Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sebelum Queen sempat mencerna getaran dari kalimat itu, Nial bergerak lebih cepat. Ia menarik pinggang Queen, memangkas habis jarak yang tersisa, dan langsung membungkam bibir wanita itu tanpa peringatan sedikit pun.
Queen tersentak hebat. Kedua matanya membelalak lebar, menatap wajah Nial yang begitu dekat hingga ia bisa melihat bulu mata pria itu yang basah.
Ciuman itu tidak dingin atau penuh dominasi yang kejam. Itu adalah ciuman yang sarat akan keputusasaan, rasa bersalah, dan kerinduan liar yang telah membakar Nial selama setahun penuh.
Nial menuntut balasan, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita di pelukannya ini nyata, bukan sekadar ilusi yang sering menghantuinya di malam-malam tanpa tidur.
"N—nial, stop—..." Queen mengerang tertahan di sela - sela ciuman mereka.
Aroma parfum maskulin Nial yang sangat ia kenal dan kehangatan bibir pria itu nyaris meruntuhkan pertahanan yang dibangunnya dengan susah payah di Paris. Namun, kilasan rasa sakit masa lalu memicu alarm di kepalanya. Dengan satu sentakan kasar, ia mendorong dada bidang Nial sekuat tenaga.
Grep!
Nial terdorong mundur satu langkah, napasnya memburu kasar. Queen segera menyeka bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar, menatap Nial dengan api kemarahan yang menyala-nyala di balik matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Kau benar-benar brengsek," wajah Queen memerah, antara kesal dan malu.
Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Queen langsung berbalik, menyambar gagang pintu kamar, dan menariknya terbuka. Ia melangkah keluar ke koridor lantai dua dengan tergesa-gesa, mengabaikan fakta bahwa ia masih berada di area privat Nial.
Nial menatap punggung yang menjauh itu dengan rahang mengeras. Otaknya yang diselimuti kabut kepanikan berputar cepat.
Jika Queen berhasil turun, ia mungkin akan kehilangan wanita itu selamanya. Dan Nial tidak akan membiarkan takdir sialan itu terjadi lagi.
"Queen, sebaiknya kau berhenti sekarang." Seru Nial.
Queen tidak peduli, ia tetap berjalan menyusuri koridor panjang itu.
Nial mengangguk. "Baiklah, jangan salahkan aku." Langkahnya dipercepat, dan—
Sret!
"Nial—!"
Queen memekik histeris saat merasakan tarikan kencang di bagian belakang tubuhnya, disusul suara robekan kain yang terdengar begitu nyaring.
Langkahnya terhenti seketika. Dinginnya udara malam langsung menyentuh kulit punggungnya yang kini terekspos lebar.
Gaun malamnya yang indah telah robek sempurna dari batas ritsleting hingga ke pinggang akibat cengkeraman kasar jemari Nial.
Queen berbalik dengan cepat, tangannya refleks menahan bagian depan gaunnya agar tidak merosot jatuh ke lantai. Matanya melebar, menatap Nial dengan api kemarahan yang menyala-nyala.
"Kau ... KAU SUDAH GILA, YA?!" teriak Queen, suaranya melengking tinggi. Tangannya yang bebas mengepal erat, ingin sekali melayangkan pukulan mentah ke wajah tampan di hadapannya. "Apa yang kau lakukan pada gaunku, bajingan?!"
Nial berdiri tegak di tempatnya, menatap mahakarya robekannya sendiri dengan wajah tanpa dosa, meski ada binar posesif yang sangat kuat di matanya. Pria itu bersedekap, menatap Queen dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Sekarang, silakan turun,” ucap Nial santai, mengedikkan dagunya ke arah pintu. “Pergilah ke bawah, temui ibuku, adikku, dan ratusan tamu undangan di aula dengan punggung terbuka seperti itu. Mari kita lihat bagaimana pandangan orang - orang itu saat melihatmu keluar dari kamarku dengan gaun yang rusak.”
Nial tersenyum miring, yakin betul bahwa harga diri Queen sebagai seorang wanita terhormat akan membuatnya ciut dan terpaksa menetap di kamar ini untuk bernegosiasi. Namun, Nial melupakan satu hal: Queen Lexian yang sekarang bukanlah wanita rapuh yang mudah diintimidasi.
