NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

***

Matahari pagi menyiram Kota Surabaya dengan pendar keemasan yang hangat. Hari itu, suasana di rumah keluarga Melani riuh oleh kesibukan persiapan akad pernikahan yang tinggal menghitung hari. Di tengah kesibukan itu, Melani menarik tangan Rangga Wira melangkah menuju mobil. Bidan muda itu berniat mengajak sang Ketua Adat berjalan-jalan mengelilingi pusat kota, mencari jas pernikahan resmi sekaligus melengkapi beberapa keperluan pribadi mereka.

Rangga Wira yang jarang meninggalkan Hulu Rawa—kecuali untuk urusan logistik dan negosiasi batas wilayah—menurut saja saat Melani membawanya ke salah satu pusat perbelanjaan modern terbesar di tengah kota.

Saat melangkah menembus pintu kaca tinggi yang berhembus pendingin udara, Rangga sempat menghentikan langkahnya sejenak. Sang Ketua Adat tampil sangat berbeda hari ini. Ia mengenakan celana kain gelap yang dipadukan dengan kemeja kasual berwarna abu-abu tua gulung lengan, hadiah pilihan Pak Rahardjo. Postur tubuhnya yang jangkung berotot, dada bidangnya yang tegap, serta garis rahang tegas bernuansa maskulin membuat penampilannya luar biasa memesona.

"Rangga, ayo!" ajak Melani riang, menarik lembut jemari Rangga.

Rangga menatap sekeliling dengan alis tebalnya yang bertautan tipis. Lantai marmer yang mengilap bagaikan cermin dan lautan manusia yang berlalu-lalang membuatnya sedikit canggung. Namun, begitu beberapa wanita kota yang melintas mulai mencuri pandang dan berbisik-bisik mengagumi ketampanannya, raut Rangga mendadak berubah protektif.

Pria tegap itu menggeser posisinya, melangkah setengah tapak di depan Melani seraya menggenggam erat telapak tangan lentik sang bidan di dalam jemari kekarnya.

"Rangga... kamu menggenggam tanganku kencang sekali," panggil Melani pelan seraya menahan senyum manisnya.

Rangga menoleh, menatap Melani dengan manik mata hitamnya yang tajam namun penuh kelembutan. "Tempat ini terlalu ramai dan licin, Melani. Saya tidak ingin kamu terpisah atau terbentur orang lain."

"Aduh, Pak Ketua Adat..." goda Melani seraya tertawa renyah, pipinya merona merah muda. "Lantai marmer ini tidak akan membuat saya jatuh, kok."

Namun, saat mereka tiba di depan eskalator berjalan yang naik ke lantai dua, langkah tegap Rangga mendadak terhenti total. Pria tangguh yang tak pernah gentar menghadapi binatang buas atau longsor hutan itu kini menatap anak tangga besi yang bergerak naik dengan dahi berkerut dalam.

"Ini... tangga kayu jenis apa yang bergerak sendiri?" bisik Rangga dengan suara baritonnya yang dalam, tampak sangat serius.

Melani tak sanggup menahan tawa halusnya. Momen canggung itu terasa begitu menggemaskan baginya. Melani melangkah mendekat, menggenggam kedua tangan Rangga seraya menatap mata pria itu.

"Ini namanya eskalator, Rangga," bimbing Melani sabar dengan nada amat lembut. "Tenang saja, langkahkan kaki kananmu tepat di atas satu anak tangga. Saya ada di sampingmu."

Rangga menatap Melani lekat-lekat, menyerap rasa percaya dari sepasang mata jernih gadis itu. "Baik. Jika kamu yang meminta, saya percaya."

Dengan gerakan tegap walau agak kaku, Rangga melangkahkan kakinya naik. Saat eskalator bergerak, Rangga secara naluriah makin merapatkan tubuh tegapnya pada Melani, melindungi gadis itu dari belakang.

