NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Tunas Keajaiban

Debu tebal sisa kepergian mobil mewah itu perlahan-lahan turun, menyatu kembali dengan tanah gersang Desa Perbatasan.

Namun, langit di atas sana sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bersahabat. Awan hitam pekat bergulung-gulung rendah, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Cuaca buruk ini sudah berlangsung berminggu-minggu, membuat para petani di seluruh desa putus asa.

Yang Wei berdiri di teras rumah kayu mereka yang mulai rapuh. Pandangan matanya lurus menatap hamparan ladang yang tampak menyedihkan di bawah langit gelap.

Ia mengusap lututnya yang pincang, lalu menggelengkan kepala dengan perlahan.

"Jika badai kering ini terus berlanjut, tidak akan ada satu pun tanaman yang bisa bertahan hidup," gumam Yang Wei, suaranya terdengar sangat lesu.

Bing Chan berjalan mendekati suaminya, meletakkan tangan hangatnya di bahu pria itu.

"Kita sudah berusaha sebaik mungkin, Suamiku. Serahkan sisanya pada langit," hibur Bing Chan dengan nada lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang sama di matanya.

Secara logika fana, memang mustahil bagi apa pun untuk tumbuh di cuaca ekstrem seperti ini. Jangankan tanaman pangan, rumput liar pun banyak yang mati mengering dan berubah jadi abu kelabu.

Di belakang mereka, Yang Chan memperhatikan kedua orang tuanya sambil menenteng sebuah ember kayu berisi air biasa.

Tentu saja, air itu tidak sepenuhnya biasa. Di dalamnya, ia telah mencampurkan setetes Mata Air Kehidupan yang ia encerkan dengan sangat hati-hati.

"Ibu, Ayah, mari kita lihat ladang sebentar," panggil Yang Chan dengan nada santai, memecah kecemasan yang menggantung di udara.

Yang Wei menoleh, lalu mengembuskan napas pendek. "Untuk apa, Nak? Rasanya hanya akan membuat hati kita semakin sedih melihat tanah kering itu."

"Siapa tahu ada keajaiban," jawab Yang Chan sambil tersenyum tipis. "Ayah sudah bekerja keras menanam benih kemarin lusa. Tidak ada salahnya kita periksa."

Mendengar ajakan sang anak, Yang Wei akhirnya mengangguk pasrah. Langkah kaki pincangnya berbunyi pelan saat ia turun dari teras, diikuti oleh sang istri dan Yang Chan di belakangnya.

Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan setapak kecil menuju area tanam keluarga Yang.

Langkah Yang Wei mendadak terhenti tepat di batas luar ladang.

Ia berdiri mematung. Tubuhnya mendadak kaku, seolah-olah seluruh persendiannya terkunci rapat.

"Ini... bagaimana mungkin?" bisik Yang Wei, matanya terbuka sangat lebar menatap hamparan di depannya.

Bing Chan di sebelahnya bahkan sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak mampu menyembunyikan rasa terkejut yang luar biasa.

Di depan mereka, tanah yang seharusnya kering dan mati kini dipenuhi oleh tunas-tunas hijau yang tumbuh subur.

Tunas-tunas itu tidak sekadar tumbuh, mereka tampak sangat segar, gemuk, dan berdiri tegak menantang angin dingin yang berembus kencang.

Pertumbuhan yang tidak masuk akal ini terjadi hanya dalam hitungan hari sejak benih disebar.

Hanya dalam beberapa hari saja. Hanya dalam waktu sesingkat itu, kehidupan baru telah meledak dari dalam tanah.

"Aku tidak sedang bermimpi, kan?" tanya Yang Wei, suaranya sedikit gemetar saat ia berlutut dan menyentuh salah satu daun tunas yang terasa sangat tebal dan basah oleh embun segar.

"Tentu saja tidak, Ayah," sahut Yang Chan yang kini berdiri di sampingnya dengan wajah polos tanpa dosa.

Ia tahu betul ini adalah hasil dari air siraman ajaib yang ia tuai di lahan. Kekuatan Mata Air Kehidupan miliknya benar-benar bekerja melebihi ekspektasi terliar sekalipun.

Saat diencerkan dan menyentuh tanah, kualitas pertumbuhan tanaman melonjak drastis tanpa bisa dihentikan oleh cuaca seburuk apa pun.

Yang Wei kemudian memperhatikan tanah di bawah jemarinya. Dahinya berkerut dalam, merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya.

 Tanahnya biasanya tandus.

Namun sekarang, tanah di sekeliling tunas hijau itu berwarna hitam pekat dan terasa sangat gembur saat diremas.

Bahan cemaran tandus dari tanah ini telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh aroma tanah basah yang sangat menyegarkan.

"Tanah ini... rasanya sangat hangat," gumam Yang Wei dengan penuh keheranan.

"Benar," sela Bing Chan, matanya beralih menatap tanah di sekitar kaki mereka. "Aku bisa merasakan aliran energi yang sangat lembut dari dalam tanah ini."

Energi itu sangat tipis, mengalir bagai aliran sungai kecil di bawah permukaan tanah, memancarkan esensi spiritual ringan yang menenangkan jiwa siapa pun yang mendekatinya.

Intervensi dari tetesan air ajaib milik Yang Chan ternyata tidak hanya memaksa tanaman tumbuh dengan cepat.

Air itu juga memulihkan kerusakan tanah yang telah tercemar selama bertahun-tahun, mengembalikan kesuburan alaminya secara mutlak dan mengubahnya menjadi tanah spiritual berkualitas tinggi.

Yang Chan berdiri selangkah di belakang kedua orang tuanya, mengamati reaksi mereka dengan rasa puas yang mendalam dalam hatinya.

Ia tersenyum tipis. Keputusannya untuk melakukan semua ini secara diam-diam dan bertahap ternyata sangat tepat.

Jika ia langsung menumbuhkan tanaman ini dalam semalam, hal itu pasti akan memicu kecurigaan besar dari orang-orang sekitar, terutama dari klan-klan kuno yang tamak.

Dengan cara mengencerkannya seperti ini, pertumbuhan tanaman tampak sangat cepat namun masih bisa dianggap sebagai keajaiban alam yang langka bagi orang awam.

Ia mengingat kembali ucapan sombong dari utusan Klan Li.

Mengingat janji yang ia ucapkan di hadapan orang-orang angkuh itu dengan begitu mantap.

Melunasi utang keluarga saat masa panen tiba.

Sebelumnya, utusan itu menganggap janjinya sebagai lelucon konyol dari seorang pemuda desa yang tidak tahu diri.

Tapi sekarang, melihat tanaman yang tumbuh luar biasa ini, janji tersebut bukan lagi sekadar bualan kosong di siang bolong.

"Kita akan panen besar, Yah, Bu," ucap Yang Chan dengan nada santai, memecah keheningan di antara mereka berdua.

Yang Wei menoleh ke arah anaknya, matanya berkaca-cara karena kelegaan yang teramat sangat. Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah menguap begitu saja ke udara.

"Iya, Nak ... Kita benar-benar akan panen," jawab Yang Wei dengan suara serak, mengusap air mata yang hampir menetes di pipinya yang keriput.

Jalan menuju masa panen raya kini terbentang lebar di depan mata mereka.

Melalui rutinitas bertani yang damai dan sederhana inilah, Yang Chan akan terus melangkah maju, membangun jalannya sendiri tanpa perlu tergesa-gesa oleh hiruk-pikuk dunia luar.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!