kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat tersembunyi
BAB 1: Niat Tersembunyi
Sinar matahari sore yang mulai merunduk merambat masuk, menyelinap licin di celah-celah jendela. Cahayanya yang berwarna jingga keemasan jatuh memanjang di lantai kayu, berpadu syahdu dengan rintik hujan yang mengetuk atap, menciptakan melodi tenang yang seolah ingin menidurkan dunia.
Namun, di sudut ruangan itu, Indra duduk terpaku di kursi kayunya yang tua. Sesekali ia menyeruput kopi yang sudah mulai dingin, namun pandangannya kosong, menembus kaca jendela seolah mencari jawaban di balik kabut tipis di luar sana.
Indra menghela napas panjang, desahan berat yang seakan membawa seluruh beban dunia keluar dari dadanya. Perasaannya berkecamuk hebat. Di satu sisi, jantungnya masih berdegup kencang, teringat akan wajah wanita yang membuatnya merasa begitu hidup, sekaligus menghancurkannya berkeping-keping.
Perlahan ia meletakkan cangkirnya. Lalu tangannya terulur meraih ponsel di sampingnya. Jari-jemarinya mendadak kaku saat layar menyala.
Di sana, tersenyum manis seorang wanita berambut panjang yang tampak anggun dalam balutan gaun merah.
Dalam hati ia mengakui, luka yang dulu tergores begitu dalam belum juga kering seutuhnya. Namun anehnya, rasa cinta itu justru tumbuh semakin ganas, semakin membelenggu.
Menatap lekat foto itu, bibirnya bergerak pelan, berbisik penuh tekad sekaligus ancaman, "Aku nggak akan pernah menyerah... Kalau cara biasa nggak bisa memilikimu, maka biarlah cara lain yang bekerja."
Sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum hangat, melainkan seringai tipis yang penuh misteri, mengubah wajah teduhnya menjadi sesuatu yang asing dan menakutkan.
Keesokan harinya, kabut tipis turun menyelimuti senja. Angin berhembus pelan membelai rimbunnya bambu, membuat dedaunan saling bergesekan menghasilkan suara desis yang mistis, seakan alam sendiri sedang memberikan energi baru bagi niatnya.
Indra menarik napas dalam-dalam, mencoba memantapkan hati. Ia harus yakin; jalan yang ia pilih ini adalah satu-satunya harapan, bukan sekadar keputusan gegabah.
Dengan penampilan yang sudah tertata rapi dan ransel yang bersandar kokoh di punggung, ia melangkah penuh keyakinan. Matanya menatap lurus ke arah motor yang terparkir rapi di halaman rumah. Tepat sebelum kunci diputar, ia menyempatkan diri mengecek kembali isi tas dengan teliti. Tangannya merogoh ke dalam, mengeluarkan sebuah benda yang terbalut kain putih, memastikan segala sesuatunya lengkap dan aman, agar perjalanan kali ini bisa berjalan lancar tanpa halangan.
Brummm...
Mesin menderu. Ia memacu motornya menjauh, menuju sebuah desa di pinggiran kota. Di balik kaca helm, keraguan sempat singgah, namun bayangan wajah wanita itu dan rasa sakit di hatinya kembali melintas, membakar habis segala keraguannya.
Setelah menempuh perjalanan dua jam, meninggalkan jauh kebisingan kota yang selama ini menyesakkan, ia akhirnya berhenti di depan sebuah rumah tua. Bangunan itu masih sangat kental dengan nuansa tempo dulu, perpaduan cat biru muda dan putih yang mulai memudar menciptakan suasana tenang, namun menyimpan banyak cerita.
Indra turun, melepas helmnya perlahan. Tangannya saling mencengkeram kuat, buku-buku jarinya memutih—usaha keras untuk menekan rasa gugup yang menggelitik ulu hati.
Ia menatap pintu kayu yang sudah gelap dimakan usia. Jantungnya berpacu.
Tok... tok... tok...
"Permisi... Assalamu’alaikum!" serunya, berusaha membuat suaranya terdengar lantang dan percaya diri.
Hening. Hembusan angin adalah satu-satunya jawaban untuk beberapa detik yang terasa seperti jam.
Hingga akhirnya, suara berat terdengar dari balik dinding, "Waalaikumussalam."
Kreeeeeek...
Suara engsel pintu yang berderit memecah kebisuan. Pintu terbuka sedikit, menampakkan sosok pria muda hanya berbaju kaos. Awalnya pria itu menatap datar, namun seketika matanya membelalak.
Kehadiran Indra bagai disambar petir di siang bolong. Pria itu terpaku di ambang pintu, seolah melihat hantu atau bayangan masa lalu yang bangkit dari kubur. Sudah bertahun-tahun Indra tak pernah menampakkan batang hidungnya di sana, sehingga kedatangannya hari ini terasa mustahil.
"Indra...?" suara pria itu berat, bergetar menahan kaget.
Indra hanya tersenyum tipis, meski di balik jaketnya, jantungnya berdegup kencang bak hendak meledak. Ia menatap teman lamanya itu dengan tatapan yang sulit diterjemahkan—campuran antara harap, takut, dan tekad bulat.
