Di balik megahnya dinding Kerajaan Sanjaya, sebuah takdir kuno mulai terbangun. Pangeran Ares, sang pewaris takhta yang gagah namun menyimpan misteri di balik rajah di lengannya, terikat janji suci sejak balita untuk bersanding dengan Princess Ciara. Perjodohan ini bukan sekadar urusan politik, melainkan segel yang menjaga keseimbangan dua kerajaan besar.
Namun, bayang-bayang masa lalu mulai mengusik saat Naomi, seorang anak pelayan istana yang sederhana, menyimpan rasa yang tak seharusnya pada sang Pangeran. Kehadiran Naomi bukan sekadar bumbu cinta segitiga biasa; ada rahasia gelap dalam darahnya yang perlahan mulai memanggil kekuatan rune terlarang.
Tiga nasib terjalin dalam bayang-bayang masa lalu. Akankah Ares memilih kewajiban demi kedamaian kerajaan bersama Ciara?
Ataukah perasaan tulus Naomi akan menjadi kunci untuk menghancurkan kutukan yang selama ini menghantui Sanjaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema di Balik Pualam
Terik matahari di Kerajaan Sanjaya hari ini terasa berbeda. Bukan panas yang menyengat, melainkan atmosfer yang berat oleh ekspektasi. Karpet merah beludru sepanjang seratus meter telah dibentangkan dari gerbang utama hingga tangga pilar pualam istana. Wangi bunga sedap malam dan melati menyeruak, dipadukan dengan kilauan baju zirah perak para pengawal yang berdiri kaku bak patung.
Di balik jendela kecil di paviliun pelayan yang letaknya tersembunyi, Naomi mencengkeram bingkai kayu dengan buku jari yang memutih. Matanya yang tajam tertuju pada iring-iringan kereta kencana berlapis emas yang baru saja memasuki pelataran.
"Naomi, menjauh dari jendela itu sekarang juga!" Suara ibunya, Martha, terdengar parau namun penuh penekanan.
Naomi tidak bergeming. "Kenapa, Ibu? Apa karena aku hanya anak pelayan, aku bahkan tidak boleh melihat bagaimana 'tamu agung' itu menginjakkan kaki di sini?"
"Ini demi kebaikanmu," ayahnya menimpali sambil menutup tirai kusam itu dengan kasar, memutus pandangan Naomi. "Keluarga Kerajaan Putri Ciara datang untuk meresmikan ikatan. Suasananya sedang tegang. Jika kau terlihat berkeliaran di area sayap barat, kepala kita taruhannya."
"Katakan saja ayah takut aku akan merusak pemandangan indah mereka!" teriak Naomi. Amarahnya meluap, membakar dadanya. Ia tidak tahan dengan kenyataan bahwa di sana, di pusat perhatian, Pangeran Ares pasti sedang berdiri menunggu dengan wajah datarnya yang angkuh namun mempesona.
Di tangga utama istana, Pangeran Ares berdiri mematung. Jubah hitam dengan sulaman benang emas membungkus bahunya yang lebar. Wajahnya tenang, namun matanya yang gelap seolah menyimpan badai yang tertahan. Di sampingnya, Raja dan Ratu Sanjaya tersenyum lebar, menyambut kereta kencana yang berhenti tepat di depan mereka.
Pintu kereta terbuka. Seorang gadis turun dengan keanggunan yang tampak sangat alami, seolah-olah bumi memang diciptakan untuk dipijaknya. Princess Ciara. Gaun sutranya yang berwarna biru langit berdesir halus ditiup angin, serasi dengan mahkota kecil yang bertahtakan berlian di kepalanya.
Raja Sanjaya melangkah maju, merentangkan tangannya. "Selamat datang, Putri Ciara. Kehadiranmu membawa cahaya bagi kerajaan kami yang temaram ini."
Ciara menunduk hormat, gerakan lehernya sehalus angsa. "Terima kasih atas sambutan yang luar biasa ini, Yang Mulia. Kerajaan Sanjaya selalu memiliki kehangatan yang tidak dimiliki tempat lain."
Pandangannya kemudian beralih pada Ares. Ciara tersenyum tipis, sebuah senyum yang sudah dilatih sejak ia bisa bicara. "Pangeran Ares, senang melihatmu lagi setelah sekian lama."
Ares maju satu langkah, meraih tangan Ciara dan mengecup punggung tangannya singkat, sebuah formalitas dingin yang tak tersentuh emosi.
"Senang melihatmu tetap sehat, Putri. Mari, orang tuaku sudah menyiapkan perjamuan di dalam."
Di paviliun pelayan, Naomi menendang kursi kayu hingga terjungkir. Suara tawa samar dari arah aula utama terdengar sampai ke telinganya, seolah mengejek nasibnya.
"Perjodohan konyol," desis Naomi. Air mata kemarahan mulai menggenang. "Dia hanya boneka cantik yang datang untuk mengambil apa yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya."
"Naomi, jaga bicaramu!" Martha mendekat, mencoba menyentuh bahu putrinya, tapi Naomi menepisnya dengan kasar.
"Ibu tidak mengerti! Sejak kecil aku yang ada di sini. Aku yang melihatnya berlatih pedang sampai tangannya berdarah, aku yang tahu rahasianya! Tapi karena setetes darah bangsawan itu, dia berhak memilikinya?"
Naomi kembali menyibakkan tirai sedikit saja. Ia melihat Ares dan Ciara berjalan berdampingan memasuki pintu besar istana. Di mata orang awam, mereka adalah pasangan sempurna dari negeri dongeng. Namun di mata Naomi, itu adalah awal dari perang yang siap ia kobarkan, meski ia harus membakar dirinya sendiri dalam prosesnya.
