Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Nandikara
Langkah Nyonya Winter terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong tenda bangsawan keluarga Winter. Waktu makan malam sudah hampir tiba, tetapi putri bungsunya belum juga keluar dari kamar. Sejak kejadian terakhir, hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Ia takut Nandikara kembali melakukan sesuatu di luar dugaan.
Sifat putrinya itu memang sulit ditebak. Jika gadis itu nekat melarikan diri demi menghindari pernikahan, Nyonya Winter tidak akan terkejut sama sekali.
"Semoga saja dia masih di kamarnya," gumamnya pelan.
Begitu tiba di depan kamar, ia tidak repot mengetuk. Dengan cepat ia menyingkap tirai tebal yang menjadi pembatas ruangan. Napasnya yang sejak tadi tertahan akhirnya terlepas.
Nandikara ada di sana. Gadis itu duduk tenang di depan cermin besar, sementara Cani berdiri di belakangnya dengan sisir di tangan, sibuk merapikan rambut sang nona. Pemandangan itu membuat wajah Nyonya Winter yang semula penuh kecemasan langsung berubah lega.
Tanpa membuang waktu, naluri seorang ibu langsung mengambil alih."Biarkan rambutnya digerai saja, Cani," ujarnya sambil mengamati pantulan Elisa di cermin."Selipkan aksesori bunga kecil di sampingnya. Dan lipstiknya, tambahkan sedikit lagi. Warnanya masih terlalu pucat."
"Baik, Nyonya," jawab Cani patuh.
Elisa hanya membiarkan mereka mengatur penampilannya sesuka hati. Dalam hati ia justru bersyukur. Untung saja ia berhasil kembali tepat waktu. Kalau terlambat sedikit saja, entah alasan apa lagi yang harus ia buat.
Tubuhnya masih terasa pegal setelah berlari jauh dari kastel Pangeran Erlan menuju kediaman keluarga Winter. Kedua kakinya seolah masih berdenyut, napasnya pun belum sepenuhnya pulih. Belum lagi pikirannya yang sejak tadi dipenuhi ucapan-ucapan sang pangeran, juga perlakuan pria itu padanya.
Rasanya tenaga, pikiran, bahkan jiwanya benar-benar terkuras hari ini. Karena itulah, untuk pertama kalinya sejak berada di dunia novel ini, Elisa memilih diam. Ia terlalu lelah untuk berdebat.
Keheningan itu justru membuat Nyonya Winter mengernyit heran."Kau baik-baik saja, Kara?" tanyanya pelan.
Elisa tidak langsung menjawab.
Nyonya Winter kembali menatap putrinya melalui pantulan cermin."Tumben sekali kau diam. Biasanya kau sudah membantah semua yang kukatakan sejak tadi."
Tak ada sahutan.
Melihat wajah Elisa yang pucat dan kehilangan semangat, rasa khawatir kembali memenuhi hati sang ibu. Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan telapak tangannya di dahi Elisa.
Alisnya sedikit berkerut."Tidak panas."
Elisa akhirnya mengangkat wajahnya."Aku tidak apa-apa, Bu," jawabnya lirih dengan suara yang terdengar begitu lelah.
Nyonya Winter menatap putrinya beberapa saat. Hatinya ikut sesak melihat kondisi Nandikara, meski akhir-akhir ini dia sering membuat ulah, tetap saja gadis itu adalah putri yang paling ia sayangi, putri kandungnya.
Nyonya Winter mengusap lembut bahu Nandikara."Ayahmu sedang mencari cara agar bisa menghindari pernikahan ini," ucapnya pelan."Sesuai keinginanmu."
Nada suaranya penuh ketulusan."Jadi bersabarlah. Serahkan semuanya pada kami. Kau hanya perlu diam dan menurut. Jangan membuat masalah lagi."
Mendengar itu, Elisa perlahan menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Nyonya Winter yang dipenuhi rasa sayang. Dadanya mendadak terasa sesak. Mereka memang bukan orang tua kandungnya.
Namun entah sejak kapan, Elisa mulai menganggap pasangan itu sebagai ayah dan ibu yang sesungguhnya. Mereka melindunginya, mengkhawatirkannya, bahkan rela mempertaruhkan nama baik keluarga demi memenuhi keinginan putri mereka.