"Apa kabar? Maaf, aku datang tiba-tiba," ucapnya pelan, nyaris berbisik.
Pria di ambang pintu itu masih terpaku, tak bergeming. Seolah waktu berhenti berputar, matanya tak lepas menyisir wajah di depannya, berusaha menemukan sisa-sisa kenangan dari sosok sahabat yang telah bertahun-tahun menghilang bagai ditelan bumi.
"Ini beneran Indra, kan?" seru pria itu—Agus—suaranya bergetar, sekali lagi memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi atau melihat hantu.
Di hadapannya, Indra hanya diam mematung. Ia menyaksikan betapa terkejutnya teman lamanya menyambut kedatangan yang tak diundang ini.
Keheningan panjang itu akhirnya mencair saat sebuah pelukan hangat menyambar tubuhnya. Pelukan erat yang melepaskan ratusan hari kerinduan, menyatukan kembali ikatan persahabatan yang sempat putus lama.
Mereka pun melangkah masuk. Ruangan itu bernuansa klasik, interior kayu yang terawat seolah menjaga cerita masa lalu yang tetap utuh.
Indra duduk di salah satu kursi kayu, sementara Agus beranjak sebentar ke dapur. Indra termenung, bingung harus mulai dari mana. Rahasia besar yang ia bawa terasa begitu berat di pundak.
Tanpa ia sadari, Agus sudah kembali membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan beberapa toples kue kering.
"Silakan diminum, Dra... Maaf, cuma ini yang bisa aku suguhkan," ujar Agus sambil meletakkan nampan di meja kayu di antara mereka.
"Oh, tidak apa-apa, Gus. Ini sudah lebih dari cukup," sahut Indra cepat, tangannya tergesa mengambil gelas, seolah mencari sesuatu untuk dipegang dan digunakan untuk menutupi kegugupannya.
Lagi dan lagi, kebisuan menyelimuti ruangan. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar nyaring, tik... tok... tik... tok..., seolah sengaja menghitung detik-detik kecanggungan yang mencekam. Lidah mereka terasa kaku, mulut terkunci rapat. Seakan ada dinding tak kasat mata yang terbentuk karena jarak dan waktu yang terlalu panjang memisahkan mereka, membuat udara di ruangan itu terasa berat dan sesak.
"Maaf, Gus..." Suara Indra akhirnya memecah keheningan, sedikit bergetar. "Sebelumnya... Tujuanku datang ke sini... Aku mau minta tolong sama kamu."
Belum tuntas kalimat itu terucap, Agus sudah menyambar cepat. "Minta tolong apa, Dra?" Matanya menyorot tajam, tubuhnya mencondong ke depan, dengan rasa penasaran yang memuncak.
Terpotong begitu saja membuat Indra makin gugup. Ia berdeham keras, menelan ludah, berusaha merangkai kata-kata yang tepat.
"A-aku... Mau kamu temani aku ke suatu tempat," ucapnya terbata-bata.
"Ke mana? Terus mau ngapain?" sahut Agus cepat. Nadanya terdengar datar, namun sorot matanya tak pernah berkedip menatap Indra, seolah sedang menginterogasi.
Indra terdiam. Jari-jarinya memutar gelas dengan gelisah, ragu untuk menjawab jujur. Tatapan Agus terlalu tajam, seolah mampu mengupas habis semua rahasia yang ia sembunyikan.
Bagaimana mungkin aku mengaku? batin Indra pilu. Mengatakan bahwa ia butuh bantuan paranormal demi urusan hati, hal ini sama saja seperti menghancurkan harga dirinya sendiri. Ia yakin Agus akan menganggapnya gila, atau malah menolak mentah-mentah.
"Sudah, simpan dulu pertanyaannya, Gus," potong Indra akhirnya, berusaha mengalihkan topik. "Nanti kalau sudah sampai, aku ceritakan semuanya."
Agus terdiam. Ia mengangguk pelan, mencoba menelan rasa penasarannya. Meski kepalanya penuh tanda tanya besar, ia memilih untuk mengalah. Baginya, kehadiran Indra kembali adalah hal terpenting. Ia tak ingin rasa ingin tahunya justru merusak momen sebagus ini.
"Jadi... kapan kita berangkat?" tanya Agus akhirnya.
Pertanyaan itu seolah melepaskan beban di dada Indra. Wajahnya seketika cerah.
"Kalau bisa, hari ini juga!" sahutnya penuh semangat, matanya berbinar liar.
Agus mengerutkan kening. "Harus sekarang juga? Nggak bisa ditunda sampai besok?" ucapnya memastikan. Dalam hati ia bergumam, Anak ini sebenarnya kenapa? Ada angin apa gerangan?
Namun, perlahan kecanggungan itu mulai luntur. Ambisi Indra yang membara bertemu dengan ketenangan Agus, mengalir seperti air yang kembali menemukan jalannya. Obrolan demi obrolan terjalin kembali, hingga tanpa mereka sadari, jarum jam telah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dua jam telah berlalu, saking asyiknya mereka berbincang.
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar yah😁
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