NovelToon NovelToon
Lentera Jelita

Lentera Jelita

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Anak Genius
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alfianita

Meminta Jodoh Di Jabal Rahmah?
Bertemu Jodoh Di Kota Jakarta?


Ahtar Fauzan Atmajaya tidak menyangka jika ia akan jatuh cinta pada seorang wanita yang hanya ia temui di dalam mimpinya saja.


“Saya tidak hanya sekedar memberi alasan, melainkan kenyataan. Hati saya merasa yakin jika Anda tak lain adalah jodoh saya.”


“Atas dasar apa hati Anda merasa yakin, Tuan? Sedangkan kita baru saja bertemu. Bahkan kita pun berbeda... jauh berbeda. Islam Agama Anda dan Kristen agama saya.”

Ahtar tersenyum, lalu...

“Biarkan takdir yang menjalankan perannya. Biarkan do'a yang berperang di langit. Dan jika nama saya bersanding dengan nama Anda di lauhul mahfudz-Nya, lantas kita bisa apa?”


Seketika perempuan itu tak menyangka dengan jawaban Ahtar. Tapi, kira-kira apa yang membuat Ahtar benar-benar merasa yakin? Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah mereka bisa bersatu?


#1Dokter
#1goodboy
#hijrah
#Religi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfianita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

...Disclaimer...

...*...

...*...

Semua yang ada dalam cerita ini, tokoh, alur, latar dan kejadian adalah fiksi. Cerita ini mengandung unsur kedokteran. Namun perlu diingat, cerita ini tidak menggambarkan kehidupan dokter yang sesungguhnya.

Apabila ada kesamaan nama, tokoh, latar, dan scane itu semua murni tidak sengaja. Bukan plagiat dan jadilah pembaca yang bijak!😉

...💔💔💔💔💔...

Portobello—Skotlandia

"Tolong!" 

Teriakan itu terdengar begitu menyayat hati di malam yang sepi, sunyi dan terasa dingin. Rasanya begitu mencekam, membuat bulu halus di leher gadis itu meremang kala lima lelaki mengejarnya dan memiliki niat buruk padanya.

"T-tolong jangan kejar saya! S-saya tidak mengenal kalian, jadi kalian pergilah!" pinta gadis itu dengan suara bergetar, bahkan air mata pun mulai menetes perlahan dari pelupuk matanya. 

"Tidak bisa. Dan jangan berharap jika kamu bisa lepas begitu saja dari jangkauan kami berlima. Karena malam ini kamu harus menyenangkan kami dan memuaskan kami dengan tubuhmu itu." Suara salah satu dari lima lelaki itu sukses membuat gadis itu semakin merasa takut.

"T-tolong! S-saya mohon lepaskan saya!" pinta gadis itu dengan suara pelan, tapi masih bisa didengar oleh kelima lelaki itu. 

Kelima lelaki berbadan tegap itu seakan tidak mendengar ucapan gadis itu, bahkan tidak memperdulikan rasa takut yang kentara dari gadis itu. Kelima lelaki itu justru terus berjalan mendekati gadis remaja yang berdiri di depan mereka. Senyuman menyeringai dan tawa yang sesekali memekakkan telinga kembali membuat gadis itu semakin merasa takut. 

Gadis itu terus berjalan mundur perlahan, tatapannya sesekali hilir mudik mencari jalan keluar untuk berlari dari kelima lelaki itu. Namun, harapan itu sia-sia saja. Harapan gadis itu seakan tidak didukung oleh semesta, dan ia benar-benar terjebak hingga kelima lelaki itu berhasil mengelilinginya. 

"S-saya mohon jangan sakiti saya! Lepaskan saya, tolong!" suara gadis itu semakin lirih yang diselingi dengan isak tangis. 

Malam yang semakin gelap, malam yang semakin mencekam bagi gadis itu. Membuat jantung gadis remaja itu semakin berpacu hebat, hingga tidak mampu mengucapkan satu kata patah pun. Hanya tangisan lirih dengan tangan yang saling bertaut menahan takut. 

'Ya Allah... Tolong aku! Harusnya aku tadi tidak lari begitu saja, hingga semua ini aku alami. A-aku takut, Ya Allah...' 

'Ya Allah... Aku benar-benar membutuhkan Kun Fayakun dariMu agar aku terlepas dari ujian yang Engkau berikan malam ini padaku. Aku mohon datangkan pertolonganMu, Ya Allah."

