Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Kehangatan di meja makan
Bab 10: Kehangatan di Meja Makan
Sore perlahan berganti malam.
Langit di luar berubah menjadi gelap, dihiasi kerlap-kerlip bintang yang terlihat jelas karena udara di lingkungan perumahan itu begitu bersih.
Di dalam rumah, lampu-lampu dinyalakan, menciptakan cahaya yang lembut dan menambah kesan hangat di setiap sudut ruangan.
Diana sudah membersihkan diri, lalu ia membuka lemari baju.
"Semuanya dari merek terkenal, pasti harganya mahal" Gumamnya
Beberapa menit yang lalu, Radit membawakan banyak baju baru beserta berbagai perlengkapan lainnya.
Deretan baju itu di sentuhnya perlahan, seakan takut merusaknya.
Pilihannya jatuh pada dress sederhana berwarna biru langit dengan motif bunga di bagian bawahnya
Setelah di pakai, ternyata sangat pas dengan ukuran nya.
Diana melihat bayangan nya di cermin.
Berputar-putar seperti model,
Ternyata aku bisa se-cantik ini.
Astaga... Aku terlalu narsis.
Kulit nya yang putih bersih dan mulus. Menyatu dengan warna baju itu.
Membuatnya terlihat benar-benar cantik dan imut.
Setelah di rasa sudah sempurna, Diana membereskan barang-barangnya,
lalu memutuskan untuk turun ke lantai bawah.
Ia merasa tidak enak jika hanya diam saja di kamar,
apalagi dirinya terbiasa hidup mandiri dan sibuk mengurus keperluannya sendiri.
Begitu sampai di ruang tengah, Diana melihat Bu Mari sedang sibuk menyiapkan meja makan.
"Bu Mari. Ada yang bisa aku bantu?” tanya Diana dengan nada sopan sambil mendekat.
Bu Mari menoleh dan tersenyum ramah.
“Wah, nggak perlu repot, Nyonya. Nyonya duduk aja. Ini sudah menjadi tugas saya untuk mengurus semua keperluan di rumah ini. Nyonya cukup menikmati saja.”
“Tapi aku sudah biasa kok mengerjakan pekerjaan rumah, Bu. Rasanya nggak enak kalo cuma diam. Biarkan aku membantu menata piring dan gelasnya saja,” pinta Diana lagi dengan senyum tulus.
Melihat ketulusan gadis itu, Bu Mari pun mengangguk setuju.
“Baiklah, kalau begitu. Tapi jangan terlalu lelah ya, Nyonya. Nanti Tuan marah sama saya” Ujarnya bercanda
Saat mereka sedang asyik menyiapkan meja,
terdengar langkah kaki yang mendekat.
Arga keluar dari ruang kerjanya,
sudah berganti pakaian santai, kemeja lengan pendek berwarna biru muda dan celana kain.
Penampilannya terlihat lebih muda dan santai,
membuat jantung Diana berdebar pelan saat pandangan mereka bertemu.
Warna baju mereka sama, seperti sudah janjian.
“Wah, sudah sibuk berdua rupanya,” sapa Arga dengan senyum lembut.
“Mas, Sebentar lagi makanannya siap,” jawab Diana dengan sedikit gugup, namun sudah terbiasa memanggilnya dengan sebutan itu.
Mendengar panggilan itu lagi,
Arga merasa salah tingkah terus menerus
Ia hanya mengangguk sambil terus menatap Diana,
membuat gadis itu menunduk malu karena ketahuan balas menatap.
Tak lama kemudian, hidangan pun disajikan.
Ada sup ayam bening yang harum, ikan bakar bumbu rujak, tumis kangkung, serta sambal dan lalapan segar.
Aroma masakan yang lezat langsung menyebar memenuhi ruangan, membangkitkan selera makan mereka.
“Duduk, Diana. Jangan sungkan, anggap saja seperti di rumah sendiri,” ajak Arga sambil menarik kursi
Diana dengan sigap mengambilkan nasi dan lauknya.
"Segini cukup, Mas?" Tanya Diana
Arga terpaku sesaat, senyuman manis terpatri di bibirnya.
"Sudah cukup, terimakasih Diana" Ujarnya dengan perasaan haru
Sudah lama hal seperti ini tidak ku alami. Sepertinya aku tidak salah memilih istri. Batin Arga
Di perlakukan seperti suami yang sesungguhnya. jantung nya seakan ingin melompat keluar.
"Sama-sama" Jawab Diana pelan, wajahnya memerah dan itu terlihat oleh Arga
Dia sangat manis !
kemudian Diana duduk di sebelahnya, tetapi gelagatnya masih terlihat sedikit canggung.
