“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bab 33: Retak di Balik Senyuman Malam
Hari-hari setelah ketegangan di ruang rapat korporasi keluarga Aldebaran berlalu dengan ritme yang berangsur normal. Surat somasi resmi telah ditarik kembali oleh pihak manajemen pusat atas instruksi langsung dari Kakek Herman, dan pabrik operasional utama Rangga kembali berjalan tanpa hambatan apa pun. Kontrak kerja sama dengan klien asing pun berhasil ditandatangani secara sah di awal pekan berikutnya, membawa angin segar bagi perkembangan finansial perusahaan.
Namun, di balik keberhasilan profesional tersebut, ketegangan emosional yang terpendam perlahan mulai merayap masuk ke dalam dinding rumah tangga Rangga dan Keisha.
Malam itu, jarum jam dinding di ruang tamu menunjuk pukul sembilan lewat seperempat. Suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Televisi LED berukuran sedang di sudut ruangan dibiarkan menyala dengan volume sangat rendah, menampilkan tayangan berita malam tanpa ada yang benar-benar menontonnya.
Keisha duduk bersandar di salah satu ujung sofa ruang tengah, sibuk merapikan berkas-berkas laporan keuangan kantornya di atas meja kecil menggunakan laptop kerja. Wajah wanita itu tampak lelah. Lingkaran hitam tipis terlihat samar di bawah kelopak matanya, menandakan kurangnya waktu istirahat selama beberapa hari terakhir akibat beban ganda antara menyelesaikan tugas divisi keuangan dan meredam kecemasan pasca insiden di kantor keluarga suaminya.
Di sisi lain ruangan, Rangga mondar-mandir berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke arah teras depan. Kemeja putih kantornya sudah dilepas, menyisakan kaos oblong hitam polos dan celana bahan abu-abu. Ponsel pintar di genggaman tangan kanannya terus-menerus bergetar, menampilkan rentetan pesan teks dan panggilan masuk dari divisi logistik pabrik dan rekan bisnis baru mereka.
"Rangga..." panggil Keisha pelan, mencoba memecah keheningan yang terasa menyesakkan dada. "Bisa tolong kecilkan sedikit suara teleponnya? Atau kalau memang masih ada urusan kantor yang mendesak, selesaikan dulu di ruang kerja lantai atas. Kepalaku rasanya pening banget dari tadi."
Rangga menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke arah istrinya dengan dahi berkerut, sorot matanya menyiratkan kejenuhan yang sama. "Sebentar, Keish. Ini masalah pengiriman mesin gelombang kedua buat klien asing minggu depan. Kalau bagian logistik nggak segera dikonfirmasi malam ini, jadwal ekspor bisa berantakan total."
"Tapi ini sudah jam sembilan malam lewat, Kak," balas Keisha, suaminya terdengar sedikit meninggi namun tetap berusaha menahan sabar. Ia menutup layar laptopnya dengan gerakan pelan. "Sejak kita pulang dari kantor keluargamu minggu lalu, waktu istirahat Kakak di rumah hampir nggak ada. Setiap detik isinya cuma urusan kantor, telepon klien, atau rapat mendadak. Kapan kita punya waktu buat duduk berdua kayak pengantin baru pada umumnya?"
Rangga menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan tangan kiri yang bebas dari ponsel. Nada suaranya ikut meninggi, mencerminkan keletihan mental yang telah menumpuk di dalam dirinya. "Kamu kira aku sengaja sibuk terus, Keish? Aku ngelakuin semua ini buat siapa? Buat masa depan kita juga! Kalau aku nggak gerak cepat mengamankan posisi perusahaan pasca insiden kemarin, keluarga pamanku bisa cari celah lain buat menjatuhkan kita lagi."
Keisha terdiam sejenak. Kalimat itu menohok relung hatinya yang paling dalam. Ia tahu betul perjuangan suaminya, dan ia tidak pernah berniat mengecilkan kerja keras Rangga. Namun rasa lelah dan perasaan terabaikan yang selama ini ia pendam perlahan mulai mendesak ke permukaan.
