NovelToon NovelToon
Gairah Sang Papa Angkat

Gairah Sang Papa Angkat

Status: tamat
Genre:Duda / Cinta Terlarang / Cerai / Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Romansa / Tamat
Popularitas:147.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ni Luh putu Sri rahayu

menjadi sukses dan kaya raya tidak menjamin kebahagiaanmu dan membuat orang yang kau cintai akan tetap di sampingmu. itulah yang di alami oleh Aldebaran, menjadi seorang CEO sukses dan kaya tidak mampu membuat istrinya tetap bersamanya, namu sebaliknya istrinya memilih berselingkuh dengan sahabat dan rekan bisnisnya. yang membuat kehidupan Aldebaran terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni Luh putu Sri rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Ketenangan sebuah kanal air di pinggir kota yang biasanya tenang di sore hari tiba-tiba di pecahkan oleh makian seorang pria. Suara kemarahan itu di selingi dengan isak tangis yang selama ini ia tahan, dan kini meledak tanpa bisa di hentikan.

"BRENGSEK!! KENAPA... Kenapa... Tega-teganya kalian melakukan ini padaku..." ucapnya dengan penuh kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan yang mendalam, ia tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya setelah memergoki istrinya—wanita yang telah ia nikahi selama 7 tahun terakhir mengkhianati pernikahan mereka dengan berselingkuh dengan sahabat dan juga rekan bisnisnya, dan semua itu terungkap tepat saat di hari ulang tahun pernikahan mereka—Aldebaran sudah tak bisa menahan rasa sakit di hatinya.

Aldebaran tak mampu lagi menahan rasa sakit di hatinya. Ia meremas dadanya berharap rasa sakit yang menggerogoti jiwanya hilang, namun ia tahu hal itu sia-sia. Rasa sakit yang ia rasakan begitu hebat hingga tak bisa ia tahan menghujam hatinya tanpa ampun.

Penampilannya yang biasanya rapi dan sempurna kini terlihat jauh dari kata seorang pria mapan dan terstruktur seperti yang selama ini ia tunjukan, pakaiannya berantakan, kemejanya kusut dasinya terlepas sembarangan dan rambutnya acak-acakan, wajahnya menunjukan frustasi dan terlihat lelah dengan bekas air mata masih membekas di pipinya menunjukan betapa hancurnya mental dan perasaanya saat ini.

"Tujuh tahun... Tujuh tahun Diana..." ucapnya pelan, suaranya pelan nyaris seperti bisikan. "...Tujuh tahun aku mencintaimu, mempercayaimu... Dan kau mengkhianatiku... Dengan sahabatku sendiri."

Kalimat itu keluar seperti duri yang mencabik-cabik tenggorokannya. Ia menunduk melihat pantulan dirinya di permukaan air kanal yang beriak pelan. Namun bayangan yang ia lihat terasa asing—bukan lagi seorang Aldebaran yang penuh percaya diri, melainkan seorang pria yang telah kehilangan segalanya.

Pernikahan yang selama ini terlihat baik-baik saja dan harmonis ternyata jauh dari ekspektasinya. Lalu Aldebaran melihat buket bunga mawar yang telah hancur dengan kelopaknya yang telah berserakan tergeletak di tanah, Aldebaran menatapnya dengan tatapan kosong seolah segalanya telah sia-sia selama tujuh tahun pernikahannya.

"Paman? Paman sedang apa, Kenapa menangis?"

Suara gadis kecil terdengar di belakangnya, suara itu lembut namun cukup untuk memecah lamunan Aldebaran.

Ia menoleh kebelakang dan meliat seorang gadis kecil sedang berdiri di sana, gadis itu mengenakan pakaian yang lusuh yang kebesaran hingga lengan baju itu menutupi sebagian lengan mungilnya dengan beberapa koran yang ia genggam erat di depan dadanya.

Lalu dengan lembut dan penuh minat mata gadis kecil itu jatuh pada buket bunga yang tergeletak di tanah. Beberapa kelopak bunganya telah patah dan berantakan akibat Aldebaran lemparnya dalam upaya untuk meredakan amarahnya.

"Kenapa bunganya di buang? Kan, bagus." Lanjut gadis kecil itu, polos.

