NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

​Ciiiit

​Suara gesekan ban dengan aspal terdengar cukup keras.

​Bima memarkirkan mobil mewahnya tepat di tempat parkir VIP kampus.

​"Kita terlambat lima belas menit," ucap Clara sambil melihat jam di pergelangan tangannya.

​Gadis itu buru-buru melepas sabuk pengamannya.

​"Ini semua gara-gara konferensi pers dadakan Papa tadi," gerutu Clara.

​"Jangan salahkan ayahmu," balas Bima santai.

​"Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungi nama baik keluarga."

​Bima turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Clara.

​Tap tap tap.

​Langkah kaki mereka berdua menyusuri lorong kampus yang tampak sepi karena jam kuliah sedang berlangsung.

​"Dosen mata kuliah Manajemen Strategi ini sangat galak," bisik Clara sambil menggandeng lengan Bima.

​"Namanya Pak Lukman, dia suka sekali mempermalukan mahasiswa yang terlambat."

​Bima hanya mengangguk pelan mendengar cerita gadis itu.

​"Kamu masuk saja duluan," kata Bima.

​"Aku akan menunggu di luar atau di kantin."

​Clara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

​"Tidak mau!" tolak Clara tegas.

​"Kamu harus ikut masuk ke dalam kelasku."

​"Tapi aku bukan mahasiswa di sini, Clara," Bima mengingatkan.

​"Siapa yang peduli?" bantah Clara dengan wajah keras kepala.

​"Kamu tunanganku, jadi kamu berhak menemaniku ke mana saja."

​"Termasuk ke dalam ruang kelas."

​Bima hanya bisa menghela napas pasrah menghadapi sifat manja gadis ini.

​"Baiklah kalau itu maumu," jawab Bima mengalah.

​Krieet.

​Clara mendorong pintu ruang kelas berkapasitas lima puluh orang itu secara perlahan.

​Semua mata mahasiswa yang ada di dalam ruangan langsung tertuju ke arah pintu.

​Suara penjelasan dosen di depan kelas seketika terhenti.

​Pak Lukman, seorang dosen paruh baya berkacamata tebal, menatap tajam ke arah mereka.

​"Nona Clara Herman," sapa Pak Lukman dengan nada dingin.

​"Senang melihat Anda kembali ke kampus setelah cuti panjang."

​"Tapi sepertinya Anda lupa aturan di kelas saya."

​Clara menelan ludah dengan gugup.

​"Maafkan saya, Pak Lukman," ucap Clara sopan.

​"Ada urusan keluarga mendadak yang membuat saya terlambat."

​Pak Lukman melipat kedua tangannya di dada.

​"Urusan keluarga bukan alasan untuk mengganggu jam kuliah saya," balas dosen itu ketus.

​"Dan siapa pria yang berdiri di sebelah Anda itu?"

​"Apakah dia mahasiswa baru yang juga tidak tahu aturan?"

​Seluruh mahasiswa di kelas mulai berbisik-bisik membicarakan Bima.

​Sebagian dari mereka sudah tahu siapa Bima dari kejadian di lobi pagi tadi.

​"Dia Bima, tunangan saya," jawab Clara dengan suara lantang.

​"Dia datang untuk menemani saya belajar hari ini."

​Pak Lukman mendengus meremehkan.

​"Ini ruang kelas Universitas Nusantara Emas, bukan tempat kencan," kata Pak Lukman sinis.

​"Silakan pria itu keluar sekarang juga."

​"Atau Anda berdua silakan tinggalkan kelas saya."

​Clara menggigit bibir bawahnya menahan kesal.

​Dia baru saja akan membalas ucapan dosen galak itu.

​Namun sebuah tangan hangat menyentuh bahunya.

​Bima melangkah maju satu langkah ke depan Clara.

​"Saya minta maaf atas keterlambatan tunangan saya," kata Bima dengan nada datar.

​"Tapi mengusir mahasiswa yang memiliki niat belajar hanya karena terlambat lima belas menit adalah tindakan tidak efisien."