"Silakan nikmati pesta kalian hari ini," gumam Naomi dengan suara rendah yang bergetar. "Karena setelah ini, aku tidak akan membiarkan langkahmu tenang di istana ini, Ciara."
Suasana di dalam aula utama Kerajaan Sanjaya berubah menjadi lautan kemewahan yang menyesakkan. Denting piala perak yang beradu dengan botol anggur tua menciptakan simfoni kemakmuran yang bagi sebagian orang terdengar seperti melodi surgawi, namun bagi yang lain, itu hanyalah kebisingan yang memuakkan. Lampu gantung kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya lilin ke segala penjuru, menyinari wajah-wajah bangsawan yang bersembunyi di balik topeng keramahan.
Pangeran Ares duduk di kursi tinggi di sebelah ayahnya, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang merayap di tengkuknya. Di hadapannya, Princess Ciara sedang memotong daging rusa dengan gerakan yang sangat presisi, seolah setiap potongan adalah bagian dari protokol kenegaraan yang tak boleh cacat sedikit pun.
"Kau tampak sangat pendiam malam ini, Ares," ujar Raja Sanjaya dengan suara berat yang memenuhi meja panjang itu. Beliau menyesap anggurnya, matanya menatap tajam putra tunggalnya. "Bukankah ini hari yang kita nantikan? Penyatuan dua garis darah terkuat di tanah ini bukan sekadar urusan ranjang, tapi soal keabadian dinasti."
Ares meletakkan garpunya tanpa suara. "Aku hanya sedang berpikir, Ayah. Apakah keabadian dinasti selalu harus dibayar dengan kebebasan yang dirampas?"
Meja itu mendadak hening. Princess Ciara menghentikan gerakannya, matanya yang biru jernih menatap Ares dengan ketenangan yang mengusik. Ia tidak tampak tersinggung, justru terlihat seperti seorang penonton yang sedang menikmati pertunjukan yang menarik.
"Kebebasan adalah kemewahan bagi rakyat jelata, Pangeran," sahut Ciara dengan suara lembut namun setajam sembilu. "Bagi kita, kewajiban adalah napas. Jika kau mencari kebebasan, kau salah memilih tempat untuk lahir."
Ratu Sanjaya tertawa kecil, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai membeku. "Putri Ciara benar. Lihatlah betapa serasinya kalian. Ares, berikan sedikit perhatian pada calon pengantinmu. Berikan dia tur singkat ke taman gantung setelah perjamuan ini."
Ares tidak menjawab. Pikirannya melayang jauh keluar dari aula yang pengap oleh wangi parfum mahal ini. Entah mengapa, ia teringat pada sudut-sudut gelap istana, tempat di mana ia sering melarikan diri dari tekanan takhta. Ia teringat pada Naomi, gadis yang selalu menatapnya dengan binar mata yang jujur, bukan dengan tatapan penuh perhitungan seperti yang ia terima malam ini.
Sementara itu, di lorong gelap yang menghubungkan dapur dengan sayap utama, Naomi berdiri mematung di balik pilar besar. Ia telah berhasil menyelinap keluar dari paviliunnya setelah orang tuanya terlelap. Dengan napas yang memburu, ia mengintip melalui celah pintu aula yang sedikit terbuka.
Pemandangan itu menghancurkan hatinya. Ia melihat Ares yang duduk bersisian dengan Ciara. Meski Ares tampak dingin, bagi Naomi, jarak yang hanya beberapa inci di antara mereka adalah penghinaan bagi setiap detik yang pernah ia habiskan untuk memperhatikan sang Pangeran dari kejauhan.
"Kau tidak pantas di sana, Ciara," bisik Naomi, suaranya nyaris tenggelam oleh riuh rendah percakapan di dalam. Jemarinya mencakar dinding batu yang kasar hingga kukunya terasa perih. "Kau hanya datang saat meja sudah tertata rapi. Kau tidak tahu bagaimana rasanya membersihkan debu di setiap langkah yang dia ambil."
Tiba-tiba, seorang pengawal melintas di ujung lorong, membuat Naomi terpaksa menarik diri ke dalam kegelapan yang lebih dalam. Amarahnya kini bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih dingin dan berbahaya. Ia tahu ia tidak punya mahkota, tidak punya wilayah kekuasaan, dan tidak punya dukungan tentara. Namun, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Ciara: pengetahuan tentang setiap rahasia yang tersembunyi di balik tembok Sanjaya, termasuk rahasia tentang tanda hitam yang seringkali ditutupi Ares di bawah lengan bajunya.
"Jika aku tidak bisa memilikinya karena kasta," gumam Naomi sambil menatap tangannya yang kasar akibat kerja keras, "maka aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa memilikinya dengan tenang. Kerajaan ini dibangun di atas kontrak darah, dan aku tahu cara menuntut bayarannya."
Di dalam aula, Pangeran Ares tiba-tiba meremas lengannya sendiri. Ia merasakan denyutan aneh di balik kain sutranya, seolah-olah tato rune yang tersembunyi di sana bereaksi terhadap kebencian yang sedang membara di luar pintu aula. Ia menoleh ke arah pintu, namun yang ia dapati hanyalah bayangan yang melintas cepat, meninggalkan aroma samar tanah basah dan keringat yang sangat ia kenali.
Siapakah yang lebih berbahaya? Putri yang datang dengan perjanjian tertulis, atau anak pelayan yang membawa dendam yang tak terucapkan? Malam itu, perjamuan tetap berlanjut, namun di bawah permukaan yang tenang, retakan pertama pada fondasi Kerajaan Sanjaya mulai muncul.