaan, terengah-engah memburu oksigen. Ia menyibak air di wajahnya dan menoleh ke arah papan skor digital besar di ujung stadion.
RINDU PRAMESWARI - 00:54.21 (NEW NATIONAL RECORD)
Stadion meledak dalam kegemuruhan. Tepuk tangan dan sorakan histeris mengguncang seisi ruangan. Rindu baru saja memenangkan medali emas sekaligus memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri.
Rindu memaksakan sebuah senyuman tipis ke arah kamera yang langsung menyorot wajahnya dari jarak dekat. Ia melambaikan tangan, memenuhi standar formalitas sebagai seorang juara. Namun, ketika ia menyentuh medali emas yang kemudian dikalungkan di lehernya di atas podium, hatinya terasa sangat hampa. Dingin. Logam mulia itu sama sekali tidak menyalurkan rasa hangat atau kebahagiaan ke dalam dadanya.
Kemenangan ini bukan miliknya. Ini milik nama besar yang dipikulnya. Kegembiraan palsu itu benar-benar lenyap begitu Rindu melangkah masuk ke dalam rumah megah keluarga Prameswari malam itu. Rumah itu sunyi, mewah, namun terasa mencekam seperti museum.
Di ruang keluarga, sang ayah, Baskoro Prameswari, sudah duduk di kursi kebesarannya sambil menatap layar gawai yang menampilkan berita kemenangan Rindu. Di sampingnya, sang ibu tiri, Diana, sibuk menyesap teh dengan senyum anggun yang penuh kepalsuan.
"Selamat atas rekor barumu, Rindu," ujar Baskoro tanpa mengalihkan pandangan dari gawainya. Suaranya berat, datar, tanpa ada nada kebanggaan seorang ayah yang tulus.
"Terima kasih, Ayah," jawab Rindu pelan, berdiri kaku di dekat pintu dengan tas ransel olahraga yang masih menggantung di pundaknya.
Baskoro meletakkan gawainya ke atas meja kaca, lalu menatap Rindu dengan tatapan menuntut yang amat familiar. "Tapi Ayah lihat catatan waktumu di 50 meter pertama tadi agak melambat dibanding latihan bulan lalu. Kamu beruntung lawanmu malam ini tidak dalam kondisi prima."
Rindu mengepalkan jarinya tersembunyi di balik lipatan jaket. Aku baru saja memecahkan rekor nasional, Ayah, teriak Rindu dalam hatinya. Namun, bibirnya tetap terkatung rapat.
"Bulan depan ada Kejuaraan Terbuka Internasional," lanjut Baskoro dingin. "Saham perusahaan olahraga kita sedang dipantau investor. Kemenanganmu di sana dengan catatan waktu yang lebih tajam akan sangat membantu citra positif keluarga dan bisnis kita. Ayah sudah bicara dengan pelatihmu, target berikutnya adalah memangkas waktu satu detik lagi. Kamu tidak boleh lengah sedikit pun."
"Tapi, Ayah... Rindu baru saja selesai berkompetisi. Fisik Rindu—"
"Tidak ada alasan, Rindu," potong Diana, ibu tirinya, dengan suara lembut yang beracun. "Ayahmu melakukan ini semua demi masa depanmu juga. Lagipula, apa gunanya fasilitas mewah yang diberikan keluarga ini kalau kamu tidak bisa memberikan timbal balik yang sepadan? Jangan buat nama Prameswari malu di tingkat internasional nanti."
Kata-kata itu menghantam dada Rindu seperti hantaman ombak yang keras. Kamar tidurnya yang berada di lantai dua terasa begitu jauh, dan malam ini, beban di pundaknya terasa berkali-kali lipat lebih berat daripada saat ia berdiri di atas balok start tadi siang. Rindu hanya bisa menunduk, menelan bulat-bulat rasa kecewa dan rindu akan sosok hangat yang bisa memeluknya dengan tulus tanpa memedulikan berapa banyak angka rekor yang sudah ia pecahkan.
