***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Selesai dengan semua urusan restoran, Naya memutuskan untuk pulang, meskipun ini masih terlalu awal untuk pulang. Naya tak ingin berlama lama berada direstoran yang mengingatkannya pada kejadian buruk minggu lalu.
Rasanya sakit memang, Ia sudah bangkrut dan tak ada harapan lagi untuk memperbaiki restoran yang sudah hampir 4 tahun ini menjadi ladang rejeki untuknya dan anak anak panti namun sekarang semuanya hancur.
Sepertinya Naya harus memulai kehidupan baru, pekerjaan baru. Hidup harus terus berlanjut untuk Naya karena jika Ia menyerah bagaimana dengan nasib anak anak? Naya tak ingin Anak anaknya kembali ke jalanan hanya karena Ia bangkrut, Ya Naya harus bangkit dan melanjutkan hidupnya.
"Kok tumben udah pulang mbak?" tanya Anna melihat jam dinding masih pukul 1 siang.
"Iya An, rasanya capek banget." keluh Naya.
"Mbak Naya dibilangin ngeyel sih, kan aku udah bilang kalau nggak usah ke restoran dulu." kata Anna terlihat khawatir.
"Nggak apa apa kok An." balas Naya, kalau hari ini Naya tak segera menyelesaikan restorannya bukankah kasian para karyawannya karena harus digantung lama padahal mereka juga harus segera mencari pekerjaan lain.
"Restoran gimana mbak? nggak apa apa kan?" Tanya Anna.
"Enggak An, resto baik baik aja kok." kata balas Naya menutupi dari Anna "Oh ya, anak anak pada tidur? sepi banget?" tanya Naya mengalihkan pembicaraan.
"Iya mbak, udah pada tidur."
"Ya udah, aku masuk kamar dulu An." kata Naya meninggalkan Anna memasuki kamarnya.
Naya menutup pintu kamarnya, Ia sangat sedih sekali apalagi sekarang Ia terpaksa harus membohongi Anna, bukan apa apa Naya hanya tak ingin Anna mengkhawatirkan masalah uang itu saja.
Naya menghela nafas lelah dan menaiki ranjang untuk berbaring disana. Rasanya sepi dan hampa, entah apa yang membuatnya merasakan ini semua, apa karena tak ada Raka disampingnya?.
Ah pria itu benar benar menepati janjinya untuk tidak menganggu Naya tapi mengapa sekarang malah Naya yang terganggu karena tak ada Raka disampingnya?
"Mikirin apa sih Nay! lupain aja, dia yang udah buat hidup kamu kembali berantakan." gumam Naya.
...
Nathan berjalan memasuki ruangan Raka,
"Mana fotonya?" tanya Raka tak sabar.
Nathan mengeluarkan sebuah Map coklat lalu memberikan pada Raka.
Raka terlihat senang sekali, Ia lalu mengambil sebuah album foto yang tebal dan menempelkan beberapa foto itu disana.
"Hari ini Non Naya sudah kembali kerestoran Tuan, dan itu beberapa foto yang orang kita ambil saat Non Naya direstoran." jelas Nathan.
"Dia selalu cantik." kata Raka memandangi foto foto Naya tanpa berkedip.
Raka memang sudah kembali ke jakarta dan tak menganggu Naya, namun apa yang Raka lakukan sungguh gila. Setiap hari Raka selalu meminta foto Naya yang diambil oleh salah satu orang suruhannya yang selama ini menguntit Naya, tidak hanya orang suruhannya namun Anna juga mengambil peran dalam kegilaan Raka ini. Bahkan Raka selalu meminta foto Naya saat tengah tidur, hingga membuat Anna harus diam diam masuk ke kamar Naya untuk memotret Naya.
Ya itulah yang dilakukan Raka selama seminggu ini setelah Ia kembali ke jakarta.
"Apakah terjadi sesuatu dengan restoran Naya?" tanya Raka.
"Sepertinya begitu Tuan, namun saya juga belum bisa memastikan kebenaranya karena saya belum mengecek sampai sana."
"Baiklah cari tau segera, aku hanya ingin Naya baik baik saja." kata Raka.
"Baiklah Tuan."
"Lalu bagaimana dengan Clara?" tanya Raka.
"Nona Clara sudah ditampung ditempat bordil nyonya beby yang ada di bali dan di pastikan Ia tak akan bisa kembali ke jakarta."
