NovelToon NovelToon
7 Life Crystals Book I

7 Life Crystals Book I

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:104.6k
Nilai: 4.6
Nama Author: Koibumi Alana

Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.

Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.

Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 : Bermain di Pemukiman Rakyat Durasec

Di perjalanannya menuju desa, Yula melihat sebuah kereta pedagang yang akan melewati jalannya. Ia pun melambaikan tangan untuk menghentikan kereta tersebut dan meminta tumpangan hingga sampai di desa. Pedagang tua tersebut dengan senang hati memberi tumpangan pada gadis kecil yang ceria itu.

Selama perjalanan, sekedar basa-basi Yula bertanya tentang pedagang tersebut. Siapa namanya, apa dagangannya, sudah berdagang kemana sajakah, tentang keluarganya dan lainnya hingga mereka sudah hampir sampai di perbatasan desa.

“Kamu dari mana, Nak?” tanya pedagang yang sudah berumur itu. Ia juga penasaran dengan Yula. “Tadi sepertinya kamu keluar dari istana. Apa kamu salah satu anggota kerajaan?” bicaranya mulai sopan pada Yula.

“Aah, tidak. Aku bukan salah satu anggota keluarga kerajaan Durasec. Aku hanya seorang pengelana yang menemani seorang putri ke Kerajaan Durasec,” jawab Yula merendahkan diri.

“Benarkah? Jangan berbohong, Nak, mata saya tak bisa dibohongi,” kata pedagang itu tertawa. Ia membelalakkan matanya hingga membuat Yula ikut tertawa.

“Aku tidak bohong, kok,” jawab Yula.

Tak lama kereta itu sampai di sebuah desa, yang mereka temui ialah sebuah pasar. Yula pun turun dari kereta.

“Terima kasih, Pak, sudah memberi tumpangan.”

“Hanya sebuah tumpangan, tak lebih. Kalau begitu saya pamit dahulu, Tuan Putri, berhati-hatilah.”

Pedagang itu pun pamit pergi. Yula agak kaget saat pedagang itu memanggilnya tuan putri, namun setelah itu ia tertawa. Ia menebak bahwa pedagan itu bukanlah pedagang biasa, pastinya telah berpengalaman berdagang ke sana-kemari, terlihat dari caranya menilai seseorang dari sorot matanya. Mungkin karena itu juga ia mau menumpangi Yula pada keretanya hingga sampai di desa.

“Dan lagi, bapak itu baik,” gumam Yula menilai pedagang tadi. Memang benar, jika tidak mungkin pedagang itu sudah membawa kabur Yula ke tempat lain, atau mencuri uangnya. Meski hal itu teradi pun, Yula bukanlah anak kecil yang mudah dikalahkan.

Yula pun menatap seantero pasar. Seperti biasa, pasar memanglah ramai. Yula yang sudah memiliki persiapan dengan uang yang ada di sakunya, mulai berkeliling pasar seorang diri. Ada makanan-makanan yang dijual di pasar, lalu ada buah dan sayur, daging, serta barang-barang perlengkapan rumah dan lain sebagainya.

Lalu hidungnya mencium bau yang sangat menarik perhatiannya. Perutnya keroncongan, ia ingat kalau tak memakan sedikit pun hidangan di istana. Ia segera mencari dari mana aroma itu berasal. Ternyata dari sebuah toko kecil yang membakar tusukan daging yang dibakar di atas arang kayu. Ia mendekati tempat tersebut dan menanyakan apa yang mereka jual. Ternyata yang dibakar itu ialah daging cumi.

Ia mencoba untuk beli satu dan mencicipinya. Sangat enak! Cara membakar cumi yang unik dan bumbu-bumbu rahasia yang dicampur dengan kecap membuat Yula mengatakan bahwa makanan ini khas desa Durasec. Yula sangat pandai dalam segala hal ilmu, tapi ia tidak terlalu pandai dalam menebak bumbu yang tercampur dalam sebuah masakan. Karena itu ia mengira apapun makanan-minuman yang dijual di Durasec berarti itu kuliner khas Durasec. Ia membeli lima tusuk daging cumi bakar sekaligus!

Yula kembali melanjutkan jalan-jalannya dengan daging cumi bakar di tangan. Setelah makanannya habis, ia merasa haus. Ia mencari minuman yang harus tak pernah ia minum sebelumnya di Hearthose, harus hanya ditemukan di desa ini. Ia menemukan sebuah gerobak pedagang yang menjual minuman yang menurutnya sangatlah unik.

