Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 10
PRIA YANG BENAR-BENAR MENYEBALKAN
Kontak mata itu saling beradu pandang. Tak ada lagi yang bisa Myra ucapkan setelah dia bisa melihat jawabannya lewat mata tajam Silas.
Ia berbalik badan, meletakkan pisau tersebut sembari menunduk hingga mengusap wajahnya lalu beralih menatap Silas lagi. “Dengar.... ” Myra menarik nafas dalam-dalam mencengkram kera kemeja Silas dan menatapnya tajam berkaca-kaca. “Aku tidak peduli meski kau seorang kartel ataupun Don. Lepaskan aku.”
“Lepaskan aku dan tinggalkan aku. Akhiri semua ini, aku tidak ingin berhubungan dengan mu lagi.”
Pria itu masih diam menatap datar.
Ia melihat kecemasan dengan mata istrinya hingga kedua tangannya mencengkram kedua pergelangan tangan Myra.
Wanita itu mencoba menarik, namun tak bisa sehingga dia pasrah menatap balik Silas.
“Kau tidak akan ke mana-mana. Meski kau tidak menyukainya, tapi kau akan tetap bersamaku.” kata Silas tanpa menggebu. Kedua alis Myra berkerut. “Dan jangan lupa. Kita sudah menikah.”
Seketika Silas melepaskannya dan Myra tak bisa berkata-kata selain diam menatap ke cincin di jari manisnya. Cincin yang sama persis seperti milik peninggalan ibunya.
Air matanya menetes tanpa suara.
“Kau memang tidak menginginkannya. Anggap saja ini takdir kita.” ucap Silas meraih pisau yang sama dari meja dan menyingkirkannya. “Malam ini kita akan ke New York. Bersiaplah.”
Usia mengatakannya, pria itu melangkah pergi.
Sementara Myra masih diam. Mengingat ucapan Silas tadi membuatnya teringat akan perasaannya dulu. Bagaimana pria itu selalu mengganggunya dengan tawa lebar, anak yang bandel dan menyebalkan, juga humoris membuat Myra perlahan memiliki perasaan yang sama seperti Silas. Hanya sebuah cinta monyet.
Dan kini.. pria itu seolah mengingatnya kembali akan perasaannya dulu yang pernah terhenti karena masalah cincin yang kelewat batas bagi Myra.
...***...
Gudang tua yang berbau tembakau begitu menyengat. Namun ketegangan di sana lebih tajam dari aromanya.
Beberapa pistol diletakkan di atas meja.
“Tidak ada lagi senjata tersembunyi.” kata seorang pria tua dengan kedua tangan terangkat.
Begitu juga dua pria dan satu wanita paruh baya yang juga sama— mengeluarkan senjata mereka untuk saling percaya. Dan pria bernama Valen, ia meletakan pistol dan pisau lipatnya.
Lalu kembali bersandar menghisap cerutunya dengan santai.
“Kita bisa memulai pertemuan ini.” katanya.
“Pembahasan yang masih sama. Itu bukan sepenuhnya wilayah mu. Aku meminta untuk memberi akses jalan untuk kapal pengiriman ku.” kata seorang wanita paruh baya dengan dress gold rambut bergelombang orange, bibir merah dengan tahi lalat di atas bibirnya sebelah kiri. Madona McKolloney.
Valen menyeringai kecil. “Jika ingin berbisnis maka berikan keuntungan yang setara, Nyonya. Bagaimana pun itu juga wilayah ku.”
“Itu wilayah umum. Dan itu berdekatan dengan milik tuan Wolf.” kata seorang pria tua yang membuat Valen berhenti menghisap cerutunya.
“Bicara soal Wolfe. Bagaimana dengan pria itu?”
“Aku akan menghabisinya.” gumam pelan Valen bergerak menyamankan posisi duduknya. Namun mereka samar mendengarnya hingga si Madona menyeringai kecil dan dua pria lainnya ikut tersenyum.
“Itu sama saja seekor ayah masuk ke kandang buaya, Tuan Valen.” tegur seorang pria kulit cokelat gelap asal Brazil.
Tak tersinggung. Valen menyeringai mengenakan topi koboinya warna abu-abu sementara jas abu-abunya masih bertengger di kedua bahu kekarnya.
“Menghabisi seseorang hanya butuh dengan kelicikan dan manipulasi.” ucapnya seketika membuat mereka terdiam tak lagi tersenyum.
Pria tua di sana menatap berkerut alis penuh kecurigaan. “Apa maksudmu?”
“Tidak ada. Hanya menikmati momen, tapi aku juga membutuhkan tumbal kesenangannya.” ucapnya yang mulai beranjak dari duduknya ketika suara hitungan detik mulai terdengar jelas.
Pip... Pip... pip... Pip..
“Shit!”
“Fuck you.”
Pria itu menyeringai kecil menatap mereka berempat yang masih duduk di sana dengan wajah marah.
