NovelToon NovelToon
KEMBALINYA KESATRIA PEDANG HITAM

KEMBALINYA KESATRIA PEDANG HITAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Time Travel / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Barat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: Mala Cyphierily BHae

Karya ini merupakan karya jalur kreatif.

Adiyasa, pria berusia 18 tahun itu di temukan tewas mengenaskan oleh warga, jazadnya mengapung di sungai kumuh bersamaan dengan sampah yang juga bau busuk.

Yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa sekarang ia bangun, apakah dia mati suri? Setelah itu, Adiyasa seolah mengalami transformasi dari korban bully menjadi pria tangguh tak terkalahkan, inilah kembalinya kesatria pedang hitam.

Seperti kata Noveltoon dan Mangatoon kalau berkarya tidaklah mudah, maka dari itu mari dukung karya author dengan like, komen, subscribe dan bintang lima. Selamat membaca. Yang nggak pelit dukungan hidupnya bahagia. 🥰

Cover by Mak R

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adiyasa/Elang?

Adiyasa, pria muda yang ditemukan tewas oleh warga di sungai kumuh yang melintang di kota Jakarta, ia sedang ditangisi oleh keluarganya dan liang lahat sudah siap untuk menguburnya.

Namun, ada kejadian tak terduga saat pria berusia 18 tahun itu dipindahkan ke keranda, ia bangun dan mendapati tubuhnya terlilit kain putih.

"Dimana ini? Kenapa aku di sini?" tanyanya pada diri sendiri dan pertanyaannya itu berhasil membuat para pelayat terkejut.

Sebagian dari mereka ada yang berlari dan ada yang syok dengan membulatkan matanya melotot.

"A-Adi," lirih Mirah, ibunya yang berada tidak jauh dari keranda. Ia menutupi mulutnya, sangat tak percaya dengan apa yang dilihatnya, wanita berkerudung hitam itu pun jatuh dan tubuhnya yang terhuyung itu ditangkap oleh Kinanti, adik Adiyasa.

Sekarang, bukan hanya Mirah yang pingsan, juga ada Kinanti yang sudah berbaring berjejer di ruang tamu rumahnya yang sederhana.

Sementara itu, Adiyasa yang masih dalam keadaan terpocong itu hanya bisa heran, ia menatap semua orang yang sedang memperhatikannya, terlihat dari pakaiannya yang jauh berbeda dari kerajaannya di negeri sana.

Rambut yang cepak menggunakan peci, bagi wanita menggunakan hijab. Apa ini? Aku ada di jaman apa? Kenapa tubuhku terasa sakit sekali? Itulah yang ada di benaknya saat ini.

Ya, dia adalah Elang, kesatria pedang hitam dari kerajaan kuno. Ia terbunuh saat sedang tidur karena itu adalah kelemahannya.

Sekarang, Elang harus menerima takdirnya yang semula kuat tak terkalahkan, ya, walau akhirnya harus mati juga.

Tapi, apa mungkin kalau Elang adalah orang yang terpilih untuk memberantas ketidak adilan yang terjadi pada Adiyasa?

Sekarang, orang-orang yang berkerumun di rumah Adiyasa mulai membubarkan diri, terkecuali ustad yang awalnya akan membantu untuk memakamkan Adiyasa.

"Dia ibumu, yang melahirkan kamu, dia adikmu, dia dikenal sangat menyayangimu, kalau ayahmu, dia sudah tidak ada," kata pak ustad yang sedang membantu mengembalikan ingatan Adiyasa yang dikira hilang karena mati suri.

"Ibuku?" tanya Adiyasa yang sudah berpakaian lagi, ia merasa heran kenapa bisa memiliki ibu karena di kehidupannya yang dulu, ia adalah sebatang kara.

Tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, sentuhan lembut dari tangan hangatnya dan sekarang kehidupan sungguh berbalik. Terlebih lagi, ia melihat dinding yang terbuat dari semen.

Adiyasa pun bangun, ia mengetuk-ngetuk dinding itu menggunakan jari tengah yang ditekuknya. Pria yang terlihat bodoh itu juga melihat foto yang terpajang di dinding.