​Mata Pak Lukman melotot mendengar bantahan itu.

​"Beraninya kau mengajari saya soal efisiensi!" bentak Pak Lukman marah.

​Bima menatap lurus ke mata dosen itu tanpa rasa takut sedikit pun.

​"Tentu saja," lanjut Bima dengan tenang.

​"Buku Manajemen Strategi edisi ketujuh yang Anda pegang itu fokus pada adaptasi."

​"Sebuah perusahaan yang kaku pada aturan tanpa melihat konteks situasi akan hancur."

​"Sama seperti kelas yang tidak bisa menoleransi alasan logis dari mahasiswanya."

​Keadaan kelas mendadak hening seketika.

​Beberapa mahasiswa tampak menahan tawa melihat dosen galak mereka didebat.

​Wajah Pak Lukman memerah menahan marah dan malu.

​"Tahu apa kau soal manajemen?" sindir Pak Lukman.

​"Saya kebetulan sudah membaca seluruh isi perpustakaan kediaman Herman," jawab Bima santai.

​"Termasuk buku yang sedang Anda jadikan bahan ajar itu."

​"Bahkan teori di bab empat buku itu sudah usang jika diterapkan di era digital saat ini."

​Siska yang duduk di barisan tengah sampai menutup mulutnya karena terkejut.

​"Gila, tunanganmu berani sekali menceramahi Pak Lukman," gumam Siska pelan namun masih terdengar.

​Pak Lukman tidak bisa membalas argumen tajam Bima.

​Dia tahu berdebat dengan pemuda ini hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

​Apalagi Clara adalah putri penyumbang dana terbesar di kampus ini.

​"Baiklah," ucap Pak Lukman akhirnya dengan suara tertahan.

​"Silakan duduk di belakang, dan jangan membuat keributan lagi."

​Clara tersenyum puas dan menarik tangan Bima menuju kursi kosong di barisan belakang.

​Siska yang duduk di depan mereka segera menoleh ke belakang.

​"Kalian ini benar-benar pasangan yang gila," bisik Siska sambil terkikik.

​"Baru hari pertama kembali sudah membuat keributan di kelas dosen paling mematikan."

​"Bima yang memulainya," balas Clara membela diri sambil tersenyum.

​"Aku kan hanya tidak suka melihatmu dimarahi tanpa alasan yang jelas," sahut Bima pelan.

​Clara merasa pipinya merona merah mendengar ucapan manis namun datar dari tunangannya itu.

​Gadis itu segera membuka buku catatannya untuk menyembunyikan wajah malunya.

​Pelajaran pun kembali dilanjutkan.

​Pak Lukman menjelaskan materi di depan kelas dengan nada suara yang masih terdengar kesal.

​Bima duduk bersandar dengan santai di kursinya.

​Matanya memang menatap ke depan kelas, namun pikirannya melayang ke tempat lain.

​Dia memejamkan mata sejenak dan membiarkan indranya meluas.

​Wush.

​Telinga Bima menangkap suara pergerakan yang sangat halus dari luar gedung fakultas.

​Suara itu bukan suara langkah kaki mahasiswa biasa.

​Ada hawa membunuh yang sangat tipis berbaur dengan angin sore ini.

​Mata Bima tiba-tiba terbuka lebar dan menatap tajam ke arah jendela kaca di sebelah kirinya.

​"Ada apa, Bima?" bisik Clara yang menyadari perubahan ekspresi tunangannya.

​"Tidak ada apa-apa," jawab Bima cepat.

​"Aku hanya butuh pergi ke toilet sebentar."

​Clara mengerutkan keningnya tidak percaya.

​"Benarkah?" tanya Clara curiga.

​"Jangan bohong padaku, Bima."

​"Aku serius, Clara," Bima mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut.

​"Tetaplah di sini bersama Siska."

​"Jangan pergi ke mana pun sampai aku kembali."

