NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 MENENTUKAN TARGET

"Dasar kau gadis bodoh," teriak seorang gadis sambil menjambak seorang gadis yang sedang terduduk lemah di lantai.

"Segera buatkan aku lukisan!sebentar lagi akan ada pameran untuk karya karyaku!" tegas gadis yang bernama Alisha sambil menampar wajah gadis yang sekarang tengah ketakutan.

Gadis itu hanya meringkuk ketakutan, memegangi pipinya yang memerah lalu disebelahnya pelayan dari gadis lemah itu mencoba untuk menolong sang majikan.

"Sudah nona, kasihan nona Seyna. Nanti akan saya katakan kepada nona Seyna agar segera membuat lukisan itu," ucap pelayan dari seorang gadis yang bernama Seyna.

Alisha yang mendengar perkataan pelayan itu segera berdiri melepaskan tangannya dari rambut Seyna, lalu berdiri sambil menatap tajam ke arah Seyna.

"Dasar bodoh, jika lukisan itu tidak siap kau yang akan ku bunuh dan ku hajar habis habisan."

Seyna hanya menatap Alisha datar ia tidak menunjukan ekspresi apapun yaang membuat Alisha kesal dan segera pergi meninggalkan Seyna.

"Ayo nona, saya bantu obatin luka ini," ucap pelayan Seyna yang bernama Risa.

"Tidak usah, luka kecil ini tidak begitu ngaruh diwajahku. Aku sudah melalui luka luka yang jauh lebih besar dari ini," ucap Seyna sambil mencoba berdiri dan mengambil kuas lukis nya yang sudah berserakan di lantai karena amukan dari Alisha.

"Kenapa nona hanya diam saja saat ditindas dan pura pura bodoh?"tanya Risa.

"Bukan kah lebih baik nona menunjukan hal yang seharusnya mereka lihat."

Seyna hanya terdiam menatap ke arah canvas itu, ia hanya menggoreskan kuas mewarnai canvas putih itu mencoba melampiaskan kesedihan dan kekesalannya kepada canvas itu.

"Walau pun aku melawan, sama saja aku yang akan babak belur dihajar habis habisan oleh mereka," ucap Seyna lirih tanganya masi fokus menggoreskan tinta di canvas putih itu.

"Lagi pula jika aku pura pura bodoh seperti ini, mereka tidak begitu memperhatikanku. Aku harus bertahan sebentar lagi disini, sampai besok aku menemukan seseorang yang bisa menjadi batu pijakanku."

Risa hanya mengangguk anggukan kepalanya sembari menatap ke arah lukisan yang sudah setengah jadi itu, lalu menghela napas panjang.

"Apakah nona sudah menemukan seseorang itu?"tanya Risa.

Mendengar pertanyaan itu Seyna menoleh menatap ke arah Risa pelayan yang selalu menemaninya.

"Kamu ingat perkataan Alisha, tentang pria yang akan dijodohkan dengan dirinya?"

Risa mengangguk seolah paham siapa pria itu. "Apakah nona mau mendekati pria itu?"

"Mungkin, tapi aku mau mencari pria yang memiliki kekuasaan tertinggi agar bisa mudah membantuku membalaskan dendam."

Risa hanya mengangguk mendengar perkataan Seyna. Hening sesaat menyelimuti ruangan itu, hanya suara kuas yang kembali menyentuh kanvas.

"Risa," panggil Seyna pelan tanpa menoleh.

"Temui Rayan malam ini."

Risa menatap Seyna heran. "Tuan muda?"

"Ya," jawab Seyna datar.

"Pastikan dia baik-baik saja. Aku tahu mereka masih menjadikannya alat untuk mengancamku. Aku tidak mau hal itu terulang lagi. Bawakan beberapa makanan ini untuknya pasti mereka juga memperlakukan adikku dengan tidak baik."

Risa menunduk, suaranya pelan. "Baik, nona. Aku akan menjaganya."

"Dan jangan biarkan siapa pun tahu kamu pergi menemuinya. Kalau ada yang bertanya, bilang saja kamu ke gudang mengambil cat."

Risa mengangguk sekali lagi lalu beranjak pergi, meninggalkan Seyna sendirian di ruang itu.