"Berhenti!" teriak seseorang dengan lantang.

Seketika tatapan kelima lelaki dan gadis itu mengarah pada pemilik suara yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Siapa kamu beraninya mengganggu acara kami?" tanya salah satu lima lelaki itu dengan suara penuh amarah. 

"Jangan ganggu adikku! Jika menyentuhnya seujung kuku kalian pun tak akan aku biarkan." Tangan Akhtar mengepal kuat, rahangnya mengeras dan tatapannya berubah buas nan tajam. 

Sungguh ia tidak rela jika Hafizha—adiknya tersakiti. Apalagi dipermainkan dengan sedemikian rupa sadisnya. Bahkan Akhtar akan menjadi garda terdepan untuk sang adik meskipun harus merelakan nyawanya sendiri. 

"Heh! Jangan sok berani kamu lelaki bodoh! Jangan harap juga kami akan melakukan apa yang kamu bilang tadi. Karena adik mu ini akan memuaskan kami berlima dalam ketepian kenikmatan. Sayang jika tubuh seksinya tidak bisa dinikmati. Iya, kan, kawan?" ujar salah satu lelaki itu yang diakhiri dengan tawa.

Akhtar rasanya tidak tahan mendengar ucapan lelaki-lelaki itu. Sungguh, telinganya seakan ditusuk-tusuk benda tajam yang membuat darahnya semakin mendidih. Matanya memerah, tetapi  tatapannya sangat tajam.

"Bang Akhtar, tolong Hafizha! Hafizha takut..." teriak Hafizha disela isak tangisnya.

Tatapan tajam dari seorang Akhtar seketika berubah dengan tatapan lembut saat menatap Hafizha. Hatinya tercabik-cabik melihat pemilik bola mata kecoklatan itu menangis dengan tangan bergetar—menahan takut. Bahkan mata Hafizha sudah sembab karena terlalu lama menangis. Wajahnya sudah pucat pasi, menyerupai mayat.

"Hafizha, dengar Abang ya! Kamu yang tenang dan jangan takut. Abang ada di sini untuk menolong kamu." Akhtar bertutur begitu lembut diakhiri dengan senyuman tipis.

"Tapi, Bang... Mereka ada banyak..."

"—ssssttt! Don't worry! Don't cry! Believe me! Ok." Akhtar meyakinkan Hafizha dengan anggukan kecil. 

Hafizha membalas dengan anggukan kecil sambil mengusap sisa air matanya. Tidak lupa Hafizha melantunkan dzikir dan melangitkan do'a untuk keselamatan Akhtar dan juga dirinya, meskipun hanya di dalam hati saja.

'Ya Allah... jika ini adalah teguran untukku agar tidak menjadi orang yang egois, maka ampunilah aku. Dan terima kasih Engkau datangkan bang Akhtar untuk menyelamatkan aku dari kejahatan mereka. Lindungilah kami berdua, Ya Allah.'

Hening...

Akhtar mulai maju dengan langkah perlahan. Akhtar juga kembali memasang wajah buas, tangannya mengepal kuat dan sesekali tatapannya penuh kesiagaan, jika saja kelima lelaki jahat itu akan melakukan penyerangan.

Kelima penjahat itu saling lirik, lalu salah satu dari mereka memerintah pada yang lain untuk mulai menyerang Akhtar. Karena bagi mereka kedatangan Akhtar akan menghambat apa yang akan mereka lakukan.

"Kalian serang saja laki-laki sok jagoan ini! Dan aku akan membawa gadis ini menepi." Lelaki itupun tersenyum smirk. "Cepat serang dan jangan sampai gagal. Karena kita akan bersenang-senang malam ini tanpa ada gangguan siapapun, termasuk Dia." 

Keempat lelaki itu mengangguk, setelah itu mereka maju bersamaan dan melakukan penyerangan. Mereka bergantian melayangkan tendangan dan pukulan pada Akhtar, tetapi untungnya Akhtar mampu menangkis dengan cepat setiap pukulan dari mereka. 

Akhtar terus memberi perlawanan dengan sesekali menendang, memukul dan meninju mereka secara bergantian.

Bugh!

Akhtar melayangkan tinju ke rahang lawannya. 

Bugh!

Bruk!

Akhtar terus melayangkan tinjunya ke lawan hingga pada akhirnya mereka tumbang dengan luka yang ada pada sudut bibir mereka. Bukan hanya itu saja, perut mereka pun merasa kesakitan karena mendapatkan tendangan dari Akhtar. Namun, satu dari mereka masih mampu bertahan. 