Semakin mereka berbuat baik, semakin besar rasa bersalah yang memenuhi hati Elisa. Tanpa sadar, ucapan Pangeran Erlan kembali terngiang jelas di kepalanya.
"Pikirkan tentang keluargamu, Nandikara."
Elisa menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin. Wajah itu memang milik Nandikara. Namun jiwa di dalamnya adalah Elisa. Alur cerita yang seharusnya ia ketahui kini benar-benar berantakan. Banyak kejadian yang berubah dari cerita asli.
Tetapi ada satu hal yang sudah ia putuskan. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan keluarga Winter ikut terseret ke dalam masalah hanya karena dirinya.
Kalau memang jalan cerita sudah berubah, maka biarlah ia mengikuti perubahan itu sampai akhir. Elisa menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara."Katakan pada Ayah..."
Nyonya Winter langsung menatapnya penuh perhatian.
"Aku berubah pikiran, Bu."
Mata Nyonya Winter membulat. Wajahnya dipenuhi keterkejutan."A-apa?"
Elisa bangkit perlahan dari kursinya. Tatapannya lurus menatap pantulan dirinya sendiri di cermin, seolah sedang menguatkan hati. Dengan suara tenang namun mantap, ia berkata."Aku menerima lamaran Pangeran Erlan."
Ruangan itu mendadak sunyi.
Cani yang sedang memegang jepit rambut sampai menghentikan pekerjaannya. Sementara Nyonya Winter hanya mampu memandangi putrinya dengan mata membesar, seakan tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
***
Makan malam berlangsung dalam suasana yang jauh lebih hangat daripada yang dibayangkan Elisa. Meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan mewah itu dipenuhi tawa ringan dan percakapan santai. Raja Simon beberapa kali tersenyum lebar, begitu pula sang ratu yang wajahnya sejak tadi tidak pernah lepas dari rona bahagia.
Sesekali pasangan kerajaan itu saling bertukar pandang, seolah masih sulit mempercayai kenyataan yang terjadi malam ini.
"Yang Mulia terlihat sangat bahagia malam ini," ujar Tuan Winter sambil mengangkat gelasnya. Mencoba mencairkan suasana.
Raja Simon terkekeh pelan."Tentu saja. Sudah bertahun-tahun aku menunggu hari seperti ini, Winter."
Ratu ikut mengangguk."Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya memiliki putra yang bahkan tidak pernah melirik seorang gadis."
Semua orang tersenyum kecil, kecuali Erlan yang tetap tenang menikmati makan malamnya.
Raja Simon melanjutkan sambil menggeleng pelan."Setiap pesta dansa dia menghilang."
"Setiap jamuan bangsawan dia selalu mencari alasan untuk pulang lebih awal," tambah sang ratu dengan nada pasrah.
"Aku bahkan pernah menyuruhnya menemani Lady Anastasia." Raja melirik putranya."Dia hanya berbicara tiga kalimat, lalu pergi."
Ratu menghela napas panjang."Lady Agnes juga begitu. Gadis itu cantik, berbakat, dan berasal dari keluarga terpandang. Tapi Erlan memperlakukannya sama seperti memperlakukan seorang prajurit."
Elisa hampir tersedak mendengar itu.
Lady Agnes, jodoh pengeran Erlan yang sesungguhnya. Jadi mereka pernah bertemu?
Sang ratu kemudian berkata lirih,"Karena itulah muncul berbagai rumor."
Tuan Winter menundukkan kepala sedikit."Saya sempat mendengarnya, Yang Mulia."
Raja Simon mendecak kesal."Mereka mengatakan putraku menyukai sesama pria."
Suasana mendadak sedikit canggung.
Ratu tersenyum pahit."Rumor itu sampai membuat kesehatanku memburuk. Aku benar-benar mengkhawatirkannya."
Elisa diam mendengarkan.
Raja Simon kembali berbicara."Aku tidak pernah peduli apakah calon istrinya berasal dari keluarga bangsawan manapun," Tatapan beliau beralih kepada keluarga Winter."Yang kuinginkan hanya satu."
Beliau tersenyum hangat kepada Elisa."Seseorang yang bisa membuat Erlan menginginkan pernikahan."
Erlan akhirnya meletakkan alat makannya."Sudah cukup, Ayah."
"Kenapa? Malu?"
Erlan hanya diam.
Raja Simon tertawa puas."Nah, lihat? Bahkan sekarang dia sudah bisa merasa malu."
