Dikhianati dan difitnah oleh selir suaminya, Ratu Corvina Lysandre terlahir kembali dengan tekad akan merubah nasib buruknya.
Kali ini, ia tak akan lagi mengejar cinta sang kaisar, ia menagih dendam dan keadilan.
Dalam istana yang berlapis senyum dan racun, Corvina akan membuat semua orang berlutut… termasuk sang kaisar yang dulu membiarkannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari kematian
“Saya tidak melakukan pengkhianatan!” teriak Ratu Corvina Lysandre. Lututnya menghantam karpet merah, kedua tangannya gemetar.
Para pejabat memandangnya dari kejauhan seolah ia penyakit. Dan di atas singgasana, Cassian Vallero hanya duduk tanpa ekspresi sedikit pun.
Seorang dewan bertubuh gempal maju selangkah. “Ratu Corvina adalah mata-mata Brionne. Ia membocorkan rahasia kerajaan.”
Ia menatap Kaisar. “Kami meminta Yang Mulia menjatuhkan hukuman.”
Corvina menggeleng cepat. “Tidak! Yang Mulia, tolong percayalah padaku.” Suaranya pecah.
Dari kerumunan, Lady Meriel Astreine berdiri dengan senyum halus di wajahnya, seolah menikmati kehancuran yang sedang terjadi.
Cassian melempar selembar surat ke hadapan Corvina. Cap kerajaan Ardelia terpampang jelas.
“Surat ini adalah bukti. Tulisannya mirip milikmu. Isinya memberitahu Brionne bahwa pangkalan timur akan terbuka.”
“Itu bukan… itu bukan tulisanku,” bisik Corvina, napasnya tercekat.
“Berhenti membela diri.” Seorang dewan lain mendengus. “Bangsa ini tak butuh ratu pengkhianat.”
Corvina menatap Cassian lirih. “Yang Mulia… aku istrimu. Dengarkan aku. Hanya itu yang kuminta.”
Cassian berdiri. Wajahnya dingin. “Jika kau benar mengkhianati Ardelia, maka hukumanmu adalah mati.”
“Tidak…” Corvina menggeleng, tak percaya.
Cassian melanjutkan, “Dan seluruh keluarga Lysandre akan ikut dieksekusi.”
"Yang Mulia!” Ayah Corvina berteriak. “Kami tidak pernah....”
“Diam.” Kaisar memotong tanpa menoleh.
Corvina menjerit. “Mengapa keluargaku ikut diseret? Mereka tak bersalah!”
“Karena kalian sekutu musuh negeri ini,” jawab dewan itu datar.
“Bawa mereka ke tempat eksekusi,” titah Cassian.
Pengawal mengikat tangan Corvina dan keluarganya. Mereka digiring keluar istana, tatapan rakyat mengikuti seperti bayangan gelap.
Malam sebelumnya, di pesta perjamuan itu, seorang bangsawan utusan dari kerajaan lain roboh di lantai. Mereka bilang minuman itu beracun. Mereka bilang akulah yang meracuninya. Mereka bilang akulah yang mengirim surat ke kaisaran Brionne. Rasanya perutku mual dan kepalakku berputar setiap kali mendegar kesaksian para pelayan di istanaku ... Mereka kenapa melakukan ini terhadapku? atas dasar apa aku di fitnah seperti ini? dan saat aku melihat wajah Lady Meriel Astreine yang tersenyum, aku baru sadar ternyata itu perbuatannya.
Semua berawal dari selembar surat. Tulisan tangan yang mirip dengan tulisan tangan Ratu Corvina, lengkap dengan cap kerajaan Ardelia. Yang isinya: "Pangkalan timur akan terbuka pada bulan perak. Segala kehormatan akan ku bayar pada Brionne."
"Aku Kaisar Cassian Vallero de Ardelia, dengan ini menyatakan Ratu dan seluruh anggota keluarga Lysandre yang telah melakukan pengkhianatan dan merugikan negara akan di hukum penggal."
Corvina menunduk, napasnya terhenti di tenggorokan. Suara orang-orang di sekitar terdengar jauh, seperti datang dari balik tirai tebal. Dunia terasa memudar, namun rasa sakit di dadanya justru semakin kuat, merayap seperti racun.
Kenapa begini jadinya…?
Ia menutup mata sesaat, mencoba mengatur napas yang terus tersengal. Aku menjalani hidup sebagai ratu. Bukan karena ambisi, tapi karena mencintai Ardelia. Karena mencintai pria itu… Cassian. Pria yang kini bahkan tak mau menatapku.
Corvina menggigit bibir sampai terasa darah mengalir. Rasa dingin di tangannya makin menjalar ke seluruh tubuh. Teriakan warga, suara logam, langkah para penjaga… semuanya bercampur seperti badai yang tak bisa ia hentikan.
Ia mengangkat wajah, menatap singkat keluarganya yang digiring di belakangnya. Ayahnya menggigil, ibunya menangis terisak, kakaknya berkali-kali mencoba melindungi mereka meski tangan terikat.
Mereka ikut menderita karena aku. Aku yang terlalu percaya. Aku yang tidak melihat jebakan Meriel. Seharusnya aku peka. Seharusnya aku lebih kuat.
Tatapan puas wanita itu dari balik kipasnya.
Dia merencanakan semua ini… dan aku membiarkannya.
Pisau eksekusi tampak jelas di depan mata, hanya beberapa langkah lagi. Nafas Corvina tercekat.
Apakah ini akhirnya? Benarkah hidupku cuma berakhir seperti ini? Tanpa kebenaran? Tanpa kesempatan membela diri? Tanpa ada seorang pun yang berdiri di sisiku…?
Ia menatap Cassian sekali lagi. Tidak ada rasa di mata pria itu, seolah mereka tak pernah berbagi kehidupan.
Kalau saja aku bisa kembali. Kalau saja aku bisa membuka setiap kedok, setiap kebohongan. Aku ingin menjeritkan semuanya ke wajahmu, Cassian. Tentang betapa kau telah membiarkanku mati untuk sesuatu yang bahkan tidak kulakukan.
Jika ada kehidupan setelah ini… kalau dunia memberiku satu kesempatan lagi… aku akan kembali. Aku akan berdiri tanpa rasa takut. Aku akan membuat kalian membayar. Meriel dengan kelicikannya. Dan Cassian dengan ketidakpeduliannya.
Hatinya menegang, bukan oleh keputusasaan… tapi oleh tekad gelap yang baru saja tumbuh.
Aku akan kembali. Untuk kebenaran. Untuk keluargaku. Untuk diriku sendiri.
💪thor
kalah dgn yg sdh mjd bagiian hidup
"perintahku.. cepatlah UP lg"
🤣