NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Janji Dua Jam di Rumah Sakit

Perayaan makan malam yang dipindahkan ke mansion malam itu menjadi sebuah momen titik balik yang tenang bagi mereka bertiga.

Yoyo terbangun satu jam setelah Oliver memindahkan Viona ke kamarnya.

Alih-alih mendapati rumah yang kosong, gadis kecil itu mendapati ayahnya dan Viona sedang duduk bersama di meja kecil ruang keluarga lantai dua, dikelilingi oleh hidangan restoran bintang lima yang harum.

Malam itu berakhir dengan Yoyo yang tertidur kembali di antara Oliver dan Viona, menggenggam tangan kedua orang dewasa itu dengan senyum damai yang merekah.

Ketakutannya akan kehilangan perlahan

terobati oleh kehadiran nyata orang-orang yang disayanginya.

Namun, kedamaian di mansion mewah keluarga Oliver harus menghadapi sedikit ujian kedisiplinan pada keesokan harinya.

Pukul sepuluh pagi, sebuah panggilan telepon mendesak datang dari rumah sakit pusat kota.

 Dokter spesialis kesehatan jiwa yang selama setahun terakhir menangani terapi Viona secara berkala menelepon.

Jadwal pemeriksaan rutin dan pembaruan resep obat penenang dosis rendah milik Viona jatuh pada hari ini.

Mengingat insiden serangan panik dua malam lalu dan botol jingganya yang hampir kosong, Viona tahu ia tidak boleh melewatkan janji temu ini.

Jika ia ingin terus menjadi jangkar pelindung bagi Yoyo, ia harus memastikan kesehatan mentalnya sendiri berada dalam kondisi prima.

Ketika Viona baru saja selesai bersiap di lobi utama dengan mengenakan blus kasual berwarna krem, Oliver melangkah turun dari lantai tiga.

 CEO muda itu sudah mengenakan setelan jas formal hitamnya, siap untuk berangkat ke kantor pusat untuk memimpin rapat umum pemegang saham.

"Kau mau ke mana, Viona?" tanya Oliver,

langkah kakinya yang tegap berhenti di anak tangga terakhir. Mata elangnya langsung menilai penampilan Viona yang rapi dengan tas tangan kecil.

Viona menoleh, memberikan senyuman tipis.

"Saya harus ke rumah sakit pusat sekarang, Oliver. Jadwal pemeriksaan rutin bulanan saya dengan dr. Januar. Saya juga perlu menebus resep obat penenang yang baru untuk bulan ini."

Mendengar kata "rumah sakit" dan "obat penenang",

rahang Oliver sedikit mengeras.

Gurat kecemasan seketika membayang di wajahnya yang tampan.

Ingatan tentang bagaimana Viona berlutut gemetar di lantai kamar dengan napas tersengal-sengal malam itu masih terekam jelas di benaknya.

Ia tidak suka membayangkan wanita itu harus pergi ke lingkungan rumah sakit yang sibuk dan steril sendirian dalam kondisi psikologis yang masih rapuh.

Oliver melirik jam tangan mewahnya.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit.

Rapat umumnya dijadwalkan pukul satu siang.

Pria itu menarik napas panjang, lalu menatap Pak Pelayan yang berdiri siaga di dekat pintu.

"Batalkan mobil jemputanku yang biasa. Aku akan menyetir sendiri."

Pandangannya beralih kembali ke arah Viona dengan sorot mata yang penuh otoritas namun sarat akan kepedulian yang mutlak.

"Aku yang akan mengantarmu ke rumah sakit."

Viona terkejut, matanya yang jernih melebar.

"Oliver, tidak perlu. Hari ini Anda ada rapat penting di kantor pusat, bukan? Saya bisa pergi menggunakan taksi atau meminta sopir mansion untuk mengantar. Jaraknya lumayan jauh."

"Rapatku baru dimulai pukul satu siang," potong Oliver tegas, tidak menerima bantahan.

Ia melangkah mendekati Viona, mengambil alih mantel tipis yang dipegang wanita itu di tangannya.

"Dan aku tidak akan membiarkan wanitaku berjalan di lorong rumah sakit sendirian dengan sisa trauma yang baru saja mereda dua hari lalu. Kita pergi sekarang.

Aku punya waktu tepat dua jam untuk menemanimu di sana sebelum aku harus berada di ruang rapat."

Mendengar kata-kata "wanitaku", jantung Viona berdegup tidak karuan.

Pipinya merona hangat di bawah temaram lampu lobi.

