NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 11 — Upacara Uji Spiritual bg. 2

Satu per satu nama murid muda berusia 15 hingga 16 tahun dipanggil oleh panitia.

Suara langkah kaki terdengar silih berganti, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menarik perhatian para petinggi keluarga yang duduk di kursi kehormatan.

Hasil pengujian yang terpampang pada Batu Uji Spiritual di tengah lapangan sebagian besar hanya menunjukkan bahwa para murid hanya berada di tahap Pembukaan Meridian atau Pengumpulan Spiritual tingkat awal.

Suasana mulai terasa monoton dan membosankan bagi para tetua, hingga tiba saatnya nama yang dinanti-nantikan dipanggil.

"Selanjutnya, Qin Chen!" seru panitia dengan suara yang sedikit bergetar karena antusias.

Begitu nama itu disebut, suasana di sekitar lapangan berubah drastis. Para murid senior yang duduk di tribun penonton langsung berdiri, dan sorot mata para tetua keluarga tertuju pada pemuda berusia 16 tahun yang melangkah dengan penuh percaya diri ke atas panggung.

Qin Chen adalah kebanggaan Tetua Ketiga, Qin Tong. Ia berjalan dengan dagu terangkat, seolah-olah lapangan ini sudah menjadi miliknya.

Qin Chen meletakkan telapak tangannya di atas permukaan Batu Uji Spiritual yang dingin. Sesaat kemudian, ia menyalurkan energi spiritual dari dalam Dantiannya.

BZZZZT!

Batu kristal setinggi dua meter itu bergetar hebat. Cahaya biru yang terang benderang memancar dari celah-celah batu, semakin lama semakin pekat hingga puncaknya menampakkan pendar yang menyilaukan mata.

"Tahap Kesempurnaan Pembentukan Fondasi: Pembentukan Dantian Puncak!" seru Tetua Kedua, Qin Chong, yang memandu acara, dengan nada suara yang sengaja dibuat melengking tinggi dan heboh.

"Luar biasa! Qin Chen telah mencapai Tahap Kesempurnaan Pembentukan Fondasi di usia 16 tahun!" lanjut Tetua Kedua, Qin Chong.

Suara riuh rendah langsung memecah keheningan lapangan. Di bangku para tetua, suasana mendadak menjadi riuh. Tetua Ketiga, Qin Tong, berdiri dari kursinya sambil tertawa terbahak-bahak dengan wajah yang sangat bangga. Ia melirik ke arah Patriark, lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbicara kepada Tetua Keempat, Qin Chukai, yang duduk tidak jauh darinya.

"Lihat itu, Saudara Chukai. Bukankah bakat seperti ini yang seharusnya menjadi tumpuan Keluarga Qin kita di masa depan? Sangat berbeda dengan generasi yang hanya tahu memakan sumber daya secara cuma-cuma," ujar Tetua Ketiga dengan nada menyindir yang cukup keras agar bisa didengar oleh orang-orang di sekitarnya, seolah-olah kursi Patriark di depan mereka tidak ada artinya.

"Benar sekali, Saudara Tong," jawab Tetua Keempat sambil tersenyum tipis, menikmati setiap pujian yang dilontarkan oleh para tetua lain kepada Qin Chen.

"Dengan bakat seperti ini, saya yakin Qin Chen akan dengan mudah diterima di Akademi Tiandi."

Pengujian kemudian dilanjutkan kembali dengan pemanggilan beberapa nama murid dari garis keturunan biasa. Namun, hasil mereka tidak ada yang mencengangkan. Sebagian besar dari mereka bahkan terjebak di Tahap Penempaan Tubuh. Sesuai dengan peraturan keluarga yang telah disepakati oleh dewan tetua, murid-murid yang tidak berhasil melangkah ke tahap Pembentukan Fondasi akan dicabut hak istimewanya dan dikeluarkan dari keluarga utama untuk dipekerjakan di berbagai cabang bisnis di pinggiran kota.

Di tengah suasana yang mulai riuh dengan bisikan penghakiman, Tetua Ketiga, Qin Tong, kembali mengalihkan pandangannya ke arah Patriark, Qin Feiyan, yang sejak tadi duduk diam dengan ekspresi tenang.

"Patriark Qin Feiyan," panggil Tetua Ketiga dengan suara yang tajam dan menusuk.

"Sudah 17 tahun Keluarga Besar Qin berada di bawah kepemimpinan Anda, namun kita bisa melihat sendiri bagaimana keluarga ini tidak berkembang. Dan sekarang, lihatlah putra Anda sendiri! Sudah setahun lamanya dia hanya menghabiskan sumber daya keluarga yang berharga, tapi tetap saja menjadi sampah yang tidak berguna," ujar Qin Tong sambil melirik ke barisan tempat dimana Qin Mu berdiri.

Qin Tong melanjutkan dengan nada halus, namun semua orang di kursi kehormatan tahu dia sedang merendahkan Qin Feiyan, "Ditambah lagi, kepergian isteri Anda yang entah ke mana, yang meninggalkan keluarga ini dalam situasi yang tidak menentu. Sungguh suatu kesialan bagi seluruh keluarga kita dipimpin oleh orang seperti Anda!"

Perkataan tersebut memicu reaksi dari beberapa tetua lain di barisan belakang yang mulai tertawa-tawa kecil, menertawakan ketidakberdayaan Patriark.

Selama ini, Qin Feiyan memang menahan diri dari berbagai hinaan tentang putranya. Ia tidak membalas, karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia mengetahui rahasia besar tentang perubahan yang terjadi pada Qin Mu. Ia sangat yakin bahwa putranya akan membuat semua orang di tempat ini terdiam.

Namun, situasi berubah ketika istrinya, orang yang paling ia cintai, diseret ke dalam hinaan yang begitu kejam di depan umum.

Seketika itu juga, suasana di area kehormatan berubah menjadi dingin dan mencekam. Aura wibawa yang biasanya terkendali dari seorang Patriark meledak keluar. Para tetua di sekeliling ada yang tetap tersenyum dan ada beberapa yang takut dan ada yang mengkhawatirkan Patriark.

Udara di sekeliling Qin Feiyan mendadak menjadi panas, dan suhu di panggung utama meningkat drastis.

WUUSH!

Sebuah manifestasi aura berwarna merah api yang sangat pekat keluar dari tubuh Qin Feiyan, membentuk pilar cahaya yang menyelimuti seluruh tubuh gagah perkasanya. Tekanan yang dikeluarkan Qin Feiyan tersebut begitu menindas, membuat napas Tetua Ketiga, Qin Tong, terhenti seketika. Wajahnya yang semula sombong mendadak memucat, dan kakinya gemetar menahan tekanan mental yang luar biasa. Ia tak mampu mengeluarkan satu kata pun.

Melihat Tetua Ketiga yang hampir berlutut di bawah tekanan tersebut, Tetua Keempat, Qin Chukai, menyipitkan mata. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia segera bangkit dan melepaskan aura manifestasinya sendiri.

BOOM!

Sebuah gelombang aura merah yang sama kuatnya menguar dari tubuh Tetua Keempat, berbenturan langsung dengan aura merah api milik Qin Feiyan.

Tabrakan kedua aura tersebut menciptakan getaran angin yang menyapu debu di sekeliling panggung, menatap satu sama lain dengan tatapan yang penuh permusuhan.

"Patriark, hari ini adalah hari suci. Bahkan leluhur tidak akan berani membuat kekacauan." ujar Qin Chukai.

1
yos helmi
👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
TGT
CERITANYA LMBAT TAPI BGUS
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!