**
Sinar matahari sore itu terasa menyengat di area parkir kompleks olahraga universitas. Suara raungan knalpot motor sport mahasiswa lain bersahut-sahutan, namun sebuah motor matik berwarna hitam standar melaju dengan tenang membelah keramaian parkiran.
Pengendaranya adalah Kenzo Adhyaksa.
Ia mengenakan jaket pelatih berwarna biru dongker dengan logo jurusan Olahraga di dada kiri, celana training hitam, dan sepatu lari yang sudah agak memudar warnanya. Di punggungnya, sebuah ransel besar tampak penuh, menyembunyikan laptop yang berisi draf skripsi bab empat yang revisinya tiada akhir, bersama dengan peluit, stopwatch, dan beberapa berkas cetak panduan latihan.
Kenzo memarkir motor matiknya di sudut yang agak teduh, di bawah pohon asana. Setelah melepas helm halfface-nya, ia mengacak rambutnya yang sedikit berantakan karena angin jalanan. Kulitnya sawo matang, khas seseorang yang menghabiskan separuh hidupnya di bawah terik matahari dan uap kaporit kolam renang.
Siapa pun yang melihat penampilannya yang super kasual bahkan cenderung terlalu sederhana ini tidak akan pernah menyangka bahwa Kenzo adalah pewaris tunggal dari Adhyaksa Sport Center, jaringan bisnis retail dan fasilitas olahraga terbesar. Jangankan membawa mobil mewah pemberian ayahnya, Kenzo lebih memilih menyisihkan uang dari bonus kemenangannya di Kejurnas tahun lalu untuk merawat motor matik second-nya ini. Bagi Kenzo, bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa embel-embel nama keluarga adalah sebuah kemewahan yang sesungguhnya.
"Woi, Zo! Baru datang?" sapa seorang mahasiswa sealmamater yang kebetulan lewat.
"Yo. Mau langsung ke kolam," jawab Kenzo singkat sambil menyampirkan tali ranselnya ke pundak.
Beberapa anggota UKM lain yang sedang melakukan pemanasan di lantai mes langsung menoleh. Suasana yang tadinya fokus berubah menjadi santai. Sebagai atlet senior yang rekornya di tingkat mahasiswa belum terpecahkan, Kenzo adalah sosok yang sangat disegani sekaligus asyik untuk diajak bercanda.
”Dari mana Lo Nzo” tanya Gani yang merupakan sahabat Kenzo.
"Habis dari ruang dosen. Biasa, setor nyawa bab empat," jawab Kenzo sambil terkekeh pelan, berjalan mendekati tepi kolam tempat Gani berada.
"Gila, muka lo emang kelihatan kurang tidur banget, sih. Tapi gaya tetap anak motor matik ya," sahut srikandi UKM renang bernama Citra, disambut tawa oleh yang lain. Citra naik dari kolam, mengambil handuk, lalu menatap map jepit yang dipegang Kenzo. "Eh, BTW, seriusan lo mau ngelatih sore ini? Bukannya jadwal lo sengaja dikosongin minggu ini buat fokus skripsi?"
Kenzo mendudukkan diri di balok start kosong sambil menggantung kakinya ke bawah. "Ada tugas khusus dari dosen pembimbing. Kebetulan ada atlet luar yang mau numpang latihan privat di sini beberapa minggu ke depan. Jadi, gue diminta buat pegang."
Gani langsung tertarik. Ia menopang dagunya di tepi kolam dengan wajah penasaran. "Atlet luar? Siapa? Anak pelatda atau gimana? Wah, beruntung banget tuh orang dapet pelatih sekelas lo. Gratis ilmu tingkat dewa."
Kenzo hanya tersenyum misterius, tidak langsung menyebutkan nama calon atletnya.
"Cuma anak SMA kok. Lagi rada turun performanya, jadi butuh suasana baru," jawab Kenzo santai, berusaha meredam rasa penasaran teman-temannya. Ia kemudian melirik jam dinding besar di atas tribun.
"Udah, lo pada lanjut latihan sana. Jangan malas-malasan, bentar lagi ada Rektor Cup. Malu-maluin kalau piala kita direbut universitas sebelah."