“Kau pikir aku peduli terhadap pandangan orang-orang di bawah sana? Kau pikir aku peduli pada reputasiku?”
Sebelum Nial sempat mencerna ucapannya, Queen berbalik dengan anggun. Sambil mencengkeram bagian dada gaunnya agar tetap aman, ia melangkah lebar-lebar menuju tangga. Kakinya yang jenjang melangkah mantap tanpa ragu sedikit pun.
Mata Nial membelalak. Sial, wanita ini benar-benar nekat!
"Queen! Jangan gila!" seru Nial, kepanikannya mendadak naik ke tingkat maksimal.
Cklek.
Queen sudah berhasil membuka pintu koridor paling ujung bersiap melangkah keluar ke ruangan yang terhubung langsung dengan balkon lantai dua yang bisa terlihat dari aula bawah.
"Queen, berhenti!"
Nial panik setengah mati. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar selimut bulu yang tergeletak di atas sofa. Tanpa mempedulikan harga dirinya lagi, sang CEO Percy Group itu berlari kencang mengejar Queen yang sudah mengambil dua langkah di koridor luar.
Grep!
Dalam satu gerakan, Nial menerjang dari belakang dan langsung membungkus seluruh tubuh Queen dengan selimut tebal itu. Ia menarik tubuh langsing Queen ke dalam dekapannya dari belakang, menguncinya erat-erat hingga wanita itu tidak bisa menggerakkan lengannya sama sekali.
"Lepaskan aku, Nial! Lepas!" teriak Queen, meronta-ronta di dalam gulungan selimut tebal itu.
"Tidak akan!" bisik Nial ketat di dekat telinga Queen, napasnya tersengal-sengal karena panik bercampur lelah. Ia mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di puncak kepala Queen sembari menyeret tubuh wanita itu kembali masuk ke dalam kamar, lalu menendang pintu hingga tertutup rapat.
Brak!
Nial menyandarkan tubuh Queen—yang masih terbungkus selimut—ke daun pintu yang tertutup. Napas mereka berdua berkejaran di dalam kesunyian kamar yang kini kembali terkunci.
Sambil menahan dada Nial yang masih menempel rapat padanya, Queen mendongak. Matanya yang indah menatap pria itu lurus-lurus, mencari jawaban di balik sepasang netra kelam yang selalu memenjarakannya.
"Sebenarnya ... apa yang kau inginkan dariku, Nial?" tanya Queen.
Nial tidak langsung menjawab. Ia justru mengeratkan pelukannya pada gulungan selimut yang membungkus tubuh Queen.
"Kau," bisik Nial, suaranya berat dan bergetar halus. "Aku menginginkanmu kembali, Queen. Persetan dengan kontrak, persetan dengan ego, persetan dengan semua kesalahpahaman sialan itu. Aku sadar ... Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir sang CEO Percy Group yang terkenal angkuh. Sebuah pengakuan jujur yang seharusnya mampu meruntuhkan gunung es mana pun. Namun, Queen hanya menatapnya dengan senyum getir yang sangat tipis.
"Maaf, Nial," ucap Queen lirih, kepalanya menggeleng pelan. "Aku tidak bisa."
"Kenapa?" tuntut Nial, rahangnya mengetat. "Karena kau masih membenciku? Hukum aku, Queen. Marahi aku. Tapi jangan katakan kau tidak bisa kembali."
"Aku tidak bisa kembali..." Queen menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam sebelum menatap langsung ke dalam manik mata Nial dengan sorot mata paling tenang yang pernah ia tunjukkan malam ini. "Karena aku sudah menikah."
Deg.
Dunia Nial seolah runtuh dalam satu detik yang mematikan.
Kalimat sederhana itu menghantamnya lebih keras daripada hantaman badai mana pun. Nial membeku di tempat. Wajahnya yang tampan mendadak pucat pasi, menatap Queen tanpa berkedip sedikit pun seolah baru saja mendengar lelucon paling mengerikan abad ini.
Perlahan, cengkeraman kokohnya pada pinggang Queen yang terbalut selimut melemah, hingga akhirnya terlepas sepenuhnya.
Langkah kaki Nial bergeser mundur satu tapak, menjaga jarak yang tiba-tiba terasa seperti jurang.
"K-kau... menikah?" tanya Nial, suaranya tercekat di tenggorokan.
