Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Masa Lalu
Proses sarapan pagi itu berjalan dengan ritme yang lambat dan tenang, sebuah kemewahan yang jarang bisa dinikmati oleh Adrian di tengah carut-marutnya persaingan bisnis hitam-putih. Namun, kedamaian di lantai tiga tidak bertahan lama ketika interkom di dekat pintu kamar berbunyi dengan nada mendesak.
Kirana meletakkan mangkuk yang kini sudah kosong setengah, lalu berjalan menekan tombol interkom. "Ya, Ibu Maya?"
"Kirana, beri tahu Tuan Muda Adrian bahwa Nona tasya telah tiba di lobi utama. Beliau bersikeras untuk langsung naik ke lantai tiga untuk menjenguk Tuan Muda," suara Ibu Maya terdengar cemas dan penuh tekanan dari seberang sana.
Mendengar nama 'Nona Tasya,' gerakan tangan Adrian yang sedang menggulir layar tablet seketika terhenti. Sorot matanya yang sempat melunak saat bersama Kirana kini kembali berubah menjadi sedingin es, dipenuhi oleh lapisan pelindung yang kaku.
"Jangan izinkan dia naik, Maya," perintah Adrian langsung dengan suara baritonnya yang berat dan tidak menerima bantahan.
Namun, belum sempat Kirana merespons interkom tersebut, suara derit sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer koridor luar sudah terdengar mendekat. Pintu kamar utama terbuka dengan sentakan pelan, memperlihatkan sosok seorang wanita muda yang penampilannya sangat glamor.
Nona Tasya. Ia adalah putri tunggal dari Keluarga direktur utama salah satu bank swasta terbesar di kota itu, yang juga merupakan salah satu sekutu finansial legal tertua bagi Arseto Group.
Tasya mengenakan gaun desainer berwarna merah menyala yang membingkai tubuhnya dengan sempurna, lengkap dengan tas jinjing bermerek internasional yang harganya fantastis. Paras wajahnya cantik dengan riasan tebal yang tegas, memancarkan aura keangkuhan kelas atas yang pekat.
"Adrian! Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu?!" seru Tasya dengan nada suara yang dramatis, langsung melangkah masuk tanpa memedulikan etika privasi kamar tidur. Matanya yang tajam langsung menangkap balutan perban di tubuh Adrian. "Kudengar dari papaku kalau pelabuhan utara diserang kemarin. Kenapa kamu tidak memberi tahuku? Aku sangat mengkhawatirkanmu!"
Tasya berjalan cepat menuju ranjang, mengabaikan keberadaan Kirana sepenuhnya seolah-olah gadis pelayan itu hanyalah pilar kayu yang tidak bernyawa.
Kirana melangkah mundur dua langkah ke dekat meja nakas, matanya yang cerdas langsung mengamati interaksi di antara kedua orang ini. Sifat waspada dan telitinya membaca bahwa kedatangan Tasya bukan sekadar karena rasa khawatir yang murni.
Ada kepemilikan yang dipaksakan dari cara Tasya memandang Adrian—sebuah ambisi seorang wanita kelas atas yang ingin mengunci posisi sebagai nyonya besar di kastel Arseto ini.
"Aku baik-baik saja, Tasya. Ini hanya masalah kecil yang sudah diselesaikan oleh Hendra," jawab Adrian dengan suara yang sangat formal, dingin, dan berjarak. Ia sedikit menggeser tubuhnya saat Tasya mencoba duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Kirana.
"Masalah kecil bagaimana? Kamu terluka seperti ini!" Tasya cemberut, tangannya terulur hendak menyentuh bahu Adrian yang diperban, namun Adrian dengan cepat mengangkat tabletnya, memblokir gerakan tangan wanita itu secara halus.
"Aku sedang memeriksa laporan keuangan penting, Tasya. Jika kedatanganmu hanya untuk menanyakan hal ini, sebaiknya kamu kembali. Aku butuh keheningan untuk bekerja," ucap Adrian tanpa basa-basi, sebuah pengusiran halus yang menunjukkan ketegasannya yang mutlak.
Wajah Tasya berubah agak masam karena penolakan tersebut. Pandangan matanya yang kesal akhirnya berputar dan terkunci pada sosok Kirana yang berdiri tenang di sudut ruangan. Melihat kecantikan alami Kirana yang begitu menonjol bahkan dalam balutan seragam pelayan sederhana, rasa cemburu dan angkuh Tasya seketika meletup.
"Siapa pelayan baru ini, Adrian? Kenapa dia diizinkan berada di kamarmu sepagi ini?" tanya Tasya dengan nada suara yang meninggi, menunjuk Kirana dengan ujung kukunya yang diwarnai merah pekat. "Dan kenapa mangkuk sarapanmu diletakkan di sini? Apakah pelayan-pelayan di rumah ini sudah tidak tahu sopan santun lagi hingga membiarkan barang kotor berantakan di kamar utama?"