Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Nadia berdiri membeku di tengah ruangan. Tatapan dosen yang seharusnya membimbingnya, serta gelak tawa teman-teman sekelasnya, terasa bagaikan ribuan jarum yang menancap serentak di dadanya. Rasa tegar yang ia bangun semalaman runtuh tanpa sisa dalam hitungan detik.
Dunia benar-benar telah menutup mata dan telinganya. Kampus ini bukan lagi tempat yang aman untuk merajut mimpi, melainkan arena pembantaian karakter yang kejam.
Dengan air mata yang tak sanggup lagi ditahannya, Nadia membungkukkan badan perlahan, lalu berbalik dan berlari keluar dari ruang kelas. Suara tawa dan ejekan terus membuntutinya sepanjang koridor, menggema di dalam dadanya hingga ia sampai di luar gedung universitas.
BAB 11
Nadia berlari tanpa arah hingga napasnya tersengal-sengal di sebuah taman kota yang sepi, jauh dari area kampus. Ia terduduk di atas bangku kayu yang dingin, memeluk lututnya erat-erat, dan meluapkan seluruh rasa sakit yang terpendam. Bahunya terguncang hebat dalam tangisan tanpa suara.
Mimpi yang ia bangun dengan darah dan keringat, integritas yang ia jaga setengah mati, semuanya hancur seketika hanya karena kebencian dan kekuasaan orang kaya.
Nadia menyadari bahwa dirinya sudah berada di titik batas kemampuan fisiknya maupun mentalnya, melawan sistem kampus dan lingkar pengaruh Tamara secara sendirian hanya akan menghancurkan jiwanya.
Hari berikutnya, dengan keputusan yang teramat berat di dalam dada, Nadia mendatangi bagian Tata Usaha Kampus. Ia menyerahkan formulir pengajuan cuti akademik untuk jangka waktu dua semester.
Ketika petugas mencap formulir tersebut, Nadia merasa sebagian dari jiwanya tertinggal di lorong-lorong kampus itu. Namun, ia tahu ini adalah langkah bertahan hidup yang harus diambil. Ia perlu bernapas, ia perlu menenangkan dirinya dari gempuran badai hidup yang tak henti-hentinya menghantam tanpa jeda.
Resya yang mendengar kabar cutinya Nadia langsung berlari menuju rumah Nadia. Pintu kayu tua terdorong terbuka, memperlihatkan sosok Nadia yang sedang duduk di atas tikar, merapikan buku-buku kuliahnya ke dalam kardus bekas.
Wajah gadis itu tampak pucat dan tirus, "Nad!" seru Resya dengan mata berkaca-kaca, langsung berlutut dan menggenggam erat kedua tangan sahabatnya.
"Kenapa kamu ambil cuti? Kenapa nggak cerita sama aku kalau masalahnya sampai sejauh ini? Kita bisa lawan mereka ke Rektorat, Nad!" tanya Resya.
Nadia menatap Resya dengan hangat. Ia mengulas senyum lembut, bukan senyum palsu, melainkan senyum tulus yang memancarkan rasa terima kasih atas kehadiran sahabat sejatinya.
Nadia melepaskan tangannya pelan, lalu jemarinya bergerak luwes dan tenang di udara. "Resya, terima kasih sudah selalu ada untukku. Tapi melawan mereka sekarang seperti menabrakkan diri ke dinding batu. Aku tidak menyerah pada mimpiku, aku hanya mengambil jeda untuk menyembuhkan lukaku dan mengumpulkan tenaga."
"Tapi kamu mau makan apa, Nad? Beasiswamu dicabut, tabunganmu pasti menipis untuk biaya hidup sehari-hari. Gimana kamu bisa bertahan hidup sendirian di sini?" suara Resya parau menahan tangis.
Nadia mengetik sesuatu di ponselnya lalu menunjukkannya pada Resya.
[Aku wanita yang kuat, Resya. Ibu dan Ayah mengajariku untuk tidak pernah menyerah pada keadaan. Aku akan mencari pekerjaan apa saja untuk menyambung hidup dan mengumpulkan uang agar bisa membayar kuliahku sendiri nanti, selama aku punya tangan dan otak yang sehat, aku tidak akan mati kelaparan.]
Resya memeluk Nadia erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu sahabatnya yang ringkih namun memiliki ketabahan setebal baja itu.
