NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 - Jaka Lima Berlutut

Ponsel berdering pukul sembilan malam. Arga mengangkatnya, mengira itu Rafael.

Ternyata Bu Ningsih.

Suaranya berbeda, tertahan, hati-hati, seperti seseorang yang berbicara di dekat orang yang tidak boleh mendengar.

"Arga, maaf menelepon semalam ini. Tapi saya sudah tidak tahu harus mencari siapa lagi."

Arga duduk di tepi ranjang. Bianca melirik dari samping, tanpa bertanya.

"Apa yang terjadi?"

"Seorang pria datang ke panti hari ini. Dia membawa dua anak buah. Katanya mulai sekarang kami harus membayar lima puluh juta sebulan untuk 'perlindungan'. Kalau tidak bayar, dia akan 'menyelesaikan dengan cara lain'." Suara Bu Ningsih patah. "Arga, saya tidak punya lima puluh juta. Lima juta saja tidak punya."

"Siapa pria itu?"

"Dia bilang namanya Jaka Lima. Semua orang di wilayah sini kenal. Tidak ada yang berani macam-macam dengannya."

Arga diam selama tiga detik.

"Bu Ningsih. Jangan bayar apa pun. Jangan bicara dengan siapa pun. Besok pagi, masalah ini sudah tidak akan ada. Ibu percaya pada saya?"

"Percaya."

"Kalau begitu, tidur dengan tenang."

Ia memutus sambungan. Menatap ponsel. Bianca duduk di ranjang, sebuah buku terbuka di pangkuan, tetapi ia tidak sedang membaca.

"Masalah?"

"Masalah. Tapi bukan masalahmu."

Bianca tidak menjawab. Ia kembali menatap buku. Halamannya tidak berbalik.

Jaka Mursyid, Jaka Lima bagi orang-orang di dunia itu, mengendalikan tiga wilayah di pinggiran selatan Jakarta. Narkoba kecil-kecilan, pinjaman gelap, pemerasan toko. Pemangsa di kolam kecil.

Arga membuka Kodeks. Mengetik "Mursyid, Jaka". Berkasnya pendek, empat halaman. Raka mengatalogkan Jaka Lima sebagai operator level tiga, berguna sebagai calon informan. Tetapi detailnya menghancurkan.

Tiga rekening bank tidak dilaporkan, salah satunya atas nama ibunya. Lokasi dua gudang barang. Dan surat perintah penangkapan tahun 2019 yang tidak pernah dilaksanakan karena "kesulitan menemukan keberadaan tersangka". Tersangkanya tinggal di alamat yang sama selama enam tahun.

Arga menelepon Pak Jaya.

"Saya butuh dukungan operasional. Malam ini."

"Jenis operasi?"

"Percakapan. Tapi dengan orang yang tidak suka bercakap-cakap."

Jeda.

"Senjata?"

"Tidak ada. Cukup kehadiran. Dan mobil antipeluru."

"Jam?"

"Sebelas malam."

"Saya di depan pukul sepuluh empat puluh lima."

Kawasan itu tidak punya nama di peta. Gang sempit, tiang listrik dengan kabel liar melintang di langit gelap, bau gorengan dan selokan.

SUV antipeluru berhenti di sudut sebuah bar tanpa papan nama. Neon biru, musik keras, empat motor di trotoar. Pak Jaya mematikan mesin. Matanya menyapu jalan dengan disiplin militer.

Arga turun. Setelan gelap, map hitam di bawah lengan. Sepenuhnya tidak pada tempatnya, dan justru itu tujuannya.

Dua anak muda di pintu menatapnya. Salah satu meletakkan tangan di pinggang. Pak Jaya turun dari mobil, lengan terlipat, postur tegak. Usianya sudah di atas enam puluh, rambut putih, tetapi tubuhnya adalah peringatan yang bisa dibaca siapa pun yang tumbuh di jalanan.

Anak muda itu menurunkan tangan dari pinggang.

"Saya perlu bicara dengan Jaka," kata Arga. Suaranya rendah, tenang, tidak terburu-buru.

"Jaka siapa?"

"Satu-satunya Jaka yang berkuasa di sini."

Keduanya saling pandang. Salah satu masuk ke bar. Dua menit kemudian, ia kembali dan memberi isyarat agar Arga masuk.

Bagian dalamnya lebih kecil daripada tampak luar. Tiga meja, konter seng, televisi menyala tanpa suara. Di bagian belakang, di meja yang menempel ke dinding, Jaka Lima.

Pendek, lebar, kulit gelap, kepala plontos. Dua cincin emas, rantai tebal, kemeja terbuka di dada. Matanya kecil, cerdas, curiga. Di sampingnya, pemuda kurus dengan bekas luka di dagu. Di sisi lain, pemuda yang lebih muda, matanya terpaku pada Arga.

Jaka Lima tidak berdiri. Ia menilai Arga dari kepala sampai kaki. Dari map kulit sampai sepatu bersol licin. Lalu tersenyum.

"Siapa kamu sampai berani datang ke rumahku?"

Arga menarik kursi. Duduk. Meletakkan map di meja.

