Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Tak Mengenal
"Aku? Aku Jing Yan," jawab pemuda itu, tatapannya dingin saat menatap mata gadis itu.
"Jing... seperti kata yang berarti tenang dan santai? Itukah arti namamu?" Fang Zhelan bertanya dengan nada sedikit bercanda. Entah mengapa, nama itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman, seolah-olah baru saja menelan seekor serangga.
"Benar sekali. Memang itu artinya." Jing Yan mengangguk pelan.
Benar juga. Nama memang bisa saja sama, tetapi wajah tidak. Setelah hidup kembali menggunakan jasad Immortal dan memperoleh tubuh baru, Fang Zhelan sama sekali tidak mampu mengenalinya lagi.
"...Nama yang bagus."
Dengan sedikit rasa kecewa, Fang Zhelan kembali berdiri di samping Tang Chen.
"Kau tertarik padanya?" Tang Chen melirik ke arah Jing Yan.
"Jangan bicara sembarangan." Fang Zhelan langsung menjawab dengan nada dingin.
"Aku benar-benar tidak mengerti seleramu. Menurutku dia cuma punya penampilan tanpa kemampuan. Bahkan ketampanannya tidak sampai sepersepuluh dari Kakakku." Tang Chen mencibir.
"Hanya karena aku bertanya tentang dirinya bukan berarti kau harus selalu membandingkannya, atau siapa pun, dengan Kakakmu." Fang Zhelan menjawab dengan nada kesal.
"Baiklah, baiklah. Aku tahu kau menyukai Kakakku. Tenang saja, aku hanya bercanda." Tang Chen mengangkat bahunya.
Namun ketika pandangannya kembali tertuju pada Jing Yan, diam-diam ia berpikir, ‘Tapi benar... dia memang tampan sekali.’
Ia menyadari bahwa hampir semua gadis muda yang berada di tempat itu diam-diam terus mencuri pandang ke arah Jing Yan.
"Mungkin dia bahkan tidak sanggup menerima satu pukulan dariku. Tunggu saja saat dia bertemu denganku. Aku akan menggunakan Jiwa Pedang Bintang Emas milikku agar dia tahu seperti apa kekuatan yang sesungguhnya." Tang Chen bergumam sambil menyeringai.
Pada saat itu, Tetua Ning mengumumkan, "Ujian Jalan Surgawi resmi dimulai!"
Ratusan pemuda dan pemudi yang telah dipenuhi semangat segera bergegas maju untuk menerima tantangan tersebut.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Fang Zhelan langsung melesat ke depan.
Jing Yan mendongak ke atas. Jalan di depannya diselimuti kabut hitam dan bayangan pepohonan yang lebat. Tempat itu benar-benar merupakan medan yang sempurna.
"Fang Zhelan, seluruh keluargamu sudah menunggumu di dunia bawah." Kilatan niat membunuh melintas di matanya ketika ia mengejar Fang Zhelan memasuki hutan.
Tak lama kemudian, kabut tebal menyelimuti seluruh tubuhnya.
Saat Jing Yan hendak terus mengejar Fang Zhelan, tiba-tiba… Dadanya berdenyut aneh, seolah-olah ada sesuatu yang sedang bergerak di dalamnya.
"Apa lagi ini?" Ia terkejut.
Seingatnya, satu-satunya benda yang ia miliki hanyalah balok perunggu besar yang menyerupai tutup peti mati.
Lalu dari mana datangnya makhluk hidup ini? Dan rasanya… Berbulu?
Sebelum sempat memahami apa yang sedang terjadi, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari dalam dadanya.
"Aguu... Aguu... Pencipta! Bayi haus! Beri aku susu!"
Dengan panik, Jing Yan segera memasukkan tangannya ke dalam jubahnya. Tangannya menyentuh sesuatu yang lembut dan berbulu, lalu ia menariknya keluar.
"Hahhhh?!" Matanya langsung membelalak.
Yang ia pegang ternyata seekor makhluk kecil.
Seluruh tubuhnya diselimuti bulu hitam yang halus. Wujudnya tidak menyerupai kucing, juga bukan anjing. Di atas kepalanya tumbuh dua tanduk kecil, sementara sepasang mata birunya yang cerah bersinar seperti langit malam berbintang.
"Makhluk apa sebenarnya kau?" Jing Yan berseru sambil menjepit tengkuk makhluk kecil itu.
"Aku ayahmu!" balas makhluk hitam mungil itu dengan nada menantang, sambil menggerak-gerakkan anggota tubuhnya dan menatap Jing Yan dengan tajam. Suaranya bernada tinggi dan seperti anak-anak, tetapi kata-katanya sungguh berani.
"Itu tidak mungkin..."
Jing Yan masih sangat jelas mengingat bahwa suara yang meminta susu tadi terdengar berat dan serak. Namun makhluk kecil di hadapannya justru terlihat begitu menggemaskan.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu.
