NovelToon NovelToon
IMAMKU,SANG BAD BOY

IMAMKU,SANG BAD BOY

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Nikahmuda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embun Pagi dan Hangatnya Ampunan di Ujung Malam

Suara air keran yang mengalir konstan di dalam kamar mandi mendesis pelan, memecah kesunyian malam yang kian larut di kamar pengantin ndalem Pondok Pesantren Al-Hikmah. Di balik pintu kayu jati yang tertutup rapat, Revan membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Butiran-butiran air jernih menetes dari ujung dagunya, membasahi kerah kemeja tidurnya yang sedikit berantakan.

Ia memejamkan mata erat-erat, menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin wastafel. Gejolak hasrat yang tadi sempat membakar ubun-ubunnya kini telah mereda, tergantikan oleh keheningan batin yang dalam dan napas yang mulai teratur. Bagi seorang pemuda yang dulu terbiasa hidup bebas tanpa batas aturan, menahan diri di hadapan wanita yang sah dicintainya demi melindungi dan menghargai trauma masa lalu sang istri bukanlah hal yang mudah. Namun, di sanalah letak ujian kedewasaannya yang sesungguhnya. Ia bukan lagi Revan yang egois; ia adalah seorang suami yang memikul tanggung jawab moral dan spiritual atas jiwa Nayara.

Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan emosinya, Revan mematikan keran air. Ia menyeka wajahnya dengan handuk kecil, lalu melangkah keluar dari kamar mandi dengan langkah tenang.

Suasana di dalam kamar tampak temaram. Lampu tidur kekuningan masih memancarkan cahaya lembut yang menenangkan. Saat Revan mendekati ranjang, ia melihat Nayara meringkuk di sisi kiri kasur. Selimut tebal berwarna putih gading menutupi sebagian tubuh gadis itu, sementara isak tangisnya yang tadinya begitu pilu kini telah berganti dengan napas teratur yang menandakan bahwa istrinya telah jatuh tertidur akibat kelelahan dan rasa syok yang luar biasa.

Revan berhenti sejenak di sisi ranjang. Pandangannya jatuh pada wajah Nayara yang tampak pucat. Sisa-sisa air mata masih mengering di pipinya, dan bibirnya sedikit bergetar bahkan dalam keadaan tertidur. Pemandangan itu membuat dada Revan kembali bergemuruh, bukan lagi karena gairah, melainkan oleh gelombang rasa sayang yang teramat besar dan rasa penyesalan kecil karena ia sempat membuat istrinya merasa tertekan, meskipun itu terjadi di luar kendali mereka.

Dengan sangat hati-hati, Revan naik ke atas ranjang. Ia merebahkan tubuhnya di sisi kanan, menjaga jarak aman agar Nayara tidak merasa terkejut atau terancam jika sewaktu-waktu terbangun. Ia menyelimuti tubuh istrinya dengan lebih rapi, lalu memiringkan badannya menghadap ke arah Nayara.

Tanpa menyentuh tubuh gadis itu secara berlebihan, Revan mengulurkan tangan kanannya, dengan gerakan sehalus bulu menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang menutupi dahi Nayara.

"Maafkan aku, Nay..." bisik Revan sangat lirih di dalam keheningan malam, suaranya sarat akan kelembutan dan ketulusan. "Aku berjanji akan menjagamu, menyembuhkan lukamu, dan menunggumu sampai kapan pun kamu siap. Tidurlah dengan tenang, istriku."

Setelah melafalkan doa perlindungan sebelum tidur, Revan ikut memejamkan mata, membiarkan malam mengantarkan mereka berdua ke dalam ketenangan.

Keesokan paginya, cahaya matahari fajar merayap naik, menembus celah-celah ventilasi kayu ndalem pesantren dan memantulkan kehangatan di atas lantai marmer. Suara merdu ayam berkokok disusul kumandang azan Subuh dari menara masjid pesantren mengalun indah, membelah udara pagi yang masih diselimuti embun tipis.