Queen mengangguk tanpa ragu. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak baru saja menjatuhkan bom atom di atas kepala pria itu. "Ya. Jadi, biarkan aku pulang sekarang. Suamiku akan sangat marah kalau tahu aku belum pulang ke rumah selarut ini."
Mendengar kata 'suami' dan 'marah' lolos dari bibir Queen, akal sehat Nial yang baru saja hancur mendadak tersulut oleh api cemburu yang luar biasa panas. Rahangnya mengeras hingga urat di lehernya menonjol. Ego dan rasa kepemilikannya yang tinggi langsung memberontak hebat.
"Suamimu?" desis Nial, suaranya meninggi, dipenuhi dengan sarkasme yang tajam. "Lalu di mana bajingan itu sekarang, hah? Apa dia tidak bisa menjemput istrinya sendiri dan membiarkanmu pulang sendirian di malam sesunyi ini? Setidaknya, jika dia memiliki sedikit saja otak di kepalanya, dia akan mengirim sopir pribadi untuk menjemputmu!"
Queen berdeham pelan, menyembunyikan senyum tipis yang hampir terbit melihat reaksi protektif Nial yang berlebihan. Ia menggelengkan kepalanya pelan dengan ekspresi santai yang sengaja dibuat-buat.
"Tidak bisa," sahut Queen enteng. "Dia harus menjaga toko bunga kami malam ini. Lagipula ... kami tidak mempekerjakan sopir. Kami hidup sederhana."
Nial menaikkan sebelah alisnya tinggi - tinggi. Matanya membelalak, menatap Queen seolah wanita itu baru saja kehilangan seluruh kewarasan yang tersisa di kepalanya.
"Toko bunga? Tidak ada sopir?" Nial mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Ia melangkah maju kembali, mempersempit jarak dengan tatapan tidak percaya.
"Kau pergi meninggalkanku, menolak semua kemewahan yang kuberi, hanya untuk mendapatkan bajingan miskin penjual bunga?"
Queen menahan tawa sekuat tenaga melihat wajah frustrasi Nial yang terlihat sangat konyol sekaligus menggemaskan saat sedang cemburu buta. Ia mengangkat bahunya acuh tak acuh.
"Itu jauh lebih baik ketimbang menjalin hubungan dengan pria dari kalangan elit," sindir Queen, matanya melirik tajam ke arah Nial. "Pria kaya itu rumit, egois, dan ... sangat berbahaya bagi kesehatan mental."
Nial langsung membuang muka, dadanya naik turun menahan sesak akibat sindiran telak itu. Kecemburuannya kini berada di tingkat tertinggi, bercampur aduk dengan rasa kesal yang luar biasa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutar tubuhnya dengan gusar, melangkah lebar menuju kopernya yang terletak di sudut ranjang.
Dengan gerakan kasar, Nial membuka ritsleting koper, mengobrak-abrik isinya sebentar, lalu menarik keluar selembar kemeja hitam miliknya yang masih rapi. Ia berjalan kembali ke arah Queen dan menyodorkan kemeja itu.
"Pakai ini," perintah Nial. "Aku sendiri yang akan mengantarmu pulang ke rumah ... tokomu, atau dimana pun itu."
Queen menatap kemeja hitam di tangan Nial, lalu beralih menatap wajah pria itu sambil menggelengkan kepala. "Tidak mau. Aku begini saja dengan selimut ini. Lagipula ... suamiku itu tipe pria yang sangat pencemburu. Dia pasti akan mengamuk jika melihatku pulang memakai kemeja pria lain."
Mendengar pembelaan Queen untuk 'suaminya' itu, kesabaran Nial akhirnya habis sepenuhnya.
Nial melempar kemeja hitam itu ke lantai tanpa peduli. Dengan satu gerakan cepat yang sangat mendominasi, ia maju selangkah, menyambar pinggang Queen di dalam balutan selimut, lalu menariknya begitu kuat hingga tubuh langsing wanita itu menubruk dada bidangnya tanpa jarak.
Wajah Nial menunduk, begitu dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Napasnya yang hangat dan beraroma mint menyapu wajah Queen, membawa sensasi menggelitik yang berbahaya.
