Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Jatuh cinta bikin repot
Anginnya cukup kencang cenderung terasa dingin pada malam hari begini.
Panji membawanya pada keramaian, tapi hatinya justru lebih ramai, bertabuhan, bersahutan. Ketimbang bising jalanan, riuh orang bersenda gurau, asap mengepul dari pembakaran dan membuat aroma wangi mengeroyok perutnya.
Hanya membutuhkan waktu sebentar mencapai kawasan pesisir, dengan segala kehidupan malamnya.
Kedai seafood berjejer bersama tempat makan terbuka, ada pula yang hanya beratap tenda. Tapi yang jelas...langit malam bagian pesisir timur Nusantara ini cukup membuat hatinya ikut membiru. Bukan, bukan sedih yang mengecewakan, melainkan biru dengan rasa syukur. Mungkin jauh berbeda dengan cakrawala khatulistiwa pada dua dekade sebelumnya, tapi tetap bisa ia temukan titik titik bersinar indah di atas sana.
Apakah itu bintang timur? Apa namanya, Sirius, right?
Panji mengajaknya turun, menunjuk salah satu kedai yang ramai oleh pengunjung.
...Kedai Daeng...
Suara gemuruh ombak memang hanya terbawa angin layaknya gemerisik nyiur yang saling melambai bersahutan samar. Aroma bakaran arang batok kelapa yang khas bercampur dengan amis mineral laut dan bumbu bersatu padu, desisan basah yang matang dan alat dapur yang beradu.
Aiii, kerapu bakar 1, meja 2!
Seafood campur!
Wushhh! Ada membara yang merah muncul dari bawah pan tat hingga menutupi sebagian wajan besar membuat hawa sekitarnya jadi bergelora. Lalu aroma harum mulai menyeruak apakah kecap asin, saus tiram? Yummy!
Segar, beragam hasil laut seperti ikan yang bermacam-macam, cumi, kerang-kerangan berjejer segar, ada yang sudah mati dalam tumpukan es, ada pula yang masih hidup di dalam sterofoam bersama air mengalir.
"Mau apa?" tawar Panji memecah kekhusyuan Ivy. Kemana larinya pikiran ia yang akan mati kelaparan hidup disini?
Ivy merengut, "kok nanya. Kan Lo yang mau makan." Jawabnya.
Panji mendengus, "taro dulu barangnya di meja. Bantu saya pilih..." tunjuknya ke arah meja nomor 19 bersama dengan Panji yang menaruh helm.
Ia mengangguk menurut, lalu bersama Panji...ia melihat betapa beragamnya bahan makanan hasil laut, ada kepiting it's my fav!
Oh, ada juga kerang tiram. Jika dimasak saus tiram atau Padang enak. Ivy sudah berbinar, ya ampun lobster! saus mentega lalu di torch atasnya hmmm, perfecto!
Panji dengan mudah dan tak takut tiba-tiba mencomot seekor lobster dengan ukuran besar ke dalam keranjang yang ternyata sudah ia bawa, "kira-kira sausnya kalo pake Padang enak?" tanya nya lagi tak kapok disewoti dan dijutekin Ivy.
Benar gadis ini merengut kembali, "nanya lagi. Kenapa sih cowok tuh doyan nanya!"
Panji kembali terkekeh, "oke enak saus Padang. Takut kamu ngga suka pedes sih."
Huffft! Ivy merotasi bola matanya, "kalo lobster tuh enaknya dipakein saus mentega di torch atasnya biar mengkaramel, emhhh. Mantap deh mesti coba. Kalo mau saus Padang yang itu, kepiting....buat kerang tiram...ya ampun mahal mahal asli deh, enaknya saus tiram."
Panji tertawa lagi, tadi katanya terserah tapi sudah request macam-macam, but...again! Ivy jual ia beli.
"Oke. Ambil yang kamu mau."
"Ya?" Ivy membeo, Panji menatapnya serius meski langsung tertawa.
"Serius Panji! Ini mahal loh, ntar yang ada Lo minta uang makan sisa setengah bulan sama gue?!"
Jakunnya naik turun menggeleng, "engga lah. Yok pilih. Mau kepiting yang mana?!"
Ivy mengangguk dan kembali melihat mereka yang berjalan dengan kaki menyamping itu, "yang itu...itu--itu.." tunjuknya antusias.
Alih-alih mengambilkan, Panji justru mendorong tangan Ivy untuk mengambil kepiting dengan tangan Ivy, "ihhh!"
Plak!
Ivy menggeplak tangan Panji, "Lo tuh ih, tangan gue nanti dicapit! Sengaja banget!"
