Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Perjodohan
"Ranum, saya sudah melihat biodata dirimu. Saya tahu kamu gadis baik-baik, dan saya sangat mengenal mendiang kedua orang tua mu." ucap Pak Barra lembut namun mantap.
Setelah Pak Barra, menceritakan tentang kedekatannya dengan mendiang kedua orangtua Ranum, lalu Pak Barra kembali berkata.
“Saya harap kamu bisa menerima keputusan saya. Saya ingin berterima kasih karena sudah menolong saya. Jadi… terimalah cucu tunggalku. Aku ingin kau menjadi istrinya.”
Kalimat Pak Barra seharusnya hanya candaan berat, tapi sayang. Pria paruh baya itu serius, tak ada canda dalam nada bicaranya.
Dan...
Kalimat itu terjadi baru satu jam yang lalu pagi ini.
Kini.
Ranum Haura, seorang gadis desa yang baru pertama kali menapak kota besar untuk mengikuti interview di sebuah perusahaan farmasi, justru terjebak dalam perjodohan tak terduga.
Semua karena Ranum telah menolong Pak Barra pagi ini. Pak Barra sesak nafas dan Ranum memberikan titik pijat refleksi hingga membuat Pak Barra kembali bernafas.
Dan pria yang akan dijodohkan dengannya adalah cucunya, Brams Satria Ravendra.
“Ranum, ini rumah yang akan kau tinggali bersama Brams,” ucap Pak Barra.
Ranum hanya bisa menatap rumah megah di hadapannya, napas tercekat.
“Tapi… saya tidak bisa, Pak,” jawab Ranum gugup, suaranya nyaris hilang.
Pak Barra tidak memberi ruang untuk menolak. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk membawa Ranum masuk.
Dalam sekejap, Ranum digiring masuk.
“E-eh… Pak Barra, tunggu, sa-saya...”
“Masuklah, Nak, kita bicara di dalam.” potongnya lembut namun tegas. “Dan cucuku pasti akan suka melihatmu.”
Ranum semakin gugup, saat memasuki ruang makan besar yang sunyi.
Hanya ada satu pria duduk di sisi meja panjang. Brams Satria Ravendra.
“Brams?” panggil Pak Barra.
Brams menoleh.
Namun yang ia tatap bukan kakeknya, melainkan Ranum Haura.
Tatapan itu seolah menilai setiap detail dirinya dalam tiga detik.
Hijab coklat susu.
Pakaian sederhana.
Wajah ayu namun gugup.
Hanya tiga detik, lalu Brams bergumam datar, “Ada apa?”
Pak Barra melangkah maju, berdiri di sisi Ranum.
“Brams,” ucapnya pelan tapi tegas, “ini Ranum Haura. Gadis yang menyelamatkan Kakek pagi tadi. Karena dia, nyawa Kakek masih panjang.”
Ranum buru-buru menunduk, menyapa tanpa suara, kedua tangannya menggenggam erat.
Brams tidak langsung menjawab.
Alih-alih menunjukkan ekspresi dingin seperti sebelumnya, bahunya justru naik turun, ia tertawa kecil.
Bukan tawa hangat. Melainkan tawa sinis.
“Tunggu, Kakek serius?” Ia mengusap sudut matanya.
"Ya. Dan kakek ingin menjodohkan gadis ini dengan mu." Ucapnya tegas.
Brams terkekeh.
Ia menatap Ranum sekali lagi, lebih lama, kali ini dengan sorot mata nakal namun merendahkan.
Tatapannya seperti berkata. Kau? Serius?
Brams mencondongkan tubuh sedikit, senyumnya miring.
“Ranum Haura, ya?”
Suara Brams rendah, tajam, dan terlalu santai untuk situasi sepenting itu.
“Kau benar-benar tipe yang… tidak pernah terpikirkan akan muncul di depan pintu Ravendra.”
Ranum meremas jemarinya. Ia berusaha tetap sopan, tapi wajahnya mulai memanas.
Brams menyeringai.
“Gadis desa, berhijab coklat… dengan wajah... Hmm... Pas-pasan”
Ia menatap Ranum dari ujung kaki sampai kepala.
Ranum menggigit bibir bawah, tersinggung.
“Maaf, saya memang dari desa. Tapi saya tidak pernah meminta Anda—”
Brams mengangkat tangannya, memotongnya.
“Sst… jangan tersinggung dulu.” Senyum nakal itu muncul lagi.
“Aku cuma… mencoba memahami selera Kakek ku akhir-akhir ini.”
Ranum sontak mendelik kecil, diam tapi jelas jengkel. Dirinya di sindir selera kakek-kakek. Tentu Ranum geram.
Dan Brams melihat reaksi itu, lalu terkekeh pelan.
“Wah, galak juga rupanya.”
Ia menyentuh dagunya seolah menilai barang antik.
“Lucu. Tapi… tetap tidak cocok untukku.”
Pak Barra menatap cucunya dengan tatapan peringatan.
Sementara Ranum menunduk, rahangnya menegang, antara ingin kabur, atau melempar sendok ke wajah tampan pria itu.
"Menikahlah dengan Ranum, Brams,” tegas Pak Barra. “Akhiri masa lajangmu. Kau harus punya penerus.”
Brams memejamkan mata sebentar, lalu tertawa kecil, dingin, tanpa kehangatan sedikit pun.
“Baik,” katanya sambil meletakkan sendok. “Aku akan menikahinya. Puass?” ucap Brams lagi dingin.
Ranum membelalak lebar. Batinnya kacau.
Baru saja ia dihina, dan kini pria itu menerimanya?
Kenapa?
Brams menoleh pada kakeknya.
“Apa gadis ini bekerja?”
“Dia akan menjadi ibu rumah tangga,” jawab Pak Barra tanpa ragu. “Mengurusmu. Dan anak-anakmu.”
Ranum langsung tersedak ludah.
“Anak-anak?!” gumam Ranum.
Brams pun tersedak air minum. Air memercik ke kemejanya.
“Ahh… sial.” Ia berdiri sambil menarik kerah kemejanya yang basah.
Pak Barra mengibaskan tangan. “Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Semua sudah Kakek putuskan. Sekarang mari kita sarapan dengan tenang.”
“Tidak. Kakek sarapan saja sendiri,” sahut Brams cepat.
Lalu.
Tanpa peringatan, Brams menatap Ranum dan mendekat.
“Calon istriku harus mengurus diriku,” ucapnya datar namun penuh tekanan.
Tangannya langsung meraih pergelangan Ranum, menariknya menuju tangga lantai dua.
“Hei! Lepaskan! Aku belum setuju!” Ranum berusaha melepaskan tangan Brams, wajahnya panik.
Namun Brams tak menggubris.
Ranum masih sempat membungkuk pada Pak Barra sambil ditarik.
Sementara itu, Pak Barra hanya tersenyum tipis, senyum puas seorang kakek yang tahu rencananya berjalan mulus.
Bersambung....
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu