NovelToon NovelToon
Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa

Status: tamat
Genre:Misteri / Tamat
Popularitas:505.3k
Nilai: 5
Nama Author: Eko Hartono

Novel ini berkisah tentang Melani, seorang gadis muda yang mengalami pemerkosaan oleh orang tak dikenal di ruang toilet kantor tempatnya bekerja. Sayang, dia tak bisa melihat wajah sang pemerkosa karena lampu padam. Akibat pemerkosaan itu dia menderita depresi berat. Ketika dia melaporkan kejadian ini pada polisi malah berakibat buruk. Dia dimusuhi dan dicemooh rekan-rekan kerjanya. Sementara sang pemerkosa meneror Melani melalui SMS dan telepon. Hidup Melani jadi tidak tenang. Sang pemerkosa meminta agar Melani bersedia melayaninya lagi, karena bila tidak mau adik perempuan Melani akan dijadikan sasaran. Karena polisi tak juga menemukan si pelaku, akhirnya Melani memberanikan diri menghadapi sendiri sang pemerkosa. Dia mengikuti permainan sang pemerkosa. Hingga akhirnya Melani bisa berhadapan langsung dengan si pemerkosa. Siapakah dia? Kenapa dia memperkosa Melani? Ikuti kisahnya hingga selesai. Sangat mencekam dan penuh misteri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eko Hartono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melani

Pagi-pagi Melani sudah rapi. Ini adalah hari pertama dia masuk kerja. Dia menyambutnya dengan suka cita. Bahkan semalam ia tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan hari baru yang akan dijalaninya sebagai staf administrasi di sebuah kantor perusahaan bonafide. Akhirnya, harapannya mendapatkan pekerjaan telah terwujud. Dia juga bersyukur tidak menganggur terlalu lama setelah lulus dari D-3 akuntansi dan keuangan. Meski diterima di bagian marketing, tapi Melani sudah merasa senang. Yang namanya meniti karir memang harus dimulai dari bawah.

Bagi Melani sendiri yang penting dia sudah mendapatkan pekerjaan dan meringankan beban ibunya yang janda. Keinginan Melani untuk segera bekerja memang dilandasi niat membantu ibunya. Sejak ditinggal pergi ayahnya lima tahun silam, ibunyalah yang harus kerja keras menghidupi ketiga anaknya. Gaji pensiun ayahnya tak mencukupi lagi untuk membiayai pendidikan ketiga anak yang sudah mulai besar. Itulah kenapa Melani memilih pendidikan yang lebih singkat biar bisa langsung bekerja. Dia ingin menunjukkan baktinya pada orang tua. Dia juga ingin membantu membiayai pendidikan adik-adiknya agar bisa masuk perguruan tinggi.

“Wah, pagi-pagi sudah rapi? Baru jam berapa nih, mBak?” ujar Nina melihat kakaknya sudah rapi.

“Ya, namanya juga karyawan baru, mesti disiplin dong, Nin,” kata Melani kalem.

“Memangnya mbak disuruh masuk jam segini? Ini kan baru jam enam?”

“Mbak kan mesti naik angkot, Nin. Bagaimana kalau macet di jalan?”

“Ya, tapi kantor mbak kan tidak begitu jauh. Jam segini jalanan belum macet amat.”

“Sudahlah, Nin, kamu kok jadi ngatur mbak, sih? Cepat mandi sana!”

Nina mengangkat bahunya. Dia pun segera ngeloyor ke kamar mandi. Melani beranjak ke ruang depan, menemui ibunya yang masih menyapu lantai.

“Saya berangkat dulu, Bu,” kata Melani sambil mencium tangan ibunya.

“Kamu nggak sarapan dulu?” tanya Bu Marni.

“Saya sudah minum segelas susu tadi. Saya pamit dulu, Bu…”

“Ya, hati-hati di jalan!”

Melani melangkah keluar dari rumah kontrakan keluarganya yang berukuran kecil. Bu Marni memandangi kepergian putri sulungnya dengan senyum bahagia terukir di bibirnya. Dalam hatinya terucap doa semoga anaknya senantiasa mendapat keselamatan dalam bekerja dan mampu menggapai harapan yang dicita-citakannya.

Setiba di kantor Melani mendapati dirinya satu-satunya karyawan yang pertama kali datang. Bahkan petugas cleaning service baru datang beberapa menit sesudahnya. Pak Bardi, demikian nama petugas kebersihan itu, sempat heran melihat kehadiran Melani. Tapi setelah Melani menjelaskan bahwa dirinya karyawan baru di kantor ini, Pak Bardi nampak sedikit malu.

“Maaf ya, Non, saya belum sempat membukakan pintu. Habis, non sendiri datangnya kepagian.”

“Tidak apa-apa, Pak. Mari, saya bantu membuka pintu.”

Melani membuka pintu dan tirai jendela ruang kerja para karyawan. Dia juga membantu Pak Bardi membuang sampah-sampah yang tampak bertumpuk di beberapa keranjang. Pak Bardi dibuat kagum oleh tindakan Melani. Jarang ada karyawan mau membantu pekerjaan petugas kebersihan seperti dirinya. Bagi Melani, membantu orang lain sudah merupakan motto hidupnya. Tak perlu merasa gengsi atau malu.

Melani meletakkan tasnya di atas meja yang sudah disediakan. Sebelumnya Melani memang sudah mendapatkan petunjuk tentang apa saja tugas yang akan dikerjakannya dan di mana meja kerjanya saat acara interview beberapa waktu lalu dengan manajer personalia. Karena ini adalah hari pertama dia masuk kerja dan belum tahu tugas apa yang akan dikerjakannya, jadi dia hanya diam bengong seperti patung.

Dia menunggu karyawan lain yang belum datang. Tak berapa lama para karyawan sudah berdatangan. Mereka langsung menuju ke mejanya masing-masing. Tiba-tiba Melani dikagetkan oleh lemparan tas yang jatuh di atas meja di depannya. Sontak Melani menoleh memandang kepada orang yang melempar tadi. Tampak seorang wanita tigapuluhan dengan tampang dingin dan angkuh berdiri di hadapannya.

“Hei, ini meja saya! Jangan duduk di sini!” ujarnya ketus.

Melani jadi bingung. Untung ada seorang gadis muda di meja ujung mengisyaratkan dengan telunjuknya menyuruh Melani menghampirinya. “Sini, Mbak!”

“E, maaf, saya tidak tahu…,” ucap Melani pada wanita judes tadi dan kemudian beranjak dari tempatnya seraya menghampiri gadis yang memanggilnya tadi.

“Saya lupa memberitahu kalau meja mbak ada di sini, bersama saya,” kata gadis itu dengan nada ramah.

“Perkenalkan, saya Melani,” ucap Melani mengulurkan tangannya pada gadis itu.

“Nama saya Diah!” balas gadis itu membalas jabat tangan Melani. “Dan yang punya meja sebelah itu namanya mbak Tuti. Jangan diambil hati sikapnya. Dia memang suka begitu sama orang baru,” lanjutnya menerangkan tentang wanita yang tempatnya tadi diduduki Melani.

“Ah, enggak apa-apa, Mbak,” sahut Melani sambil tersenyum.

Melani lalu duduk di sebelah Diah. Dia sangat senang mendapat teman kerja seperti Diah. Kelihatannya usia Diah tak terpaut jauh dengannya. Sikapnya yang baik dan ramah membuat Melani merasa nyaman. Tampaknya mereka akan cepat menjadi teman akrab.

“Saya mendapat mandat dari Pak Tejo untuk membimbing mbak Melani selama menjalani masa training di sini. Untuk permulaan mbak Melani bisa mengerjakan tugas memasukkan file-file ke dalam komputer. Mbak bisa, kan?” ujar Diah kemudian memberitahu.

“Ya, saya bisa. Tapi tolong, jangan panggil saya mbak. Panggil saja saya Mel atau Melani. Kayaknya usia kita tak jauh berbeda, mungkin saya malah lebih muda dari mbak Diah,” kata Melani dengan nada jengah.

“Kalau begitu jangan juga panggil saya mbak. Biar lebih akrab. Oke?”

Melani mengangguk sambil tersenyum kecil. Keduanya lalu terlibat pembicaraan ringan. Tanpa mereka sadari dari sudut sana tampak Tuti memandang penuh sorot kecemburuan. Bibirnya tampak cemberut. Sepertinya dia tidak begitu suka melihat keakraban antara Melani dan Diah.

Begitulah. Hari pertama kerja dihadapi Melani dengan penuh semangat dan keceriaan. Melani banyak belajar dari Diah yang punya pengalaman bekerja di kantor itu. Dari Diah juga Melani bisa mengenal semua karyawan yang ada di kantor itu. Melani mendapat teman-teman baru. Mereka semua tampak ramah dan bersikap baik padanya, kecuali mungkin orang yang memperlihatkan sikap apriori. Tuti! Wanita yang tergolong senior dan menyandang predikat perawan tua itu kerap bersikap sinis, ketus, dan judes. Bukan hanya pada Melani, tapi juga pada yang lain. Tapi hal itu tak terlalu digubris oleh rekan-rekannya.

Pekerjaan yang ditangani Melani terhitung cukup mudah, karena semua itu sudah sering dipelajarinya saat di bangku kuliah. Mengetik data-data dalam komputer bukanlah pekerjaan sulit. Jika pekerjaannya sudah selesai biasanya Melani membantu pekerjaan Diah menyusun laporan pemasaran dan pembukuan. Perbuatan Melani ini bukan bermaksud ingin mengambil alih tugas Diah atau mencari muka dan menonjolkan diri, tapi karena dia memang mampu. Diah sendiri merasa senang dibantu oleh Melani. Tugas yang dikerjakannya menjadi lebih ringan.

1
Andra
secara hukum melani tetap bersalah. dia memang berencana membunuh si pemerkosa dengan menyiapkan pisau dari rumah.

waktu mendapat telepon untuk datang ke hotel melani menyanggupinya dengan kesadaran penuh, padahal dia bisa memilih opsi untuk melapor ke polisi tentang posisi pelaku.

melani juga memberikan keterangan palsu mengenai wajah pelaku yang berimbas pada salah tangkap.
Andra
faktanya melani mempersiapkan pisau itu dari rumah memang dimaksudkan untuk membunuh.
Andra
biar bagaimanapun melani tetap bersalah. apalagi ada unsur pembunuhan berencana di sini.
Andra
berarti benar kalau lelaki bertato yang menyerang melani di toilet resto dan yang menyerang nina adalah manipulasi deni.
Andra
aku merasa kejadian ini hasil manipulasi deni saja. apakah denilah penjahat sebenarnya ?
Andra
kalau tidak yakin lebih baik bilang saja. tambah ruwet nanti kalau sampai salah tangkap orang .
Andra
apakah omongan deni masih bisa dipercaya mengingat reputasinya selama ini ?
Andra
terkadang, masyarakat kecil terpaksa main hakim sendiri. tanya kenapa ? 😥
Andra
jika masih ada jejak sperm di tubuh melani atau di pakaian dalamnya, bisa dilakukan analisis dna untuk mengungkap pelakunya.
Andra
dan selama hampir empat tahun, deni berhasil mengelabui diah.
Andra
kalau bekas kekasih berarti tidak selingkuh.
Andra
cek cctv kantor dan cctv gedung sekitar kantor
Andra
seharusnya bisa. karena kepolisian pasti memiliki tim cyber.
Andra
bukankah melani tidak memiliki saudara kandung laki2 ? 🤔
Andra
menghampiri diah
Andra
dikerucutkan saja berdasar ciri fisiknya.
Ibu Dewi
apa kata ku juga aku curiga sama si deni bener kan ayah ku dulu bekas sutra dara jdi sedikit bsnyaknya aku bisa menevak nya kan bukan so tspi aku sering menebak cerita yang rumit sll benar aneh aku juga
Ibu Dewi
toni kaya nya orang ny jujur biar pun sipatnya urakan tpi kaya nya dia bener2 mencintai melani jdi tidak mungkindia akan nenyakiti orang yng di cintai nya klo sku curiga sama deni klo rikco ts mungkinmelakuksn nyasedang ida itu pacarnya ida tida akan menyuruh pacarnya intuk mrmperkosa cewe lsin biar pun dia membenci melani ksn
Ibu Dewi
ko aku jdi curiga sama si deni y sial nya barusan nlp ke hp nya mel udah tau yang ngangkat diah dia jdi pura2 bilanh nya mau jemput gitu
Ibu Dewi
y betul harus nya itu baju buat barang bukti nnti ahir barang kali bisa jdi bukti untuk mengetahui siapa pelaku nya klo didimkan keenakan bisa2 dia mengulang lgi perbuatan bejat nya itu karena mel tida nencari tau malah diam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!