Begitu tiba di gerai busana pengantin resmi, Melani memilihkan sebuah setelan jas hitam elegan lengkap dengan kemeja putih halus untuk Rangga. Saat Rangga keluar dari ruang ganti mengenakan jas tersebut, Melani mendadak terpaku. Bidan muda itu menahan napasnya, menatap sosok calon suaminya yang tampak begitu gagah, tampan, dan sarat wibawa layaknya seorang bangsawan modern.

"Bagaimana, Melani? Apakah ini terlalu aneh untuk pakaian pernikahan kita?" tanya Rangga seraya merapikan kerah jasnya, merasa sedikit terkekang oleh kain kaku tersebut.

Melani melangkah mendekat, jemarinya yang lentik melayang merapikan dasi dan kerah jas Rangga. "Sama sekali tidak aneh, Rangga... Kamu... kamu tampan sekali."

Rangga menyunggingkan senyum amat tampan di bibir tegasnya. "Apapun yang membuatmu bahagia hari ini, akan saya kenakan."

Sebelum keluar dari pusat perbelanjaan, mata Melani sempat tertambat pada sebuah gaun terusan simpel berwarna lavender lembut bernuansa kain sutra di etalase toko. Rangga yang menangkap binar mata gadisnya tanpa ragu langsung melangkah masuk, menyerahkan kartu pembayaran yang diberikan Pak Rahardjo, dan membelikan gaun favorit Melani tanpa membiarkan Melani menolak sedikit pun.

Hari perlahan beranjak sore, membilas langit kota dengan rona jingga dan keemasan yang syahdu. Melani membawa Rangga menyusuri tempat-tempat penuh kenangan masa kecilnya. Mereka berjalan santai di pelataran taman kota yang hijau, menikmati es krim rasa vanila di bawah naungan pohon-pohon rindang.

Melihat Rangga yang menikmati es krim dengan raut polosnya yang langka, Melani tak henti-hentinya tersenyum manis.

"Enak, kan?" tanya Melani seraya mengusap sedikit noda es krim di sudut bibir Rangga dengan jempolnya.

Rangga tersentak pelan, menikmati sentuhan hangat jemari Melani sebelum mengangguk tulus. "Manis dan dingin. Tapi tidak ada yang lebih manis dari senyumanmu seharian ini, Melani-ku."

Pipi Melani seketika membara merah pekat bagaikan buah tomat matang. "Rangga! Sejak kapan kamu pintar merayu begitu?"

Rangga terkekeh renyah—sebuah tawa lepas yang terdengar sangat hangat dan menenangkan jiwa.

Saat malam benar-benar jatuh dan pendar lampu kota melukis bayangan indah di atas permukaan air danau alun-alun, mereka berdua duduk berdampingan di sebuah bangku kayu di tepi telaga kota. Angin malam bertiup sejuk, membawa aroma harum bunga malam dan gemericik air tancap.

Melani menyandarkan kepalanya pelan di bahu tegap Rangga, membiarkan jemari mereka saling bertautan erat.

"Rangga..." panggil Melani pelan, menatap pendar cahaya kota yang memantul di air danau. "Bagaimana rasanya kembali ke kota? Apakah tempat ini terasa sangat asing untukmu?"

Rangga menarik napas panjang, mengusap punggung tangan Melani dengan jempolnya. "Dulu, saat saya harus keluar hutan untuk urusan logistik atau perbatasan, kota ini terasa bising, dingin, dan penuh dengan keangkuhan. Dinding-dinding betonnya terasa kaku, tidak seperti tanah Hulu Rawa yang selalu memberikan kedamaian."

Rangga jeda sejenak, berpaling menatap wajah ayu Melani yang tersiram cahaya rembulan malam.

"Tapi hari ini..." lanjut Rangga dengan suara yang amat dalam dan romantis, "Berjalan bersamamu menyusuri kota ini membuat segalanya terasa berbeda. Saya mengerti sekarang... tempat yang indah bukanlah tentang di mana kita berada, melainkan dengan siapa kita berbagi langkah."