Ia mendekati gerobak tersebut, menanyakan pada pedagangnya apa yang ia jual. Pedagang itu menjual berbagai macam jus sayur. Yula pun memesan jus tomat, sayur yang paling ia sukai. Namun bukan hanya rasa tomat yang ia cecap, seledri dan daun bawang tercampur di dalamnya. Yula mengulurkan lidahnya keluar karena tak suka dengan seledri. Diseruput lagi, potongan jamur kecil ternyata juga menjadi isi jus tersebut. Yula menggigitnya, menurutnya lumayan enak.

“Pak, ini jus apa masakan sayur, sih?” tanya Yula heran.

“Kan sudah bapak bilang, jus sayur, rasanya seperti masakan sayur yang dibuat ibu di rumah. Khuhuhuu....” jawab pedagang itu tertawa puas. Sepertinya pedagang itu bertujuan menjual jus sayur agar anak-anak tak kekurangan asupan sayur dalam tubuh mereka.

Minuman yang aneh, tapi justru itu yang diinginkan oleh Yula. Ia sangat senang bisa menikmati makanan dan minuman yang belum pernah ia cicipi sebelumnya. Meski untuk jus sayur, baginya agak kecewa.

“Setelah ini ke mana, ya?” gumamnya setelah menghabiskan jus sayur sekuat tenaga.

Ia pun berjalan dengan riang di tempat yang sangat asing. Tapi ia tak hilang arah dan berjalan tanpa ragu di pasar itu. Dengan berkeliling pasar, ia mendapat berbagai macam informasi dari menguping pembicaraan para pedagang.

Demi perintah Lacus, ia menggunakan magica anginnya untuk menguping pembicaraan orang-orang yang ada di sekitarnya, dengan bantuan angin yang mengalirkan suara orang-orang ke telinganya, bahkan suara terkecil sekaligus. Yula terlihat sangat menikmati pekerjaannya.

.

.

.

Berputar mengelilingi pasar, berjalan tanpa tahu arah dan kini Yula telah keluar dari pasar. Ia berjalan di tepian sungai. Sungai yang membatasi pasar dengan pemukiman penduduk. Di tepi sungai seberang sana, tampak beberapa anak sedang bermain. Ada yang bermain kejar-kejaran dan ada yang bermain kelereng.

Yula tertarik untuk ikut bermain dengan anak-anak Durasec yang sama sekali tak ia kenal satupun. Tapi tanpa ragu ia mendekati segerombolan anak dengan langkah riang, bersikap selayaknya anak-anak yang pergi mencari teman bermain.

“Wah, sepertinya mengasikkan!” Suaranya membuat anak-anak itu menoleh ke arahnya, bereaksi dengan satu ekspresi yang sama, heran. “Boleh bergabung?” tanya Yula pada mereka.

Anak-anak itu saling memandang teman di sebelahnya, seakan bertanya pada temannya, ‘apa orang asing itu kenalanmu?’, yang ditanya langsung menggidikkan bahu, tak mengenal sama sekali. Lalu seorang anak laki-laki mendekati Yula, menatapnya dengan perasaan curiga, anak itu kira-kira sama besar dengan Yula.

Ia pun bertanya. “Kau siapa? Kau bukan orang sini, kan? Atau kau baru pindah?”

Yula mengangguk. “Ya. Aku baru saja tiba di desa ini. Karena aku baru, aku mau cari teman. Apa aku boleh ikut bermain?”

“Namamu?” tanya anak itu lagi.

“Yula. Yula Athhra,” jawab Yula riang.

“Toni Jeason.” Anak laki-laki itupun memperkenalkan diri juga sambil mengulurkan tangan pada Yula. “Dan disana ada Mary...,” anak yang dipanggil namanya melambaikan tangan, ada yang mengatakan ‘hai’. “Trec, Jam, Shia, Trania, Qiffie....” Ia memperkenalkan teman-temannya yang lain pada Yula. Dan Yula membalas salam mereka.

