"Kau berasal dari masa depan kan?" Ucapan Nares membuat Yarana diam. Bagaimana bisa Nares mengetahui hal itu?-Yarana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Staywithme00, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Detektif yang terlempar dizaman kerajaan
Bab 1
“Kau berasal dari masa depan bukan?” Nares bertanya dingin juga dengan tatapan mata yang tajam.
“A-apa maksudmu, aku tidak mengerti?” Yarana berlagak tidak tahu. Yarana menjawab Nares dengan mengalihkan pandangannya.
“Jangan berpura-pura, kalau kau mau kembali kedunia nyata, maka kau harus mengikuti instruksi dariku.” Nares membuat Yarana diam tak berkutik. Yarana ingin mengelak tapi ia butuh bantuan untuk kembali ke masa depan.
“Benar, aku dari masa depan. Dan aku harus kembali untuk menyelesaikan tugasku disana.” Yarana menatap lekat pria itu, tatapannya penuh rasa harap.
****************
Detektif Fara sedang mengejar seorang pembunuh berantai yang telah membunuh 5 orang, korban-korbannya ada yang merupakan manusia lansia berjenis kelamin laki-laki, 2 orang perempuan berusia 17 tahun, dan 2 orang anak laki-laki berusia 5 tahun. Pembunuhan ini dilakukan dengan motif yang sangat tidak masuk akal. Pembunuh mengincar para korban yang memiliki rentang usia yang berbeda-beda sebab ingin menguji coba adrenalinnya ketika membunuh korban dengan karakteristik yang berbeda, sungguh kejam dan tak berperikemanusiaan.
Setelah mengamati barang bukti dan mendapatkan tempat keberadaan pelaku, detektif Fara dan salah satu detektif lainnya yaitu detektif Pio juga dengan beberapa orang polisi mengepung rumah pelaku.
1..
2..
3..
Beberapa anggota polisi masuk mendobrak pintu rumah tersebut. Ruangan rumah itu sangat gelap dan berbau amis darah. Tak ada satupun lampu yang menyala. Para anggota polisi pun menyalakan senter yang mereka bawa, dan mengecek ruangan satu persatu. Detektif Fara dan detektif Pio menunggu di mobil dinas mereka, berjaga-jaga bila pelaku akan melarikan diri.
“Detektif, sepertinya pelaku melarikan diri. Tak ada tanda-tanda kehadiran pelaku.” Salah seorang polisi menghubungi dua detektif yang sedang berjaga ini melalui walki-talkie.
“Baik informasi diterima.” Detektif Fara dan detektif Pio paham. Kini tugas kedua detektif itu mengamati keadaan sekitar. Dua detektif ini berjalan berkeliling komplek perumahan tersebut. Lampu-lampu jalan menyala di tengah kegelapan malam. Dua detektif ini berlarian kesana kemari berusaha mencari keberadaan pelaku.
“Huh! Tidak mungkin dia pergi jauh. Pasti pelaku berada disekitar sini.” Detektif Fara menoleh kekanan dan kekiri, ia yakin pasti tersangka tak jauh dari tempat terakhir pelaku dilacak.
“Sepertinya, tersangka sudah melarikan diri Far. Jadi kita tak akan mungkin menemukannya.” Detektif Pio mencoba berpikir dengan realistis. Tersangka ini pasti tak akan mudah ditangkap pikirnya.
Detektif Fara terus saja melihat kesekeliling.
“Kenapa lampu jalan sensor disana menyala?” Tanya detektif Fara , karena merasa ada yang janggal dari tempat yang berjarak 20 meter darinya. Detektif ini hapal betul area mana yang menggunakan lampu jalan yang memiliki sensor gerak.
“Kau benar, hanya manusia atau hewan yang membuat lampu tersebut menyala.” Detektif Pio memiliki kecurigaan yang sama dengan detektif Fara. Mereka berdua menuju tempat dengan lampu sensor yang menyala itu. Langkah demi langkah mereka mencoba mendekat seraya menggenggam senjata , untuk berjaga-jaga.
Trangg..
suara tong sampah yang terjatuh. Rupanya pelaku tersebut bersembunyi dan mengawasi pergerakan aparat yang datang menangkapnya.
“Kejar! Itu tersangka! Kau menuju kearah kanan, sedang aku menuju kekiri. Kita akan mengepungnya.” Detektif Fara memberikan arahan, ia berlari sekencang mungkin mengejar pelaku. Tak lupa ia juga mengabari seluruh anggota polisi yang ada dilokasi. Benar dugaan, pelaku berlari kearah kiri, detektif Fara mengejarnya. Pelaku tersebut melompat disebuah pagar rumah yang tinggi lalu berlari keluar melewati pagar yang ada dibelakang rumah. Detektif Fara juga menyusul dengan meloncati pagar-pagar itu, ia terus mengejar pelaku. Sampailah pelaku pada sebuah jalan buntu.
“Berhenti, angkat tanganmu. Kalau tidak, aku akan menembakmu!” Detektif Fara melepaskan sebuah tembakan sebagai tanda bahwa dirinya sudah menemukan pelaku.
“Hahaha!"Tawa kejam penjahat tersebut menggema.
"Detektif bodoh sepertimu, mau menangkapku?” Pelaku ini justru mengarah kembali mendekat kepada detektif pemberani ini, untuk menantangnya.
“J-jangan maju. Atau saya akan menembak.” Detektif Fara memperingatkan pelaku kejahatan ini dengan sebuah ancaman. Dirinya berani-berani saja untuk melepaskan atau bahkan memukul sang pelaku, hanya saja ia telah mendapat teguran sebanyak 13 kali dikarenakan memukul tersangka-tersangka yang kasusnya ia tangani. Maka dari itu, bila ia melakukannya lagi, ia akan diberhentikan sementara walaupun kinerjanya sangat baik.
