Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencuri Bunga
"Setelah kemarin aku sudah tidak percaya lagi padamu, Kara. Jangan-jangan sakitmu itu hanya alasan saja, karena nanti malam kita akan menghadiri jamuan makan malam penyambutan para bangsawan dari Baginda Raja."
Suri terus mengomel tanpa henti. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara tatapannya tidak lepas dari adiknya yang masih terbaring lemas di atas tempat tidur. Sejak kejadian kemarin, kepercayaan Suri terhadap Nandikara benar-benar menurun. Bagaimana tidak, dia dikorbankan kepada para lady bangsawan yang sangat berisik itu. Sementara Nandikara, asik berjalan-jalan ke taman bunga.
"Kali ini aku serius, Suri," jawab Elisa pelan. Suaranya terdengar serak dan kehilangan tenaga."Badanku benar-benar tidak enak. Coba sentuh keningku, sangat panas."
Elisa memejamkan mata sejenak. Kejadian kemarin benar-benar menguras tubuh dan pikirannya. Sampai sekarang ia masih sulit mempercayai apa yang telah terjadi. Rasanya seperti mimpi buruk yang terlalu nyata untuk dilupakan. Bayangan wajah Pangeran Erlan, hewan yang mati di hutan, dan semua kekacauan itu terus berputar di kepalanya hingga membuatnya hampir tidak bisa tidur semalaman.
Suri terlihat menghela napas, dia berjalan mendekat, lalu mengulurkan telapak tangannya untuk menyentuh dahi Elisa. Kening itu memang terasa hangat."Kau memang sedikit demam." gumamnya.
Suri menarik tangannya kembali, tetapi rasa penasarannya belum juga hilang."Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kau serius mencuri bunga yang ada di taman Istana Pangeran Erlan?"
"Aku tidak mencuri, Suri."
"Kara." Suri menatap Elisa dengan wajah serius."Memetik bunga tanpa izin, sama saja mencuri. Kau benar-benar sangat ceroboh."
Elisa mengembuskan napas panjang."Cukup Ibu saja yang terus mengomel, Suri. Kau jangan ikut-ikutan mengomel. Aku kan sedang sakit."
Dia meringis sambil memasang wajah sendu, bahkan sedikit memonyongkan bibir, berusaha terlihat menyedihkan agar kakaknya merasa iba. Biasanya cara itu cukup ampuh membuat Suri menghentikan ceramahnya, meski hanya untuk sementara.
Namun kali ini, Suri hanya menggeleng pelan."Kau ini..." gumamnya pelan, antara kesal dan tidak tega.
Kejadian kemarin benar-benar menyeret Elisa ke dalam masalah besar. Setelah berhasil keluar dari kawasan taman, Colin, ksatria kepercayaan Pangeran Erlan, justru bersikeras mengantarnya pulang hingga ke kediaman keluarga Winter. Elisa sudah berkali-kali memohon agar pria itu tidak datang ke tendanya. Ia tahu betul apa yang akan terjadi jika keluarganya mengetahui semua kekacauan itu.
Namun Colin sama sekali tidak menggubris permintaannya.
"Itu perintah dari Pangeran Erlan. Tugasku memastikan Nona Nandikara pulang dengan selamat sampai ke kediamannya."
Hanya kalimat itu yang terus diucapkannya sepanjang perjalanan.
Dan benar saja.
Begitu sampai di depan tenda keluarga Winter, suasana langsung berubah menjadi geger. Tentu saja tuan dan nyonya Winter langsung mengenali wajah dari ksatria itu, tuan Winter bahkan keluar sendiri menyambut kedatangan ksatria kepercayaan sang putra mahkota.
Namun rasa hormat mereka berubah menjadi keterkejutan ketika melihat siapa sosok yang berdiri kikuk di belakangnya.
"Nandikara?" Tatapan Nyonya Winter langsung membelalak.
Hal pertama yang dilihatnya bukanlah wajah putrinya, melainkan pakaian sederhana yang dikenakan Nandikara. Gaun pelayan yang lusuh itu membuat darahnya seolah mendidih.
Belum sempat Elisa menjelaskan, Colin telah menyampaikan maksud kedatangannya dengan singkat. Ia menceritakan bahwa Nandikara ditemukan berada di taman milik Pangeran Erlan dan telah memetik bunga di kawasan yang seharusnya tidak boleh dimasuki para tamu.
Ucapan itu seketika membuat wajah Nyonya Winter memerah karena malu."Kau mencuri bunga milik Pangeran Erlan?"
"Ibu, aku tidak mencuri!" Elisa buru-buru membela diri."Aku hanya meminta satu tangkai saja."
"Meminta?" potong Nyonya Winter tajam."Anak ini benar-benar...."
"Ibu, dengarkan dulu penjelasanku."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!"
Sejak saat itu, tidak peduli berapa kali Elisa mencoba menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak berniat mencuri, Nyonya Winter tetap menganggap putrinya telah mempermalukan nama keluarga Winter. Baginya, memetik bunga di kawasan terlarang milik putra mahkota adalah kesalahan besar yang tidak bisa dibenarkan.
Elisa hanya bisa pasrah menerima omelan panjang yang berlangsung hampir sepanjang malam. Mengingat kembali kejadian itu saja membuat kepalanya kembali berdenyut.
"Baiklah," ucap Suri akhirnya sambil menghela napas panjang."Maafkan aku karena terus mengoceh. Sekarang istirahatlah. Kau memang terlihat sangat kacau."
Nada bicaranya mulai melunak. Wajah Elisa memang jauh lebih pucat daripada biasanya. Lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia hampir tidak tidur semalaman.
"Terima kasih, Suri."
Elisa tersenyum tipis. Ia kembali menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya, lalu memejamkan mata. Meski tubuhnya terasa lelah dan demam mulai menguasai dirinya, pikirannya tetap dipenuhi bayangan kejadian kemarin yang terus menghantuinya tanpa henti.