"Siapa dia?" tanyanya seraya menunjuk gambar dirinya sendiri.

"Ah, itu. Itu kamu, Nak Adi," jawab ustadz seraya menggaruk kepalanya yang gatal.

"Lihat di cermin, itu adalah kamu," lanjut ustad seraya memutar balikkan tubuh pria kerempeng itu untuk melihat ke kaca lemari pajangan.

"Kenapa dia kurus sekali? Memangnya dia tidak makan?" tanyanya lagi seraya menunjuk dirinya di pantulan cermin dan lagi-lagi pernyataannya itu membuat ustad ingin tertawa.

Kemudian, Mirah membuka mata dan segera memeluk putranya. "Adi, tolong jangan pergi lagi, Nak. Ibu nggak kuat kalau harus kehilangan kamu juga," tangisnya dengan air mata yang berderai membasahi bahu putranya.

"Jadi, begini rasanya dipeluk?" tanya Adiyasa dalam hati.

Lalu, Kinanti pun bangun, ia juga langsung memeluk kakaknya. "Abang, jangan bikin kami nangis lagi, Bang!" serunya seraya sesenggukan.

Dan Adiyasa hanya bisa diam, jujur, dalam hatinya ia merasa senang karena bisa merasakan kehangatan ini untuk pertama kalinya. Ya, walaupun sebenarnya sangat bingung setengah mati atas apa yang terjadi saat ini.

Apalagi mengenai keyakinan, ia juga tidak mengerti kenapa dua wanita itu mengenakan hijab bukan selendangnya.

Siang telah berlalu, sekarang, malam telah tiba dan Adiyasa sedang memperhatikan dirinya di pantulan cermin yang ada di kamarnya, kamar yang berukuran kecil.

"Astaga, kemana perginya otot-ototku?" tanyanya seraya tangannya mengusap lengannya yang lembek.

Tidak lama kemudian, pintu kamar terketuk, dia adalah Kinanti yang memanggilnya untuk makan malam.

Adiyasa mengikuti gadis remaja itu dan sekarang, Kinanti mempersilahkan kakaknya duduk di kursi lapuk yang ada di dapur.

Terhidang makanan sederhana yaitu tahu goreng, sambal kecap dan telur mata sapi yang sebenarnya itu semua adalah makanan kesukaannya.

Tapi, bagi Adiyasa yang sekarang adalah bukan, makanan itu tidak mengundang seleranya.

Sekarang, Mirah mengambilkan nasi untuk putranya dan Adiyasa hanya memperhatikan. Ia juga melihat cara ibu dan adiknya makan dengan tangan kosong.

"Sumpit?" tanya Adiyasa pada adiknya dan Kinanti menertawakannya walau mulutnya sedang penuh dengan tahu kecap.

"Nggak usah sok-sokan mau pakai sumpit, nih, pakai tangan aja, nikmat!" jawab Kinanti, ia terkekeh karena sebelumnya, Adiyasa sama sekali tidak pandai menggunakan sumpit.

Sekarang, Adiyasa mengambil air kobokan yang ada mangkuk plastik, pria tinggi kerempeng itu menenggaknya sampai habis.

Hal itu membuat Mirah dan Kinanti saling tatap, mereka mengira kalau ini adalah efek dari mati suri Adiyasa sehingga membuat otak pria itu kurang seperempat.

"Abang, ini bukan minum, ini kobokan, begini caranya," kata Kinanti seraya memperagakan cara mencuci tangan.

Setelah itu, Adiyasa pun mengikutinya. Ia juga memakan semua yang ada di meja tanpa sisa membuat Mirah merasa kalau stok berasnya akan cepat habis mulai dari sekarang.

Tapi, Mirah tetap bahagia karena putranya sekarang di sini. Selesai dengan makan, sekarang, Adiyasa kembali ke kamarnya, ia berolahraga seraya menunggu kantuknya datang. Adiyasa olahraga push up.

