Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Perkiraan Faris
Faris terus menatap layar biru yang melayang di hadapannya. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika tulisan-tulisan itu terus bermunculan satu demi satu. Entah mengapa, kali ini sistem terdengar jauh lebih serius dibanding biasanya.
[Kemungkinan solusi ditemukan.]
[Tujuan: Membuat pengguna menjadi bagian yang dibutuhkan dalam proyek.]
Faris langsung menyipitkan mata. "Lalu?"
[Pengguna harus membuktikan bahwa keberadaan pengguna lebih menguntungkan daripada mengusir pengguna.]
"Itu juga aku tahu."
[Kesimpulan: Buat mereka membutuhkan bantuan pengguna.]
Faris menghela napas panjang. "Itu masalahnya. Bagaimana caranya?"
Beberapa detik berlalu. Kemudian sebuah tulisan baru muncul.
[Menunggu kegagalan proyek.]
Faris berkedip beberapa kali. "Hah?"
[Analisis probabilitas menunjukkan kemungkinan 73% proyek akan mengalami hambatan teknis.]
"Kamu menyuruhku menunggu mereka gagal?"
[Benar.]
"Itu terdengar jahat."
[Sistem tidak menyebabkan kegagalan.]
[Sistem hanya memprediksi.]
Faris memijat pelipisnya. "Kadang aku benar-benar takut sama cara berpikirmu."
[Terima kasih.]
"Astaga..."
Selama dua hari berikutnya, proyek renovasi mulai berjalan. Para pekerja membongkar seluruh bagian depan bangunan sesuai instruksi Pak Bandi. Truk-truk pengangkut material keluar masuk lapas sejak pagi, sementara suara mesin molen terus menggema hampir sepanjang hari.
Sesuai dugaan, Faris beberapa kali mencoba mendekati lokasi proyek.
"Pak Bandi."
Pria itu bahkan tidak menoleh. "Apa lagi?"
"Saya sudah membuat beberapa analisis...."
"Saya tidak minta!"
"Tapi kalau Bapak mau melihat—"
"Tidak!"
Jawabannya tetap singkat.
"Saya tidak memakai saran narapidana."
Faris kembali mundur.
Pak Adi yang melihat kejadian itu hanya bisa menghela napas. "Sabar."
Faris tersenyum tipis. "Iya, Pak."
Meski begitu, dia tidak berhenti mengamati. Setiap sore setelah pekerjaan workshop selesai, Faris selalu memperhatikan pembangunan dari kejauhan.
Sistem terus menganalisis.
[Pondasi digali terlalu sempit.]
[Tulangan kolom tidak sesuai desain tahan gempa.]
[Risiko revisi meningkat.]
Semua informasi itu hanya bisa ia simpan sendiri. Hari ketiga menjadi titik balik.
Pagi itu cuaca sangat panas. Para pekerja mulai memasang rangka tulangan baja untuk kolom utama bangunan. Sebuah balok beton pracetak seberat hampir satu ton sedang diangkat menggunakan derek kecil menuju posisi pemasangan.
Pak Bandi berdiri di bawah sambil memberi aba-aba. "Sedikit ke kiri! Turunkan perlahan!"
Operator derek mengangguk. Namun tepat ketika balok hampir mencapai posisinya....
KREEEKK...
Suara logam bergesekan terdengar nyaring. Salah seorang pekerja langsung mendongak.
"Pak!"
"Tali sling-nya!"
Serabut baja yang menahan balok mulai terurai.
Mata Pak Bandi membelalak. "Mundur!"
Semua pekerja spontan berlari. Namun salah seorang tukang masih berada tepat di bawah balok karena kakinya terjepit besi.
"Pak! Tolong!"
Balok itu mulai miring. Kalau sampai jatuh, orang itu pasti tertimpa.
Pak Bandi ikut panik. "Angkat! Tarik!"
Operator derek mencoba mengangkat kembali. Terlambat, tali baja semakin putus.
Faris yang sedang membawa papan kayu dari workshop langsung berhenti. "Celaka...."
Layar sistem mendadak menyala terang.
DING!
[Keadaan darurat terdeteksi.]
[Peluang pengguna terlibat meningkat menjadi 96%.]
Faris langsung fokus.
"Sistem!"
[Paket Bantuan Darurat tersedia.]
Tulisan baru muncul.
Paket Fisik Insinyur Darurat
• Kekuatan +40%
• Kecekatan +40%
• Kecepatan Analisis +60%
Durasi: 10 menit.
Harga: 50 poin.
Faris membelalak. "Lima puluh poin?"
"Itu hampir sepertiga hartaku!"
[Koreksi.]
[38,4%.]