Namun, kenyataan di lapangan jauh lebih kejam daripada semangat di dalam dada. Hari-hari berikutnya diisi Nadia dengan berjalan kaki puluhan kilometer mengelilingi sudut-sudut kota Bandung, mendatangi berbagai toko, kafe, percetakan, hingga studio desain untuk melamar pekerjaan. Ia membawa amplop cokelat berisi portofolio desainnya yang luar biasa indah beserta surat lamaran kerja.
Setiap kali ia memasuki sebuah kantor atau toko, para pemilik atau manajer HRD awalnya menyambutnya dengan ramah karena penampilan Nadia yang rapi dan wajahnya yang selalu tersenyum ceria. Namun, momen krusial itu selalu runtuh begitu Nadia mengeluarkan papan tulis kecilnya atau menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang tunawicara.
Ekspresi ramah dari para penerima kerja seketika berubah menjadi ragu dan tak jarang penolakan secara terang-terangan.
"Maaf ya, Mbak. Di sini kita butuh pegawai yang lincah dan bisa melayani pesanan pelanggan dengan cepat lewat suara. Nanti kalau ada komplain dari pengunjung karena Mbak nggak bisa dengar atau jawab, kita yang repot," ujar seorang pemilik kafe dengan nada enggan sambil mengembalikan berkas Nadia.
Di studio percetakan lain, orang-orang bahkan menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Mbaknya mending cari pekerjaan sosial khusus disabilitas aja deh. Tempat kita ini bisnis profesional, susah kalau harus komunikasi pakai tulisan terus sama karyawan,"
Penolakan demi penolakan menghantam Nadia setiap hari. Dari sepuluh tempat yang ia datangi, semuanya menutup pintu rapat-rapat hanya karena kekurangan fisik yang tidak pernah ia minta ini.
Malam harinya, Nadia duduk di sudut kamar yang sepi, menatap langit-langit kamar mandinya yang merembes air hujan. Rasa lapar mulai menusuk perutnya, namun yang paling membakar dadanya adalah rasa ketidakadilan atas diskriminasi yang begitu masif di sekelilingnya. Meskipun demikian, Nadia menepuk dadanya sendiri, mengulas senyum manis di depan cermin dan berbisik dalam hening:
"Tidak apa-apa, Nadia. Besok matahari masih akan terbit dan kamu belum kalah,"
.
Kelaparan dan tagihan listrik yang mulai menumpuk memaksa situasi Nadia semakin terdesak. Di tengah keputusasaan yang merayap perlahan, sebuah ketukan terdengar di pintu depan rumahnya pada suatu sore yang redup.
Nadia membuka pintu dan menemukan Mbak Mila, tetangga sebelah gang yang berusia awal tiga puluhan, berdiri dengan pakaian agak mencolok dan riasan wajah yang tebal. Mbak Mila adalah sosok yang jarang terlihat di siang hari dan terkenal acuh tak acuh, namun ia cukup mengenal almarhumah Ibu Sintia semasa hidupnya.
Mbak Mila menatap kondisi Nadia yang tampak kian kurus dan pucat dengan raut kasihan, "Nadia," panggil Mbak Mila, mengutarakan bicaranya dengan artikulasi bibir yang sengaja diperjelas agar Nadia bisa membacanya.
"Mbak dengar dari Bu Tika kamu lagi cari kerjaan dan keliling-keliling tapi nggak dapet-dapat ya?" tanya Mbak Mila.
Nadia mengangguk pelan, lalu mengambil papan tulis kecilnya untuk mengetik balasan.
[Iya, Mbak Mila. Sangat sulit mencari pekerjaan yang mau menerima kondisi Nadia yang tidak bisa berbicara ini.]
Mbak Mila menghela napas panjang, merogoh rokok dari tasnya namun membayangkannya kembali saat melihat wajah polos Nadia.
"Gini, Nad. Mbak ada kenalan manajer di tempat kerja Mbak yang dulu, tempat itu lagi butuh tenaga tambahan buat staf operasional dan kebersihan bagian dalam. Gajinya lumayan banget, bisa buat kamu makan dan nabung bayar kontrakan. Yang paling penting, mereka nggak peduli kamu bisa bicara atau enggak, yang penting kerjanya rajin dan jujur," ujar Mbak Mila hati-hati.
Mata Nadia seketika berbinar penuh harapan. Bagi seseorang yang pintu pekerjaannya telah ditutup di mana-mana, tawaran ini bagaikan secercah cahaya di tengah kegelapan yang pekat.
[Beneran, Mbak? Kerja apa itu? Nadia mau dan sanggup!]
.
.
.
Bersambung.....