"Jangan macam-macam jika tak mau nyawamu melayang!" ancam lelaki itu pada Akhtar.

'Sial! Ternyata Dia membawa senjata tajam. Pisau lipat... Aku harus bisa melewatinya.'

Lelaki itu menodongkan pisau lipatnya di depan Akhtar. Dengan senyum menyeringai lelaki itu melakukan penyerangannya. Dia beraksi dengan gerakan yang amat cepat, tetapi Akhtar pun tidak mau kalah begitu saja. 

"Terus hajar saja laki-laki itu! Kalau bisa bunuh langsung," titah lelaki yang memegangi Hafizha dan mencengkram tangannya begitu kuat.

"Tolong! Jangan sakiti Abang saya. Lepaskan Abang saya. Saya mohon! Hiks... Hiks... Hiks..." pinta Hafizha dengan suara lirih.

"Diam. Jangan berisik!" gertak lelaki itu dan semakin kuat saja mencengkram tangan Hafizha.

Seketika Hafizha terdiam, menyaksikan kembali perkelahian Akhtar dengan lawannya. Hafisha tidak bisa berkutik, hanya bisa memandang dengan perasaan khawatir. 

Akhtar berusaha untuk tetap memberi perlawanan, sesekali menendang perut lelaki itu. Namun, saat mendengar tangis Hafizha membuat Akhtar hilang fokus. Hingga akhirnya...

Jleb!

"Allahu Akbar..." suara Akhtar tertahan.

"Astaghfirullah hal adzim!" lirih Akhtar.

Akhtar menatap lelaki itu, sesekali matanya terpejam menahan rasa nyeri di perut kanannya. 

"Argh!" rintih Akhtar pelan saat pisau yang masih menancap di perut Akhtar kembali ditarik oleh lelaki itu.

Akhtar sempoyongan setelah mendapatkan tusukan yang cukup dalam. Seketika darah segar mengucur dari perut kanannya, bahkan darah itu menembus kemeja putihnya. Tidak hanya itu saja, darah juga keluar dari mulutnya.

"Bang Akhtar!" teriak Hafizha dengan histeris.

Hafizha terbelalak melihat sang Abang tidak baik-baik saja karena menyelamatkannya. Namun, Hafizha juga tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong Akhtar selagi dirinya masih menjadi tawanan.

"H-hafizha..." lirih Akhtar.

Akhtar mencoba bertahan sekuat tenaganya. Dia mengusap darah yang keluar dari mulutnya. Tetapi darah dari perutnya tidak bisa berhenti, hingga membuat pandangan Akhtar perlahan mengabur. Akhtar terhuyung saat ia mencoba berdiri, tetapi pada akhirnya ia pun tidak bisa lagi bertahan dan pandangannya pun buram.

Bruk! 

Akhtar kehilangan kesadarannya.

"Bang Akhtar! Hiks... Hiks... Hiks..." teriak Hafizha dengan suara tangisnya.

Hafizha merasa tidak sanggup melihat Akhtar terluka karenanya. Apalagi melihat darah yang terus keluar dari perut dan sudut bibir Akhtar. Tragedi itu membuat hati Hafizha merasa tercabik-cabik.

'Ya Allah... Meskipun bang Akhtar bukanlah abang kandungku, tapi Dia sudah menganggapku sebagai adik kandungnya. Jika ini adalah teguran darimu untukku yang kurang bersyukur tak apa, aku ikhlas. Tapi sekali saja berikan pertolonganMu untuk bang Akhtar, Ya allah...'

...💔💔💔💔💔...

Bruk!

Seorang perempuan yang berusia dua puluh lima tahun tengah membanting tubuhnya di atas kasur yang luas dan empuk. Perempuan itu merasa begitu lelah dengan pikiran yang tak terarah. Begitu banyak beban yang tengah perempuan itu pikirkan. Dan saat ini ia hanya ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur sembari menatap langit-langit.

"Mau kemana lagi setelah ini? Tugas kita di kota ini sudah selesai," ucap perempuan itu di tengah keheningan malam. 

Malam itu di kota Edinburgh sudah mulai sunyi, hanya ada beberapa tempat saja yang masih nampak ramai. 

"Entahlah! Kita tunggu perintah selanjutnya." 

Zuena duduk, lalu menghembuskan napas beratnya. Lalu ia menoleh, ditatapnya Adam yang mengambil duduk di sebelahnya.