“Begitu melihat ini. Kau tidak akan berani mengarahkan senjata itu padaku!” Ancamnya lagi. Pelaku ini menunjukkan sebuah video yang ada diponselnya. Sebuah video yang berisikan anak kecil kisaran 7 tahun yang sedang diculik.
“Kalau kau menembakku sekarang, kalian tidak akan pernah mendapatkan lokasi anak ini. Dan yah, anak ini akan mati kelaparan diruangan gelap ini.” Pelaku ini tidak akan semudah itu ditangkap. Karena ancaman tersebut mempertaruhkan nasih seorang bocah kecil, detektif pun mulai menurunkan pistolnya.
Setelah detektif Fara menurunkannya, ia melalukan negosiasi dengan pelaku.
“Baik kalau begitu, sekarang serahkan dirimu dengan damai.” Detektif Fara mengeluarkan sebuah borgol.
Baru hendak merogoh saku celananya untuk mengambil borgol, penjahat ini sudah lebih dahulu memukul detektif Fara dengan sebuah kayu dan mengambil alih pistolnya.
Arggh...
Ringis detektif saat kayu mengenai kepalanya.
"Keparat!” Detektif Fara berusaha untuk menyerang balik. Ketika ia sudah berhasil berdiri dan ingin menyerang, pelaku ini justru mengarahkan pistol miliknya.
“Selamat bermimpi indah.”
"Sampai jumpa, detektif bodoh!"
Dorrr..
Pelaku melepaskan sebuah peluru yang mengarah kejantung detektif wanita itu. Detektif Fara terjatuh diatas tanah beraspal di komplek perumahan yang sempit. Dengan kondisi jantung yang terus mengeluarkan darah, detektif berusaha mempertahankan kesadarannya dengan membuka mata. Tapi, perlahan-lahan keheningan dan kesunyian menghampiri dirinya. Hingga, membuatnya tanpa disadari mulai menutup matanya.
Haah..
Detektif terbangun dengan nafas tersengal.
Beberapa saat setelah detektif Fara tertembak,kini ia berada di sebuah kamar yang sangat asing dan begitu indah, layaknya kamar seorang putri.
“Aa-apa aku sudah berada dialam lain.” Ujar detektif Fara yang baru terbangun ini.
“Apa ini adalah akhirat?” Gumamnya lagi seraya berusaha untuk duduk diatas kasur empuk. Ditatapnya sekeliling bangunan tersebut.
“Benar, sepertinya aku berada dialam akhirat. Pembunuh sialan, bisa-bisanya dia menembakku.” Ujarnya menyimpulkan sendiri. Mana ada manusia yang tetap hidup setelah jantungnya ditembak dengan sebuah peluru. Ia pun melangkahkan kakinya di lantai kamar tersebut. Tak lama ada yang mengetuk pintunya.
"Eh, kakiku masih menapak dilantai ruangan." detektif merasa sangat heran.
Tok..tok..tok..
“Apa ada yang menyusulku kealam akhirat juga?” Wanita linglung ini bertanya-tanya mungkinkah ada seseorang yang menyusulnya mati, hingga ada mengetuk pintu ruangan tempat dirinya berada.
“Ya, masuklah!” Ia mengizinkan orang yang ada didepan pintu untuk masuk tanpa tahu siapa orang yang mengetuk. Mungkin itu adalah orang yang mengurus alam akhirat, pikirnya.
“Putri Yarana, anda harus menghadiri acara bangsawan malam ini.” Ujar seseorang dengan pakaian gaun sederhana.
"Pelayanmu ini, akan menunggumu didepan ruangan." Setelah berkata demikian, wanita tersebut merunduk lalu beranjak pergi dengan menutup pintu. Entah siapa orang ini, yang jelas detektif tak mengenalnya. Setelah mengatakan hal
“Yarana? Apa itu namaku yang baru di alam akhirat ini?” Gumamnya di hati setelah mendengar hal tersebut.
“Lalu kenapa menyuruhku memakai gaun putri seperti ini. Sebenarnya apa yang telah terjadi.” Detektif merenungi lagi nasibnya dihatinya. Kali ini detektif Fara benar-benar bingung. Sepertinya dirinya telah memasuki alam lain. Ia memegang pipi, tangan dan kakinya. Benar-benar masih terasa nyata dan ada.
Lalu ia mencoba menyubit tangannya, “Awh” Ringisnya. Sepertinya ia masih hidup. Tak lama ia pun pergi beranjak mengaca. Betapa kagetnya dirinya, saat melihat sosok didepan kaca. Sosok ini berambut cokelat dengan panjang rambut yang mencapai pinggangnya. Rambutnya sedikit bergelombang di bagian bawah. Matanya berwarna hitam pekat. Kulitnya pun berwarna kuning langsat, tidak cokelat seperti kulit detektif Fara yang sebelumnya selalu menerjang panasnya bumi ketika menangkap penjahat.
“Apa aku hidup lagi tapi dizaman yang berbeda?”
"Ini sebuah hukuman, ataukah keajaiban?" Detektif Fara mengamati wajah dan seluruh ruangan kamarnya. Ia sangat kaget dengan kejadian ini, tapi dirinya tak kalah terkejut saat melihat tampilan fisiknya yang sekarang. Kemudian, saat tengah berpikir, tak sengaja dirinya menemukan sebuah kertas yang bertuliskan anggota kerajaan.
***bersambung***
Tinggal nunggu romance nya aja sih ini.. 😌
Kalau gak bisa pake panah, Yaa udah kagak usah gitu lho.. 😡
😁🔥