​Bima segera berdiri dari kursinya sebelum Clara sempat bertanya lebih jauh.

​Dia berjalan santai keluar dari ruang kelas tanpa mempedulikan tatapan tajam Pak Lukman.

​Krieet.

​Pintu kelas tertutup rapat di belakangnya.

​Begitu berada di lorong yang sepi, raut wajah Bima seketika berubah sangat dingin.

​Dia tidak berjalan menuju toilet.

​Kakinya melangkah ringan tanpa suara menuju tangga darurat yang mengarah ke atap gedung.

​Tap tap tap.

​Bima membuka pintu atap dengan kasar.

​Angin sore langsung menerpa wajahnya dengan cukup kencang.

​Atap gedung itu tampak kosong melompong.

​Namun Bima tahu dia tidak sendirian di sana.

​"Keluarlah," suara Bima menggema pelan namun mengandung tekanan yang kuat.

​"Ilmu menyembunyikan napasmu terlalu kasar untuk ukuran seorang pembunuh."

​Hening sejenak.

​Sring.

​Sebuah pisau lempar berwarna perak tiba-tiba melesat cepat dari balik tangki air besar di sudut atap.

​Pisau itu mengarah tepat ke leher Bima.

​Bima bahkan tidak bergeser dari posisinya berdiri.

​Dia hanya mengangkat dua jarinya dengan santai.

​Trak.

​Pisau tajam itu terjepit kuat di antara jari telunjuk dan jari tengah Bima.

​Ujung pisaunya berhenti hanya beberapa milimeter dari kulit lehernya.

​"Lemparan yang buruk," kritik Bima datar.

​Dia menjatuhkan pisau itu ke lantai beton.

​Dari balik tangki air, muncullah seorang pria berpakaian serba hitam dengan masker menutupi setengah wajahnya.

​Pria itu menatap Bima dengan sorot mata penuh ketidakpercayaan.

​"Bagaimana kau bisa menangkap pisauku?" tanya pria misterius itu dengan suara serak.

​"Bahkan angin pun tidak bisa mendeteksi seranganku."

​"Kau terlalu sombong," jawab Bima sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

​"Asosiasi Medis Gelap rupanya sangat tidak sabar."

​"Baru beberapa jam berlalu sejak kegagalan racun kalian di rumah sakit."

​Pria bermasker itu mendengus sinis.

​"Aku hanya pion pengintai, Tuan Tabib," kata pria itu.

​"Tugasku hanya menguji seberapa tajam instingmu."

​"Dan sepertinya rumor itu benar, kau bukan pemuda biasa."

​Pria itu mencabut dua buah belati melengkung dari pinggangnya.

​"Tapi mari kita lihat seberapa jauh kau bisa menghindar!" teriak pria itu.

​Syut.

​Pria itu melesat maju dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

​Kedua belatinya menebas ke arah dada dan perut Bima secara bersamaan.

​Bima hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri.

​Wush.

​Kedua bilah belati itu hanya memotong udara kosong.

​"Terlalu lambat," bisik Bima tepat di telinga pria itu.

​Sebelum pria itu sempat menarik senjatanya, Bima sudah melayangkan satu pukulan telapak tangan ke dada pria tersebut.

​Bugh!

​Pukulan itu terlihat pelan tanpa tenaga.

​Namun pria bermasker itu terpental ke belakang sejauh tiga meter.

​Bruk.

​Tubuhnya menghantam dinding pembatas atap dengan keras.

​"Uhuk!" pria itu memuntahkan seteguk darah segar.

​Dada pria itu terasa seperti baru saja ditabrak oleh truk bermuatan penuh.

​Dia mencoba berdiri namun kakinya bergetar hebat.

​"Tenaga dalam macam apa ini?" gumam pria itu ketakutan.

​"Tulang rusukku hampir remuk semua."

​Bima berjalan mendekati pria yang terkapar itu dengan langkah pelan.

​Aura di sekitar Bima terasa sangat berat dan menekan.

​"Katakan pada atasanmu," ucap Bima dingin.

