Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Lampu neon temaram berwarna merah kemerahan memantul di atas lantai klab malam yang kotor dan lembap di pinggiran kota Los Angeles.
Tempat ini adalah area yang menjadi pusat perdagangan gelap, sarang dari berbagai transaksi haram yang terlindung dari jangkauan hukum.
Dentuman musik techno bersuara berat memekakkan telinga, namun atmosfer gila di dalam klab mendadak mengendur tajam ketika pintu kayu tebal di area belakang dihantam hingga terbuka lebar.
Seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan aura intimidasi yang luar biasa pekat. Pria itu bertubuh tegap, mengenakan setelan jas hitam mahal yang dijahit khusus, dengan rambut memutih di bagian pelipis yang justru menambah kesan berwibawa sekaligus membahayakan.
Di belakangnya, empat orang pengawal berbadan besar bersetelan serba hitam mengawal setiap langkahnya dengan tangan siap di balik saku jas.
Pria itu adalah Abner Widmer—seorang konglomerat berpengaruh yang baru saja menyelesaikan ekspansi bisnis besarnya di luar negeri.
"Di mana putriku?!" tanya Abner dengan suara berat dan dalam, menggema menembus bisingnya musik klab.
Di hadapannya, seorang wanita paruh baya bermake-up tebal yang dikenal sebagai Madam—pengelola klab malam tempat Rossi hampir dijual beberapa hari lalu—gemetar hebat. Kedua lututnya terasa lemas menatap sosok Abner yang sangat ia kenal reputasinya di dunia bawah tanah.
"P-putri Anda?" gagap sang Madam, menyapu keringat dingin di dahinya. "D-dia kabur, Tuan... Dan wanita yang menjualnya bahkan tidak mengembalikan uang saya!"
Mata Abner menyipit tajam, memancarkan Kilatan membunuh yang dingin. "Kalian... sangat lancang mengganggu putriku. Sudah cukup kau menghirup udara segar hingga malam ini."
"M-maafkan aku, Tuan! A-aku sama sekali tidak tahu kalau gadis itu adalah putri Anda!" jerit sang Madam ketakutan, berlutut di lantai kotor sembari menangkupkan kedua tangannya. "Tolong ampuni saya, Tuan Abner!"
Abner menatap wanita itu bagaikan menatap seekor serangga. "Katakan padaku... siapa yang berani menjualnya kepadamu?"
"Mariella!" jawab sang Madam cepat tanpa ragu-ragu. "Mariella yang menjualnya pada saya, Tuan! Dia membawa gadis itu ke sini dan menerima uang mukanya!"
Rahang Abner mengeras kencang, otot-otot di lehernya menegang menahan amarah yang membakar dada. "Beraninya wanita murahan itu menjual putriku..."
Mariella adalah ibu tiri Rossi, wanita licik yang selama ini memanfaatkan ketiadaan Abner untuk menindas putri kandungnya.
Abner memang sengaja menyembunyikan Rossi—putri bungsu yang sangat disayanginya namun memiliki tubuh fisik yang rapuh—di sebuah vila terpencil di kawasan pedesaan agar terhindar dari intrik dunia bisnis dan bahaya musuh-musuhnya.
Namun, ia baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya hari ini dan mendapati kabar mengerikan: putrinya yang terisolasi di desa telah menghilang selama tiga hari.
°°°
Tiba-tiba, salah satu pengawal pribadi Abner melangkah maju dari belakang, mendekatkan diri ke telinga Abner dan berbisik dengan nada bicara yang sangat serius.
"Seperti dugaan saya, Tuan... Nona Cathez juga ikut terlibat dalam hal ini."
Deg.
Tubuh Abner mematung seketika.
Nama itu—Cathez—menghantam kesadaran Abner bagaikan petir di siang bolong.
Tangan tegap pria paruh baya itu mengepal sangat kencang hingga buku-buku jarinya memutih, menghasilkan bunyi derak yang menyeramkan.
Rasa murka yang tak tertahankan menjalar di seluruh pembuluh darah Abner. Ia tahu betul betapa dingin dan bencinya Cathez terhadap keberadaan Rossi selama ini, namun ia tidak pernah membayangkan Cathez akan bertindak sejauh ini—membiarkan Mariella menjual adiknya sendiri ke klab malam terlarang!
"Cathez..." desis Abner dengan nada suara yang begitu dingin hingga sang Madam di lantai makin menggigil ketakutan.
Abner memalingkan wajahnya ke arah pengawalnya, matanya memancarkan perintah mutlak yang tak boleh dibantah.
"Hubungi anak itu. Dan buat dia menemui ku di mansion utama malam ini juga!"
"Baik, Tuan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, ratusan mil dari Los Angeles... di dalam sebuah penthouse suite super mewah di hotel bintang lima kawasan San Francisco, California.
Suasana ruangan bersuhu dingin itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal yang bercampur dengan hawa panas gairah yang liar.
Di atas tempat tidur king-size berseprai sutra putih yang kini tampak berantakan, dua tubuh manusia tengah menyatu dalam pergumulan panas tanpa busana.
Seorang pria matang berkepala empat dengan tubuh tegap berotot—salah satu rekan bisnis terkemuka yang berpengaruh di California—sedang bergerak intens di atas tubuh seorang wanita. Wanita itu tak lain adalah Cathez Widmer.
Nyonya Muda keluarga Vale-Knight yang di depan publik dan di hadapan mertuanya selalu bersikap dingin, anggun, bagaikan dewi suci yang tak tersentuh, kini tampak begitu liat dan liar di bawah terkaman pria tersebut.