Ia menyadari bahwa di balik sifat tirani dinginnya, Oliver selalu memiliki cara yang sangat protektif—dan mutlak—dalam menunjukkan kepeduliannya.

Akhirnya, Viona hanya bisa mengangguk patuh, membiarkan Oliver menuntunnya keluar menuju mobil SUV hitam mewah milik pria itu yang sudah terparkir di halaman depan.

Perjalanan menuju rumah sakit pusat kota dipenuhi oleh keheningan yang nyaman.

Oliver menyetir dengan fokus yang tinggi, sementara Viona sesekali menatap keluar jendela, mengagumi bagaimana pria di sampingnya ini rela mengesampingkan ego bisnisnya demi sebuah janji temu medis yang sederhana.

Pukul sebelas kurang lima belas menit, mobil mereka memasuki area parkir khusus rumah sakit.

Kompleks bangunan medis yang megah itu tampak cukup padat pagi ini.

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam lobi klinik spesialis, aroma antiseptik yang khas langsung menyapa indra penciuman mereka.

Bagi penderita gangguan kecemasan seperti Viona, suasana rumah sakit yang penuh dengan orang sakit terkadang bisa memicu rasa tidak nyaman yang halus.

Seolah bisa membaca pikiran Viona, Oliver yang berjalan di sampingnya mendadak menurunkan tangan kirinya dan menyusupkan jemari kokohnya di antara jemari Viona.

 Ia menggenggam tangan wanita itu erat-erat, menyalurkan kehangatan instan yang menenangkan.

"Deg."

Viona tersentak kecil, menatap tangan mereka yang saling bertautan.

Oliver tidak menoleh, matanya tetap menatap lurus ke depan menuju meja registrasi, namun genggamannya begitu posesif dan protektif, seolah-olah ia sedang mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa wanita di sampingnya ini berada di bawah perlindungan penuh seorang Oliver.

"Jangan melihat sekeliling jika itu membuatmu tidak nyaman,"

bisik Oliver dengan suara rendah yang berat, tepat di dekat telinga Viona.

"Fokus saja padaku. Aku ada di sini."

Viona tersenyum manis, dinding kecemasannya menguap begitu saja.

Genggaman tangan Oliver berubah menjadi jangkar terkuat yang membuatnya bisa melangkah dengan kepala tegak melalui lorong-lorong rumah sakit.

Setelah proses registrasi selesai, Viona dipanggil masuk ke dalam ruang konsultasi dr. Januar.

Sesuai dengan aturan medis pribadi, Oliver ikut melangkah masuk dan duduk di kursi di samping Viona.

dr. Januar, seorang pria paruh baya berkacamata dengan ekspresi yang sangat bijaksana, tersenyum menyambut mereka.

Sang dokter sedikit terkejut melihat kehadiran Oliver—sosok penguasa bisnis kota yang biasanya hanya muncul di majalah finansial—kini duduk dengan tatapan protektif di samping pasiennya.

"Selamat pagi, Viona. Dan... Tuan Oliver, sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda," sapa dr. Januar ramah.

"Selamat pagi, Dok,"

 balas Viona lembut.

Oliver hanya mengangguk sopan, matanya tidak lepas dari berkas rekam medis Viona yang sedang dibuka oleh sang dokter.

"Bagaimana kondisi perkembangannya, Dokter? Dua malam lalu dia mengalami serangan panik yang cukup hebat di rumah,"

ucap Oliver langsung pada intinya, menunjukkan bahwa ia memantau setiap detail kesehatan Viona.

dr. Januar membetulkan letak kacamata medisnya, menatap Viona lalu beralih ke Oliver.

"Serangan panik adalah hal yang wajar bagi penderita major depressive disorder pasca-trauma berat, terutama jika dipicu oleh stresor dari masa lalu. Namun, dari data detak jantung dan catatan mandiri yang Viona bawa hari ini, saya melihat ada grafik pemulihan yang sangat tidak biasa."

Dokter itu membalik sebuah lembaran grafik di layar monitornya.

"Biasanya, pasien dengan tingkat trauma seperti Viona membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk bisa beradaptasi di lingkungan baru tanpa obat penenang dosis tinggi. Tapi dalam sebulan ini, tingkat kecemasan dasar Viona justru menurun drastis pada siang hari. Pola tidurnya pun membaik, kecuali saat serangan mendadak itu terjadi."

dr. Januar tersenyum hangat, menatap tajam ke arah tangan Oliver yang secara tidak sadar masih mengusap pelan punggung tangan Viona di atas meja konsultasi.