“Satu gerakan saja akan membuat waktunya lebih cepat. Percayalah, bomnya tidak jauh, ada di tanah yang kalian pijak.” ucap Valen.
“Damn it.”
“Berani sekali kau berbohong? Kelicikan hanya akan membuatmu mati lebih cepat, sialan.” kata Madona menyeringai dengan wajah tegang.
“Apapun itu.” balas Valen tak perduli. “Goodbye.” ia melangkah pergi disaat keempat orang di meja itu tak berani bergerak karena bom ada di bawah mereka dan suara itu semakin cepat dan jelas.
“Fuck— ” Pria Brazil itu memutuskan beranjak dari duduknya dengan tergesa-gesa. Namun...
Blumm!!
Ledakan benar-benar terjadi tatkala anak buah mereka langsung ricuh mencoba menolong bos mereka masing-masing. Sementara Valen berhasil lolos dengan mobilnya yang melaju pergi meninggalkan lokasi.
Ia menyeringai puas menatap ke jendela, lalu ke Ronan. “Bagaimana kabar tentang Silas?”
“Dia menikahi wanita itu. Saya rasa tuan Silas sudah membaca gerakan kita, Tuan. Mereka tahu kalau Anda yang menghabisi keluarga wanita itu.”
Mata Valen menatap ke arah jalanan gelap gulita tanpa senyuman.
“Dasar bajingan.” umpatnya menyeringai kecil. Tak percaya kalau Silas memang susah diruntuhkan. Tapi dia harus meruntuhkannya dan harus mengambil ahli Syndicate Silas Al Wolfe agar lebih luas lagi jangkauan nya.
...***...
Tak butuh waktu lama. Myra keluar menuju halaman.
Silas yang tadinya berbincang serius dengan Kael, seketika perbincangan itu diakhiri dan dia menoleh menatap istrinya yang kini mengenakan dress selutut waran hitam polos, sederhana tapi elegan membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja.
Tanpa senyuman, Myra hanya menatapnya sinis lalu berjalan menghampirinya dan menatapnya sekilas sebelum akhirnya melewatinya.
Silas hanya menoleh tanpa berbalik namun ia menyeringai kecil.
“Jika sudah selesai segera menyusul, lah ke sana.”
“Mengerti, Tuan. Hati-hati.” kata Kael dengan penuh hormat.
Silas berbalik dan segera masuk ke mobil hitam. Myra sudah duduk di dalam sana dengan tenang tanpa pertengkaran lagi, hanya diam dan tatapannya yang dingin serta sinis.
“Ketenangan mu membuatku khawatir.” sindir Silas seraya menekan tombol hingga jendela mobil terbuka agar Myra tak lagi mabuk kendaraan.
Dan sindiran tadi membuat wanita meliriknya. “Berurusan denganmu tidak akan ada habisnya. Mungkin aku akan membuat onar di sana, itu sebabnya aku mengumpulkan energiku.” Balasnya lalu tersenyum singkat dan kembali menatap ke jendela.
Tak ada lagi percakapan antara mereka. Silas hanya menatapnya datar dan dingin lalu kembali menatap lurus.
Empat mobil melaju meninggalkan mansion minimalis. Menyusuri jalanan panjang yang sepi dan mencengkram.
Tak sesekali Silas menoleh untuk memastikan istrinya masih tenang. Dan benar saja— Myra masih fokus mengamati jalanan Miami lewat jendela terbuka.
“Kau tidak punya pekerjaan tetap sebelumnya?” tanya Silas yang kini ia mengeluarkan rokok dari kotak kecil khusus.
Myra menoleh. “Kenapa bertanya? Seharusnya kau sudah tahu tentang kehidupan ku.” celetuk Myra membuat Silas kesusahan membalasnya.
“Tidak semuanya.” balas Silas terus terang. Asap mengepul keluar lewat jendela mobil. “Aku masih tidak melihat caramu mandi dan bagaimana kau tidur.”
Dengan entengnya Silas mengatakan itu sambil menatap lurus dan merokok. Sementara Myra menatapnya geram hingga mendengus kesal.
“Keterlaluan.” ia berpaling malas.
Pria itu hanya menoleh ketika Myra berpaling kesal.
“Pertahankan sifat itu. Aku suka melihat wajah itu darimu.” goda Silas menyeringai puas yang semakin membuat Myra kesal tak ketulungan.
...°°°...
Hai guysss!!!! Sampai sini semoga kalian suka yaaaaa uyyyyy..... Aku harap tidak membosankan 😌
Akan ada dag-dig-dug lainnya dan dar-der-dor juga.. Jadi siapakan jantung dan mental yaaa 😁
Jangan lupakan jejak semangatnya seperti biasa untuk menambah semangat para penulis uyyyy!!!! Like, Komen, Rate ⭐ 5, Favorit 👍
Thanks and See Ya ^•^