Nayara perlahan mengerjap-ngerjapkan matanya. Kelopak matanya terasa sedikit berat akibat tangisan panjang semalam. Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, ia langsung teringat pada kejadian menegangkan di atas ranjang beberapa jam yang lalu. Rasa bersalah seketika menghantam dadanya. Ia segera menoleh ke samping.

Sisi tempat tidurnya kosong.

Jantung Nayara berdegup kencang. Ia langsung bangkit dari posisi berbaringnya, merapikan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar.

Tidak ada siapa-siapa di dalam kamar. Namun, dari arah kamar mandi, terdengar suara gemericik air wudu.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Revan keluar dengan mengenakan sarung kotak-kotak biru gelap dan kemeja koko putih bersih yang belum dikancingkan sempurna. Di pundaknya tersampir sehelai handuk kecil, dan wajahnya tampak segar karena basah air wudu.

Langkah Revan terhenti seketika saat melihat Nayara sudah duduk tegak di atas ranjang dengan mata menatapnya penuh keraguan dan rasa bersalah.

Suasana di dalam kamar mendadak terasa senyap, diisi hanya oleh debaran jantung Nayara yang bergemuruh kencang. Gadis itu menundukkan kepalanya, meremas ujung selimut dengan jemari yang sedikit gemetar.

"M-mas..." panggil Nayara dengan suara parau khas bangun tidur, sangat pelan hingga hampir tidak terdengar.

Revan meletakkan handuk kecil di atas meja rias, lalu berjalan perlahan mendekati ranjang. Alih-alih menunjukkan ekspresi marah, dingin, atau kecewa seperti bayangan ketakutan Nayara, pemuda itu justru menampilkan seulas senyuman paling teduh yang pernah ia miliki.

Revan duduk bersila di tepi ranjang, tepat di hadapan Nayara. Ia mengulurkan tangannya, meraih jemari Nayara yang dingin dan menggenggamnya erat-erat dengan penuh kelembutan.

"Pagi, Zawjati," sapa Revan lembut, suaranya menyejukkan hati. "Sudah bangun? Tidurmu nyenyak semalam?"

Mendengar sapaan hangat itu, pertahanan emosional Nayara runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan di pelupuk matanya tumpah kembali membasahi pipinya. Ia mendongak, menatap manik mata suaminya dengan penuh penyesalan.

"Mas Revan... hiks..." suara Nayara bergetar hebat. "Maafkan aku... maafkan aku soal semalam. Aku benar-benar tidak bermaksud menolakmu atau membuatmu kecewa. Tapi... tapi bayangan malam itu tiba-tiba datang lagi, membuatku ketakutan setengah mati... Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang baik untukmu..."

Sebelum Nayara meneruskan kata-katanya, Revan bergerak cepat. Ia merengkuh tubuh mungil istrinya ke dalam dekapannya, mendekap erat tubuh Nayara ke dada bidangnya dengan penuh kasih sayang.

"Ssst... hei, cukup, jangan bicara seperti itu lagi," bisik Revan tepat di telinga Nayara, sementara tangannya mengusap lembut punggung istrinya naik-turun untuk menenangkan. "Kamu tidak punya salah apa pun padaku, Nay. Dengar aku... tidak ada satu pun hal yang perlu kamu minta maafkan."

Revan melonggarkan sedikit pelukannya, menangkup wajah Nayara dengan kedua tangannya, lalu menghapus air mata di pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya.

"Trauma itu bukan kesalahanmu, Nay. Luka batin yang kamu alami akibat kejadian biadab malam itu adalah nyata, dan itu butuh waktu untuk sembuh. Aku paham betul hal itu," ucap Revan dengan nada bicara yang begitu mantap dan penuh keyakinan. "Sebagai suamimu, tugasku bukan menuntutmu untuk sempurna, melainkan menemanimu berproses, melindungimu, dan merawat hatimu sampai bayangan buruk itu benar-benar hilang. Jadi, tolong... jangan pernah merasa bersalah lagi di hadapanku, ya?"

Kata-kata yang meluncur dari bibir Revan terasa bagaikan embun penyejuk di padang pasir yang tandus bagi jiwa Nayara. Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa bersalah yang sempat menghimpit dadanya seketika menguap tak bersisa. Ia menyadari betapa beruntungnya dirinya memiliki seorang suami yang tidak hanya berubah menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga memiliki tingkat empati dan kedewasaan emosional yang luar biasa tinggi.