Sementara itu, Kinanti mengetuk pintu kamar ibunya. "Bu, Kinan mau tidur di sini, ya," rengeknya dan Mirah mengiyakan, ia memeluk putrinya yang sedang menceritakan kakaknya.

"Bu, ada yang aneh nggak sih, sama Abang?" tanya Kinanti seraya mendongak, ia menatap wanita yang hampir menua itu.

Mirah menarik nafasnya dalam, lalu, menghembuskannya kasar. "Kita harus bantu Adi buat dia ingat semua tentang dirinya," jawab Mirah.

Dalam hati, Kinanti juga ingin kalau Kakaknya mengingat kejadian naas yang menimpanya. Sekarang, Mirah mengajak Kinanti untuk tidur, supaya besok bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala.

Esok paginya, Adiyasa yang sudah bangun lebih dulu itu sedang berlatih, ia menggunakan gagang sapu dan karena itu membuat sapu Mirah menjadi buntung.

Kinanti yang melihat itu pun menepuk jidatnya. "Abang, ini sapu satu-satunya kenapa jadi buntung?" tanya Kinanti dan Adiyasa tetap berlatih seolah menggunakan pedangnya.

Dan Adiyasa hanya diam saja, namun, Kinanti yang memperhatikan kakaknya itu memuji latihannya. "Wah, dalam semalam, banyak yang berubah, ya, Bang."

"Kamu berisik," jawab Adiyasa yang sedang mengatur nafasnya, ia berkeringat dan sekarang melakukan pendinginan setelah berolahraga.

"Dari makan cuma secimit, sekarang satu meja diabisin, dari cupu sekarang jadi suhu. Nanti, ajarin Kinanti pakai gagang sapu juga, ya, Bang," pinta Kinanti yang sedang duduk di kursi teras, ia tersenyum manis pada kakaknya dan sekarang, Adiyasa pergi meninggalkan adiknya itu ke kamar.

Ia merasa gerah, ingin mandi dan tidak melihat sungai. "Ini kenapa panas banget, ya? Apa matahari udah semakin dekat sama bumi?" tanyanya dalam hati.

Karya ini merupakan karya jalur kreatif

1
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
heh.. heh... bukan muhrim
ㅤㅤ
jadi.ny adiyasa apa siva ini..🤣
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: jangan panggil aku anak kecil paman 🤭🤭
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
Didi itu ayah Adi kah?
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: hooh typo harusnya didit 😬😬🤭
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
makanya jangan terlalu percaya janji manis... sama kek janda sebelah... mosok masih termakan janji online. 🤦‍♀🤦‍♀
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞: sama aku cemburu nya setengah mati lagi 😅😅😅
total 4 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
jangan sombonk dulu lo Raja
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
ketangkap lagi basah2an maksudnya? 😅😅😅
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
o.. o.. kamu ketahuan Dik 😁
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
anda benar ✅✅😁
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
sokooor.. kalah ama cewek...
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
kena tikung sahabat 😁😁😁
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
wkwkwk.. kayak nya Miko curiga
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
kayaknya si Adiyasa dijebak oleh Raja dan Clara semoga Adiyasa melihatmu
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
ayo hajar... hajar... 😁😁
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: hajar dong masa enggak 🤭🤭🤭
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
weh.. jadi rangkaya nampak nya
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: alhamdulillah, mengubah takdir 😬🤭✌
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
pacar Miko? pacar Arland tak?
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: gx tau ka, lupa 😂😂😂🤭🤭
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
kuahnya nambah dong 😁
🚶‍♀️🚶‍♀Notifikasi: tambah banyak tambah asin pula tu 🤭
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
dih.. cemburu ya bang?
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
kalo gak main sosmed pasti ada yg kasih tau lah adeknya barangkali
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞: heleh typo gagal keren 😅😅😅
total 4 replies
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
Clara yang malang
🏡s⃝ᴿ ༄⃞⃟⚡🅰️𝖓𝖓𝖞𝕸y💞
hayo loh pilih ibu apa pilih Clara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!