Semua orang kembali tertawa, sementara Elisa hanya menahan senyum melihat wajah datar Erlan.
Rasakan!
Setelah makan malam selesai, para pelayan mulai membersihkan meja. Raja Simon kemudian berdiri."Kalau begitu, mari kita bicarakan mengenai pertunangan."
Semua perhatian langsung tertuju kepada beliau.
"Kami ingin pertunangan dilaksanakan sebulan lagi, Yang Mulia, dan sebulan kemudian baru dilangsungkan pernikahan. Sebelum pernikahan, ijinkan Nandikara tetap berada di sisi kami, Yang Mulia." Tuan Winter tidak membuang kesempatan, dia langsung menyampaikan keinginan putrinya yang tidak ingin tinggal di istana sebelum ada pernikahan.
Erlan langsung mengangkat wajah."Dua bulan?"
"Benar Pangeran."
"Aku ingin pernikahan dilakukan secepatnya, tidak perlu ada pertunangan, dan Nandikara akan tinggal di sini, bukankah itu sudah sesuai dengan protokol kerajaan." jawab Erlan, masih dengan wajah datarnya. Tuan Winter sampai dibuat takut dengan ekspresi itu.
Elisa spontan menoleh tajam ke arah pria itu.
Seenaknya sendiri
Walaupun gugup, Tuan Winter segera angkat bicara."Yang Mulia, mohon maaf. Putri kami meminta sedikit waktu untuk mempersiapkan diri."
Elisa mengangguk pelan."Saya memang berharap tidak terlalu terburu-buru, Yang Mulia."
Raja Simon tersenyum memahami."Itu permintaan yang wajar."
Namun Erlan kembali menyela."Menurutku tidak perlu menunggu selama itu."
Elisa mulai kesal."Pangeran."
Erlan menatapnya."Apa?"
"Bukan hanya Anda yang akan menikah, aku juga."
"Itulah sebabnya aku ingin mempercepat."
Jawaban itu membuat pipi Elisa berkedut kesal."Tetap saja persiapan pernikahan bukan sesuatu yang bisa selesai dalam beberapa hari."
Erlan hendak membalas, tetapi Raja Simon lebih dulu memotong.
"Cukup." Suara sang raja terdengar tegas. Tuan dan nyonya Winter terlihat menahan napas panjang. Mereka gelisah, ketika mendengar perdebatan dua orang yang sama-sama keras kepala itu.
"Pernikahan Putra Mahkota bukan acara kecil." Raja menatap Erlan lurus."Seluruh kerajaan akan hadir. Undangan harus dikirim. Istana harus dipersiapkan. Pengamanan harus diperketat. Dan calon pengantin wanita juga membutuhkan waktu."
Erlan terdiam.
Raja Simon kembali berkata,"Keputusanku sama dengan Winter. Pertunangan satu bulan lagi, sebulan setelah itu baru pernikahan."
Beberapa saat suasana menjadi sunyi.
Akhirnya Erlan menghela napas pelan."Baiklah."
Mendengar jawaban itu, Elisa diam-diam mengembuskan napas lega. Untung kali ini ada seseorang yang bisa membuat pria keras kepala itu mengalah.
Raja Simon tersenyum puas."Nah, begitu lebih baik."
Setelah seluruh pembicaraan selesai, keluarga Winter pun bersiap untuk berpamitan. Namun sebelum mereka benar-benar meninggalkan ruang makan, Erlan melangkah maju.
"Aku ingin mengajak calon tunanganku berjalan-jalan melihat taman istana malam ini."
Semua orang langsung memandang Nandikara.
Ratu bahkan tersenyum penuh arti."Itu ide yang bagus."
Raja Simon mengangguk setuju."Bagaimana menurutmu, Tuan Winter?"
Tuan Winter menoleh kepada putrinya sejenak sebelum kembali memandang sang raja."Selama Yang Mulia Pangeran berkenan menjaganya, tentu kami mengizinkan."
Raja Simon tersenyum lebar."Kalau begitu, pergilah."
Ratu ikut menambahkan dengan nada menggoda,"Jangan pulang terlalu larut."
Elisa hanya bisa memaksakan senyum tipis, sementara Erlan, masih dengan wajah datarnya melangkah menuju pintu, seolah memang sudah menunggu momen itu sejak awal makan malam.