"Pakai saja, Queen," bisik Nial, nadanya merendah, sarat akan ancaman yang begitu intim sekaligus memabukkan. "Tidak perlu terus memprovokasiku dengan kalimat - kalimat menyebalkan tentang suamimu itu ... atau aku sendiri yang akan mendatangi bajingan itu dan menceritakan secara detail, dari detik ke detik, bagaimana indahnya caraku menidurimu dulu di ranjangku."
Glukk!
Queen menelan ludah. Mendengar ancaman kelewat batas yang sangat tidak tahu malu itu, matanya membelalak sempurna.
"Kau ... dasar gila! Tidak tahu malu!" maki Queen dengan wajah yang mendadak merah padam hingga ke telinga, tangannya yang terbebas dari selimut langsung memukul dada Nial dengan gemas.
Nial tidak menghindar, ia justru menatap reaksi panik Queen dengan seringai miring—puas karena akhirnya berhasil meruntuhkan topeng pertahanan wanita itu.
Sementara itu, di bawah kemegahan aula utama, suasana pesta pertunangan Nael dan Emma terus berjalan, meski diselimuti ketegangan yang kasat mata.
Acara tukar cincin dan prosesi formal akhirnya terpaksa diselenggarakan tanpa kehadiran Nial.
Kini, sudah satu jam lebih berlalu dan Nial belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Di sudut ruangan VIP yang agak menjauh dari kebisingan para tamu, Elara berjalan bolak - balik dengan cemas. Gaun malamnya yang anggun berdesir lembut mengikuti langkah kakinya yang gelisah.
Di sampingnya, sang suami, Arthur dan putra bungsunya, Nael, yang malam ini menjadi bintang utama, hanya bisa menatapnya dengan helaan napas panjang.
"Tenanglah, Elara. Kau bisa membuat lantai marmer ini aus jika terus berjalan seperti itu," ujar Arthur lembut, mencoba menenangkan istrinya.
"Daddy, benar." Timpal Nael.
"Bagaimana aku bisa tenang, Arthur?!" desis Elara, meremas kedua tangannya sendiri. "Ini sudah lebih dari satu jam! Nial tidak pernah bertindak seimpulsif dan segila ini di depan umum. Dan nona itu ... ya Tuhan, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya di atas sana."
Nael, yang sedang melonggarkan dasi kupu - kupunya karena gerah, ikut menimpali dengan dahi berkerut penasaran. "Sebenarnya, siapa wanita itu, Mom? Aku belum pernah melihat Nial menatap seseorang dengan pandangan sebuas itu."
"Mommy juga tidak tahu pasti, Nael. Tapi sepertinya ada sesuatu diantara mereka." sahut Elara pelan, matanya menatap cemas ke arah tangga lantai dua.
Tepat di saat ketegangan itu memuncak, sesosok pria dengan setelan jas rapi namun tampak sedikit lelah melangkah tergesa-gesa memasuki area VIP.
Itu Rayden. Asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Nial yang baru saja mendarat setelah menyelesaikan urusan bisnis penting di Seattle atas perintah bosnya.
Melihat keberadaan Rayden, mata Elara seketika berbinar. Ia langsung memanggilnya. "Rayden! Sini, cepat!"
Rayden menghampiri keluarga bosnya itu dan membungkuk hormat. "Nyonya Elara, Tuan Arthur, Nael ... selamat atas pertunangannya. Maaf saya terlambat. Ada apa? Mengapa wajah Anda semua terlihat begitu cemas?"
"Rayden, syukurlah kau sudah datang!" Elara langsung memegang lengan Rayden, suaranya naik satu oktav karena panik. "Nial ... Nial mengurung seorang wanita di kamar lantai dua! Dia menggendongnya paksa di depan semua tamu, dan mengunci diri di atas!"
Mendengar hal itu, Rayden mendadak heboh. Matanya membelalak lebar dengan ekspresi dramatis. "Apa?! Mengurung wanita?! Tuan melakukan itu di depan umum?! Siapa wanita itu? Astaga, apa dia sudah kehilangan akal sehatnya—"
"Namanya, Queen." Nael menyela. "Dia adalah Vendor dekorasi untuk acara pertunanganku malam ini."
"Apa?" Rayden mengerapkan matanya beberapa kali, lalu otaknya yang cerdas langsung memproses informasi tersebut. Detik berikutnya, raut kepanikan di wajah Rayden lenyap sepenuhnya. Ia menegakkan tubuhnya dan merapikan kerah jasnya dengan santai.
