Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Di Antara Takut dan Percaya
Suara teriakan panik semakin keras bergema dari arah gerbang desa, memecah ketenangan pagi yang baru saja dimulai. Laras dan Dika saling berpandangan sejenak—tak perlu banyak bicara lagi, bahaya sudah berdiri tepat di depan pintu. Laras menyelipkan belati ke balik ikat pinggangnya, menyembunyikannya di balik lipatan kain rok panjangnya, sementara Dika bergerak cepat menuju sudut ruangan untuk mengambil sebilah kayu panjang yang kokoh, sekadar untuk menyamarkan kesiapan tempurnya.
"Jangan tunjukkan kekuatan aslimu di depan warga dulu," bisik Dika singkat saat mereka melangkah keluar ke teras. "Biarkan aku yang berbicara duluan. Jika keadaan memburuk, baru kita bertindak."
Laras mengangguk pelan, matanya menatap tajam ke arah jalan setapak. Di sana, puluhan orang berpakaian serba hitam telah mengepung gerbang kayu desa. Mereka tidak membawa senjata mencolok, tapi cara mereka berdiri rapi dan tatapan mata yang dingin tanpa emosi mengungkapkan siapa mereka: pasukan khusus pengawal pribadi pengkhianat itu. Seorang pria berbadan tegap dengan jubah merah menyala berdiri di paling depan, menatap sekeliling dengan pandangan merendahkan seolah desa kecil ini hanyalah sarang serangga yang harus dibersihkan.
"Warga desa! Dengarkan perintahku!" suaranya menggelegar memecah keheningan. "Kami sedang mencari buronan berbahaya yang bersembunyi di tempat ini. Serahkan wanita bernama Laras yang tinggal di ujung desa, dan kami tidak akan menyakiti siapa pun di sini. Jika kalian menolak, seluruh desa ini akan kami geledah hingga ke tanah!"
Warga desa saling berdesak-desakan ketakutan, beberapa ibu memeluk anak-anak mereka erat-erat. Beberapa wajah menoleh ke arah rumah Laras dengan bingung—selama ini mereka hanya mengenalnya sebagai wanita pendiam yang ramah dan suka memberi bunga, tak pernah menyangka ada orang yang mencarinya dengan kekuatan sebesar ini.
Laras melangkah maju hendak memperkenalkan diri, namun lengan Dika menahannya dengan lembut namun tegas. Ia sendiri melangkah turun dari teras, berjalan tenang menghadap pasukan yang jumlahnya puluhan itu sendirian.
"Kalian tidak perlu mengganggu penduduk desa yang tidak tahu apa-apa," seru Dika dengan suara yang cukup keras didengar semua orang. "Tidak ada buronan di sini. Kalian salah sasaran."
Pria berjubah merah itu tertawa sinis, lalu menunjuk lurus ke arah Laras yang berdiri di teras. "Bodoh! Kami punya jejak yang tak pernah salah. Wanita itu berdiri tepat di sana! Tangkap dia! Hati-hati, dia jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat!"
Dua orang prajurit segera berlari mendekat, tangan mereka sudah siap menangkap. Dika bergerak secepat kilat—tanpa senjata tajam, ia hanya menggunakan pergelangan tangan dan kakinya untuk membelokkan serangan, lalu menjatuhkan keduanya dalam hitungan detik tanpa menimbulkan luka parah. Gerakannya halus namun mematikan, persis seperti teknik yang dulu pernah diajarkan sendiri oleh Laras kepada pasukannya.
Pria berjubah merah itu menatap tak percaya. "Kau... kau komandan pasukan kerajaan yang hilang! Kau berkhianat juga?"
"Aku hanya tidak mau tunduk pada pengkhianat sejati," jawab Dika dingin.
Ketegangan memuncak hingga puncaknya saat prajurit lain bersiap menyerang serentak. Laras tahu, jika pertarungan pecah sepenuhnya, warga desa pasti akan terluka di tengah persilahan. Ia menarik napas panjang, lalu melangkah turun perlahan. Suaranya terdengar lembut namun menembus ke seluruh penjuru:
"Aku yang kalian cari. Berhenti menakuti orang-orang tak bersalah ini."
Saat ia berbicara demikian, aura yang selama ini ia sembunyikan perlahan terpancar keluar—ketegasan, keberanian, dan wibawa yang tak bisa disembunyikan, aura yang dulu membuat ribuan orang tunduk pada perintahnya. Pria berjubah merah itu tertegun sejenak, seolah baru menyadari bahwa di hadapannya berdiri sosok yang pernah ditakuti seantero negeri.
Bersambung...