#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Kalimat singkat itu menggantung di udara lembap toko bunga, meretakkan benteng kesombongan yang dibangun Bara selama bertahun-tahun. “Kamulah yang sudah membuangku.” Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada tinggi, melainkan dengan ketenangan mematikan yang merayap masuk ke celah tulang rusuk Bara, menusuk tepat di pusat egonya.
Bara membeku di tempat. Tangannya yang masih melayang di atas meja kasir mendadak terasa berat. Ia menatap Andrea, mencari sedikit saja getaran ketakutan, amarah, atau tangisan histeris yang biasa ia dapatkan dari orang-orang yang telah ia hancurkan. Tapi tidak ada. Wajah Andrea bagaikan telaga tenang di tengah badai kosong dan tak tersentuh.
"Aku ... tidak membuangmu," geram Bara, suaranya parau, tenggorokannya mendadak terasa kering. Pernyataan itu keluar refleks, sebuah sangkalan otomatis dari seorang pria yang tidak pernah mau diakui kalah atau salah. "Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku. Kamu dan keluargamu yang menanggung akibat dari perbuatan kalian sendiri!"
"Dan sekarang kamu sudah mendapatkan semuanya, Tuan Bara," potong Andrea datar, memotong kalimat Bara tanpa keraguan sedikit pun. "Tugasmu sudah selesai. Permainanmu sudah tamat dengan kemenangan mutlak. Jadi, atas dasar apa kamu masih berdiri di sini dan menagih hal yang bahkan tidak pernah kamu anggap ada?"
Bara menatap perut membuncit di balik apron krem itu lagi. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar pipinya menegang kaku. "Persetan dengan permainan itu! Anak itu ... anak itu darah dagingku, Andrea! Kamu pikir aku akan membiarkan keturunanku tumbuh di tempat sempit dan lembap seperti ini?! Di lingkungan penyewa murah dengan bau tanah basah?!"
Andrea tertawa kecil. Sebuah tawa lirih tanpa humor yang terdengar begitu asing bagi Bara.
"Tempat ini jauh lebih hangat daripada rumah megah yang kamu hancurkan, Tuan Bara," ucap Andrea pelan. Tangannya kembali bergerak mengusap perutnya secara protektif, sebuah gerakan alami yang membuat mata Bara kian memerah. "Dan anak ini tidak butuh kemewahan yang dibangun dari darah dan air mata orang lain. Dia hanya butuh seorang ibu yang tulus menyayanginya, bukan seorang ayah yang memandangnya sebagai beban atau sekadar alat untuk meraih kekuasaan."
"Andrea!" Bara melangkah memutari meja kasir dengan cepat. Ia hendak mencengkeram lengan Andrea untuk memaksa gadis itu menatapnya, untuk menyadarkannya bahwa ia tidak bisa bertindak sesukanya.
Namun, sebelum jemari Bara sempat menyentuh kulit Andrea, gadis itu mundur satu langkah dengan tenang. Gerakan itu begitu halus, namun sarat akan penolakan yang teramat sangat. Andrea bahkan tidak tersentak. Ia hanya menatap tangan Bara yang mengudara bagaikan menatap benda asing yang kotor.
"Jangan sentuh aku," ancam Andrea halus, suaranya pelan namun dingin bagai sebilah pisau. "Atau aku akan berteriak dan memanggil warga sekitar. Pemilik toko ada di ruang belakang. Jika kamu membuat keributan di sini, kamu hanya akan mengotori nama baikmu sendiri di trending topik besok pagi. 'Seorang Pengusaha Sukses Mengamuk di Toko Bunga Pinggiran' bukankah itu akan merusak reputasi sempurna yang sedang kamu bangun bersama calon istrimu Angel?"
Sebutan nama 'Angel' menghantam ingatan Bara bagai siraman air es.
Ponsel di dalam saku jas mewahnya bergetar tanpa henti sejak sepuluh menit yang lalu. Nama Angel pasti terus terpampang di layarnya, menagih keberadaannya di restoran bintang lima tempat puluhan tamu undangan dan jurnalis telah berkumpul untuk menyaksikan momen lamaran megah mereka. Cincin berlian miliaran rupiah masih tersimpan dingin di dalam saku jasnya. Malam ini seharusnya menjadi puncak kejayaan Bara.