Setelah saling memperkenalkan diri, Yula pun resmi menjadi teman mereka, sepertinya begitu, pikir Yula. Mereka mulai bermain di mana mereka akan membentuk dua kelompok dan tiap kelompok menjaga sebuah tempurung kelapa yang sudah dihiasi dengan daun kering yang mana nantinya tempurung itu akan direbut oleh kelompok lain untuk menentukan pemenangnya.

Mereka saling berlari dan kejar-kejaran, saling menjaga dan merebut tempurung kelapa tersebut. Yula sangat cepat berbaur dengan anak-anak tersebut hingga mereka bisa tertawa dan bermain bersama tanpa rasa asing dengan kehadiran Yula yang sangat baru itu.

Di tengah permainan, mereka tergaduh oleh suara seseorang yang tak jauh dari tempat mereka bermain. Seorang anak laki-laki mengejar lelaki remaja yang usianya diperkirakan lebih tua beberapa tahun dari Yula. Anak laki-laki itu terlihat seperti memohon. Dan orang yang dikejarnya itu terlihat sangat kesal lalu membentaki anak itu untuk menjauhinya. Tapi anak itu tetap mengejarnya.

“Lagi-lagi Hikson,” kata Toni menghela napas.

“Dia kenapa?” heran Yula.

“Hikson sangat mengagumi Pangeran Esha dan ingin ia mengajarinya beberapa magica. Namun sikap pangeran sangat dingin dan tak ingin membantunya,” jelas Mary.

Yula agak terkaget. “Pangeran?”

Mary mengangguk.

“Heh, pangeran dari mana? Ia hanya anak angkat raja. Dia taklah pantas disebut pangeran. Apa lagi sikapnya yang tak bersahabat!” kesal Toni.

Yula semakin penasaran dan mencoba mengorek informasi dari anak-anak itu, terutama Toni. “Anak angkat raja? Yang namanya Esha itu?”

Toni mengangguk.

“Memangnya sikap buruk seperti apa yang ia lakukan?” tanya Yula.

“Sepertinya kau tertarik dengan Pangeran Yang-Tak-Jelas-Asalnya itu,” kesal Toni. “Ia memang tampan, banyak anak perempuan yang mengejarnya. Ia terhebat dan terpintar di sekolah. Dan itu membuatnya sombong dan tak tahu diri. Sudah, jangan jatuh hati padanya, Yula. Tak ada yang baik dari dirinya.”

Yula mengangguk. “Oke. Aku juga tidak tertarik dengan orang sombong,” jawabnya malas, namun ia masih ingin mengoreksi informasi lebih banyak dari teman-teman barunya.

Meski mereka hanyalah anak-anak, tapi anak-anak yang suka bermain di mana-mana dan berkumpul saling membicarakan orang lain merupakan sumber informasi terpenting yang bisa Yula dapat. Dan lagi, anak kecil tak pernah berbohong akan hal apapun berita yang mereka dengar.

“Lalu anak yang bernama Hikson itu pasti ia tahu tentang pangeran itu, bukan? Kenapa ia masih memohon pada orang sombong seperti dia?”

Mary menjelaskan. “Hikson, ia memiliki magica api yang sama dengan Pangeran Esha. Di desa ini hanya dua orang yang memiliki magica tersebut, Hikson dan Pangeran Esha. Sayang sekali tak ada yang bisa mengajarkannya menguasai magica api, katanya sih dari keluarganya pun tak ada yang memiliki magica seperti itu. Jadi menurut Hikson hanya Pangeran Eshalah yang bisa mengajarinya magica api, karena itu setiap hari ia mengejar pangeran dan memohon padanya untuk menjadikannya murid.”

Toni pun melanjutkan penjelasan Mary. “Tapi seperti apa yang telah kau lihat. orang sombong itu malah memaki anak kecil. Boleh saja ia yang terhebat di akademi, tapi kesombongan dan kikirnya membagi ilmu sama saja tak berarti apa-apa.”

“Sepertinya Hikson itu sangat kewalahan, ya? Kasihan,” gumam Yula. “Maaf, Toni. Sepertinya aku semakin penasaran dengan keluarga kerajaan Durasec. Bisakah kalian bercerita tentang desa dan keluarga kerajaan Durasec seperti apa? Itu akan sangat membantu bagiku sebagai orang baru di desa ini.”

1
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
kasian esha
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangatt semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
ko we jadi sedih
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat Semangat Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Nayla Syberia
namanya lacus tapi aku baca nya berkali-kali salah malah Lucas 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!