Usilnya Panji ini memang tak ada obat, "engga lah, kalo dicapit langsung kamu geprek."
"Mana ada! Buntung jari gue!" sewot Ivy menepuk punggung tegap Panji, "Lo yang ambil lah kaya tadi lobster...buru ambil!" titahnya.
"My pleasure..." jawab Panji kembali memancing tepukan Ivy di punggungnya.
Ia dengan hati-hati mengangkat badan salah satu kepiting, "yang ini?" tidak langsung memasukan ke keranjang, Panji justru menunjukan itu di depan wajah Ivy terlebih dahulu, "Panciii! Ihh jahil banget!"
Kehebohan dan keriuhan mereka berdua itu memantik atensi beberapa pengunjung rumah makan yang juga sedang memilih bahan makanan.
Lalu kerang, Ivy memilih beberapanya sendiri, "ini seger-seger kan?" tanya nya diangguki Panji, "coba cium aja baunya."
"Emang apa bedanya antara yang masih seger sama yang udah lama?"
Panji menggeleng setengah ragu, "tau. Kayanya beda dari amisnya..."
Dan dengan polosnya Ivy menciumi itu di depan hidungnya, "iyuhhh, sama aja bau begini."
Panji kembali tertawa menutup mulutnya dengan kepalan tangan melihat tingkah Ivy itu.
/
Ia makan dengan lahap, ditemani malam yang semakin larut dalam gelap. Namun mengesampingkan waktu yang entah akan datang jam berapa nantinya di basecamp.
"KKN sebulanan lebih kan?"
Ivy mengangguk, dibandingkan Ivy yang begitu menikmati, suapan Panji memang lebih cepat dan besar-besar. Berbeda, porsi pula...jika Ivy cukup menghabiskan satu porsi nasi putih saja, Panji sudah dua kali lipatnya.
Sisanya, Ivy memilih memakan lauknya tanpa nasi, terkadang ia menyedot menjilat cangkang dari kepiting dan lobster di piring. Tapi entahlah, Panji terkekeh melihatnya lucu nan sexy saja.
"Kalo Lo, nugas apa emang dinas disini?" tanya nya sembari adududuhhh...ia menjilat segera lelehan bumbu yang meleleh di tangan.
"Nugas. 3 bulan, abis itu balik ke ibukota."
Ivy mengangguk meski tak berucap apapun lagi setelahnya.
"Besok saya ngga ke basecamp." Entah apa yang merasuki Panji sampai-sampai berbicara hal yang tidak penting dan seharusnya itu.
Ivy menghentikan jilatannya dan memandang Panji, "oh."
Panji melongo ia kira Ivy akan langsung sewot, siapa juga yang minta datang! Emang siapa yang ngarepin!
Tapi kali ini----apakah tandanya jika gadis di depannya itu sudah melunak mirip daging kepiting di piringnya?
Ivy justru menggeleng, "sibuk pasti sih kalo tentara."
Panji mengangguk, "patroli." Hanya itu cukup singkat, padat dan jelas.
Ivy lagi-lagi mengangguk. Memangnya apa yang Panji harapkan? Ivy berkata, kok gitu? Datang lagi dong! Sempetin dong datang...hahahaha! Ngaco!
Diam dan hening sejenak diantara mereka sampai Panji beranjak untuk mencuci tangan setelah selesai dengan makannya.
Setelah kembali dan menyedot air kelapanya, Panji meminta barang-barang miliknya yang tadi ia beli bersama dan titipkan di kresek Ivy.
"Ambil aja, tangan gue kotor."
Bayangkan Panji tiba-tiba terpikir membeli dua buah pulpen dengan boneka ungu tak paham apa nama tokohnya, kelinci kah, an jingkah, monyet ber rok kah, atau kelelawar dibajuin kah? Yang jelas ia akan membawanya pulang nanti untuk Seera yang otomatis ia harus membeli tokoh kartun lain untuk Faraaz dan Danish. Jatuh cinta seribet ini. Atau ia saja yang repot sendiri.
"Untuk kamu." Ia mendorong pulpen itu satu ke depan Ivy.
.
.
.
.
.
setau gw dr dl smp skrg sebagian besar dr mreka justru biangnya, biang penyengsara rakyat, krn mreka ga prnah mikir berapa banyak masyarakt indo yg hancur n mati sia2 krn nafsu serakah mreka
sekarang di kota bangun rumah pasirnya warna putih, beda banget sama jaman dulu pasir itu warna hitam karena ambil dari sungai. beda sama sekarang pasir putih karena dari laut