Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Yan Kai berjalan memasuki Pagoda Lima Elemen dengan langkah mantap. Begitu melewati pintu masuk, ia langsung merasakan perubahan yang sangat jelas.
Energi spiritual di dalam pagoda jauh lebih pekat dibandingkan dunia luar. Bahkan setiap tarikan napas terasa seperti menghirup energi spiritual murni.
Di tengah ruangan terdapat sebuah tangga batu yang menghubungkan setiap lantai. Yan Kai teringat ucapan Su Lian. "Setiap lantai mewakili satu elemen." Tanpa ragu ia mulai menaiki tangga.
Lantai pertama dipenuhi aura tanah yang berat. Lantai kedua dipenuhi energi air yang sejuk. Lantai ketiga dipenuhi hembusan angin yang terus berputar. Yan Kai terus melangkah hingga akhirnya tiba di lantai keempat.
Begitu kakinya menginjak lantai tersebut, suhu di sekelilingnya langsung meningkat. Dinding-dinding pagoda dihiasi batu kristal merah yang memancarkan cahaya hangat. Energi elemen api memenuhi seluruh ruangan.
Yan Kai menganggukkan kepala pelan. "Di sinilah tempat yang paling cocok."
Di tengah ruangan terdapat sebuah bantalan kultivasi yang dikelilingi formasi kuno. Rune-rune merah di lantai memancarkan cahaya redup, terus menarik energi spiritual api dari sekeliling menuju pusat ruangan.
Yan Kai segera duduk bersila. Ia mengeluarkan kotak giok yang diberikan Su Lian. Perlahan ia membukanya. Pil Inti Emas masih memancarkan aroma obat yang sangat pekat. Hanya dengan menghirup aromanya saja, Yan Kai sudah merasakan dantiannya sedikit bergetar.
Ia menarik napas panjang. "Lakukan sebaik mungkin."
Tanpa ragu sedikit pun, Yan Kai memasukkan Pil Inti Emas ke dalam mulutnya. Begitu pil itu masuk ke dalam tubuhnya...
Boom!
Energi spiritual yang luar biasa langsung meledak di dalam dantiannya. Gelombang panas mengalir ke seluruh meridian. Yan Kai segera menjalankan Teknik Kultivasi Bulan Purnama.
Energi spiritual api dari Pagoda Lima Elemen, energi spiritual alam, serta khasiat Pil Inti Emas mulai berkumpul menuju dantiannya. Perlahan, lautan Qi di dalam tubuhnya mulai mengalami perubahan.
Sementara itu, di halaman belakang istana, Su Lian berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung. Tatapannya mengarah ke Pagoda Lima Elemen yang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan matanya tampak dipenuhi rasa penasaran.
"Dengan bakat Yan Kai, kira-kira berapa lama dia membutuhkan waktu?" Ia bergumam pelan.
Seorang kultivator biasa, untuk membentuk Inti Emas, membutuhkan waktu sekitar enam bulan meskipun telah memperoleh Pil Inti Emas.
Sedangkan seorang jenius dapat mempersingkat waktu itu menjadi sekitar tiga bulan. Bahkan dirinya dahulu juga membutuhkan waktu hampir tiga bulan penuh sebelum berhasil menerobos ke Ranah Inti Emas.
Su Lian tersenyum tipis. "Yan Kai. Jangan mengecewakanku. Aku ingin melihat seberapa jauh batas kemampuanmu."
Angin lembut kembali berembus melewati halaman. Tatapan Su Lian tetap tertuju pada Pagoda Lima Elemen. Ia benar-benar penasaran, apakah murid yang membawa energi kegelapan kuno itu mampu menciptakan keajaiban sekali lagi.
Ranah Inti Emas merupakan salah satu titik balik terbesar dalam dunia kultivasi. Pada ranah ini, lautan Qi di dalam dantian akan dipadatkan hingga membentuk sebuah Inti Emas, sumber kekuatan baru yang jauh lebih murni dan stabil.
Seorang kultivator yang berhasil mencapai ranah ini tidak lagi bergantung pada pusaka untuk melayang di udara. Dengan memadatkan energi Qi di punggung mereka, mereka mampu menciptakan sepasang sayap energi yang memungkinkan mereka terbang bebas melintasi langit.
Tidak hanya itu, kekuatan mereka juga mengalami perubahan secara menyeluruh. Jika kultivator Ranah Pemurnian Qi hanya mampu melukai tubuh lawan, maka kultivator Ranah Inti Emas telah mampu menyerang dan menghancurkan jiwa lawannya.
Sekali jiwa terluka, luka tersebut jauh lebih sulit dipulihkan dibanding luka fisik. Karena itulah, setiap kultivator yang berhasil melangkah ke Ranah Inti Emas akan memperoleh peningkatan kekuatan yang sangat besar dan mulai dianggap sebagai ahli sejati dalam dunia kultivasi.