"Seseorang yang punya tawaran."

"Tawaran." Jaka Lima tertawa. Dua orang di sampingnya ikut tertawa karena kewajiban. "Orang terakhir yang datang bawa tawaran pulang tanpa dua gigi. Kamu bawa dokter gigi?"

Arga tidak tersenyum. Ia membuka map, mengeluarkan tiga lembar cetakan, lalu meletakkannya di meja menghadap Jaka Lima.

Lembar pertama: mutasi rekening Bank Mandiri atas nama Mariam Mursyid, ibu Jaka Lima. Saldo: Rp847.000.000. Asal setoran: tidak sesuai dengan uang pensiun minimum pemilik rekening.

Senyum Jaka Lima lenyap.

Lembar kedua: alamat dan foto satelit gudang di Jagakarsa. Perkiraan inventaris barang: empat ratus kilogram.

Pemuda berbekas luka mencondongkan badan untuk melihat. Jaka Lima menaruh tangan di dadanya dan mendorongnya mundur.

Lembar ketiga: salinan surat perintah penangkapan tahun 2019. Pengadilan Negeri Bekasi. Pasal narkotika dan permufakatan. Alamat tersangka, alamat bar tempat mereka duduk sekarang, disorot kuning.

Keheningan di bar menjadi total. Televisi bisu menampilkan pertandingan sepak bola yang tidak ditonton siapa pun.

Arga bicara pelan. Tanpa meninggikan suara. Tanpa ancaman dalam nada, hanya fakta, disusun dengan presisi pisau bedah.

"Saya bisa menyerahkan semua ini ke Bareskrim dalam tiga puluh menit. Rekening, gudang, surat perintah. Dalam dua puluh empat jam, kamu ada di Nusakambangan. Rekening ibumu ikut masuk. Pencucian uang. Beliau berusia tujuh puluh dua tahun, kan?"

Jaka Lima tidak menjawab. Mata kecilnya terpaku pada lembaran kertas. Rahangnya mengeras.

"Atau," lanjut Arga, "kamu tidak pernah lagi mendekati Panti Harapan. Tidak pernah lagi mengirim orang ke sana. Tidak pernah lagi menyebut nama tempat itu. Dan sebagai tambahan, kamu berutang satu bantuan kepadaku."

Jaka Lima mendongak. Matanya keras, tetapi di balik kekerasan itu ada sesuatu yang Arga kenali: perhitungan. Jaka Lima tidak bodoh. Bertahan hidup dua puluh tahun di pinggiran Jakarta menuntut jenis kecerdasan yang tidak diajarkan universitas mana pun.

Dan kecerdasan itu mengatakan bahwa pria berjas di depannya tidak sedang menggertak.

"Siapa kamu?"

"Seseorang yang tidak ingin kamu jadikan musuh."

Jaka Lima melihat anak buahnya. Enam lawan dua. Namun ia kembali melihat kertas-kertas itu dan mengerti jumlah orang tidak berarti apa-apa ketika pihak lain memegang informasi.

Pelan, seolah setiap sentimeter menghabiskan sepotong harga dirinya, Jaka Lima bangkit dari kursi. Ia memutari meja. Lalu berlutut.

Bukan dua lutut di lantai, hanya satu lutut, seperti orang yang mengucap sumpah. Kepala menunduk. Cincin emas berkilat di bawah cahaya neon.

"Panti itu terlindungi. Dan bantuan itu milikmu."

Arga mengumpulkan lembaran kertas. Menutup map. Berdiri tanpa tergesa.

"Selamat malam, Jaka."

Ia keluar tanpa menoleh. Pak Jaya sudah menyalakan mesin.

SUV itu meninggalkan kawasan tersebut dalam diam. Pak Jaya memeriksa kaca spion tiga kali. Tidak ada yang mengikuti.

Di jalan arteri, Pak Jaya bicara.

"Ayah Anda akan melakukan hal yang sama."

Arga tidak menjawab. Ia memandang kota dari jendela, gedung-gedung bercahaya, jalan layang, lampu merah mobil di jalur seberang. Jakarta pada malam hari tampak seperti organisme hidup, bernapas, berdenyut, tidak peduli pada apa pun yang terjadi di dalamnya.

"Tidak," kata Arga setelah beberapa saat. "Ayah saya akan melakukannya lebih baik."

Pak Jaya nyaris tersenyum.

Dua puluh menit kemudian, Jaka Lima bangkit dari lantai. Duduk. Anak buahnya menunggu dengan tegang.

Ia menatap si bekas luka. Satu-satunya orang yang benar-benar ia percaya.

"Ikuti mobil itu. Cari tahu pelatnya, modelnya, parkir di mana. Dan cari tahu siapa pemiliknya."

"Lalu?"

Jaka Lima menatap meja tempat lembaran tadi berada. Permukaan formika itu kosong, tetapi ia masih melihat angka-angkanya. Rekening. Alamat. Surat perintah.

"Tidak ada orang yang punya informasi seperti itu. Tidak ada." Ia mengusap wajah. "Kecuali..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tetapi si bekas luka mengerti. Dan ia keluar tanpa bertanya lagi.

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!