​"Berhenti mengirim sampah untuk mengujiku."

​"Jika kalian ingin nyawaku, kirimkan yang terbaik yang kalian miliki."

​Pria itu tertawa paksa sambil menahan rasa sakit.

​"Jangan sombong, Tuan Tabib," ejek pria itu.

​"Bos kami sudah memanggil Sang Bayangan dari pusat."

​"Besok malam, nyawamu dan nyawa tunangan cantikmu itu akan menjadi miliknya."

​Mendengar nama Clara disebut sebagai target, sorot mata Bima seketika berubah menjadi gelap total.

​"Kau baru saja membuat kesalahan besar," desis Bima mematikan.

​Bima mengangkat kaki kanannya dan menginjak pergelangan tangan pria itu.

​Krek.

​"Aaaarggh!" pria itu menjerit kesakitan saat tulang tangannya patah.

​"Itu hukuman karena berani membawa nama Clara dalam urusan kotor kalian," kata Bima tanpa belas kasihan.

​"Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan lehermu."

​Bima menyingkirkan kakinya.

​Pria bermasker itu segera merangkak bangun dengan susah payah.

​Sambil memegangi tangannya yang patah, dia berlari tertatih-tatih menuju tangga darurat sisi lain gedung.

​Dalam sekejap, pria itu menghilang dari pandangan.

​Bima berdiri terdiam menatap langit sore yang mulai menguning.

​"Sang Bayangan ya," batin Bima mengingat julukan tersebut.

​"Sepertinya besok malam aku harus meminjam arena yang sepi agar Clara tidak ketakutan."

​Bima merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

​Dia menarik napas panjang untuk menyembunyikan aura membunuhnya.

​Dalam hitungan detik, dia kembali menjadi Bima yang tenang dan datar.

​Tap tap tap.

​Bima berjalan menuruni tangga kembali menuju ruang kelas Clara.

​Saat dia masuk, kelas kebetulan baru saja selesai.

​Para mahasiswa mulai membereskan buku-buku mereka.

​Clara langsung berdiri dari kursinya saat melihat Bima masuk.

​"Kamu lama sekali," protes Clara sambil memasukkan kotak pensilnya ke dalam tas.

​"Aku pikir kamu kabur dan meninggalkanku di sini."

​"Ada masalah perut sedikit," bohong Bima dengan wajah datar.

​Siska yang berdiri di sebelah Clara tertawa kecil.

​"Orang sakti seperti Bima juga bisa sakit perut ternyata," goda Siska.

​"Kalian berdua hati-hatilah di jalan pulang."

​"Terima kasih Siska," balas Clara tersenyum manis.

​"Sampai jumpa besok."

​Bima mengambil alih tas selempang milik Clara dan membawakannya.

​"Ayo kita pulang," ajak Bima lembut.

​"Papa sudah menunggu kita untuk makan malam bersama."

​Clara langsung menggandeng lengan Bima dengan manja seperti biasa.

​"Ayo!" seru Clara bersemangat.

​"Aku lapar sekali gara-gara mendengarkan omelan Pak Lukman tadi."

​Mereka berdua berjalan keluar dari kelas mengabaikan tatapan iri dari mahasiswa lain.

​Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir, Bima terus memperhatikan keadaan sekitar.

​Instingnya masih siaga penuh.

​Meskipun pria pengintai tadi sudah pergi, Bima tahu bahaya yang lebih besar sedang menanti mereka besok malam.

​Dia menatap wajah Clara yang sedang bercerita riang tentang rencana akhir pekannya.

​"Aku tidak akan membiarkan sehelai rambutmu pun terluka, Clara," janji Bima dalam hatinya.

​Mobil sedan hitam mereka perlahan meninggalkan area kampus.

​Membawa mereka menjauh dari keramaian menuju kediaman Herman yang dijaga ketat.

​Perang dingin antara Tabib Dewa dan Asosiasi Medis Gelap kini telah resmi dimulai.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!