Masih dalam tahap revisi!
Alaska Febian seorang pria yang berumur 25tahun diumurnya masih sangat mudah dia telah sukses menjadi Ceo Perusahan Ert..
Awalnya dia tidak pernah tertarik kepada Gadis, namun entah mengapa dia tertarik dengan Gadis yang bernama Flora Aluna Zahira yang biasanya dipanggil Aluna dia berumur 20tahun..
Tanpa basa-basi apapun Alaska mengajaknya menikah, Aluna menerima tawaran itu..
Setelah usia pernikahan mereka 3tahun Alaska awal-awalnya sangat perhatian, penyayang dan selalu ada untuk Aluna..
Namun, akhir-akhir ini sifat Alaska menjadi berubah entah ada apa sebenarnya..
Pada waktu malam tepat dijam 8, Alaska kembali ke Apartemen namun kali ini dia bersama Sienna sahabat Aluna..
Aluna merasa bingung, ada apa sebenarnya dan mengapa Alaska bersama Sienna?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1-SELINGKUH
Hari perlahan tenggelam, malam merayap sunyi. Jam dinding menunjukkan tepat pukul delapan malam.
Di dapur apartemen yang hangat oleh aroma masakan, Aluna masih setia berdiri di depan kompor. Tangannya cekatan, bibirnya sesekali melengkungkan senyum kecil. Ia memasak untuk suaminya Alaska yang sebentar lagi pasti pulang kerja.
Meja makan telah tertata rapi. Dua piring. Dua gelas. Semua seperti biasa. Terlalu biasa, hingga tak ada firasat buruk yang sempat singgah di benaknya.
Ceklek!
Suara pintu terbuka lalu tertutup memecah keheningan.
Aluna spontan menoleh, senyum di wajahnya mengembang penuh harap. Tanpa ragu, ia melangkah menuju ruang tengah untuk menyambut pria yang paling ia cintai.
“Honey, apakah kamu sudah pulang?” ucapnya ceria.
Namun langkah Aluna mendadak terhenti.
Senyumnya runtuh seketika. Di sana berdiri Alaska. Dan di sampingnya Sienna.
Dunia Aluna seakan berhenti berputar. Pandangannya terpaku, napasnya tercekat.
Senyum yang tadi menghiasi wajahnya lenyap tanpa sisa, berganti keterkejutan yang membeku.
Matanya beralih ke Alaska, penuh tanya dan tuntutan. Ia menunggu penjelasan.
Namun Alaska hanya diam. Rahangnya mengeras, tatapannya menghindar. Jelas ia kebingungan atau mungkin takut untuk membuka mulut.
“Mengapa kalian bersama?” tanya Aluna akhirnya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
Sienna tetap membisu, justru bersembunyi di balik tubuh Alaska, seolah mencari perlindungan.
Pemandangan itu membuat dada Aluna semakin sesak.
Alaska akhirnya menghela napas panjang, berat, seakan menyiapkan dirinya untuk menjatuhkan sebuah vonis.
“Honey… ada yang ingin aku katakan kepadamu,” ucapnya lirih, nadanya sarat kesedihan.
Aluna mengernyit, satu alisnya terangkat. Ada sesuatu yang jelas tak beres. Nada Alaska bukan nada biasa.
“Katakan saja, Honey. Ada apa?” balas Aluna lembut, meski jantungnya mulai berdetak tak karuan.
Alaska menarik napas sekali lagi lebih panjang, lebih dalam lalu menghembuskannya dengan pasrah.
“Honey… S-Sienna hamil.”
Seakan petir menyambar tepat di atas kepala
Aluna.
“H-hubungannya Sienna hamil dengan kamu apa, Honey?” tanyanya terbata, kebingungan bercampur ketidakpercayaan.
Alaska menunduk. Suaranya hampir tak terdengar.
“Karena Sienna mengandung anakku, Honey.”
Dugkk!
Dada Aluna terasa dihantam benda berat. Nafasnya tercekat. Dunia di sekelilingnya mendadak terasa sempit.
Ia menatap Alaska dengan mata berkaca-kaca.
“K-kamu bercanda, Honey?” tanyanya lagi, berharap semua ini hanyalah lelucon kejam.
Namun harapannya runtuh seketika.
“Aku tidak bercanda. Selama ini aku berselingkuh dengan Sienna.”
Kepala Alaska tetap tertunduk, seolah rasa bersalah terlalu berat untuk ditanggung tatapannya sendiri.
Aluna refleks memegangi kepalanya. Pikirannya kacau. Sesak di dadanya semakin menekan, membuatnya sulit bernapas.
Bagaimana mungkin? Alaska… bersama Sienna?
Perlahan, tatapan Aluna beralih ke Sienna.
Tatapan penuh selidik. Penuh luka.
Langkahnya maju, satu demi satu, hingga ia berdiri tepat di depan wanita itu. Dengan gerakan cepat, Aluna menarik rambut Sienna.
“Bagaimana kau bisa tega kepadaku, Sienna?! Kau tahu dia adalah pria yang kucintai!” teriaknya penuh emosi.
“Honey, cukup!” seru Alaska sambil menarik tangan Aluna.
Plak!
Tamparan itu mendarat keras di wajah Alaska.
Alaska terkejut. Namun Aluna lebih terkejut pada dirinya sendiri karena untuk pertama kalinya, suaminya menarik tangannya dengan kasar.
Air mata Aluna jatuh tanpa bisa dicegah. Tangannya gemetar, hatinya remuk.
“K-kamu sangat jahat,, apa salahku?” tanyanya lirih, penuh kepedihan.
“Kamu tidak salah, Honey. Aku yang bodoh dan egois. Aku hanya memikirkan perasaanku sendiri…” jawab Alaska sambil menggenggam tangan Aluna.
“Alasannya?” tanya Aluna dengan suara bergetar.
“Aku merasa kesepian, frustasi, dan lelah dengan pekerjaanku. Itu membuatku berpikir untuk berselingkuh,” ucap Alaska, terdengar putus asa.
“Seharusnya kamu mencariku, Honey! Bukan bersama dia!” pekik Aluna sambil menunjuk Sienna.
Sienna semakin menunduk. Tubuhnya gemetar. Ia ingin membela diri, namun sadar ini memang kesalahannya.
Kesalahan karena menggoda, karena membiarkan segalanya berlanjut. Alaska, yang merasa lelah dan kosong, akhirnya tergoda. Dan kesalahan itu kini menjelma menjadi kehancuran.
“Honey, dengarkan aku dulu. Kita bisa hidup bersama. Aku, kamu, dan Sienna. Aku akan tetap mengutamakan kamu,” ucap Alaska sambil memegang pundak Aluna.
“Kita?” Aluna mengulang pelan.
Alaska mengangguk.
Wajah Aluna mengeras.
“Aku tidak akan sudi tinggal bersama dia! Dan dia bukan sahabatku lagi! Dia adalah PELAKOR karena telah mengambil suamiku!” teriak Aluna lantang.
Alaska dan Sienna terkejut.
Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang menyesakkan, seakan udara pun ikut membeku.
Dan malam itu bukan hanya kepercayaan yang hancur, tetapi juga sebuah rumah tangga.