"Bagus, memang disanalah tempat seharusnya Ia berada." kata Raka mengingat bagaimana murahanya Clara selama ini.
"Dan untuk kedua orangtua Non Clara juga sudah meninggalkan rumah mereka karena disita oleh bank."
"Lalu dimana mereka sekarang?" tanya Raka.
"Mereka sudah pindah keluar kota tanpa membawa non Raisa."
"Benar benar keluarga gila, bisa bisanya mereka meninggalkan cucu mereka yang masih sekarat dirumah sakit." kata Raka menggeleng tak percaya.
"Lalu bagaimana dengan Non Raisa Tuan? saya mendapatkan kabar dari Rena jika Non Raisa sudah sadarkan diri dan selalu mencari Tuan dan Non Clara."
"Benarkah Raisa sudah sadar?" tanya Raka terlihat senang.
"Benar Tuan, Rena yang memberi kabar pada saya pagi tadi."
"Baiklah, kita akan segera kesana nanti, dan kamu jangan lupa urus hak asuh anak dan berikan padaku, biar aku saja yang mengurus Raisa." kata Raka yang memang sudah berencana mengasuh Raisa meskipun Raisa bukanlah putri kandungnya namun Raka sangatlah menyayanggi Raisa.
"Baiklah Tuan."
....
Raka berjalan menyusuri rumah sakit, sepulang kerja Raka memang berniat untuk mengunjungi Raisa putrinya.
"Raisa sayang, harus makan, kalau nggak makan nanti nggak sembuh sembuh." suara Rena yang terdengar merayu Raisa.
"Enggak mau, Raisa maunya disuapi Mommy sama Daddy." teriak Raisa sambil terus membegap mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Tapi nanti Non Raisa nggak sembuh sembuh kalau nggak mau makan." bujuk Rena.
"Mana anak Daddy yang nggak mau makan?" kata Raka yang tiba tiba masuk memberikan sureprize setelah tadi sempat mendengar ucapan Rena yang membujuk Raisa.
"Daddy...." teriak Raisa girang.
"Anak Daddy kenapa nggak mau makan?" tanya Raka yang kini mendekati Raisa.
"Raisa sedih, Daddy sama Mommy udah nggak sayang sama Raisa makanya nggak kesini." kata Raisa sedikit cemberut.
"Kata siapa Daddy nggak sayang? sekarang aja Daddy udah ada disini."
"Tapi Mommy?" Raisa menunduk sedih.
"Sayang, Mommy kan lagi sibuk kerja, Daddy janji akan selalu ada buat Raisa jadi Raisa nggak boleh sedih lagi ya." pinta Raka yang langsung membuat Raisa tersenyum senang.
"Beneran ya Daddy, nanti Daddy bakal ngajak Raisa liburan juga ya?"
"Pasti dong, Raisa mau kemana saja pasti Daddy turuti." kata Raka mengacungkan dua jarinya tanda janji pada Raisa.
"Asikkk... Raisa sayang Daddy." Raisa menghambur kepelukan Raka tanpa sadar jika tangannya masih diinfus membuat Raisa meringgis kesakitan ingin menangis.
"Ya ampun sayang, pelan pelan." Raka terlihat panik dan membenarkan infus Raisa.
"Untung nggak lepas, Raisa nggak apa apa kan?" tanya Raka.
"Sakit Daddy, Raisa nggak suka disini, Raisa pengen pulang."
"Iya makanya Raisa harus makan dulu biar cepet sembuh trus pulang." kata Raka.
"Raisa mau disuapin Daddy."
"Siap Tuan putrinya Daddy." Dengan telaten Raka menyuapi Raisa makan, setelah makan Raka membantu Raisa minum obat karena Raisa memang sedikit sulit untuk meminum obat.
Raka menatap Raisa yang kini sudah pulas tertidur. meskipun Raisa bukanlah putri kandungnya namun tak bisa Raka pungkiri jika Ia sangat menyayanggi Raisa.
Dan keputusan nya menjauhkan Raisa dari Clara sepertinya sudah benar karena selama ini Clara tidak pernah peduli dengan Raisa apalagi kakek neneknya yang dengan tega meninggalkan Raisa dirumah sakit.
Ya Raisa pantas mendapatkan kebahagiaan sedangkan Clara dan keluarganya pantas mendapatkan yang terburuk.