Nayara mengangguk perlahan di sela-sela sisa isakannya, lalu tersenyum tipis melalui air matanya. "Terima kasih, Mas... terima kasih banyak."

Revan balas tersenyum, lalu mengecup sekilas kening istrinya dengan penuh kelembutan dan penghormatan yang tulus.

"Sama-sama, istriku tercinta," ucap Revan. "Sekarang, waktu Subuh sudah hampir habis. Mari kita ambil air wudu, lalu kita tunaikan salat Subuh berjemaah. Kamu yang jadi makmum di belakangku, ya. Kita awali hari ini dengan memohon berkah dan rida kepada Allah."

Mendengar ajakan tersebut, hati Nayara membuncah oleh rasa bahagia yang teramat dalam. Ia mengangguk patuh, lalu bergegas bangkit dari ranjang untuk mengambil perlengkapan salatnya.

Beberapa menit kemudian, suasana kamar berubah menjadi tempat ibadah yang penuh kekhusyukan.

Revan berdiri tegak di depan sebagai imam, mengenakan sarung dan kemeja koko putih dengan peci hitam melingkar rapi di kepalanya. Di belakangnya, Nayara berdiri anggun mengenakan mukena putih bersih, merapatkan shaf selayaknya makmum yang taat pada suaminya.

Suara bariton Revan melantunkan surah Al-Fatihah dengan bacaan yang perlahan-lahan mulai fasih dan tartil—hasil dari latihan keras dan bimbingan mengaji yang ia lakukan setiap malam bersama istrinya. Suaranya menggema lembut di dalam kamar, menggetarkan dinding hati Nayara yang mendengarkannya dengan khusyuk di setiap ayat.

Ihdinash shiratal mustaqim...

(Tunjukilah kami jalan yang lurus...)

Shiratal ladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim waladh-dhallin...

((Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat...)

Aamiin... ucap Nayara lembut di akhir bacaan Al-Fatihah.

Gerakan salat mereka berlangsung dengan sangat serasi dan khidmat. Setiap kali Revan membungkuk rukuk atau bersujud, ada ketenangan mutlak yang terpancar dari seluruh gerakannya. Bagi Revan, menjadi imam bagi istrinya bukan sekadar memimpin ritual ibadah fisik, melainkan sebuah simbol tanggung jawab spiritual yang sesungguhnya memimpin rumah tangga menuju surga Allah.

Selesai salam dan memanjatkan doa panjang seusai salat, Revan berbalik menghadap istrinya. Nayara segera meraih tangan kanan suaminya, mencium punggung tangan itu dengan takzim dan penuh rasa hormat yang mendalam. Revan membalasnya dengan menunduk, mencium kening Nayara cukup lama sambil melafalkan doa keberkahan untuk sang istri.

Pagi hari di kompleks Pondok Pesantren Al-Hikmah berlanjut dengan aktivitas normal. Setelah menunaikan salat Subuh dan sarapan pagi sederhana bersama Kiai Ahmad Zayna dan Ummi di ruang makan ndalem di mana suasana keeluarga terasa begitu hangat dan penuh canda tawa ringan Revan dan Nayara bersiap untuk kembali beraktivitas ke kampus.

Namun, sebelum mereka berangkat menuju Universitas Airlangga Nusantara, sebuah kejadian tak terduga terjadi di teras depan ndalem.

Sebuah mobil sedan hitam berplat nomor kota tampak memasuki gerbang pesantren dan berhenti tepat di area parkir tamu ndalem. Pintu mobil terbuka, dan sesosok pemuda berbadan tegap turun dari kendaraan tersebut.

Begitu melihat siapa yang datang, Revan yang sedang merapikan jaketnya di teras seketika menghentikan langkahnya.

Saka.

Sahabat karib Revan sesama anak motor dan mahasiswa fakultas ekonomi itu melangkah mendekati teras dengan ekspresi wajah yang tampak penasaran bercampur bingung. Ia mengenakan kaos kasual dan kacamata hitam yang digantungkan di leher kemejanya.

