NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG KONTRAK.

CINTA DI UJUNG KONTRAK.

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cintapertama / Romantis
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.

Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.

Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.

Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI DI PONDOK DESA.

Malam semakin larut di pondok kayu Nenek, namun kehangatan di antara Barra dan Davina di teras depan seolah enggan menyurut. Setelah momen pembungan cincin kontrak lama ke dalam sumur tua, Barra menuntun Davina masuk ke dalam kamar tidur mereka yang sederhana. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu hanya dibatasi oleh sekat dinding papan kayu jati dengan kamar tidur Nenek yang berada tepat di sebelahnya.

Begitu pintu kamar dikunci, Barra langsung membawa Davina ke dalam dekapannya. Namun, saat tatapan mata mereka bertemu dengan intensitas yang semakin memanas, suara batuk kecil Nenek terdengar jelas dari balik dinding papan yang tipis.

Davina refleks menahan dada bidang Barra, wajahnya memerah padam. "Barra, tunggu... dinding kamar ini sangat tipis."

Barra menghentikan gerakannya, mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat dan frustrasi. Ia mendongak menatap langit-langit kamar, mencoba menekan gejolak gairah yang sudah membakar dadanya sejak sore tadi. Pria itu sadar, ia tidak mungkin melanjutkan niatnya malam ini jika tidak ingin mengganggu istirahat sang Nenek yang sangat sensitif terhadap suara.

"Sial," umpat Barra lirih dengan senyuman masam, membuat Davina terkekeh pelan. Pria itu menunduk, mengecup kening Davina dengan gemas. "Kamar ini benar-benar tidak mendukung privasi seorang suami, Vina."

"Makanya, tahan dulu," ledek Davina sambil merapikan letak bantal.

Barra kembali menarik Davina ke dalam pelukannya, memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat dari belakang di atas ranjang kapuk. "Tidur dalam dekapanku malam ini. Jangan bergerak terlalu banyak, atau aku tidak akan bisa menjamin ketahananku sampai besok pagi."

Davina tersenyum manis, memejamkan mata dengan perasaan aman di dalam rengkuhan hangat Barra. Meskipun Barra harus sedikit tersiksa sepanjang malam menahan hasratnya yang sudah lama terpendam, malam itu dilewati mereka dengan kedamaian yang magis di bawah atap pondok desa.

Keesokan harinya, suasana meja makan dipenuhi aroma harum teh melati dan pisang goreng buatan Nenek. Di sela-sela suapan sarapan mereka, Barra meletakkan cangkirnya perlahan, lalu menatap Nenek dengan pandangan meminta izin yang sangat santun.

"Nenek," buka Barra dengan nada bicara yang lembut. "Jika Nenek mengizinkan, hari ini saya dan Davina harus kembali ke kota. Pekerjaan di kantor sudah terlalu lama saya tinggalkan, dan Ferdi terus mengirimkan laporan darurat."

Nenek tersenyum teduh, mengangguk maklum sambil mengusap punggung tangan cucunya. "Nenek mengerti, Barra. Kamu ini pemimpin perusahaan besar, sudah sewajarnya kembali bekerja. Nenek hanya titip Davina, ya? Tolong selalu jaga, lindungi, dan bimbing cucu Nenek satu-satunya ini."

Barra menggenggam tangan Nenek dengan hangat. "Saya berjanji, Nenek. Saya akan selalu mencintai dan membahagiakan Davina dengan seluruh hidup saya. Saya juga berjanji kita akan sering datang ke desa ini untuk menjenguk Nenek."

Setelah sesi pelukan perpisahan yang penuh haru dan air mata dari Davina, mobil Alphard hitam mewah milik Barra perlahan bergerak meninggalkan pekarangan rumah kayu tersebut.

Di sepanjang jalan setapak desa yang berbatu dan berdebu, puluhan warga dan petani bunga berjejer di depan rumah mereka. Mereka melambaikan tangan dengan wajah ceria, berteriak mengucapkan terima kasih atas pesta rakyat yang tidak terlupakan kemarin.

"Terima kasih, Den Barra! Sering-sering main ke desa ya!" teriak salah seorang pemuda dari pinggir jalan.

Barra menurunkan kaca mobilnya sedikit, membalas lambaian tangan warga dengan senyuman tipis namun tulus. Ia melirik ke luar jendela, merasakan guncangan mobil akibat jalanan desa yang belum dilapisi aspal sama sekali.

"Jalanan ini sangat tidak layak," gumam Barra sambil menggenggam tangan Davina di sampingnya. "Dalam hati, Aku bertekad akan mendanai pengaspalan seluruh jalur desa ini bulan depan. Tempat kelahiran istriku layak mendapatkan fasilitas terbaik."

Davina menoleh dengan mata berbinar haru. "Kamu serius, Barra?"

"Aku tidak pernah bercanda tentang apa pun yang berhubungan dengan kenyamananmu dan keluargamu, Sayang," jawab Barra tenang, lalu mengecup punggung tangan Davina dengan lembut.

