~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1
***
Hawa dingin yang menusuk dari pendingin udara di ruangan berukurang lima kali enam meter itu tak mampu mendinginkan gejolak yang membakar dada Melani. Di hadapannya, sebuah amplop cokelat tebal tergeletak kaku di atas meja kayu jati yang mengkilap, seolah siap menerkam masa depannya kapan saja.
"Kamu tahu persis konsekuensi menolak saya, Melani," suara Pak Pramono—Kepala Dinas Kesehatan kabupaten yang berusia lima puluh tahunan dengan perut membuncit—terdengar begitu dingin dan sarat intimidasi. Tangannya yang dipenuhi cincin batu akik mengetuk-ngetuk permukaan meja. "Statusmu di sini masih pegawai honorer daerah. Rentan. Satu goresan tinta dari tanda tangan saya, masa depan yang kamu impikan itu selesai detik ini juga."
Melani, gadis berusia dua puluh tiga tahun yang memiliki paras cantik alami, mata jernih, dan senyum manis yang mampu menenangkan siapa saja, mengepalkan jemarinya di balik lipatan rok kemeja putihnya. Wajah anggun yang kerap dipuji teman-teman sejawatnya itu kini tampak tegang, namun tak ada sedikit pun keraguan di matanya.
Usulan gila untuk menjadi istri siri yang disampaikan Pak Pramono dua hari lalu masih terasa menyengat di ingatannya. Pria itu menjanjikan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil jalur cepat, rumah dinas, dan fasilitas mewah. Sebuah penawaran yang dibungkus rapi, tetapi baunya busuk. Melani menolaknya mentah-mentah saat itu, dan hari ini, pembalasan dendam itu disodorkan tepat di depan matanya.
"Saya menjadi bidan untuk menolong orang, Pak. Untuk melayani masyarakat, bukan untuk menjual diri," jawab Melani lugas. Suaranya tidak bergetar sama sekali. Ia menatap lurus ke dalam manik mata pria di depannya tanpa ada rasa gentar.
Senyum sinis dan penuh keangkuhan terukir di bibir Pak Pramono. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya, lalu mendorong amplop cokelat itu hingga berhenti tepat di tepi meja, di hadapan Melani.
"O ya? Begitu rupanya idealisme seorang anak muda," terkekeh pelan Pak Pramono, sebuah kekehan yang membuat bulu kuduk merinding. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa tinggi idealismemu itu bisa bertahan. Buktikan pengabdianmu. Desa Hulu Rawa. Posisimu dipindahkan ke sana, efektif mulai besok pagi."
Melani menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang bergejolak di dada. "Hulu Rawa? Tapi Pak, di daftar pendaftaran Pustu, daerah itu—"
"Daerah itu membutuhkan bidan, Melani!" potong Pak Pramono cepat, menepuk meja dengan cukup keras. "Atau kamu mau mengundurkan diri saja sekarang? Serahkan surat pengunduran dirimu, dan kamu boleh pergi dari kantor ini tanpa membawa apa-apa."
"Tidak. Saya akan menerima tugas ini," tegas Melani seraya meraih amplop cokelat tersebut.
"Bagus. Jangan salahkan saya kalau kamu menangis minta pulang dalam hitungan hari. Di sana tidak ada fasilitas yang biasa kamu nikmati. Selamat bertugas, Bidan Melani," ucap Pak Pramono dengan tatapan cemooh.
Melani membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan ber-AC itu tanpa mengucap sepatah kata pun lagi. Hulu Rawa—sebuah desa terpencil di ujung kabupaten yang bahkan tidak terdaftar dengan jelas di peta digital. Desa yang rumornya telah ditinggalkan oleh bidan terdahulu karena aksesnya yang sangat berbahaya, serta masyarakatnya yang terkenal sangat tertutup bagi orang asing.
Keputusan itu berjalan dengan sangat cepat, seolah penolakan Melani atas niat bejat Pak Pramono adalah sebuah kejahatan besar yang harus segera dihukum. Hanya dalam kurun waktu dua puluh empat jam setelah ia melangkah keluar dari ruangan Kepala Dinas, proses administrasi penugasan khususnya diterbitkan tanpa hambatan.
**
Hari berikutnya, perjalanan panjang yang menguras fisik dan mental pun dimulai. Berjam-jam menumpangi bus antarkota yang sarat penumpang, dilanjutkan dengan naik ojek yang membelah jalanan tanah berlumpur, hingga akhirnya Melani sampai di sebuah dermaga kecil di pinggir sungai yang berarus deras.