"Woy, Van!" panggil Saka setengah berteriak sambil melangkah naik ke anak tangga teras. "Dicariin anak-anak di basecamp sirkuit nggak pernah nongol lagi seminggu ini. Lo sibuk banget kayak pejabat negara aja!"

Nayara yang berdiri tidak jauh di belakang Revan spontan menegang. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu betul siapa Saka sahabat terdekat Revan di kampus yang terkenal paling usil dan sering tahu banyak hal. Jika Saka sampai memergoki keberadaan mereka berdua di ndalem pesantren dalam situasi seperti ini, rahasia besar pernikahan mereka di kampus bisa berada di ujung tanduk!

Revan segera memasang ekspresi tenang, lalu melangkah maju beberapa langkah untuk menghalangi pandangan Saka agar tidak terlalu jelas melihat ke arah dalam teras tempat Nayara berdiri.

"Saka? Tahu dari mana lo gue ada di sini?" tanya Revan datar, berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar seperti biasa.

Saka terkekeh sambil merangkul pundak Revan dengan akrab. "Ya gampanglah nyari lo! Gue ke apartemen lo kosong, terus gue tanya anak-anak tongkrongan, katanya lo sering banget keliatan keluar-masuk kawasan pesantren Al-Hikmah semenjak insiden minggu lalu. Sumpah ya, Van, lo sekarang jadi anak pesantren banget! Pake baju koko, sarungan, rajin salat... Lo beneran udah jadi 'Pak Ustaz' sekarang, hah?" ledek Saka sambil tertawa renyah.

Revan menepis pelan rangkulan Saka di pundaknya, lalu melirik sekilas ke arah Nayara yang berdiri di balik pilar kayu dengan wajah cemas.

"Gue cuma lagi belajar menata hidup, Sak. Nggak ada salahnya kan jadi orang yang lebih baik?" jawab Revan tenang, berusaha mengalihkan perhatian sahabatnya. "Ngomong-ngomong, ada perlu apa lo jauh-jauh datang kesini pagi-pagi buta begini?"

Saka menghela napas, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. "Sebenernya gue ke sini mau ngajak lo nongkrong sebentar sebelum kita masuk kuliah siang nanti. Tapi, mumpung gue udah di sini dan ketemu langsung sama lo..." Saka menyipitkan matanya, menatap Revan dengan sorot penuh selidik. "...ada satu hal yang bikin gue penasaran setengah mati."

Revan mengerutkan kening. "Apaan?"

Saka menunjuk ke arah bagian dalam teras pesantren dengan dagunya, di mana Nayara berdiri. Meskipun tertutup sebagian pilar, sosok Nayara dengan jilbab navy-nya masih samar-samar terlihat.

"Itu... bukan Nayara, kan? Cewek anak kiai yang sempat bikin heboh kemarin gara-gara kasus preman Jessica?" tanya Saka dengan nada suara yang sedikit merendah, penuh rasa curiga. "Van, jujur sama gue... ada hubungan apa sih sebenarnya antara lo sama tuh cewek pesantren? Jangan-jangan gosip kampus yang bilang lo kesengsem sama dia itu beneran?"

Deg!

Napas Nayara tertahan di balik pilar teras. Jantungnya berdegup kencang seolah mau copot dari tempatnya. Ia menatap tajam ke arah punggung Revan, menunggu bagaimana suaminya akan menjawab pertanyaan menjebak dari sahabat karibnya itu.

Jika Revan salah bicara sedikit saja, atau jika Saka mendesak lebih jauh, seluruh sandiwara rahasia mereka di kampus bisa terbongkar hari itu juga di hadapan publik!

Bagaimana Revan akan menyelamatkan situasi genting ini tanpa membongkar rahasia pernikahan mereka? Dan mampukah mereka mempertahankan tabir rahasia tersebut di tengah kepungan rasa curiga dari dunia luar?

1
Bu Dewi
seru kak ceritanya,, lanjut donkzzz😍😍😍😍🙏
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!