NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Menjelang tengah malam, Arina diam-diam menyelinap ke dapur.

Ia bersembunyi sejenak di balik pintu. Saat pelayan yang bertugas menyiapkan minuman dan kudapan malam pergi ke ruang penyimpanan untuk mengambil beberapa hidangan, Arina segera menghampiri teko yang telah disiapkan di atas meja.

Dengan gerakan cekatan, ia menuangkan serbuk Bunga Lunaria ke dalam teko, lalu mengaduknya perlahan hingga larut sempurna.

Setelah memastikan tidak ada jejak yang mencurigakan, Arina segera meninggalkan dapur sebelum seseorang menyadari keberadaannya.

“Rigel...”

Baru beberapa langkah keluar dari dapur, Arina melihat Rigel sedang berpatroli di lorong.

Tanpa membuang waktu, ia segera bersembunyi di balik sebuah pot bunga besar yang menghiasi sudut koridor.

Suara langkah kaki Rigel menggema pelan di lorong yang sunyi. Arina menahan napas hingga pria itu berjalan melewatinya tanpa sedikit pun menoleh.

Setelah bayangan Rigel benar-benar menghilang di ujung lorong, Arina perlahan keluar dari persembunyiannya.

“Aku harus cepat.”

Ia mempercepat langkah menuju taman belakang manor yang penjagaannya jauh lebih longgar. Dari sana, ia berjalan menyusuri jalan setapak berbatu hingga akhirnya tiba di area sayap selatan.

Cahaya obor menerangi lorong menuju penjara bawah tanah. Beberapa penjaga tampak berjaga di depan pintu masuk sambil mengobrol pelan untuk mengusir rasa kantuk.

Arina tidak gegabah mendekat. Ia memilih bersembunyi di balik semak-semak tinggi yang tumbuh beberapa puluh langkah dari pos penjagaan. Dari tempat itu, ia masih dapat mengawasi setiap gerakan para penjaga tanpa mudah terlihat.

Matanya terus tertuju ke arah lorong. Seharusnya pelayan itu segera datang… Malam semakin sunyi. Hanya suara serangga dan desir angin yang sesekali memecah keheningan.

Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul dari kejauhan sambil membawa nampan berisi teko teh dan beberapa kudapan. Langkahnya tenang, sama sekali tidak menyadari bahwa sepasang mata sedang mengamatinya dari balik semak.

Arina tetap tidak bergerak.

Dengan sabar, ia menunggu saat yang tepat hingga para penjaga mulai menikmati minuman yang telah diantarkan.

Setelah pelayan itu menyelesaikan tugasnya, ia segera kembali ke dapur.

Para penjaga menikmati kudapan sambil mengobrol ringan. Setelah itu, mereka menghabiskan minuman hangat yang baru saja disajikan.

“Hoam...”

Tak lama berselang, satu per satu mulai menguap lebar. Kelopak mata mereka terasa semakin berat hingga akhirnya seluruh penjaga tertidur lelap di pos masing-masing.

Arina merapatkan tudung jubahnya, lalu melangkah cepat menuruni tangga menuju penjara bawah tanah.

Karena hari sudah larut malam, sebagian besar tahanan telah tertidur. Kalaupun masih ada yang terjaga, mereka tidak akan mengenali Arina. Tudung yang menutupi wajahnya, ditambah sedikit manipulasi pada bentuk tubuhnya agar tampak lebih berisi, membuat penampilannya jauh berbeda.

Saat tiba di depan sel kedua tahanan itu, keduanya ternyata telah menunggunya.

“Kau benar-benar datang,” ujar sosok yang berwujud anak kecil.

“Ulurkan telapak tangan kalian.”

“Untuk apa?” tanya wanita paruh baya itu dengan waspada.

“Sebagai jaminan bahwa kalian akan memenuhi kedua syaratku.”

Suara Arina tetap datar. Kedua tangannya bergerak membentuk pola-pola rumit hingga cahaya ungu samar perlahan memancar dari telapak tangannya.

Meski masih ragu, keduanya akhirnya mengulurkan tangan.

“Tahan teriakan kalian. Ini akan sedikit sakit.”

Begitu selesai memperingatkan mereka, Arina segera menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan masing-masing tahanan.

Suara desiran lembut terdengar saat keempat telapak tangan itu bersentuhan.

Keringat mulai membasahi dahi Arina, sementara kedua tahanan menggigit bibir erat-erat demi menahan rasa sakit.

“I-ini sakit sekali...” keluh sosok anak kecil itu ketika proses tersebut akhirnya selesai.

Ia buru-buru membalik telapak tangannya.

“Ini...”

“Ssst...”

Arina mengangkat telunjuk ke depan bibirnya, memberi isyarat agar ia tidak melanjutkan ucapannya.

“Kita tidak punya banyak waktu. Dengarkan aku baik-baik.”

“Kami mendengarkan,” ujar wanita paruh baya itu. “Apa sebenarnya yang kau inginkan?”

“Pertama, cari tahu siapa orang yang menyuruh kalian membakar desa.”

Arin melirik ke ujung lorong untuk memastikan tidak ada seorang pun yang datang.

“Lalu syarat yang kedua?” tanya wanita itu dengan gugup.

“Aku ingin bertemu pemimpin Asosiasi Telaga Hitam pada awal bulan depan.”

Awal bulan tinggal delapan hari lagi. Menurut perhitungan Arina, itulah waktu yang paling tepat.

“Itu...” Wanita itu tampak ragu. “Pemimpin kami tidak mudah ditemui.”

“Namun, pasti ada caranya.” Arina menatap mereka penuh arti. “Karena tanda di telapak tangan kalian akan meledak dalam sepuluh hari. Ledakannya cukup kuat untuk membunuh tanpa meninggalkan jasad.”

Ia mengucapkannya dengan nada yang begitu datar, seolah hanya sedang membicarakan cuaca malam ini.

“Kau benar-benar kejam,” gumam sosok anak kecil itu sambil menelan ludah.

Tanpa menanggapi ucapan tersebut, Arina mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu sel.

“Sudah waktunya kalian pergi.”

Keduanya melangkah keluar dari sel.

Mereka hanya bisa terdiam saat melihat Arina mengunci kembali pintu jeruji dengan ekspresi setenang biasanya, seolah membebaskan dua tahanan bukanlah sesuatu yang luar biasa atau sesuatu yang ia takuti konsekuensinya.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!