NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Nadia Hamil

Surya tidak menyangka makan malam dengan Meilu akan berubah menjadi panggung lama yang dipaksa menyala lagi.

Restoran Jepang di Senopati itu dipilih Meilu karena dekat dengan lokasi koordinasi kasus. Ia datang tanpa seragam, memakai blazer krem sederhana dan jam tangan tipis yang tidak berteriak mahal, tidak mungkin murah. Surya datang dari Sentana membawa satu map perkara dan wajah lelah orang yang baru belajar bahwa pekerjaan hukum tidak mengenal jam makan.

"Kamu selalu bawa berkas ke meja makan?" tanya Meilu.

"Dulu saya bawa piring kotor ke meja makan."

Meilu berhenti menuang teh.

Surya tersenyum kecil. "Ini peningkatan."

Kali ini Meilu tertawa pelan. Tidak keras. Hanya cukup untuk membuat wajahnya yang biasanya kaku terlihat seperti manusia biasa.

Mereka baru memesan ketika pintu restoran terbuka.

Nadia masuk bersama Kevin.

Perut Nadia belum besar. Namun, tangan kirinya sengaja diletakkan di sana, seperti orang membawa sertifikat kemenangan. Kevin berjalan di sampingnya dengan kemeja putih dan wajah tampan yang terlalu sibuk menjaga citra. Mereka berhenti ketika melihat Surya.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu Nadia tersenyum.

"Surya."

Suara itu pernah menjadi panggilan pulang. Sekarang terdengar seperti kuku menggores kaca.

Surya meletakkan cangkir.

"Nadia."

Nadia melangkah mendekat. Matanya menyapu meja, lalu berhenti pada Meilu.

"Oh. Makan dengan polisi?" katanya. "Aku kira setelah cerai kamu akan mencari pekerjaan, bukan mencari perempuan yang bisa melindungimu."

Meilu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat mata.

Kevin tertawa pendek. "Lumayan juga, Surya. Dari suami rumahan jadi..."

"Hati-hati menyelesaikan kalimat," potong Meilu.

Kevin menatapnya. "Anda mengancam saya?"

"Saya mengingatkan. Ancaman biasanya datang dengan pasal."

Wajah Kevin mengeras.

Nadia menikmati ketegangan itu. Ia mengusap perutnya, sengaja lebih lambat.

"Bagaimanapun, hidupku sudah maju." Ia menatap Surya. "Aku hamil."

Surya tidak bergerak.

Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan menghancurkannya. Anak. Keluarga. Masa depan yang tidak pernah diberikan kepadanya. Tetapi sekarang yang ia lihat bukan bayi. Ia melihat kartu baru yang dilempar Nadia ke meja setelah semua kartu lamanya terbakar.

"Selamat," kata Surya.

Nadia tampak kecewa karena wajah Surya tidak runtuh.

"Anak Kevin," lanjutnya, lebih tajam. "Darah Tanuwijaya."

Kevin sedikit menoleh kepadanya. Gerakan kecil itu cukup.

Surya melihatnya.

Meilu juga.

"Oh, selamat ya," kata Meilu tiba-tiba.

Ia berdiri, lalu berjalan ke sisi Surya. Dengan gerakan yang sangat alami, ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke bahu Surya dan meletakkan tangannya di lengan Surya.

Tubuh Surya kaku setengah detik.

Meilu menekan lengannya, kecil saja. Perintah diam.

Lalu ia tersenyum kepada Nadia.

"Kami juga sedang merencanakan pernikahan kami."

Restoran seperti berhenti bernapas.

Nadia menatap tangan Meilu di lengan Surya.

"Apa?"

"Kamu sudah dengar." Meilu mengangkat dagu. "Surya bebas sekarang. Wajar kalau ada orang yang melihat nilainya setelah dia keluar dari rumah yang salah."

Wajah Nadia berubah seketika. Bukan hanya marah. Ada sesuatu yang lebih pahit: rasa tidak percaya bahwa barang yang dulu ia buang bisa dipungut perempuan lain dengan bangga.

Kevin menatap Meilu dari kepala sampai kaki. Ia mencoba membaca merek, kelas, koneksi.

Ketika pelayan membuka pintu kaca untuk tamu baru, kilatan merah dari parkiran terlihat.

Lamborghini merah.

Kunci mobil itu tergeletak di meja Meilu, lambangnya menghadap ke atas.

Kevin melihatnya.

Nadia juga.

Senyum Nadia mati di tempat.

"Kamu..." Nadia menelan ludah. "Kamu siapa sebenarnya?"