Diana makan dengan pelan, karena rasa gugupnya belum juga hilang.
Suasana sempat hening sejenak, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Arga menyadari kegugupan istrinya, lalu segera memecah keheningan.
“Kita berangkat Besok pagi saja ke kampung halamanmu. Aku rasa lebih cepat lebih baik"
Diana menoleh lalu mengangguk.
"Aku ikut Mas saja gimana baiknya" Ujarnya
"Kamu siap-siap yah ! Jangan khawatir soal oleh-oleh atau kebutuhan apa pun, biar aku yang urus semuanya. Kamu cukup membawa barang pribadi saja,” ujar Arga lembut.
Diana mengangkat wajahnya, matanya terlihat bersinar.
“Terima kasih banyak, Mas. Aku sudah menyiapkan semua keperluanku tadi. Tapi soal oleh-oleh, nggak perlu yang mahal-mahal. Orang tuaku pasti sungkan, mereka tidak terbiasa menerima barang yang terlalu mewah.”
Arga tersenyum mengerti.
“Tenang saja. Aku akan menyiapkan yang cukup saja, tidak berlebihan. Yang penting mereka melihat bahwa kamu hidup dengan baik dan layak bersamaku.”
Kata-kata itu membuat dada Diana terasa hangat.
Selama ini ia selalu berjuang sendirian,
menahan segalanya sendiri tanpa berani membebani orang lain.
Mendengar perhatian Arga, rasanya ada beban yang terangkat dari pundaknya.
“Terima kasih Mas... rasanya aku selalu berhutang budi padamu,” gumamnya pelan.
Arga menggeleng lembut, lalu menatapnya dalam-dalam.
“Jangan bicara begitu. Kita sudah berjanji untuk saling melengkapi. Apa yang aku lakukan bukanlah beban, tapi kewajiban. Ingat, mulai hari ini, masalahmu adalah masalahku juga”
Percakapan mereka pun mengalir semakin santai setelah itu.
Arga bertanya tentang kesukaan orang tua Diana,
agar dia bisa memberikan sesuatu yang membuat mereka terkesan, bukan ? Pikirnya
Hingga mungkin apa yang di cita-citakan oleh orangtuanya.
Diana pun menceritakan semuanya dengan santai sambil menyuapkan makanan nya.
"Orang tuaku dulu bekerja di ladang milik juragan tanah. Tapi juragan itu kikir. Setiap bapakku pinjam uang, pasti bunga nya mencekik"
"Makanya setelah aku kerja, aku melarang mereka ke ladang, aku yang tanggung kebutuhan mereka" Ujarnya lagi
"Kamu tidak punya sodara, kakak atau adik?"
Diana menggelengkan kepalanya.
"Aku anak tunggal, dulu waktu aku lahir, ibu pendarahan hebat karena beliau hamil di usia tua, 40 tahun"
"Makanya sampai sekarang, kesehatan ibu kurang baik!" Ujar Diana lagi
Sambil mendengarkan, Arga sesekali mengambilkan lauk dan sayur ke piring Diana.
“Makan yang banyak. Perjalanan besok cukup jauh, kamu butuh tenaga yang cukup.”
"Kalau begitu, nanti kita bawa orang tua kamu untuk tinggal di sini, supaya kamu gak khawatir terus!"
"Tapi aku gak yakin mereka mau"
"Kita coba dulu!" Ujar Arga sambil tersenyum
Diana mengangguk dan tersenyum juga,
"Terimakasih, Mas. Tapi... Apa tidak akan merepotkan?" Tanya nya ragu
"Tidak, mereka sekarang orang tuaku juga!"
Diana merasakan kehangatan yang belum pernah didapatkan dari siapa pun sebelumnya.
Bahkan saat bersama Gilang dulu, ia tidak pernah diperlakukan selembut dan seperhatian ini.
Setelah selesai makan, mereka pindah ke teras belakang yang menghadap langsung ke taman.
Angin malam berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma bunga melati yang ditanam di sudut taman.
Suasana begitu tenang dan damai.
“Diana,” panggil Arga pelan.
“Ya, Mas?”
“Nanti saat bertemu dengan orang tuamu, kita akan melaksanakan ijab qobul secara sederhana sesuai keinginan mereka.
aku ingin pernikahan ini sah secara agama juga, bukan hanya di mata hukum. Apakah kamu setuju?” tanya Arga dengan nada serius namun lembut.
Mata Diana terbelalak sebentar, lalu ia mengangguk mantap.
“Aku setuju. Itu hal yang baik. Terima kasih sudah memikirkannya sampai sejauh ini.”
Arga tersenyum puas, lalu mengusap lembut rambut Diana.