Seyna menatap kembali ke arah kanvasnya. Lukisan itu kini terlihat semakin gelap, goresan kuasnya membentuk sosok yang tenggelam di antara api dan darah.

Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.

"Ini akan jadi awal dari segalanya," bisiknya lirih.

"Setelah semua yang mereka lakukan, sudah saatnya aku membalasnya satu per satu."

Selang beberapa jam, sebuah ketukan terdengar dari arah pintu kamarnya dan muncul seorang wanita paruh baya dari balik pintu tersebut.

"Seyna, segera ikuti ku!" ucap wanita paruh baya yang bernama Reni yang tak lain adalah bibi dari Seyna.

Seyna tanpa berkata apa apa segera berdiri lalu tersenyum seperti anak kecil yang menyambut bibinya datang.

"Ki-kita mau..kemana bibi?" ucap Seyna seperti anak kecil.

Reni hanya menarik kasar tubuh Seyna agar berjalan cepat ke arah ruang makan yang sudah ada keluarga dari paman dan bibinya. Sesampainya disana Seyna hanya berjalan pelan sambil menatap sekeliling seperti seorang anak kecil yang sedang melihat lihat hal baru.

"Cepat makan Seyna!" ucap sang paman yang bernama Dirga.

Seyna hanya mengangguk lalu segera duduk di sebelah sepupunya. Ia segera mengambil piring dan mengambil berbagai makanan.

"Dasar gadis bodoh dan rakus," sindir Alisha.

Seyna hanya tersenyum polos seperti anak kecil lalu segera menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lahap. Gerakannya cepat, berantakan, dan tanpa sopan santun sengaja ia lakukan agar terlihat seperti gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa.

Reni hanya mendengus kesal, sementara Alisha menatapnya dengan tatapan sinis seolah tidak suka. Namun keheningan itu tak berlangsung lama ketika suara berat sang paman, Dirga, terdengar memecah suasana.

"Besok, saat pesta berlangsung, kau diam di kamar," ucap Dirga dingin tanpa menatap Seyna.

"Jangan berani membuat ulah atau mempermalukan keluarga ini."

Seyna tak menjawab, masih berpura-pura sibuk dengan makanannya. Ia menunduk, memainkan sendoknya di atas piring seolah tak paham maksud ucapan itu.

Tiba-tiba Dirga menghantam meja dengan keras, membuat gelas-gelas di atasnya bergetar. Suaranya menggema di seluruh ruangan.

Seyna tersentak kaget, tubuhnya menegang. Ia mendongak pelan, menatap ke arah pamannya dengan mata yang sedikit bergetar, namun di balik tatapan itu, ada sesuatu yang lain sebuah api kecil yang ia sembunyikan rapat.

"Aku ulangi," suara Dirga meninggi.

"Besok kau diam di kamar! Mengerti?"

Seyna menelan ludah, lalu tersenyum kaku seperti anak kecil yang ketakutan.

"U-uh… iya, paman. Seyna janji diam di kamar."

Dirga hanya mendengus, lalu kembali fokus ke makanannya. Suasana meja makan pun kembali sunyi, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.

Seyna menunduk, tapi di balik senyum samar di wajahnya, ada kilatan dendam yang menari di matanya.

"Besok mungkin aku diam di kamar," batinnya dingin.

"Tapi setelah itu… kalian semua yang akan diam untuk selamanya."

Saat mereka selesai makan, suara Raihan terdengar menggema diruangan itu.

"Ayah, saya sudah mengundang Kael Adikara untuk datang," ucap Raihan sambil meletakan sendoknya.

"Kael?orang terkaya itu?"tanya Dirga kedua bola matanya berbinar seolah menemukan sebuat target.

Raihan mengangguk seolah mengiyakan perkataan sang ayah, lalu melanjutkan perkataannya.

"Sebaiknya jika Kael datang kita harus menyambutnya, lagi pula jika kita bisa mendekatkan diri kepada keluarga Adikara kita pasti akan mudah meningkatkan perusahaan."

Seyna hanya terdiam sambil memainkan sendok di piringnya ia pura pura tidak mendengar ucapan itu, tetapi di dalam hatinya ia harus berusaha mendekat kepada Kael Adikara.

.....

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!