Namun Aldebaran masih terdiam, ia tak menggubris pertanyaan itu. Aldebaran masih tenggelam dalam kesedihannya.

"Apa kau menyukainya?" Tanya Aldebaran, akhirnya, dengan suara yang terdengar datar.

Gadis kecil itu mengangguk penuh antusiasme, matanya berbinar penuh harap Aldebaran akan memberikannya.

Aldebaran menghela napas pelan sebelum mengambil buket bunga yang sempat ia buang tadi. "Apa... Tidak apa-apa? Ini sudah rusak?" Katanya, ada keraguan dalam kalimat Aldebaran. Seolah masih mempertimbangkan keputusan untuk memberikannya.

"Tidak apa-apa, ini masih bagus." Jawab gadis kecil itu, wajahnya tampak bahagia saat Aldebaran menyerahkan buket bunga itu.

Terlihat tubuh gadis kecil itu tenggelam oleh buket bunga yang ukurannya yang hampir sebesar dirinya.

"Waahh..." Serunya penuh kekaguman, mata gadis itu berbinar-binar saat menatap bunga-bunga itu.

Aldebaran tersenyum tipis saat melihat reaksi bahagia gadis kecil itu yang begitu sederhana. Untuk sesaat senyuman gadis kecil itu terasa seperti cahaya di tengah kegelapan hatinya.

"Terimakasih, Paman."

Aldebaran tertawa kecil meski, meski raut kesedihan masih tampak jelas di wajahnya.

"Jangan panggil aku paman, aku masih muda dan belum punya anak." Ucap Aldebaran, merasa sedikit tersinggung lalu ia tersenyum kali ini senyuman itu lebih tulus dari sebelumnya.

"Oh ya, namamu siapa?"

"Lilia..." ucap gadis itu dengan polos. "Paman, sebagai ganti kebaikan Paman yang memberikan Lilia bunga, Paman bisa ceritakan masalah Paman sama Lilia, Lilia akan mendengarkan." Kata Lilia, sambil menatap wajah Aldebaran lekat penuh rasa ingin tahu.

Aldebaran duduk dengan menumpukan kedua sikutnya di kedua lututnya, ia menunduk sambil menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum, namun senyuman itu bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyuman pahit yang penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan.

Kemudian pandangan Aldebaran beralih pada Lilia yang masih setia duduk di sampingnya.

Gadis itu menatapnya, dengan mata besar dan ekspresi polos seorang anak berusia 9 tahun. "Aku tidak yakin kau akan mengerti..." kata Aldebaran pelan.

"Paman bisa cerita saja, Lilia akan menjadi pendengar yang baik." Kata Lilia, penuh meyakinkan, mencoba meyakinkan Aldebaran.

Aldebaran tersenyum kecil, lalu mengacak lembut rambut Lilia. "Ini bukan hal yang bisa kau dengarkan, Nak. Bagaimana kalau aku yang bertanya padamu?"

Mata Lilia melebar. Ia merasakan kehangatan saat Aldebaran mengusap kepalanya, sebuah sentuhan yang akrab yang sudah lama ia rindukan.

"Apa yang dilakukan gadis kecil seperti dirimu di tempat seperti ini sendirian? Dan orang tuamu dimana?" Tanya Aldebaran.

Seketika ekspresi wajah Lilia berubah setelah mendengar pertanyaan itu, ia tampak sedikit sedih tapi dengan segera mengubah ekspresi wajahnya. "Em... Lilia tinggal bersama paman dan Bibi Lilia."

Lilia terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan Aldebaran, ia menunduk lalu meliat ke arah Aldebaran.

"Ayah dan ibu lilia sudah lama bercerai... Dan sekarang mereka sudah memiliki keluarga masing-masing." lanjutnya pelan..

Aldebaran yang mendengar pernyataan Lilia langsung merasa tidak enak. "Maaf... Aku tidak bermaksud untuk... Aku sungguh tidak tahu." Katanya menyesal.

"tidak apa-apa..." Jawab Lilia pelan.

"Sekarang kau kelas berapa?" tanya Aldebaran.

"... Lilia sudah tidak sekolah lagi." Ucap Lilia, suaranya pelan hampir tidak terdengar.

"Kenapa?" Aldebaran mengerutkan alisnya saat ia mendengar jawaban Lilia, mencoba menggali informasi lebih dalam.