Suara mesin perahu kayu meraung pelan menembus kabut pagi yang masih menggantung rendah di atas permukaan air. Melani duduk di bagian tengah perahu, merapatkan mantelnya untuk menghalau dingin yang menusuk tulang. Di pangkuannya, sebuah tas medis dari kulit berwarna cokelat tua ia dekap erat-erat—satu-satunya 'senjata' dan barang paling berharga yang ia bawa.
Pengemudi perahu, seorang pria paruh baya bertopi caping yang dipanggil Paman Aris, melirik ke arah Melani dari belakang sambil mengemudikan setir kayu.
"Mba Bidan yakin mau bertugas di Hulu Rawa sendirian?" tanya Paman Aris, setengah berteriak agar suaranya terdengar di antara deru mesin perahu.
Melani menoleh dan mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. "Yakin, Paman. Itu sudah menjadi kewajiban saya."
Paman Aris menggeleng-gelengkan kepala, ada rasa kasihan yang terpancar dari raut wajahnya yang berkerut. "Anak muda semanis Mba ini... kasihan betul. Tempat itu bukan sekadar jauh dari kota, Mba Bidan. Orang-orang di sana lebih percaya dukun beranak dan mantra-mantra tua dibanding obat-obatan medis. Bidan yang dulu cuma bertahan satu minggu sebelum akhirnya kabur tengah malam."
"Kabur? Kenapa Paman?" Melani memiringkan kepalanya, penasaran.
"Ya karena tidak diabaikan, juga dinilai merusak tradisi," jawab Paman Aris lugas. "Apalagi Ketua Adat mereka... pria itu masih muda, tapi pengaruhnya luar biasa besar. Pria itu sangat keras, tegas, dan paling tidak suka kalau ada orang luar yang mencampuri urusan desanya. Kalau Mba Bidan tidak dapat izin dari dia, jangankan membuka klinik, tinggal di sana pun Mba bakal kesulitan."
Melani makin mendekap tas medisnya. Hatinya sempat menciut membayangkan penolakan yang mungkin akan ia hadapi. Namun, bayangan wajah sombong Pak Pramono kembali berkelebat di benaknya. Rasa bangga dan harga dirinya sebagai seorang tenaga medis menolak untuk menyerah begitu saja pada keadaan.
"Saya paham, Paman. Tapi saya datang ke sini bukan untuk merusak tradisi mereka. Saya hanya ingin membantu," gumam Melani penuh keyakinan.
"Semoga niat baik Mba Bidan dilindungi Tuhan," balas Paman Aris iba. "Tapi saya cuma bisa mengantar Mba sampai di desa sebelah, Desa Karang Anjar. Perahu saya tidak bisa melewati jeram terjal yang membatasi Karang Anjar dan Hulu Rawa."
Dua jam berlalu, perahu kayu itu akhirnya menepi di sebuah dermaga kayu yang sudah lapuk dan bertali pasak bambu.
"Kita sudah sampai, Mba. Ini dermaga Desa Karang Anjar. Dari sini, Mba harus jalan kaki menyusuri jalan setapak di tepi hutan untuk sampai ke Hulu Rawa," kata Paman Aris seraya membantu menurunkan dua tas besar milik Melani.
Melani melangkah turun ke atas kayu dermaga yang berderit menahan bebannya. Setelah membayar ongkos perahu dan mengucapkan terima kasih, ia berdiri sendirian di tepi sungai. Perahu Paman Aris perlahan memutar balik dan kembali meluncur menjauh, meninggalkannya dalam hening yang mencekam.
Dua hari perjalanan yang melelahkan telah membawanya sejauh ini. Di sekeliling Melani, pepohonan hutan hujan tropis menjulang tinggi, menyisakan jalur setapak sempit yang tertutup dedaunan basah. Kabut tebal tampak menggantung tipis di kejauhan, menutupi area yang menjadi batas antara desa ini dan Desa Hulu Rawa.
Sambil menyapu keringat tipis di dahi dan merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin, Melani memandangi keabadian hutan di hadapannya. Ia sendirian, tanpa teman sejawat, tanpa sinyal ponsel, dan tanpa kepastian bagaimana masyarakat setempat akan menyambutnya. Namun, melangkah mundur bukanlah pilihan.
Dengan menghela napas panjang untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Melani menjinjing tas medis di tangan kanan dan menggendong tas perbekalannya, lalu mulai menjejakkan kaki menyusuri jalan setapak yang dingin berembun.
Bersambung
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