"Siap, Coach!" sahut anak-anak UKM serempak sambil tertawa. Mereka kembali menyeburkan diri ke air, menyisakan Kenzo yang kini berdiri, menatap ke arah pintu masuk kaca kolam renang.
Kenzo Adhyaksa tertawa pelan melihat kelakuan teman timnya dan junior-juniornya. Ia mendudukkan diri di tepi kolam renang indoor universitas, membiarkan kedua kakinya yang jenjang menggantung dan bermain air. Ia baru saja meletakkan ransel besarnya yang sarat akan beban hidup mahasiswa tingkat akhir alias draf skripsi bab empat yang penuh coretan dosen pembimbing.
Meskipun statusnya adalah mahasiswa semester tua yang sedang dikejar deadline kelulusan, aura Kenzo sebagai atlet aktif tidak bisa disembunyikan. Tubuhnya tegap dengan otot-otot terlatih khas seorang perenang profesional yang menghabiskan ribuan jam membelah air. Kulit sawo matangnya tampak kontras dengan air kolam yang jernih kebiruan.
"Zo, asli, lo nggak capek apa?" Gani sekaligus sahabatnya yang sekarang menjadi ketua UKM Renang yang baru, berenang mendekat dan bertumpu pada tepi kolam di sebelah Kenzo. "Pagi buta lo udah latihan fisik sendiri, siangnya bimbingan rohani sama dosen killer, sorenya masih sempat ke kolam buat mantau kita. Stamina lo terbuat dari apa, sih?"
Kenzo terkekeh, tangan kanannya terangkat untuk mengacak rambutnya yang setengah basah. "Stamina gue terbuat dari tuntutan bapak kos, Gan. Kalau gue nggak lulus semester ini, bisa digusur gue."
"Halah, sok-sokan miskin lo! Padahal kalau lo mau, lo tinggal jentikkan jari juga seisi kompleks olahraga ini bisa lo beli," sahut Rio yang baru saja muncul dari permukaan air sambil membenarkan kacamata renangnya.
Kenzo hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi lelucon Rio. Anak-anak UKM memang tahu kalau Kenzo berasal dari keluarga kelas atas yang memiliki jaringan bisnis olahraga raksasa, Adhyaksa Sport Center. Namun, mereka juga sangat menghormati Kenzo karena cowok itu sama sekali tidak pernah menyombongkan diri atau menggunakan fasilitas keluarganya.
Kenzo memilih hidup mandiri di kos-kosan sederhana dekat kampus, naik motor matik, dan membiayai kuliahnya sendiri dari bonus-bonus kemenangan kompetisi renang yang ia ikuti. Bagi Kenzo, prestasi yang diraih dari keringat sendiri jauh lebih berharga daripada warisan keluarga.
"Eh, tapi serius, Zo," Gani kembali membuka suara, wajahnya berubah agak serius. "Gue denger dari dosen jurusan, lo diminta megang atlet privat ya minggu ini? Siapa, sih? Gue masih penasaran, Anak pelatda?"
Kenzo mengambil peluit yang menggantung di lehernya, memutarnya dengan jari dengan gerakan santai. "Bukan, cuma anak SMA. Udah dibilangin tadi gak nyambung banget sih lo, Katanya lagi drop mentalnya, jadi butuh suasana latihan yang beda dari klub asalnya."
"Gila, beruntung banget tuh anak dapet pelatih sekelas lo," Citra menimpali sambil naik ke permukaan kolam dan mengambil handuknya. "Pemegang rekor kejurnas, level International berturut-turut, belum terkalahkan, merangkap pelatih muda paling prospektif di kampus. Kalau gue jadi dia, gue bakal sujud syukur."
"Lebay lo, Cit," Kenzo tertawa lepas, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Sifatnya yang ramah dan tidak kaku inilah yang membuat seluruh anggota UKM Renang begitu menyukainya. Kenzo tidak pernah menempatkan dirinya sebagai "senior dewa" yang tak tersentuh.