"Aku tahu Kakak berjuang buat kita," ucap Keisha dengan suara bergetar tertahan, manik matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi bukan berarti Kakak jadi mengabaikan keberadaanku di rumah ini. Selama seminggu terakhir, kita bahkan nggak punya waktu buat sekadar makan malam bersama tanpa terganggu dering telepon kantormu. Aku istri Kakak, bukan sekadar pajangan rumah yang duduk manis nungguin suaminya sibuk bekerja."
Rangga tertegun mendengar kejujuran yang terlontar dari bibir istrinya. Emosi yang sempat tersulut di dadanya perlahan surut, digantikan oleh rasa bersalah yang mendalam. Ia melangkah mendekati sofa, berniat merangkul istrinya untuk mencairkan suasana. "Keish, bukan itu maksudku..."
Sebelum tangan Rangga sempat menyentuh bahu istrinya, Keisha keburu berdiri dari sofa, membereskan laptop dan berkas-berkasnya dengan tergesa-gesa.
"Udah malam, aku mau istirahat duluan ke kamar atas," potong Keisha cepat, menghindari tatapan mata suaminya. Ia berjalan melebihi langkah Rangga menuju tangga lantai dua tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Rangga mematung di tengah ruangan. Ia menatap punggung istrinya hingga bayangan Keisha menghilang di balik tikungan tangga lantai atas. Hening kembali merajai ruang tamu, menyisakan rasa sesak dan dingin yang jauh lebih menusuk daripada ancaman somasi hukum mana pun yang pernah mereka hadapi sebelumnya.
Keesokan paginya, suasana di dalam rumah terasa kaku dan canggung. Tidak ada aroma harum sarapan pagi buatan Rangga seperti biasanya. Saat Rangga turun ke lantai bawah mengenakan setelan jas kerjanya, ia mendapati Keisha sudah duduk rapi di meja makan dengan mengenakan pakaian kerja formalnya, meneguk sisa teh hangat di cangkirnya.
"Keish..." sapa Rangga hati-hati saat melangkah mendekati meja makan.
Keisha mendongak sekilas, menunjukkan senyuman tipis yang terasa hambar dan dipaksakan. "Aku sudah buatkan roti panggang di piring buat sarapan Kakak. Aku berangkat duluan naik kereta pagi, takut telat kejar jadwal audit pajak jam sembilan."
Sebelum Rangga sempat merespons atau menawarkan diri untuk mengantarnya seperti hari-hari biasa, Keisha sudah meraih tas tangannya, menyampirkan tas kerja di pundak, lalu melangkah cepat keluar pintu rumah, membiarkan bunyi pintu tertutup pelan di belakangnya.
Rangga menghela napas berat, menjatuhkan tubuhnya di kursi makan. Sarapan di hadapannya terasa hambar. Untuk pertama kalinya sejak mereka resmi menikah, hari dimulai tanpa kehangatan dan canda tawa kecil di antara mereka. Konflik kecil semalam ternyata meninggalkan retakan tak kasat mata di dalam hubungan yang selama ini mereka banggakan sebagai zona paling aman di dunia.
Di kantor pusat keuangan tempat Keisha bekerja, suasana dinamis tidak mampu mengalihkan pikiran wanita itu dari pertengkaran kecil semalam. Duduk di ruang kubikal lantai dua belas, Keisha menatap layar monitor komputernya dengan pandangan kosong. Jari-jemarinya berhenti menari di atas papan ketik.
"Keish, lo sakit?" tegur Riri, rekan sekantornya, sambil meletakkan secangkir kopi hangat di atas meja kubikal Keisha. "Dari tadi pagi kelihatan banget murung. Laporan audit pajak triwulan kemarin udah beres sih, tapi muka lo pucat banget. Ada masalah sama Rangga di rumah?"
Keisha menggeleng pelan, memaksakan seulas senyum kepada sahabatnya. "Nggak apa-apa kok, Ri. Cuma kurang tidur aja semalam."