Cathez mendesah pasrah, mencengkeram sprai sutra rapat-rapat saat pria di atasnya memacu gairah mereka menuju puncak kehangatan.
Kringgggg! Kringgggg!
Tiba-tiba, nada dering ponsel milik Cathez bertalu-talu memecah atmosfer panas di dalam kamar tidur tersebut.
Cathez melenguh kesal, mencoba mengabaikan bunyi bising itu. Namun ponsel di atas meja nakas itu terus berdering tanpa henti, memancarkan pendar cahaya yang mengganggu.
"Abaikan saja, baby..." bisik pria itu dengan nada serak di leher Cathez, terus memagut kulit halus wanita itu.
Namun Cathez menghentikan pergerakan pria itu. Ia melirik layar ponselnya dan seketika seluruh darah di tubuhnya terasa berhenti mengalir saat melihat id kontak yang tertera di sana: Pengawal Ayah.
Dengan napas memburu dan dada yang masih naik-turun, Cathez mendorong dada tegap pria di atasnya, lalu meraih ponsel tersebut dan menekan tombol hijau.
"Ada apa?!" sembur Cathez kasar dengan nada berbisik, berusaha menetralkan suara napasnya yang masih berantakan.
Dari seberang telepon, suara dingin dan formal dari pengawal pribadi Abner terdengar tanpa basa-basi. "Nona Cathez. Tuan Abner ingin Anda menemuinya di mansion utama Los Angeles malam ini juga."
Cathez mengutuk dalam hati. Ia langsung menggunakan kebohongan yang sama yang ia kirimkan melalui pesan singkat kepada Rowan Pagi tadi.
"Tidak bisa!" sahut Cathez cepat, nada suaranya dibuat seolah-olah ia sedang terganggu. "Aku sedang tidak di Los Angeles! Aku berada di New York untuk menenangkan diri dan mengurus bisnis fashion-ku!"
Keheningan dingin menyapa sejenak dari seberang telepon, sebelum pengawal itu kembali menyahut dengan nada yang jauh lebih menusuk.
"Tuan Abner tahu Anda tidak pergi ke New York, Nona. Beliau tahu persis di mana Anda berada saat ini."
Kata-kata itu menghantam Cathez bagaikan guyuran air es. Wajah cantiknya seketika pucat pasi.
Tepat pada saat ketakutan mulai merayapi benak Cathez, pria berkepala empat di sampingnya yang merasa gairahnya tergantung tiba-tiba merayap mendekat.
Jemari besar pria itu mengusap pinggul polos Cathez dan menariknya kembali.
"Aku belum menyelesaikannya, baby..." bisik pria itu dengan suara berat yang cukup keras, langsung mengikis jarak dan mencoba menyatu kembali dengan Cathez.
Mata Cathez membelalak lebar dalam kepanikan luar biasa.
"Sialan! Aku belum mematikan teleponnya!" jerit Cathez histeris sambil memukul dada pria berkepala empat itu dengan kuat. "Menyingkir dariku! Menyingkir!"
Cathez mendorong pria itu hingga terjungkal ke samping tempat tidur, lalu secara panik menempelkan kembali ponsel ke telinganya.
Dari seberang telepon, suara pengawal Abner terdengar semakin dingin dan datar, menandakan bahwa percakapan dan suara pria tadi telah terdengar dengan sangat jelas.
"Dalam dua jam... Anda sudah harus berada di mansion utama Los Angeles, Nona Cathez. Jika Anda tidak muncul tepat waktu, Tuan Abner sendiri yang akan menjemput Anda dengan helikopter pribadi ke kamar tempat Anda berada sekarang."
Tut... tut... tut...
Sambungan telepon terputus secara sepihak.
"Sialan! Sialan! Sialan!" jerit Cathez berapi-api, membanting bantal hotel ke sembarang arah.
Pria yang bertelanjang dada di sampingnya menatap Cathez dengan kening berkerut. "Ada apa, Cathez? Siapa yang berani mengancammu seperti itu?"
"Tutup mulutmu!" bentak Cathez dengan mata menyalang penuh amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.
Dua jam! Pria tua itu memberinya waktu dua jam untuk memangkas jarak antara San Francisco dan Los Angeles! Jarak yang biasanya membutuhkan waktu penerbangan komersial lebih dari satu jam atau perjalanan darat selama enam jam!
Cathez melompat turun dari tempat tidur dalam keadaan bertelanjang bulat, mengabaikan pria di kamar itu.
Tangannya yang gemetar dengan cepat memungut pakaian dalam dan gaun mewahnya yang berserakan di atas karpet.
Jika sang ayah—Abner Widmer—sudah memanggilnya dengan cara seperti ini dan mengetahui kebohongannya soal New York, itu artinya Abner telah mengetahui sesuatu yang sangat fatal.
Dan jika Abner sampai tahu mengenai keterlibatannya dalam penjualan Rossi ke klab malam... Cathez tahu betul ayahnya tidak akan ragu untuk menghancurkannya, terlepas dari statusnya sebagai Nyonya Muda Vale-Knight!
Dengan jantung yang bertalu-talu menghantam dada akibat kepanikan yang luar biasa, Cathez berlari menuju kamar mandi untuk bersiap, kalang kabut mencari cara agar bisa tiba di Los Angeles dalam waktu dua jam ke depan sebelum neraka dalam hidupnya benar-benar meledak.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