"Karena..."

"Paman dan bibikmu tidak mau menyekolahkanmu lagi?" belum sempat Lilia menjawab Aldebaran memotong perkataannya.

Lilia hanya menunduk dan tak menjawab.

"Apa kau tidak ingin sekolah lagi?" tanya Aldebaran lagi.

"Lilia tidak punya uang." jawab Lilia dengan polos, dan tanpa rasa ragu.

Lalu pandangan Aldebaran beralih pada koran-koran di tangan Lilia. "lalu koran itu?"

"Lilia... Membatu Paman Lilia berjualan, setiap hari Lilia harus mengantarkan koran." Jawab gadis itu, dengan begitu polos dan jujur.

"Dan... Ini koran terakhirmu hari ini?" Aldebaran menunjukan ke beberapa kota di tangan Lilia.

Lilia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Lalu Aldebaran mengeluarkan dompetnya dari saku jasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang tunai. "Aku akan membeli semuanya." kata Aldebaran.

Mata Lilia berbinar penuh kebahagiaan setelah mendengar Aldebaran akan membeli seluruh koran yang ia bawa. "Benarkah? Paman akan beli semuanya?" katanya seolah tak percaya. Lalu Aldebaran memberikan beberapa lembar uang yang ia ambil dari dalam dompetnya.

"Paman... Ini terlalu banyak." Kata Lilia, lalu ia hanya mengambil selembar uang dari tangan Aldebaran.

"Tidak apa-apa, kau boleh simpan sisanya." Kata Aldebaran.

"Benarkah?!" Seru Lilia, tampak senang.

Meliat Lilia senang, Aldebaran mengangguk pelan. Kemudian ia bangkit berdiri, Aldebaran tersenyum tipis ketika meliat wajah bahagia gadis itu. "Lilia bisa pulang cepat." ucapnya dengan senyuman lebar di wajahnya, begitu sederhana, dan tulus dari kepolosan anak perempuan berusia 9 tahun.

Lalu Aldebaran berjalan menuju mobilnya, namun langkahnya terhenti saat Lilia memanggilnya. "Paman!" panggil Lilia, "apa besok kita bisa bertemu lagi?" tanya Lilia, penuh harap.

"Ya..." Jawab Aldebaran singkat sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobilnya.

Bersambung....

1
Putri Putri
ending nya gantung.. ga asikk
Azzahra Sevita Hanum Dimitry
masak endingnya gini..... lilia jg blm tau saudaranya siapa. kesel ma aldebaran
cholifah 22
gantung banget kok gak ada ending nya
partini
hah tamat
vincuu
lanjut thor yok bisa sampai 100 lebih alur ceritanya Jangan setengah" thor lanjut ceritanya
ARIES ♈: terima kasih atas dukungannya kak.. akan di usahakan.
total 1 replies
Putri Putri
kapan update lagi nih tor
ina
up min
partini
ini ada drama nya loh Thor tapi aku lupa udah lama Banggt Kya telenovela
cholifah 22: up nya jng ma lama y thor...
total 2 replies
ARIES ♈
terima kasih atas kunjungannya, saya akan berusaha lebih keras lagi. 🙏 tunggu update selanjutnya ya
Ana Umi N
lagi thor
partini
🙄🙄🙄🙄 lah masih nanya lagi dihhh bikin pusing aja
ARIES ♈
tenang-tenang author lagi berusaha. maaf sudah menunggu begitu lama, dan terima banyak atas dukungannya. 🙏
Putri Putri
ayok lanjut kk.. jangan berhenti lama episode nya
ina
ayok lanjut😍
partini
aihhh papa angkatmu bego
partini
Hem jujur ja yah pasti ga jujur
partini
kakak adik Wow ,lama sekalii Thor
ARIES ♈: maaf ya, menunggu lama author nya lagi sibuk.
total 1 replies
cholifah 22
tommy ini anak nya dimitri y thor ....bener dunia ini sempit ...🤭
Elmi Varida
lanjut thor...
Elmi Varida
Hi thor aku baru beberapa bab baca novel karyamu seperti menarik, ikut nyimak ya...
semangat upnya..
ARIES ♈: terima kasih atas kunjungannya... kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!