Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran yang Terabaikan
"Ning'er, kau sudah bangun!"
Hou Juntian langsung membantuku bangun bersandar dengan penuh kehati-hatian. "Pelan-pelan, kau sedang hamil," ucapnya lembut.
"Aku hamil?" tanyaku terkejut bukan main.
"Benar, baru satu minggu usianya kata tabib. Jadi kau harus menjaga anak kita," jelasnya.
"Dage," panggil Hou Juntian sambil membangunkan Mo Jiu yang tertidur di kursi.
"Ning'er, kau sudah sadar," ucap Mo Jiu yang langsung mendekat ke arahku dengan sorot mata lega.
"Aku lapar," ucapku spontan, mengingat dari semalam aku belum sempat makan sebelum tragedi berdarah itu terjadi.
"Aku sudah menyuruh pelayan membawakan makanan, tapi untuk saat ini kau harus makan bubur," ucap Hou Juntian sambil mengambil semangkuk bubur yang dibawakan oleh Xiao Chu.
"Aku tidak suka bubur, Tian-ge, kau tahu itu," keluhku merengut.
"Aku tahu, tapi ini demi lukamu agar segera pulih," rayu Hou Juntian sabar.
Ternyata suami jahilku ini lebih peduli secara detail daripada Mo Jiu, batinku menilai.
"Baiklah," ucapku menurut pada akhirnya.
Setelah aku makan beberapa suap, rasanya perutku sedikit mual tapi masih bisa kutahan.
"Ning'er, bagaimana kejadian semalam bisa melukaimu separah ini?" tanya Mo Jiu serius.
"Semalam aku marah ke Juntian, lalu aku ingin kembali ke kamar tapi dihadang oleh dua pembunuh bayaran. Singkat saja, aku memukul mereka dengan semangat karena melampiaskan kekesalanku, tapi mereka berkata, 'Bunuh wanita ini agar tidak mengganggu rencana Tuan,' begitu kata mereka. Setelah aku menghajar mereka, tiba-tiba ada anak panah melesat dari kejauhan menembus dadaku, lalu Juntian datang dan aku tidak sadarkan diri," jelasku panjang lebar.
"Aku sedang menyelidiki pembunuh bayaran yang melukaimu, tapi dia bunuh diri dengan racun yang ditanam di mulutnya," geram Mo Jiu dengan tangan mengepal kuat.
"Sudahlah, jika musuh datang, kita terima saja, lagian mereka akan kalah karena aku mempunyai dua suami yang hebat," pujiku tersenyum.
Namun, belum selesai aku memuji, sebuah suara familiar yang bernada kesal mendadak muncul dari ambang pintu.
"Oh... kau tidak menganggapku ada," protes sebuah suara berat namun bernada manja.
Sosok pemuda berwajah tampan namun kini tampak sedang menekuk bibirnya cemberut muncul dari balik pintu. Li Jing Xuan, sang Putra Mahkota, berdiri di sana dengan kedua tangan dilipat di dada, memasang wajah kesal karena merasa diabaikan olehku dan kedua suamiku.
Aku menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata sosok yang datang adalah tunangan absurdku—Putra Mahkota Li Jing Xuan.
"Kau benar-benar membuatku khawatir, Ning'er. Di mana lukanya? Biar aku panggilkan Tabib Istana," ucap Putra Mahkota panik sambil melangkah maju, lalu secara sepihak mendorong tubuh Hou Juntian dan Mo Jiu agar menyingkir dari sisi ranjang.
"Bixia!" teriak Hou Juntian dan Mo Jiu bersamaan dengan nada tidak suka.
"Oh... maaf, maaf, Dage, Er-ge, aku panik," ucap Putra Mahkota polos sambil membungkuk sedikit memberikan gestur hormat.
"Bixia, Anda belum resmi menjadi suaminya, jagalah sopan santun," tegas Mo Jiu dengan suara dinginnya.
"Aku sudah bertunangan dengannya, sudah pasti aku termasuk calon suaminya," balas Putra Mahkota tidak mau kalah saing.
Di tengah perdebatan kecil mereka, gelombang mual yang luar biasa tiba-tiba menghantam perutku begitu Li Jing Xuan semakin mendekat ke arah ranjang. Aroma tubuhnya seketika membuat kepalaku pusing dan perutku bergejolak hebat.
"Bixia, bolehkah kau menjauh? Aku merasa mual sekali saat Anda mendekat," ucapku dengan wajah pucat sambil buru-buru menutup mulut dan menahan rasa mual yang mendesak naik.
"Ning'er, kau tega sekali mengusirku," ucap Putra Mahkota dengan nada merajuk sedih, merasa tidak terima.
Melihat ekspresinya, Hou Juntian langsung menengahi dengan tenang, "Bixia, Anning sedang hamil, mohon Anda mengikutinya dan mundur untuk sementara."
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