"Sebenarnya aku merasa lelah dengan kehidupan yang seperti ini. Otakku merasa pusing saat harus merakit mesin-mesin itu dan belum lagi harus meretas keamanan CCTV. Dan sungguh... Aku rindu sama Daddy," ucap Zuena dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Sabar! Akan ada waktunya untukmu bertemu dengan Daddy mu. Kita cukup jalani saja apa yang harus kita kerjakan. Dan ingatlah! Kau dididik bukan untuk menjadi wanita yang lemah." Lelaki itu menatap Zuena.

Mendengar suara lelaki itu Zuena segera mengusap air matanya dan kembali bersikap baik-baik saja. Tanpa ekspresi apapun, yang ada wajah yang amat datar.

"Yes... I know. Tapi... Sejak kapan kau mengenal kata sabar? Dasar orang aneh." 

Zuena berdiri, lalu menatap Adam yang masih duduk di atas ranjangnya.  

"Keluarlah sekarang dari kamarku, Adam. Aku mau ganti baju lalu keluar dan mencari udara malam. Jika kau lapar cukup siapkan makanan untukmu saja. Aku tak usah," titah Zuena.

"Ok. Tapi jangan lama! Karena kamu tetap dalam pengawasan." 

"Iya. Tak akan lama." 

Adam keluar dari kamar Zuena. Setelah pintu tertutup, Zuena segera membuka jaket kulit berwarna hitam yang ia kenakan, lalu mengganti pakaian dengan pakaian biasa. Pakain yang dipakai seorang perempuan biasa yang hidup sederhana. Tidak lupa dengan rambut panjangnya yang ia kuncir ke atas bak rambut kuda.

Setelah dirasa siap, Zuena segera meninggalkan perumahan yang dijadikan tempat tinggal sementara selama masih berada di Edinburgh. 

"Semoga aku mendapatkan pencerahan hidup, meski aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Menjalani hidup yang seperti ini membuatku tak bisa bebas saja. Ya... Walaupun kerjanya gampang, tapi tetap saja tak enak." Zuena menghembuskan napas beratnya.

Zuena berjalan gontai, lalu mengambil sepeda yang ada di garasi. Dengan sepeda itu Zuena merasa lebih santai saat menikmati udara malam di sekitar pantai yang terasa menyegarkan, membuat pikirannya lebih fresh. Setelah mengayuh cukup lama Zuena pun memasuki jalan raya yang tak jauh dari pantai tersebut. Berhubung malam yang sudah larut, jalan pun sudah nampak sepi. 

"Tolong!" 

Zuena seketika menekan rem sepedanya setelah sesaat mendengar suara seseorang meminta tolong. Zuena mengedarkan pandangan dan menajamkan pendengarannya, jika saja ia salah dengar. Namun...

"Oh my God! Ternyata ada tindak kejahatan di sana. Dan aku tidak bisa membiarkan itu. Aku akan menolongnya." 

Zuena mengayuh sepedanya dengan cepat agar segera sampai di tempat Hafizha. Sesampainya di sana, Zuena melebarkan matanya setelah melihat apa yang sebenarnya terjadi.

"Oh my God! Darahnya banyak sekali. Aku harus menolongnya segera," ucap Zuena, lalu mendekati Akhtar yang tergeletak.

Zuena melihat darah masih saja mengalir dari perut Akhtar. Hingga tanpa berpikir panjang Zuena menyobek dress nya untuk menutup luka Akhtar. Setelah itu ia memeriksa denyut nadi dan napas Akhtar dari hidung, memastikan jika Akhtar masih bisa ditolong.

"Tidak bisa begini!" ucap Zuena dengan panik. "Dia henti jantung. Aku harus melakukan RJP segera."

Zuena menekan dada Akhtar agar detak jantung Akhtar bisa kembali. Tetapi setelah kurang lebih lima belas menit jantung Akhtar belum juga berdetak. 

Dua puluh menit...

"Uhuk... Uhuk..." 

"Oh God... Akhirnya detak jantungnya kembali. Aku akan telepon ambulans sekarang juga." 

Zuena segera menghubungi tim medis agar Akhtar cepat tertolong. Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada Akhtar, karena sudah kehilangan banyak darah. 

"Bertahanlah! Sebentar lagi tim medis akan datang," ucap Zuena dengan lembut.

"T-tolong a-adik s-saya," pinta Akhtar sambil memegang lengan Zuena.