Ia kemudian berdiri, meniup peluitnya sekali dengan nyaring untuk mengumpulkan perhatian seluruh anak UKM.
"Udah, jangan banyak gosip! Ayo lanjut latihan lagi. Gani, pimpin menu latihan interval short rest gaya bebas 4x100 meter. Gue mau ke meja depan bentar, mau meriksa data anak SMA itu sebelum dia dateng," perintah Kenzo tegas namun tetap santai.
Kenzo menarik sebuah kursi plastik di dekat meja depan, mendudukinya dengan santai sambil membuka map jepit yang sejak tadi dipegangnya. Ia membalik halaman pertama yang berisi lembar disposisi dari dosen pembimbingnya, lalu menjumpai lembar profil utama sang atlet.
Begitu matanya tertuju pada foto dan barisan teks di lembar tersebut, gerakan tangan Kenzo terhenti. Sepasang matanya menyipit, membaca baris demi baris informasi dengan saksama.
Seketika, dahi Kenzo mengernyit dalam.
"Nggak salah nih?" gumam Kenzo pelan, nyaris tak terdengar di antara riuh suara kecipak air kolam di belakangnya.
Ia memajukan posisi duduknya, menatap tidak percaya pada nama yang tertera di sana dengan huruf kapital tebal: RINDU PRAMESWARI.
Sebagai atlet renang aktif yang selalu mengikuti perkembangan dunia akuatik nasional, Kenzo tentu tidak asing dengan nama itu. Rindu Prameswari adalah sang "Ratu Lintasan". Gadis ajaib berusia 17 tahun yang baru saja memecahkan rekor nasional gaya bebas beberapa waktu lalu. Beritanya ada di mana-mana, wajahnya menghiasi halaman depan media olahraga, dan video lompatannya dari balok start menjadi bahan analisis di berbagai klub renang.
Kenzo bersandar kembali ke kursinya, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran map dengan ritme teratur. Pikirannya berputar cepat.
**
“Kamu ini niat berenang atau cuma mau berendam, Rindu?!" Suara menggelegar dari Pelatih Hermawan, pelatih lamanya, malam itu membuat seisi fasilitas latihan mendadak senyap. Papan jalan (kickboard) plastik dilemparkan ke lantai dengan keras hingga menimbulkan bunyi bising yang memekakkan telinga.
Rindu yang saat itu masih berada di dalam air, bertumpu pada tali lintasan dengan tubuh gemetar karena kelelahan, hanya bisa menunduk dalam-dalam. Air kolam yang menetes dari rambutnya bercampur dengan air mata yang mati-matian ia sembunyikan di balik kacamata renangnya yang buram.
"Catatan waktu kamu melambat dua detik dari rekor nasional bulan lalu! Dua detik di dunia renang itu jaraknya sejauh benua, Rindu!" Pelatih Hermawan berkacak pinggang di tepi kolam, menatap Rindu dengan pandangan sarat kekecewaan. "Ayahmu sudah investasi besar untuk fasilitas kamu. Sponsor sudah antre. Tapi performa kamu malah memalukan seperti ini hanya karena alasan 'stres'? Atlet profesional tidak punya waktu untuk stres!"
Di belakang Pelatih Hermawan, ayahnya berdiri dengan wajah sedingin es, melipat tangan di dada tanpa berniat membela putri kandungnya sedikit pun. Tatapan menghakimi dari sang ayah jauh lebih menyakitkan daripada bentakan sang pelatih. Bagi mereka, Rindu bukan lagi seorang anak atau manusia; ia adalah mesin pencetak rekor yang sedang rusak dan tidak memenuhi target.
"Kalau mental kamu selemah ini, kamu tidak akan pernah bisa mempertahankan posisi nomor satu!" kalimat terakhir Pelatih Hermawan malam itu benar-benar meruntuhkan sisa-sisa rasa percaya diri Rindu.
“Atlet profesional tidak punya waktu untuk stres...” Kalimat beracun itu terus berbisik di telinga Rindu hingga detik ini.
—bersambung—