"Pengantin baru kok kurang tidur mulu," goda Riri mencoba mencairkan suasana. "Hati-hati loh, sibuk kerja boleh, tapi waktu buat suami jangan sampai dikorbankan. Nanti suaminya malah nyari kesibukan sendiri di luar."
Meskipun diucapkan sebagai candaan, kalimat Riri justru menghujam tepat di hati Keisha. Perasaan takut kehilangan dan rasa terabaikan kembali bergemuruh di dadanya. Apakah benar ia mulai kehilangan porsi perhatian dari suaminya yang kini terlalu ambisius mempertahankan kesuksesan bisnis?
Sementara itu di lantai sepuluh gedung operasional perusahaan, Rangga juga tidak bisa berkonsentrasi penuh pada tumpukan laporan teknik di meja kerjanya. Pikirannya melayang pada ekspresi terluka di wajah Keisha tadi malam. Meskipun rapat koordinasi bersama para manajer pabrik berjalan lancar, pikirannya terusik oleh jarak emosional yang tiba-tiba tercipta di antara mereka berdua.
Menjelang jam istirahat siang, Rangga memutuskan untuk menelepon istrinya. Ia merogoh saku jasnya, mencari nomor Keisha, lalu menekan tombol panggil.
Ponsel berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung. "Halo, Keish? Kamu di mana? Istirahat siang ini kita makan bareng ya. Aku jemput di depan kantor keuanganmu."
Di seberang sambungan telepon, suara Keisha terdengar tenang namun datar, jauh berbeda dari biasanya. "Maaf, Kak... hari ini aku nggak bisa keluar kantor buat makan siang. Tim keuangan harus lembur merampungkan revisi data audit pajak yang diminta mendadak sama kepala divisi. Kakak makan siang sendiri aja sama klien atau staf kantor."
Rangga terdiam sejenak, merasakan penolakan halus yang menyayat hatinya. "Oh... begitu ya. Yakin nggak mau aku bawain makanan ke sana?"
"Nggak usah, Kak, repot. Nanti aku pesan makanan online aja di kantor," jawab Keisha dingin. "Udah dulu ya, Kak, sambungannya mau dipakai buat koordinasi tim. Assalamu'alaikum."
Klik. Sambungan telepon terputus sepihak.
Rangga mematung menatap layar ponselnya yang kini gelap. Rasa bersalah, frustrasi, dan kekhawatiran bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Badai korporasi keluarga besar Aldebaran yang begitu ganas berhasil mereka lewati bersama tanpa goyah sedikit pun, namun siapa sangka bahwa kesibukan dan ego sesaat justru mulai meretakkan keharmonisan rumah tangga yang mereka bangun dari nol.
Malam harinya, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Rangga sudah berada di rumah jauh lebih awal dari biasanya—pukul delapan malam ia sengaja mematikan ponsel kerjanya demi fokus pada istrinya. Namun setibanya di rumah, suasana tetap terasa dingin.
Keisha sudah tidur lebih dulu di kamar utama, memunggungi sisi tempat tidur suaminya tanpa sepatah kata pun.
Rangga duduk di tepi ranjang, menatap punggung istrinya yang terbalut selimut tebal. Ia merentangkan tangannya perlahan, berniat memeluk tubuh wanita itu dari belakang seperti malam-malam sebelumnya, namun ia urungkan niatnya karena takut semakin memicu ketegangan di antara mereka berdua.
Rangga merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri, menarik napas dalam-dalam di dalam kamar yang gelap gulita. Di bawah naungan malam yang sunyi, ia menyadari bahwa pertempuran terbesar dalam pernikahan mereka bukanlah melawan keluarga besar yang serakah, melainkan menjaga agar api cinta dan komunikasi di antara mereka tidak padam di tengah kerasnya tuntutan dunia luar.
Konflik batin itu kini menjadi ujian nyata bagi kesetiaan dan ketulusan janji suci yang telah merekaikrarkan bersama di hadapan Tuhan—sebuah ujian kedewasaan bagi dua insan pengantin baru yang harus belajar merendahkan ego demi mempertahankan keutuhan istana kecil mereka.