...
Sementara itu, jauh di utara Kerajaan Awan Suci, berdiri sebuah kota terbesar sekaligus pusat seluruh kekuasaan kerajaan.
Kota Berlian.
Kota metropolitan yang menjadi jantung pemerintahan Kerajaan Awan Suci. Di tengah kota berdiri sebuah kompleks istana yang begitu megah dan luas.
Istana Awan.
Tempat tinggal keluarga kerajaan sekaligus pusat administrasi, militer, dan seluruh keputusan penting yang mengatur wilayah Kerajaan Awan Suci.
Sejak kerajaan itu didirikan ratusan tahun silam, kekuasaan selalu berada di tangan Klan Lei, klan bangsawan tertua yang melahirkan para raja Kerajaan Awan Suci secara turun-temurun.
Raja saat ini adalah Lei Zhen, seorang kultivator ranah Raja Puncak yang telah memimpin kerajaan selama puluhan tahun dan dihormati oleh seluruh bangsawan.
Meski demikian, Klan Lei tidak pernah benar-benar mampu menguasai seluruh Kerajaan Awan Suci. Bukan karena mereka lemah, melainkan karena kerajaan ini dihuni oleh terlalu banyak sekte besar dan faksi kuat yang memiliki sejarah panjang serta kekuatan yang diwariskan selama beberapa generasi.
Paviliun Teratai Putih, Sekte Naga Phoenix, Sekte Bulan Darah, dan berbagai kekuatan besar lainnya—masing-masing memiliki wilayah, murid, tetua, serta pengaruh yang sangat besar.
Bahkan keluarga kerajaan pun harus berpikir berkali-kali sebelum memulai konflik dengan salah satu di antara mereka. Karena itulah, hubungan antara istana dan sekte-sekte besar selama ini selalu berada dalam keseimbangan yang rapuh.
Di dalam salah satu paviliun mewah di Istana Awan, seorang pemuda tampan mengenakan jubah kebesaran kerajaan berdiri sambil memandangi taman dari balik jendela. Pemuda itu adalah Lei Dong, putra kedua Raja Lei Zhen.
Di tangannya terdapat sebuah gulungan informasi yang baru saja dikirim oleh jaringan mata-mata kerajaan. Tatapannya perlahan berubah serius.
"Su Lian... dan Chen Nan bertemu?" Ia bergumam pelan. Pertemuan antara dua tokoh sebesar itu jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap kebetulan.
Selama bertahun-tahun, Su Lian hampir tidak pernah meninggalkan Lembah Sunyi. Sedangkan Chen Nan juga jarang menerima tamu secara pribadi. Namun sekarang, keduanya justru bertemu secara langsung.
Lei Dong perlahan menutup gulungan informasi itu. "Apa yang sedang mereka rencanakan..." Ia mulai berpikir. Berbagai kemungkinan terus bermunculan di dalam benaknya. "Kalau dua kekuatan sebesar Sekte Bulan Darah dan Sekte Naga Phoenix bekerja sama, maka keseimbangan Kerajaan Awan Suci bisa berubah."
Tatapan Lei Dong menjadi semakin tajam. Ia yakin pasti ada sesuatu yang sangat besar hingga mampu membuat Su Lian mendatangi Gunung Azure secara langsung.
Saat itulah ia menepukkan tangannya pelan. Tak lama kemudian, seorang pria berpakaian hitam muncul sambil berlutut. "Yang Mulia."
Lei Dong tidak menoleh. "Perintahkan seluruh jaringan mata-mata kita. Cari tahu apa yang dibicarakan Su Lian dan Chen Nan. Aku ingin laporan sedetail mungkin. Jangan lewatkan sekecil apa pun informasi."
Pria berpakaian hitam segera menundukkan kepala. "Hamba mengerti."
Lei Dong kembali menambahkan, "Dan mulai sekarang, perhatikan seluruh pergerakan Sekte Bulan Darah dan Sekte Naga Phoenix. Jika salah satu dari mereka mulai mengerahkan pasukan atau para tetua, laporkan kepadaku secepatnya. Jangan sampai kerajaan terlambat mengambil langkah. Bila kedua tokoh itu benar-benar bergerak, aku ingin Kerajaan Awan Suci sudah siap menghadapi segala kemungkinan."
"Baik, Yang Mulia."
Sosok berpakaian hitam itu segera menghilang dari ruangan secepat bayangan.
Ruangan kembali sunyi. Lei Dong kembali menatap langit di luar jendela. Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa dalam waktu dekat, Kerajaan Awan Suci akan menghadapi sebuah gejolak besar yang mampu mengubah peta kekuatan seluruh kerajaan.
balas dendam.