"Ini bukan waktunya menghitung!"
Balok di atas semakin miring. Orang yang terjebak mulai berteriak ketakutan.
"Pak! Tolong!"
Faris menggertakkan gigi. "Beli!"
DING!
[50 poin dipotong.]
[Aktivasi berhasil.]
Dalam sekejap, tubuh Faris terasa berbeda. Otot-ototnya seperti dipenuhi tenaga. Pandangan matanya menjadi jauh lebih tajam.
Suara di sekitar terdengar melambat. Ia bisa melihat arah ayunan balok, sudut tali, dan distribusi gaya. Semuanya muncul begitu saja di dalam kepalanya.
[Analisis selesai.]
[Solusi tercepat ditemukan.]
[Dorong balok pada sudut 17 derajat.]
[Lepaskan besi penjepit.]
[Evakuasi pekerja.]
Tanpa berpikir panjang, Faris berlari. Kecepatannya membuat beberapa sipir melongo.
"Heh!"
"Itu Faris!"
Pak Bandi baru sadar ketika Faris sudah melewati garis pembatas.
"Hei!"
"Jangan masuk!"
Faris sama sekali tidak berhenti. Ia langsung menyambar linggis yang tergeletak di dekat pekerja.
Pak Bandi membentak. "Keluar! Bahaya!"
Namun Faris justru berteriak balik. "Kalau dibiarkan, baloknya jatuh ke kanan!"
Semua orang spontan melihat arah balok.
Pak Bandi ikut mendongak. "Apa?"
Faris sudah tiba di bawah derek. Dengan tenaga yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut, dia menancapkan linggis ke bawah balok.
"AAAAAH!"
Otot lengannya menegang. Balok yang semula miring mendadak berubah arah beberapa sentimeter. Tidak banyak, namun cukup.
"Tarik kaki Bapak!" teriak Faris.
Pekerja yang terjebak spontan menarik kakinya.
Brak!
Balok beton akhirnya jatuh. Menghantam tanah. Debu beterbangan ke mana-mana. Semua orang membeku. Beberapa detik berlalu tanpa suara.
"Selamat!"
"Dia selamat!"
Pekerja yang tadi hampir tertimpa langsung terduduk lemas. Wajahnya pucat. Kalau terlambat satu detik saja, kakinya pasti hancur.
Pak Bandi masih memandangi Faris. Tatapannya berubah. Bukan lagi meremehkan. Melainkan bingung.
"Bagaimana... Kamu tahu arah jatuhnya?"
Faris ikut terdiam. Ia tidak mungkin menjelaskan keberadaan sistem.
"Saya... melihat posisi bebannya."
Pak Bandi menyipitkan mata."Kamu menghitung itu dalam beberapa detik?"
"Kurang lebih begitu, Pak."
Para pekerja mulai berbisik.
"Dia benar."
"Kalau balok tadi jatuh sedikit ke kanan...."
"Pak Darto habis."
Pak Darto sendiri langsung menghampiri Faris. Tangannya gemetar. "Terima kasih.... Kalau bukan karena kamu...."
Faris buru-buru menggeleng. "Sama-sama, Pak."
Di dalam kepalanya....
DING!
[Misi Darurat selesai.]
[Menyelamatkan satu nyawa.]
Poin +500.
[Bonus Keberanian +300.]
[Bonus Analisis Cepat +200.]
Mata Faris langsung membelalak.
"Seribu poin?"
[Total hadiah: 1.000 poin.]
Jantung Faris berdegup kencang. Ini hadiah terbesar yang pernah diterimanya selain misi utama.
Pak Bandi masih belum mengalihkan pandangannya. Beberapa saat kemudian dia berjalan mendekat.
"Kamu..."
"Iya, Pak."
"Tadi...."
"Kamu benar-benar menghitung arah runtuhnya balok?"
Faris mengangguk pelan. "Saya hanya memperkirakan."
Pak Bandi terdiam cukup lama. Lalu dia berkata dengan suara yang jauh lebih pelan dibanding biasanya.
"Ikut saya!"
Faris sempat mengira dirinya akan dimarahi. Namun Pak Bandi justru membawanya menuju meja lipat tempat gambar struktur bangunan dibentangkan.
Beliau menunjuk denah tersebut. "Kalau memang kamu bisa membaca struktur...."
"Coba jelaskan! Menurutmu, apa kesalahan terbesar bangunan lama ini?"
Di sudut ruangan, Pak Adi yang melihat pemandangan itu sampai tersenyum lebar..Akhirnya Pak Bandi benar-benar memberi Faris kesempatan berbicara sebagai calon insinyur, bukan sekadar seorang narapidana.