Airmata keharuan menggenang di sudut mata jernih Melani. "Rangga..."

"Melani," panggil Rangga tulus. Pria tegap itu merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sepotong ukiran kayu cendana kecil yang sudah dihaluskan dengan sangat rapi. Ukiran itu berbentuk sepasang burung engang yang saling bersanding di atas tangkai bunga lavender.

Rangga menyelipkan cinderamata buatan tangannya itu ke dalam genggaman tangan Melani.

"Saya mengukir ini setiap malam di Pustu, saat kamu sedang terlelap," pukas Rangga pelan. "Burung engang hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Seperti itulah jiwa saya di hadapanmu. Kamu telah mengubah cara pandang saya tentang dunia luar, Melani. Kamu memberi warna baru dalam hidup saya yang kaku."

Melani meremas ukiran kayu cendana yang menguar aroma wangi khas hutan itu. Danya berdesir hebat oleh rasa cinta dan haru yang tak terhingga. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Rangga Wira.

"Terima kasih, Rangga..." bisik Melani lembut, menyunggingkan senyum paling indah dalam hidupnya. "Terima kasih karena sudah memilih saya untuk menjadi pasangan hidupmu."

Rangga Wira memajukan tubuhnya, merengkuh tubuh molek Bidan Pelindung itu ke dalam pelukan dada bidangnya yang hangat. Di bawah pendar cahaya lampu kota yang membiru dan embun malam yang mulai turun, dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang itu lebur dalam kepastian cinta yang siap diikat secara sakral dalam pernikahan esok hari.

Bersambung..

Aaaa gemesss 😍😍😚😚

1
falea sezi
benerr pergi
falea sezi
pergi jauh
dika edsel
noh istrimu sudah mode pasrah dan tertekan...huh..ntar klo terjadi sesuatu sama istrmu pegimana...?? emang anda sudah siap jd duda?? kita mikir yg buruk aja deh..klo diliat dr kondisinya melani yg kian hari kian ngenes ini😌
Heresnanaa_: iyaa, Ki Rangga benar benar yaaa 😌
total 1 replies
Ayusha
Dr. (Doktor)
dr. (dokter)
Ayusha: macama. lanjut kak, semangat 💪
total 2 replies
Kusii Yaati
wes mboh sak karepmu Ki...lama" Melani bisa depresi semua di pendam sendiri.😩
Heresnanaa_: kann, author juga ngerasa kaya gitu 🥹🥹
total 1 replies
falea sezi
klo q jd Melani pergi plg ke rmh ortu 🤣🤣 ngapain di situ punya suami goblok
Ayusha
jadi keinget lahiran pertama /Smile/
Kusii Yaati
up lagi dong Thor, jangan satu bab aja 🥺
Heresnanaa_: stay tune ya beb😚🫶
total 1 replies
Kusii Yaati
yang sabar Melani,Ki Rangga sedang capek dan banyak pikiran jadi nggak bisa ngontrol emosinya 🤧... semoga lekas berbaikan 🥹
Kusii Yaati: up lagi dong Thor...2 bab ya 🤭
total 2 replies
neng ade
tapi jangan yang berat konfliknya,
Heresnanaa_: amannn kok 🤭
total 1 replies
Reni Anggraeni
bagus sekali
Reni Anggraeni
emmm bagus ceritanya
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bongkarkan yang hati busuk thor
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
habislah tamat riwayat
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bunga² sedang mekar..
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bagus di awal bacaannya
sunshine wings
yang sabar ya pak ketua adat.. lumrah ibu hamil bermacam ragam.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
hebat kisahnya aku sukaaa..
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
neng ade
Alhamdulillah, Melani hamil ..
🤲
Kusii Yaati
ya ampun pak ketua suku ganas amat ,air tenang menghanyutkan ya, semalam suntuk di gempur sama pak ketua suku 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!