Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 - Gelombang Kecurigaan di Aula Tetua
Fajar keesokan harinya datang membawa keheningan yang mencekam di distrik militer Kota Linglong. Kabar mengenai hilangnya Kapten Penjaga Istana, Ling Feng, secara misterius dalam semalam mulai memicu riak kepanikan kecil di kalangan perwira elit. Tim patroli yang dikerahkan untuk memeriksa jalur pergerakan terakhir sang kapten sama sekali tidak menemukan tanda-tanda pertempuran, riak energi spiritual, ataupun sisa tetesan darah di sepanjang koridor istana hingga ke distrik bawah.
Han Yu melewatkan waktu fajar tersebut di dalam kehangatan paviliun kayu milik Nyonya Liu Xi. Setelah menyerap sisa-sisa energi vitalitas dan rasa syukur yang melimpah dari janda montoknya semalaman, kondisi sistem meridian iblis menengah miliknya telah pulih sepenuhnya dari efek samping transformasi tiga meter. Han Yu bangkit berdiri dari atas dipan sutra, membiarkan Nyonya Liu Xi yang berwajah merona merah segar membantu merapikan lipatan jubah hijau sutranya dengan gerakan yang sangat patuh dan penuh kasih sayang.
"Tuan, pergilah dengan tenang. Sesuai dengan rencana Anda, aku akan tetap bersikap tenang seolah-olah Kapten Ling Feng sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat ini kemarin sore," ucap Nyonya Liu Xi seraya menyandarkan sepasang buah dada raksasanya yang kenyal di atas dada bidang Han Yu, menatap wajah rupawan tuannya dengan kepasrahan mutlak tingkat seratus persen.
Han Yu menyeringai tampan, mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir merah ranum milik jandanya sebelum membalas lembut. "Bagus, Liu Xi. Tetaplah menjadi bidak caturku yang manis di tempat ini. Segala bentuk penyelidikan dari Aula Tetua tidak akan pernah bisa menyentuh sehelai rambutmu selama abu bajingan itu telah menyatu dengan angin hutan."
Mengaktifkan Mantra Kecepatan Angin Absolut tingkat dua yang dikombinasikan dengan manipulasi aura kasat mata, tubuh tegap Han Yu melesat pergi meninggalkan paviliun kayu distrik bawah tanpa menimbulkan riak udara sedikit pun. Alih-alih kembali ke kediaman pribadinya, Han Yu memilih untuk langsung melangkah menuju ke area tanah perkebunan milik Tetua Ling Er di seberang ibu kota, memenuhi janjinya untuk melanjutkan proses penguraian prasasti bahasa kuno klan.
Namun, atmosfer di dalam paviliun utama milik sang Penatua Kebijaksanaan pagi ini terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Saat Han Yu melangkah masuk melewati pintu kayu cendana, dia tidak lagi disambut oleh canda tawa riang dari belasan peri roh suci kecil yang polos. Para makhluk kecil itu tampak terbang bersembunyi di balik pilar giok dengan wajah cemas. Di tengah ruangan, Tetua Ling Er duduk tegak di balik meja gioknya, ditemani oleh sesosok wanita matang berpakaian zirah perang perak tebal yang memancarkan tekanan spiritual ranah Jalan Atas Puncak (A+) yang luar biasa masif dan menekan udara.
Sosok wanita matang berwajah tegas berambut pirang tergerai tebal itu adalah Tetua Feng Mian, kepala Divisi Perang klan sekaligus atasan langsung dari mendiang Ling Feng. Kedatangannya yang mendadak ke paviliun ini jelas membawa seberkas awan badai kecurigaan.
"Ah, Han Yu, kamu akhirnya datang juga," ucap Tetua Ling Er dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar datar dan netral demi menjaga rahasia hubungan asmara terselubung di antara mereka. Meski wajah cantiknya dipasang sedingin mungkin, sepasang mata hijaunya berkilat memancarkan seberkas rasa cemas yang samar saat menatap wajah tampan murid pribadinya.
Han Yu tidak menunjukkan kepanikan sekecil apa pun di bawah tatapan intens kedua tetua agung tersebut. Dia melangkah maju dengan keanggunan mutlak seorang pangeran, membiarkan karisma alami dari ranah Pengikat Sukma menguar tipis membuai atmosfer ruangan yang kaku. Dia membungkukkan tubuh tegapnya memberi hormat formal.
"Selamat pagi, Guru yang bijaksana. Dan selamat pagi kepada Anda, Tetua Agung Divisi Perang," ucap Han Yu dengan nada suara yang teramat dalam, merdu, dan penuh karisma batin yang menenangkan sanubari.
Tetua Feng Mian menyipitkan sepasang mata hijaunya yang tajam bagaikan bilah pedang batin, menatap lurus ke arah wujud fisik Han Yu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Sebagai seorang ahli perang veteran, insting spiritualnya merasakan adanya seberkas perubahan aura yang sangat memikat dan kokoh dari dalam tubuh pemuda iblis di hadapannya, sebuah perkembangan kekuatan yang terlalu cepat untuk ukuran kasta Iblis Inferior kasta rendah.