Tapi mengapa tempat ini terasa begitu mengikatnya. Mengapa bau krisan murah dan pandangan dingin wanita di depannya justru mengunci langkah kakinya jauh lebih kuat daripada kilatan kamera dan keagungan Restoran bintang lima.
"Kamu mengancamku?" suara Bara terdengar rendah.
"Aku tidak mengancam," Andrea berbalik perlahan, meraih kain lap bersih di ujung meja dan membersihkan sisa-sisa kelopak bunga yang berserakan di atas meja dengan gerakan teratur. "Aku hanya mengingatkan posisimu. Kamu memiliki dunia yang sempurna untuk dikuasai, dan aku memiliki kehidupan kecil yang tenang untuk dijalani. Jadi jangan campur adukkan keduanya lagi."
Bara menatap punggung Andrea yang terbalut kemeja longgar berwarna pastel. Wanita yang dulu selalu menyambutnya dengan senyuman hangat, yang selalu menatapnya seolah ia adalah satu-satunya pusat kebahagiaan dalam hidupnya, kini berdiri membelakanginya dengan ketenangan yang membunuh. Tidak ada lagi Andrea yang rapuh. Kehancuran yang diciptakan Bara justru menempa gadis itu menjadi sosok baru yang tak tersentuh oleh manipulasi apa pun.
Rasa kehilangan yang mendalam, sebuah perasaan asing yang belum pernah dirasakan Bara sepanjang hidupnya, mendadak menghantam dadanya begitu telak. Itu bukan sekadar ego yang terkoyak, melainkan kesadaran murni bahwa ia benar-benar telah kehilangan kendali atas Andrea.
Ponsel Bara kembali berdering nyaring. Kali ini panggilan dari asisten pribadinya.
Bara mencengkeram ponsel itu di dalam genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih. Mata elangnya menatap Andrea tajam, seolah berniat mengukir bayangan perut buncit dan wajah dingin itu ke dalam memorinya.
"Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan dia dariku seumur hidupmu, Andrea?" bisik Bara, suaranya terdengar posesif. "Kamu salah besar. Kamu boleh membenciku, kamu boleh menghapus namaku dari hidupmu, tapi ingat satu hal ... darah yang mengalir di dalam tubuh anak itu adalah darahku, dan aku tidak pernah melepaskan apa yang menjadi milikku."
Andrea tidak berbalik. Ia tetap membelakangi Bara, menyusun tangkai-tangkai bunga ke dalam vas kaca tanpa sedikit pun menghentikan jemarinya.
"Silakan keluar, Tuan Bara. Pintu ada di belakangmu," ucap Andrea datar.
Bara mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan gejolak emosi liar yang mengamuk di dalam dadanya. Dengan langkah berat dan aura membunuh yang pekat, ia berbalik dan melewati pintu kaca toko bunga itu. Dering bel berdenting nyaring saat pintu terhempas, menyambut hujan deras yang mengguyur tubuh tinggi tegapnya.
Di dalam toko yang kembali sunyi, jemari Andrea yang memegang tangkai bunga krisan perlahan terhenti.
Wanita itu memejamkan matanya rapat-rapat. Satu usapan lembut ia daratkan di perutnya yang membuncit. Napasnya terengah halus, menahan setetes air mata yang hampir saja jatuh melintasi pipinya. Ia tidak menangis karena terluka oleh Bara, melainkan karena kelelahan menahan benteng pertahanan mentalnya di depan pria yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Ibu tidak akan biarkan dia menyentuhmu, Nak .... " bisik Andrea pada rahimnya, suaranya bergetar tipis sebelum akhirnya kembali tenang. "Tidak akan pernah."
Sementara di luar, Bara masuk ke dalam mobil sportnya yang basah oleh hujan. Ia tidak memutar arah menuju restoran bintang lima tempat lamarannya menanti. Pria itu justru memukul kemudi mobilnya dengan telapak tangan, melampiaskan amarah dan kegilaan baru yang mulai merayapi jiwanya.
Malam itu, lamaran megah dengan Angel hancur berantakan tanpa kehadiran sang tokoh utama. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Bara Adikara, kemenangan yang ia genggam terasa begitu tawar, digantikan oleh obsesi gelap baru untuk menarik kembali wanita yang telah ia hancurkan ke dalam pelukannya.