kehampaan dan kesempurnaan, ada seorang siswa SMP yang hidup dengan perlahan menuju masa depan yang tidak diketahui,"hm, dunia lain?hahaha , Hmm bagaimana kalau membangun sebuah organisasi sendiri, sepertinya menarik, namanya... TCG?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mult Azham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang Berulang
2017
Suatu hari.. Suatu hari? Setiap harinya sama, ya, ini aku—Azam, "Haha, aku berbicara sendiri lagi."
"Hmm, hari ini hari Senin kaa… sebaiknya aku bersiap-siap ke sekolah."
Pukul 07.50. "Uugh, bosan… apa bolos aja kali ya? Ah, jangan."
Azam memakai sepatu di depan pintu rumah sambil menarik napas panjang, menyiapkan diri menghadapi hari yang sama seperti biasanya.
Pukul 08.00. "Aku nggak boleh telat, nanti gerbangnya ditutup."
Ia berlari, berlari, dan terus berlari sampai akhirnya tiba.
"Gaah… untung gerbangnya belum ditutup."
......................
Di dalam kelas. 'Hm… Sekarang pelajaran MTK, ya. Ugh, kenapa MTK harus pagi?—setidaknya bukan kimia, haha.'
Pelajaran kedua: Biologi.
Guru masuk. Ketua kelas memberi aba-aba untuk berdiri, lalu memberi salam yang diikuti seluruh murid. Setelah itu, satu jam berlalu tanpa ada hal menarik.
"Oke, anak-anak, ibu akan memberi kalian tugas ya. Kumpulkan dalam bentuk kertas selembar," ucap sang guru.
"Azam, Zam… bagi jawaban, Zam."
Samsul—dengan tubuhnya yang besar—menepuk bahu Azam.
"Tunggu dulu, aku belum buat pun."
Samsul menunduk sedikit, memegangi bahu Azam "Kalau dengan kawan jangan pelit-pelit"
Azam menghela napas. Ia membuat beberapa jawaban yang salah, lalu membiarkan Samsul menyontek. Teman-teman lain ikut berkumpul, mengintip lembar yang sama.
"Udah belum?~ Ini ku kasih ke guru dulu, siapa tahu ada yang salah."
"-Eh eh tunggu dulu, Zam!"
Azam berjalan ke meja guru, lalu mengubah jawaban-jawaban yang salah dengan cepat di meja paling depan—seolah-olah ia hanya menuliskan nama dan kelas. Untungnya, tidak banyak jawaban yang ia sengaja salahkan. Jadi semuanya bisa ia perbaiki sebelum teman-temannya menyadari apa yang ia lakukan.
...----------------...
Waktu berlalu dari hari ke hari, tidak ada jeda untuk beristirahat selain hari Minggu. Semua itu membuat hati terasa sesak… dan bosan.
Delapan bulan berlalu.
"Hm… main game juga enak. Masuk server ini kali yak, mayan rame juga" Ini pertama kalinya Azam mencoba server online di game itu. Biasanya ia lebih suka bermain offline dengan berbagai mod dan add-on yang ia kumpulkan sendiri.
Di server itu, pemain bisa membuat tim dan membangun wilayah mereka sendiri. Azam melihatnya dan mulai berpikir—mungkin aku juga bisa bikin tim sendiri.
Saat menjelajahi server, ia menemukan seorang pemain yang terasa pas dengannya.
Azam berpikir bahwa mungkin orang inilah yang cocok untuk membantunya membangun komunitas. Azam mendekati karakter itu dan mengetik, "Halo, mau bergabung ke timku?…"
...----------------...
2024
Waktu terus berjalan; hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tanpa terasa, enam tahun telah berlalu sejak berdirinya TCG. Namun, bukan itu yang menjadi permasalahan utama. Selama enam tahun terakhir, setiap kali Azam tertidur, ia tidak sekadar bermimpi—ia seolah benar-benar memasuki dunia lain. Setiap mimpi terasa nyata, seakan dirinya hidup di dalamnya, mengalami kisah yang berbeda di setiap malam.
Mimpi pertama membawanya ke dunia yang penuh sihir dan makhluk fantasi—sebuah tempat di mana keajaiban bukan sekadar cerita, melainkan bagian dari kehidupan. Dua tahun lamanya ia menjelajahi dunia itu, hidup di antara penyihir, naga, dan misteri yang tak terhitung jumlahnya.
Namun setelah dua tahun berlalu, segalanya berubah. Kali ini, ia terbangun di tempat yang dipenuhi cahaya, dikelilingi oleh sosok-sosok bercahaya yang menyebut diri mereka dewa. Awalnya, semuanya tampak biasa saja. Tapi seiring waktu, rahasia di balik cahaya itu mulai terungkap. Mereka bukanlah dewa—mereka adalah demon yang terbagi menjadi dua faksi. Satu faksi, yang tinggal di atas dan menyebut diri mereka dewa, merasa bangga dengan kedudukan mereka dan membangun tempat yang lebih tinggi untuk mengukuhkan kekuasaan. Sementara di bawah, demon lainnya justru menganggap diri mereka lebih unggul dari semua makhluk lain di dunia.
Lalu, datanglah mimpi ketiga—mimpi yang melampaui segalanya. Ia tidak lagi menjadi seorang pengamat, melainkan dunia itu sendiri. Dalam mimpi ini, ia menyaksikan kelahiran dan kehancuran, awal dan akhir, kemunculan peradaban dan kejatuhannya. Waktu mengalir seperti sungai yang tak henti-hentinya membawa kehidupan, dan melihat semuanya dari sudut pandang yang tak terbatas.
Semuanya berlangsung selama 6 tahun, entah apa yang terjadi, selama enam tahun tersebut Azam merasakan dunia yang ditempati mulai menjauh dari pandangannya dan itu diperparah oleh kondisinya: Azam sulit mengenali ataupun mengekspresikan emosinya sendiri. Ia harus menghafal—bagaimana perasaan seharusnya bekerja, dan ekspresi apa yang harus ia tampilkan.
Hari-hari terus berlalu, hingga akhirnya…
…ia memasuki mimpi keempatnya.