"Han Yu... aku datang ke tempat ini bukan untuk menguji kejeniusan otakmu dalam membaca prasasti kuno," ucap Tetua Feng Mian dengan nada suara yang berat, dingin, dan dipenuhi oleh intimidasi mental yang kentara. "Kemarin sore, salah satu perwira elit terbaikku, Kapten Ling Feng, menghilang secara misterius tanpa meninggalkan jejak setelah menyatakan niatnya untuk menertibkan janda klan bawah. Mengingat fakta bahwa kamu memiliki perselisihan berdarah dengannya di gerbang istana beberapa waktu lalu, katakan sejujurnya kepadaku, di mana kamu berada saat matahari mulai tenggelam kemarin?!"
Mendengar pertanyaan interogasi yang menuduh tersebut, Tetua Ling Er tanpa sadar menggenggam erat saputangan sutra di bawah meja gioknya, detak jantungnya berpacu cemas mengkhawatirkan keselamatan Han Yu. Namun, Han Yu justru menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat manis dan menghanyutkan jiwa, melangkah satu tindak lebih dekat ke arah posisi duduk Tetua Feng Mian tanpa rasa takut sedikit pun.
"Tetua Feng Mian yang agung dan perkasa... aku tidak berani menyembunyikan apa pun dari pandangan mata Anda yang jernih," Han Yu berbisik dengan nada suara yang sengaja dilembutkan penuh pesona, mengaktifkan kombinasi dari teknik Seni Pemikat Jiwa dan Paras Sempurna miliknya secara tersembunyi langsung ke arah fokus mental sang kepala Divisi Perang. "Sepanjang siang hingga larut malam kemarin, aku berada di dalam ruangan tertutup di paviliun ini, menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku di bawah bimbingan langsung Guru Ling Er untuk menguraikan baris-baris kitab Formasi Pengunci Sukma Purba. Jika Anda tidak mempercayai perkataanku, Anda bisa menanyakannya langsung pada Guru yang menjadi saksi bisu dari seluruh aktivitas kerasku semalaman."
Mendengar kesaksian alibi yang sangat berani dan ambigu tersebut, kedua pipi Tetua Ling Er seketika merona merah padam hingga ke ujung telinga lancipnya. Kata-kata aktivitas keras semalaman yang diucapkan Han Yu membawa makna ganda yang langsung membangkitkan memori pergulatan asmara mereka di atas dipan sutra kemarin, membuat sang Penatua Kebijaksanaan terpaksa berdeham kecil untuk menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa besar.
"A-apa yang dikatakan oleh muridku adalah sebuah kebenaran yang mutlak, Kakak Feng Mian," timpal Tetua Ling Er dengan memaksakan nada suaranya tetap terdengar tegas meski bergetar halus menahan rangsangan ingatan. "Han Yu berada di bawah pengawasan ketat sistem energiku sepanjang hari kemarin. Struktur meridian iblisnya yang lemah tidak akan pernah memiliki peluang atau kemampuan fisik untuk bisa melukai, apalagi melenyapkan sesosok kapten penjaga yang berada di ranah Jalan Atas (A-) milik divisimu."
Hantaman pesona ketampanan surgawi Han Yu yang dilepaskan dalam jarak dekat, dikombinasikan dengan pembelaan tegas dari Tetua Ling Er, seketika mengirimkan seberkas getaran aneh yang membingungkan ke dalam pusat kesadaran mental Tetua Feng Mian. Sifat tegas dan niat membunuh yang semula menguar deras dari tubuh zirah peraknya mendadak melunak secara tidak masuk akal. Tatapan matanya yang semula setajam bilah pedang, kini tanpa sadar beralih sedikit terpana mengagumi keindahan lekuk rahang tegas dan kedalaman sepasang mata hitam pekat milik Han Yu.
"Ugh... jadi begitu..." Tetua Feng Mian bergumam dengan nada suara yang mendadak kehilangan sebagian besar wibawa tiraninya, buru-buru memalingkan wajah cantiknya ke arah lain demi menyembunyikan debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu kencang tak beraturan akibat efek Seni Pemikat Jiwa Han Yu. "Jika kamu memang memiliki alibi yang kuat dari Aula Kebijaksanaan, aku akan menunda penyelidikan fisik kepadamu untuk sementara waktu. Namun ingat, Han Yu... jika aku menemukan sepeser pun bukti keterlibatan garis darah iblismu dalam kasus ini, zirah perakku sendiri yang akan memenggal kepalamu di depan Ratu!"
Han Yu hanya menyeringai dingin penuh kemenangan di dalam lubuk hatinya saat melihat keangkuhan sang kepala Divisi Perang mulai goyah hanya dalam satu kali pertemuan batin. Jaring asmara dan pesona surgawinya kini telah mulai merayap menjerat pikiran para penguasa tertinggi klan, bersiap untuk membalikkan posisi interogasi ini menjadi sebuah penaklukan sukma baru yang jauh lebih bergairah di masa depan.