"Obat medis hanyalah alat bantu, Tuan Oliver. Penyembuh sejati dari gangguan mental adalah lingkungan yang aman dan kehadiran figur pelindung yang memberikan rasa memiliki yang mutlak. Saya rasa, keberadaan Anda dan putri Anda di rumah itu adalah resep terbaik yang pernah didapatkan oleh Viona."

Mendengar penjelasan medis dari sang ahli, Viona merasakan dadanya membuncah oleh rasa haru.

Ia menoleh ke arah Oliver, mendapati pria itu sedang menatapnya dengan tatapan mata elang yang melembut sempurna. Ada rasa bangga dan kelegaan yang nyata terpancar dari wajah tegap sang CEO.

"Aku akan memastikan lingkungan itu tetap aman untuknya, Dokter,"

ucap Oliver dengan nada rendah yang mutlak, sebuah janji yang bukan lagi sekadar formalitas kontrak, melainkan sebuah komitmen jiwa.

dr. Januar mengangguk puas. Ia kemudian menuliskan resep baru—masih dengan dosis rendah yang sama, namun dengan catatan bahwa frekuensi penggunaannya bisa dikurangi jika kondisi stabilitas emosional Viona terus meningkat.

"Teruskan terapi interpersonal yang kalian lakukan di rumah. Dan Viona, kau beruntung memiliki ksatria pelindung yang bersedia meluangkan waktunya di tengah kesibukan luar biasa untuk menemanimu di sini."

Pukul dua belas lewat empat puluh lima menit, mereka berdua keluar dari apotek rumah sakit setelah menebus obat yang baru.

Oliver melirik jam tangannya kembali.

Janji dua jam di rumah sakit itu telah terpenuhi dengan sempurna. Waktu yang ia miliki sebelum rapat besar di kantor pusat tinggal lima belas menit lagi.

Mereka berdiri di dekat area penjemputan mobil lobi depan rumah sakit.

Angin siang yang sejuk berembus pelan, menerbangkan beberapa anak rambut Viona.

"Kau harus segera berangkat, Oliver,"

ucap Viona dengan nada khawatir, melihat mobil pengawal kantor pusat yang rupanya sudah bersiaga di depan lobi untuk menjemput Oliver agar pria itu tidak terlambat ke rapat umum.

"Terima kasih karena sudah menemaniku sepanjang dua jam ini. Penjelasan dokter tadi... membuatku merasa jauh lebih optimis tentang kesembuhanku."

Oliver melangkah satu langkah lebih dekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga tubuh tegapnya menghalangi Viona dari keramaian orang-orang yang lalu lalang di lobi rumah sakit. Ia mengulurkan tangannya, merapikan anak rambut Viona dengan kelembutan yang sangat intim, membuat beberapa pasang mata di sekitar mereka menatap dengan rasa iri.

"Aku sudah katakan padamu, Viona,"

bisik Oliver, suaranya terdengar sangat dalam dan personal di tengah kebisingan rumah sakit.

"Dua jam ini bukan sebuah pengorbanan waktu bagiku. Ini adalah investasi terbaikku hari ini. Melihatmu melangkah keluar dari ruangan dokter dengan senyuman itu... nilainya jauh lebih besar daripada keuntungan rapat pemegang saham mana pun di kantor pusat."

Jantung Viona berdegup kencang, ia menatap lurus ke dalam mata elang Oliver yang kini memancarkan rasa kepemilikan yang mutlak.

"Masuklah ke mobil yang sudah kusiapkan untuk mengantarmu kembali ke mansion,"

perintah Oliver dengan nada otoritasnya yang protektif yang kini terasa begitu manis di telinga Viona.

"Jaga dirimu baik-baik selama aku di kantor. Dan ingat resep dari dokter tadi... penyembuhmu adalah rumah kita. Aku akan pulang tepat waktu sore ini untuk memastikan resep itu berjalan dengan baik."

Oliver memberikan satu remasan hangat pada jemari Viona untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya berbalik dengan langkah tegap penuh wibawa, masuk ke dalam mobil jemputan dinas korporasinya yang langsung melesat menuju distrik bisnis kota.

Viona berdiri menatap kepergian mobil Oliver dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia miliki selama bertahun-tahun hidupnya.

Ia menggenggam botol obat barunya di dalam tas, namun ia tahu, di bawah kehangatan janji dua jam di rumah sakit dan perlindungan mutlak dari sang tirani dingin, ia mungkin tidak akan membutuhkan obat penenang itu lebih lama lagi—karena cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka telah menjadi obat penyembuh yang paling sempurna bagi jiwanya yang kini tak lagi rapuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!