Meilu mengambil kembali kunci itu dan memasukkannya ke tas. "Orang yang tidak perlu menjelaskan diri kepada mantan istri orang."

Surya hampir tersenyum.

Nadia menahan perutnya lebih kuat. "Jangan sombong. Kamu belum tahu Surya itu siapa. Dia laki-laki miskin, pembawa sial. Setelah menikah dengannya, ayahku meninggal, rumahku hancur, hidupku..."

"Hidupmu hancur karena pilihanmu sendiri," kata Surya.

Nadia membeku.

Surya berdiri. Kali ini ia tidak membutuhkan Meilu untuk menahan apa pun.

"Kamu membeli polis atas nyawaku. Kamu ingin ginjalku untuk ayahmu. Kamu membawa laki-laki lain ke rumah saat aku masih menjadi suamimu. Kalau sekarang kamu hamil, jaga anak itu baik-baik. Jangan jadikan dia alat seperti kamu menjadikan semua orang alat."

Beberapa tamu mulai berbisik.

Kevin menarik lengan Nadia. "Cukup. Kita pindah meja."

Nadia menepisnya. "Kenapa? Takut?"

Kevin merendahkan suara. "Aku tidak takut Surya. Aku takut kamu bodoh."

Kalimat itu terlalu pelan untuk meja lain. Namun, cukup keras untuk Surya dan Meilu.

Nadia menoleh. "Apa maksudmu?"

Kevin menatap perutnya. "Papa belum percaya anak itu darah Tanuwijaya."

Nadia seperti kehilangan pijakan.

"Kamu juga?"

"Aku hanya bilang tes nanti perlu."

"Tes?" Suara Nadia pecah. "Setelah semua yang aku korbankan?"

Kevin mengembuskan napas, kesal. "Jangan drama di sini."

Kata drama menusuk lebih dalam daripada hinaan Surya mana pun.

Nadia mundur satu langkah. Wajahnya pucat. Tangannya menekan perut.

"Sakit..." bisiknya.

Kevin sempat terlihat panik. Namun, yang pertama bergerak justru Meilu.

"Duduk." Ia memberi isyarat kepada pelayan. "Panggil ambulans atau siapkan mobil ke IGD terdekat. Sekarang."

Nadia menepis tangan Meilu. "Jangan sentuh aku!"

"Saya tidak sedang menyukaimu," kata Meilu dingin. "Saya sedang mencegah kamu pingsan di lantai restoran."

Surya berdiri di samping meja. Ia tidak mendekat. Ia tidak ingin Nadia kelak berteriak bahwa ia menyentuh atau mendorongnya.

Kevin akhirnya mengangkat Nadia. Mereka keluar dengan tergesa-gesa, meninggalkan aroma parfum mahal dan kursi yang hampir jatuh.

Dari kaca restoran, Surya melihat Nadia dibawa masuk ke mobil Kevin. Wajahnya menahan sakit. Tangan Kevin menggenggam setir terlalu kuat.

Meilu kembali ke meja dan duduk seolah tidak baru saja menjatuhkan bom pernikahan palsu.

Surya menatapnya. "Merencanakan pernikahan?"

"Taktis."

"Dengan Lamborghini?"

"Juga taktis."

"Itu mobil Anda?"

Meilu meminum teh. "Makan dulu."

Surya tidak mengejar. Ia tahu pertanyaan yang terlalu cepat hanya membuat Meilu menutup pintu.

Setelah makan malam selesai, mereka keluar ke parkiran. Lamborghini merah itu menyala rendah seperti hewan mahal yang tidak cocok berada di dekat Brio hitam Surya.

Sebelum Meilu masuk, sebuah Mercedes-Benz S-Class hitam berhenti di depan lobi. Sopir berseragam turun dan membukakan pintu belakang.

Di pelat kecil dekat kaca depan, Surya melihat tulisan perusahaan.

Lintang Group.

Meilu berhenti sebentar, seolah tahu Surya membaca.

"Mobil kantor keluarga," katanya singkat.

"Keluarga Anda?"

Meilu menatapnya dari balik pintu mobil yang terbuka. Wajahnya kembali menjadi AKP Lim Mei Lu yang penuh garis batas.

"Jangan terlambat kerja besok, Surya."

Ia masuk ke Mercedes itu, bukan ke Lamborghini.

Mobil hitam itu melaju pergi, meninggalkan Surya dengan satu pertanyaan baru.

Perempuan yang tadi berpura-pura menjadi calon istrinya ternyata datang dari dunia yang bahkan Kevin pun harus membaca dua kali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!