Peti mati perunggu kuno yang sebelumnya berada di dalam dadanya ternyata telah menghilang.
"Jangan-jangan... kau itu peti mati perunggu tadi?" tanya Jing Yan dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
"Adikmu itu peti mati!" balas makhluk itu dengan kesal. Lalu ia menundukkan kepalanya ke arah dadanya sendiri dan berteriak, "Bulan Merah, keluar!"
"Bulan Merah?" Jing Yan mengerutkan kening sambil menatap dada makhluk itu.
Apa yang terjadi berikutnya benar-benar mengerikan.
Krek!
Dada makhluk itu tiba-tiba terbelah, memperlihatkan sebuah mulut raksasa yang dipenuhi gigi-gigi tajam seperti pisau. Di balik bulunya tampak sepasang mata merah darah yang menatapnya dengan garang.
"Aguu! Dan aku ayah keduamu!"
Sebuah lidah panjang penuh duri langsung menjulur keluar dari mulut raksasa itu.
"Sialan!" Jing Yan terpaku di tempat dengan wajah penuh keterkejutan.
Jadi, suara serak itulah yang berasal dari mulut di dada itu! Satu tubuh memiliki dua wajah? Satu berada di kepala, sementara satu lagi berada di dada? Dan wajah di kepala yang memiliki mata biru serta suara imut itu justru mengaku sebagai yang lebih tua? Sedangkan mulut merah darah di tengah dada, dengan mata yang menyala seperti lahar, malah mengaku sebagai bayi?
"Apa-apaan ini?!" seru Jing Yan.
Sebelum sempat memahami semuanya, mata merah makhluk itu tiba-tiba bersinar ganas. Ia langsung menerjang sambil berteriak penuh semangat, "Lapar sekali! Susu!"
"Minggir!" bentak Jing Yan sambil mendorongnya menjauh. "Aku ini laki-laki. Mana mungkin punya susu!"
Terlepas dari candaan itu, jika mulut sebesar itu benar-benar menggigit dadanya, bukankah tubuhnya akan langsung berlubang?
"Jadi yang di dada namanya Bulan Merah. Kalau kau?" Jing Yan menatap wajah yang berada di kepala makhluk itu.
"Bintang Biru!" jawab wajah di atas kepala itu.
Tak diragukan lagi, nama Bintang Biru berasal dari kedua matanya yang berwarna biru pekat. Sedangkan mulut besar di dada yang berbentuk seperti bulan sabit merah darah itulah alasan kepala kedua disebut Bulan Merah.
"Kalau begitu... berarti dua kesadaran berbagi satu tubuh?" Jing Yan akhirnya menyadarinya. Pada dasarnya, makhluk ini adalah seekor binatang berkepala dua.
"Jadi kau adalah tutup peti matinya, sedangkan dia tubuh petinya?" Jing Yan masih yakin bahwa makhluk ini pasti berhubungan dengan peti mati perunggu kuno itu.
"Ternyata otakmu masih lumayan bisa dipakai juga," ujar Bintang Biru sambil menyeringai.
Makhluk kecil ini benar-benar sangat menyebalkan. Jing Yan sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Namun di dalam hatinya masih ada satu pertanyaan besar. Ia benar-benar sulit mempercayai bahwa peti mati perunggu kuno yang begitu besar kini berubah menjadi makhluk hitam kecil ini.
"Kalian memanggilku Pencipta? Kenapa?" tanya Jing Yan sambil mengernyit kebingungan.
"Pencipta berarti Pencipta Immortal... dan Pencipta Immortal adalah dirimu," jawab Bintang Biru sambil menatap Jing Yan dengan mata birunya yang dalam.
"Benar, Pencipta!" sela Bulan Merah. Karena tidak berhasil menemukan susu, kini ia malah sibuk menggigiti akar-akar tanaman di tanah.
"Apa itu Pencipta Immortal?" tanya Jing Yan.
"Orang yang memberi susu kepada bayi," jawab Bulan Merah dengan penuh semangat.
"Bisa diam tidak saat aku sedang bicara!" Bintang Biru mengangkat kaki mungilnya lalu menampar mata merah di dadanya sendiri.
"Kau berani memukulku? Akan kugigit kau!" protes Bulan Merah dengan nada sangat kesal.
Keduanya yang berbagi satu tubuh itu langsung mulai bertengkar dan saling memukul di depan Jing Yan. Tubuh kecil mereka bergoyang ke sana kemari, seolah-olah akan terbelah menjadi dua bagian.
"Astaga! Tolonglah, berhenti bertengkar!" keluh Jing Yan sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan karena benar-benar tidak tahan melihat tingkah mereka.
Makhluk kecil itu akhirnya berhenti, seolah baru teringat sesuatu yang sangat penting.
"Pencipta, ikutlah! Kita harus menemukan Benih Penciptaan," kata Bintang Biru.
"Benih Penciptaan?" Jing Yan menggeleng pelan, menandakan bahwa ia sama sekali belum pernah mendengar istilah itu.