Setelah menempuh perjalanan darat yang cukup panjang selama hampir enam jam, mobil mewah itu akhirnya memasuki gerbang besi kokoh komplek perumahan elit dan berhenti tepat di depan pelataran mansion megah mereka di kota.

Namun, begitu pintu mobil dibuka oleh pengawal, langkah kaki Barra langsung terhenti. Sepasang mata elangnya menyipit tajam menatap sebuah mobil sedan Mercedes Benz hitam berpelat nomor khusus yang amat sangat ia kenali terparkir rapi di depan lobi mansion.

"Ada apa, Barra?" tanya Davina yang baru saja turun, menyadari perubahan drastis pada aura suaminya.

"Pak tua itu datang," jawab Barra pendek, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es, kembali ke setelan semula sebagai CEO Alfarizi Group yang kejam. "Ikuti aku di belakang, Vina. Jangan bicara apa pun sebelum aku memintamu."

Davina menelan ludah dengan gugup. Perasaan tidak enak langsung merayap di tengkuknya, mencium aroma ketegangan yang sangat pekat dari dalam rumah mewah mereka sendiri.

Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tamu utama yang berplafon tinggi, atmosfer di dalam mansion terasa sangat mencekam, berbanding terbalik dengan kehangatan desa tadi pagi. Di atas sofa kulit mewah, sudah duduk sepasang suami-istri paruh baya dengan pakaian glamor yang kontras dengan wajah mereka yang ditekuk karena amarah yang meluap-luap.

Pria paruh baya berambut klimis dengan sorot mata yang persis seperti Barra itu adalah Surya Alfarizi, Ayah kandung Barra. Di sampingnya, duduk Asnita, ibu tiri Barra yang mengenakan perhiasan berlian mencolok di leher dan jemarinya.

Brak!

Surya langsung menggebrak meja kaca di depannya begitu melihat sosok Barra dan Davina berjalan masuk. Ia bangkit berdiri dengan napas memburu akibat marah yang sudah ditahan sejak tadi.

"Dari mana saja kamu, Barra?! Menghilang berhari-hari dari perusahaan hanya untuk bersenang-senang di kampung kumuh itu?!" bentak Surya, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Pandangan matanya beralih menatap Davina dengan kilatan meremehkan yang sangat tajam. "Dan jalang kampung ini... berani-beraninya kamu meresmikan hubungan dengan wanita tidak berkelas ini tanpa persetujuanku?!"

Asnita ikut menimpali dengan senyuman sinis yang memuakkan. "Betul, Barra. Gara-gara kelakuan impulsifmu yang menghancurkan keluarga Silfany, saham gabungan kita di beberapa sektor ikut terguncang. Kamu mengorbankan bisnis demi wanita pembawa sial ini?"

Davina mencengkeram ujung baju kaus Barra dari belakang, tubuhnya sedikit bergetar mendengar makian keji dari mertuanya sendiri. Rasa takut dan rendah diri kembali mencoba merayap masuk ke dalam benaknya.

Namun, Barra langsung mengambil satu langkah maju, menutupi seluruh tubuh Davina dengan punggung tegapnya yang kokoh. Pria itu menatap ayahnya dengan pandangan mata elang yang tidak kalah mengerikan dan penuh kilatan intimidasi yang mematikan.

.

1
Lia siti marlia
akhirnya gooollll juga 😂
Lia siti marlia
otw unboxin dongggg😍😍🤗🤗
tiara
kakek sangat pengertian sekali,
Lia siti marlia
akhirnya semua sudah jelas davina kalau yang barra lakukan adalah untuk melindungimu semata 🤗🤗🤗
Lia siti marlia
untung nya kakek barra keburu datang 🤗🤗
Eliermswati
akhirnya tahta tertinggi d rmh Barra dtng😂q sk gy mu kakek badaaass kern😂😂😍smngt thor up nya
Lia siti marlia
kirain udah sampai masion mau unboxing eh malah ada aja gangguan sabar yah barra 🤗🤗🤗
tiara
Baru saja merasakan bahagia,cobaan sudah kembali datang menghampiri.semoga badai cepat berlalu
Lia siti marlia
lanjutkan barra davina 😍😍😍
Lia siti marlia
cie cie cie 😍😍😍😍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ElHi
🤣🤣🤣🤣
Lia siti marlia
kocak juga kalau ceo tegas kebucinnan 🤗🤗😂😂😂
ElHi
malang nian desainer ituu😤😤🤣🤣
Lia siti marlia
ihhhh barra posesif bangetttt🤗🤗🤗
Lia siti marlia
otw kondangan nih ....aku di undang gak barra lumayan kan makan gratis 🤭🤭🤭🤣🤣🤣
ElHi
syukurlah kalo gak boleh bawa amplop ya Vin....soalnya aku jg lagi tongpes nih Vin...bawa gigi...ehh doa maksutnya....gpp kan yaa🤣🤣🤣
Lia siti marlia
lah kebiasaan deh dikat pas lagi degdegan bacaaa🤭🤭🤭
Lia siti marlia
semoga kalian berjodoh sehingga authorr gak memisahkan kalian 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!