"Ah ... Nyonya Elara, Tuan Arthur, Nael. Anda semua tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa." Rayden tersenyum misterius. "Percayalah pada saya, tidak akan ada yang terjadi diatas sana. Kalaupun ada ... itu bukan pertumpahan darah."
Elara mengerutkan kening, bingung dengan perubahan sikap Rayden yang mendadak tenang. "Apa maksudmu—"
Belum sempat Elara menyelesaikan pertanyaannya, suara langkah kaki yang mantap dan teratur terdengar dari arah tangga utama. Keheningan mendadak merayap di area sekitar saat beberapa pasang mata mulai mendongak.
Nial Percy akhirnya muncul.
Pria itu melangkah turun dengan ekspresi tenang dan wajah datar andalannya, seolah kekacauan hebat yang ia ciptakan satu jam lalu hanyalah ilusi. Namun, yang membuat napas semua orang tercekat adalah jemari kokoh Nial yang menggenggam erat pergelangan tangan Queen, menuntun wanita itu turun di sisinya.
Queen berjalan dengan kepala tertunduk dalam, pipinya merona merah padam karena terlalu malu untuk menatap dunia luar.
Gaun ivory menawan yang ia kenakan tadi malam kini telah lenyap, digantikan oleh selembar kemeja hitam polos milik Nial yang terlampau longgar di tubuh langsingnya.
Melihat kehadiran mereka, Elara langsung setengah berlari menghampiri. Tanpa memedulikan putranya, ia langsung memegang kedua bahu Queen dengan gurat kecemasan yang teramat nyata di wajahnya.
"Nona Queen! Kau tidak apa - apa? Kau baik-baik saja, kan? Dia ... dia tidak menyakitimu?" tanya Elara beruntun, matanya meneliti tubuh Queen, memastikan tidak ada lecet atau tanda - tanda kekerasan fisik—selain fakta bahwa wanita itu kini memakai kemeja putranya.
Queen melirik Nial dari sudut matanya. Di sampingnya, Nial justru memasang wajah paling tidak berdosa di dunia.
"Aku baik-baik saja, Nyonya. Sungguh."
Elara mengembuskan napas lega, tangannya mengusap dadanya sendiri dengan dramatis. "Syukurlah ... Syukurlah kalau begitu. Aku sempat berpikir sesuatu yang buruk dan mengerikan akan menimpamu di atas sana tadi."
Nial yang mendengar hal itu langsung menaikkan sebelah alisnya, "Perhatikan kata-katamu, Mom. Kau membuatku terdengar seperti seorang monster yang gemar menyiksa tawanan."
Elara langsung berbalik, menatap putranya dengan berani dan bersedekap dada. "Kau mungkin bukan monster, Nial. Tapi Mommy pernah mendengar cerita dari Rayden, bahwa kau pernah mengurung seorang wanita di dalam mansion pribadimu selama berhari - hari setahun yang lalu!"
Deg.
Mata Nial langsung membelalak sempurna. Untuk pertama kalinya, ketenangan sang CEO Percy Group runtuh digantikan oleh ekspresi syok dan tidak percaya.
Sementara di sampingnya, Queen yang mendengar rahasia masa lalu mereka itu dibongkar langsung melipat bibirnya rapat - rapat, bahunya bergetar hebat menahan tawa kemenangan yang hampir meledak melihat wajah Nial yang mendadak salah tingkah.
"Rayden?" desis Nial, ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana.
Rayden yang menyadari dirinya baru saja ditumbalkan oleh sang Nyonya Besar langsung membelalak panik. Ia mundur satu langkah dengan senyum kecut yang dipaksakan.
"E-eh ... Tuan ... saya bisa jelaskan." Ia beralih menatap Queen yang saat ini juga sedang menatapnya sambil tersenyum. "Selamat malam, Nona. Senang melihat Anda baik - baik saja."
"Berkatmu." Balas Queen, singkat namun penuh arti.
"Bajingan ini!" tatapan tajam Nial memaksa Rayden untuk kembali bersikap siaga.
"Tuan...!" Rayden memaksa senyum sambil menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Berani sekali kau menyebarkan rumor yang tidak berguna." semprot Nial. "Aku bersumpah akan memotong gajimu hingga akhir tahun ini."
"Apa?" Rayden menggeleng panik. "JANGAN, Tuan!"
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