"Ok. Tapi... Kamu diam saja di sini dan jangan banyak bicara, karena itu akan mempengaruhi kondisimu." Senyum manis mengudara dari bibir Zuena. Dan Akhtar memejamkan matanya sejenak, tanda jika ia menyetujui ucapan Zuena. 

Setelah itu Zuena meninggalkan Akhtar dan segera menolong Hafizha. Tangannya mengepal kuat, tatapannya pun menajam—memperlihatkan kemarahan yang telah memuncak. Sebagai seorang perempuan Zuena paling membenci pelecehan.

"Woi lepaskan gadis itu! Dasar pengecut," teriak Zuena mencemooh.

Zuena dengan berani menarik perhatian dua lelaki jahat yang tersisa. Dengan langkah gontai Zuena mendekati mereka yang masih memegangi Hafizha.

"Kalau berani jangan main keroyokan dong! Lihat, ada lima orang tiga tumbang dan sekarang tinggal dua. Yang satu pegang pisau dan satu pegang anak orang. Emang bukan lelaki pecundang namanya kalau begitu,"  ujar Zuena lagi-lagi mencemooh.

"Halah... Banyak omong. Sini maju kalau berani! Palingan juga nanti mati kayak laki-laki sok jagoan itu." 

"Jangan banyak omong!" 

Lelaki yang memegang pisau memainkan pisaunya untuk melukai Zuena. Tetapi, Zuena dengan lihai menangkis setiap serangan yang dilakukan lelaki itu. 

Bugh!

"Ukh!" Suara lelaki itu setelah mendapatkan pukulan dari Zuena. 

Zuena tidak mau kalah begitu saja. Ia terus melakukan penyerangan dengan gerakan yang terlatih. Bahkan Zuena tidak memberi jeda sedikit pun, hingga lelaki itu tumbang. 

"Lepaskan gadis itu sekarang juga!" pinta Zuena dengan nada selembut mungkin. 

"Tak akan aku lepaskan. Justru kamu yang harus mundur jika tidak mau gadis ini terluka seperti laki-laki bodoh itu." Lelaki itu menunjuk ke arah Akhtar dengan gerakan matanya.

"Jangan bermimpi jika aku takut dengan gertakan mu. Kita selesaikan sekarang juga." 

Zuena akan menyelamatkan Hafizha sesuai dengan ucapannya pada Akhtar. Dan zuena juga tidak mau menjadi orang yang ingkar janji. 

...💔💔💔💔💔...

Setelah hampir satu hari tidak sadarkan diri akhirnya Akhtar kembali membuka matanya secara perlahan. 

"Assalamu'alaikum, jagoan Abi." Abi Yulian mengulas senyum setelah melihat Akhtar membuka matanya.

"W-waalaikumsalam, Abi," jawab Akhtar dengan suara pelan—nyaris tak terdengar.

"Istirahat saja dulu. Jangan banyak bicara dan banyak bergerak, karena kamu baru sadar. Dan oh iya... Tadi ada titipan dari Humaira." Abi Yulian menunjuk ke arah nakas. 

Terlihat paper bag berwarna coklat diletakkan di atas sana. Namun, Akhtar enggan untuk meliriknya barang sejenak saja. 

"K-kenapa Abi menerimanya? Akhtar tidak suka diberi apapun sama Dia. Dan Akhtar juga tidak menyukai Humaira. Bahkan Akhtar tidak mau memiliki perasaan lebih dengannya." Akhtar nampak menghela napas berat.

Sejenak ia memejamkan mata, dalam bayangan gelapnya terlintas kembali gambaran seorang perempuan yang menyelamatkannya. Mengingat hal itu kepala Akhtar sedikit berdenyut, tapi bisa ia tahan. 

Akhtar mengedarkan pandangannya, terlihat Hafizha duduk di sofa bersama Bunda Khadijah dan...

'Perempuan itu? Ternyata Dia ada di sini.'

Akhtar mengulas senyum kala melihat Zuena ada dalam jangkauan pandangannya. Tatapannya tidak teralihkan, tatapan penuh memuja. 

'Perasaan apa ini? Kenapa membuatku berasa di alam surga melihat bidadari bumi yang Engkau ciptakan ini, Ya Allah.' 

Bersambung...

1
Rian Moontero
mampiirr👍👍
Althaf_Nur11: Terima kasih, Kak... 🙏
total 1 replies
Althaf_Nur11
Memberikan apresiasi itu penting loh! Bahkan sangat berarti..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!