Jeslin seorang wanita cantik dan baik hati,harus mengorbankan Cita - cita nya untuk menjadi seorang pelukis setelah menyelesaikan kuliah S1 nya.
Iya harus turun kedunia bisnis demi keinginan sang Ayah,karena ia adalah putri satu - satu nya.
Suatu hari,Perusahaan Ayah nya menjalin Kontrak Bisnis dengan sebuah perusahaan seorang pria yang sangat ia kenal.
Pria yang bernama Max,yang selalu membuat nya kesal dengan panggilan gadis jutex akhir nya berhasil membuat nya merasakan jatuh Cinta,tapi siapa sangka,setelah ia sudah menaruh hati nya pada Max,pria itu tiba - tiba berubah karena sebuah alasan.
Akan kah Max dan Jeslin dipersatukan di sebuah pernikahan.Yuk Disimak Kisah perjalanan Jeslin dan Max.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01 - Prolog
...kelanjutan Kisah Suami Pilihan Papa2...
Dimalam yang sunyi
Seorang wanita sedang duduk menatap keluar Jendela,mata nya melihat ke langit - langit malam yang di penuhi bintang - bintang Kecil.dengan sebuah lukisan di tangan nya.
Jeslin.
Seorang Gadis yang di kenal cantik dan juga periang yang sedang duduk menatap Keluar jendela.
Hari ini ia sangat sedih karena tak mampu meraih cita - cita nya menjadi seorang pelukis karena di tuntut Ayahnya untuk meneruskan perusahaan keluarga nya.
Setelah menyelesai kuliah nya dan mengambil Gelar S1,ia masih ingin bermain - main dan tidak ingin cepat turun kedunia bisnis.Memasuki Bulan 3 setelah kelulusan nya,Jeslin masih belum memberi keputusan kapan ia akan bergabung di perusahan itu.
Ia kadang menghabiskan hari nya dengan melukis dan bersantai dengan kedua sahabat nya Kinan dan Joana.
Ayah nya terus bertanya kapan ia akan bekerja di perusahaan,membuat Jeslin merasa Risih dan terus kepikiran perkataan Ayah nya.
Saat ia sedang melamun,dering telefon berbunyi.
Jeslin bangkit dari duduk nya dan mendekati ponsel nya yang terletak di samping tempat tidur.Ia melihat Nama sahabat nya menghubungi nya.
"Iya Kin." Kata Jeslin.
"Kau sedang apa Jeslin?,apa kau sudah tidur?." Tanya Kinan.
"Belum,Hanya sedang bersantai,kau sendiri lagi apa?,Bagaimana keadaan keponakan ku didalam perut mu itu?" Tanya Jeslin tersenyum.
"Baik,apa kau mau bicara dengannya?" Tanya Kinan.
"Emangnya bisa?"
"Bisa,setelah dia lahir nanti." jawab Kinan dan tertawa bersama.
"Kau ini,menelepon ku hanya ingin membuat aku tertawa dan membangunkan tetangga ku?." Kata Jeslin kembali tertawa dan mengeleng - geleng kan kepala.
"Ada apa Kinan?,Tidak biasa nya kau menghubungi ku malam - malam begini?" lanjut Jeslin.
"Haha,Aku hanya ingin memberi tahu mu,kalau lusa ada Pameran Lukisan di gedung Suan,Aku pikir kau belum tahu,jadi aku coba menghubungi mu." Jelas Kinan.
"Benarkah?,Aku memang belum tahu Kinan,aku pasti akan datang." Jawab Jeslin.
"Aku tahu kau pasti menyukai nya." Kata Kinan.
"Kau sudah seminggu tidak datang,Apa kau sudah bekerja di perusahaan Ayah mu?" Tanya Kinan lagi.
"Belum Kin,aku hanya sedang malas saja untuk keluar." Jawab Jeslin.
"Main lah kerumah Jes,aku merindukan mu." Kata Kinan.
"Benarkah?,Aku juga merindukan mu." Balas Jeslin.
"Besok aku akan datang Kin,kau mau makan apa,biar ku belikan saat aku menuju kesana?." Tanya Jeslin.
"Aku hanya ingin kau datang saja,aku merindukan mu dan Joana,tapi Joana sekarang sudah sibuk dan tidak ada waktu untuk ku lagi,selagi kau belum bekerja aku ingin bisa menikmati hari dengan mu." Kata Kinan.
"Baiklah Kin,aku besok Akan datang." Jawab Jeslin.
Setelah mengobrol beberapa saat dengan Kinan di telefon,Jeslin pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Sembari melihat lukisan pemandangan yang ia lukis,membuat ia kembali bersedih lagi karena tidak bisa menjadi seorang pelukis yang menjadi mimpi nya dari ia remaja.
"Mungkin aku harus menguburkan Mimpi ku untuk menjadi seorang pelukis,Papa dan Mama juga tidak menyetujui nya,andai kan aku punya Kakak laki - laki,aku tidak perlu harus dipaksa untuk memimpin perusahaan Papa,aku sangat tidak menginginkan posisi itu, bahkan aku kuliah pun harus mengambil Jurusan Bisnis." Gumam Jeslin.
Ia pun memejam kan mata nya sembari memeluk lukisan milik nya dan ia pun terlelap tidur.
.
.
.
.
.
Bersambung