NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 — Kekuatan yang Terbangun

Josh tersadar di lantai kamarnya, napasnya terengah, keringat membasahi dahinya, dan bau hangus samar dari lampu tidur yang pecah masih tercium di udara. Sosok pria berjas hitam sudah menghilang, namun jejak energi aneh yang sempat ia rasakan masih tertinggal, membuat ujung jarinya kesemutan hingga beberapa menit setelahnya.

Ia bangkit perlahan, menatap sekeliling kamar yang kini kembali normal, meski pecahan kaca lampu tidur masih berserakan di lantai sebagai bukti nyata bahwa apa yang baru saja terjadi bukan sekadar mimpi buruk biasa.

Keesokan harinya, dengan foto pecahan lampu sebagai bukti, ia menceritakan pengalaman itu kepada teman-temannya, termasuk sensasi energi aneh yang ia rasakan tepat sebelum sosok itu menghilang secara paksa, seolah tertarik oleh sesuatu yang lebih kuat.

"Serius lo ngerasain kayak gitu?"

tanya Gibran, matanya membelalak penasaran sekaligus khawatir, menatap foto lampu pecah dengan ekspresi campur aduk.

"Kayak ada sesuatu yang nyala di dalam diri gue," Josh menjelaskan, mencoba mendeskripsikan sensasi yang sulit ia gambarkan dengan kata-kata biasa. "Tapi cuma sebentar, terus ilang lagi, ninggalin rasa kesemutan doang."

Veron mencatat detail itu dengan saksama, namun tangannya sendiri sedikit gemetar memegang pena, sesuatu yang tidak luput dari perhatian Brandon yang duduk di sampingnya.

"Lo kenapa?"

bisik Brandon pelan kepada Veron, hanya mereka berdua yang mendengar.

"Nggak tahu,"

Veron menjawab jujur, suaranya nyaris tak terdengar.

"Dari semalam gue ngerasa... kayak ada yang bakal kejadian. Perasaan aneh gitu, kayak déjà vu tapi lebih kuat. Gue sering ngerasain ini sebenernya, cuma nggak pernah gue omongin."

Brandon menatapnya lama, ada sesuatu di matanya yang seolah ingin mengatakan sesuatu juga, namun ia memilih diam untuk saat ini, menyimpannya sendiri.

"Mungkin itu semacam mekanisme pertahanan,"

kata Veron kemudian, kembali fokus ke topik utama meski pikirannya masih terganggu oleh firasatnya sendiri. "Kayak insting bertahan hidup yang keluar pas lo bener-bener kepepet."

"Atau mungkin ini ada hubungannya sama kasus-kasus yang kita temuin di arsip lama,"

tambah Brandon, suaranya sedikit bergetar. "Siapa tahu korban-korban sebelumnya juga punya kekuatan yang sama, tapi mereka nggak sempet make nya buat nyelametin diri."

Dugaan itu membuat suasana semakin mencekam. Jika benar korban-korban sebelumnya memiliki kemampuan serupa namun tetap menghilang, itu berarti ancaman yang dihadapi Josh jauh lebih besar dari yang mereka kira.

Sore itu, mereka kembali mengunjungi rumah tua yang pernah mereka datangi sebelumnya, kali ini dengan tekad lebih kuat untuk masuk dan mencari petunjuk lebih jauh, membawa senter dan keberanian yang dipaksakan.

Pintu depan rumah itu ternyata tidak terkunci, berderit pelan saat Gibran mendorongnya perlahan. Di dalam, debu tebal menyelimuti hampir seluruh perabotan yang masih tersisa. Foto-foto keluarga yang telah pudar tergantung miring di dinding, menampilkan wajah seorang remaja laki-laki yang tersenyum di antara kedua orang tuanya.

Ruangan itu memancarkan aroma khas rumah tua yang lama tak dihuni campuran debu, kayu lapuk, dan sesuatu yang samar-samar menyerupai bau terbakar meski tidak ada tanda-tanda kebakaran di rumah tersebut. Brandon sempat mengeluh perutnya mual begitu mereka melewati ambang pintu, namun memilih untuk tetap melanjutkan demi teman-temannya.

"Ini pasti dia,"

gumam Veron, menatap foto itu dengan iba, meski tangannya yang memegang senter sedikit gemetar tanpa sebab yang bisa ia jelaskan. Josh mendekat, mengamati wajah dalam foto itu, dan merasakan getaran aneh di dadanya perasaan familiar yang tidak bisa ia jelaskan, seolah ia mengenal remaja dalam foto itu meski mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.

Di sudut ruangan, sebuah jam dinding tua tergantung, jarumnya berhenti tepat di angka yang sama yang telah menghantui malam-malam Josh selama berminggu-minggu.

Dan tepat saat mereka semua terpaku menatap jam itu, Brandon tiba-tiba merosot ke lantai, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri, wajahnya pucat pasi seolah menahan rasa sakit luar biasa yang datang tiba-tiba dan tak tertahankan.

"Brandon!" Veron berlutut di sampingnya, panik. "Lo kenapa?!"

Brandon tidak menjawab, matanya terpejam rapat, tubuhnya gemetar hebat, dan dari bibirnya yang pucat, ia hanya sanggup berbisik satu kalimat yang membuat bulu kuduk semua orang di ruangan itu berdiri serentak.

"Dia... di belakang kalian..."

Kata-kata itu menggantung di udara seperti ancaman yang belum sepenuhnya terucap, membuat setiap orang di ruangan itu berdiri kaku, tidak berani bahkan untuk sekadar bernapas terlalu keras. Debu yang tadinya melayang tenang di udara akibat gerakan mereka kini seolah membeku di tempat, dan dari kejauhan, suara detak jam tua yang sejak tadi tidak mereka sadari keberadaannya tiba-tiba terdengar jelas, berdetak dengan irama yang jauh lebih lambat dari seharusnya, seolah waktu di dalam rumah itu sendiri mengikuti aturan yang berbeda dari dunia luar.

Josh merasakan lututnya sendiri lemas, namun ia memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak, mencoba melindungi Veron dan Brandon yang berada di dekatnya meski ia sendiri tidak tahu persis dari apa ia harus melindungi mereka. Beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang nyaris tak tertahankan sebelum akhirnya Brandon perlahan membuka matanya kembali, tubuhnya masih gemetar namun setidaknya sudah sadar sepenuhnya.

Veron segera mendekap Brandon, membantunya duduk lebih nyaman di lantai berdebu itu, sementara Gibran berjaga-jaga di ambang pintu, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang temaram dengan waspada. Setelah beberapa saat, napas Brandon mulai kembali teratur, dan meski tubuhnya masih terasa lemas, ia bersikeras ingin melanjutkan pencarian bersama yang lain, tidak ingin dianggap sebagai beban yang menghambat penyelidikan penting ini.

Namun begitu Brandon berdiri, matanya sekilas menangkap sesuatu di balik jendela kaca yang pecah di sudut ruangan bukan bayangan hitam yang selama ini menghantui Josh, melainkan sesuatu yang jauh lebih kecil, lebih cepat, berlari melintas di kegelapan luar rumah tua itu sebelum menghilang di antara pepohonan. Ia membeku sesaat, hampir memberi tahu yang lain, sebelum memutuskan untuk menyimpannya sendiri dulu tidak yakin apakah yang baru saja ia lihat benar-benar nyata, atau sekadar bagian dari rasa takutnya sendiri yang mulai bermain-main dengan matanya.

...****************...

Anjay Lanjut Besok Yah 02.02

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!