aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - Bayangan di Pegunungan Awan Hijau
Aliran air kering yang ditunjukkan Paman Song berkelok-kelok menyusuri celah-celah tebing terjal. Tanah di celah itu berbatu licin dan tertutup oleh kerapatan akar-akar pohon tua yang saling bertali-temali. Kabut tipis merayap lambat di permukaan tanah, membiaskan sinar matahari pagi menjadi pendaran cahaya yang temaram.
Sun Chen melangkah sangat cepat namun berhati-hati. Setiap kali kakinya menapak pada batu licin atau gundukan tanah basah, benih Qi keemasan di Dantiannya secara alami menyalur ke telapak kaki, menjaga raga balitanya dari kehilangan keseimbangan.
Setiap berjalan beberapa ratus langkah, Sun Chen sengaja berhenti sejenak. Ia menyapu jejak kakinya di atas tanah berbatu menggunakan dahan pinus kering, membiarkan aliran angin pegunungan mengusir aroma tubuhnya. Pengalaman bertahun-tahun memimpin pasukan di kehidupan lalunya membuat refleks penghapusan jejak ini tereksekusi tanpa cela.
Saat tiba di sebuah ceruk batu yang terlindung dari terpaan angin, Sun Chen menyandarkan punggungnya ke dinding batu. Ia memejamkan mata dan mengatur pernapasannya secara teratur.
Efek pil penyembuh luka dalam pemberian Chou Tian dan Umbi Penambah Tenaga dari Paman Song memang telah bekerja dengan baik, namun itu hanya memulihkan sebagian kecil dari stamina fisiknya. Dantiannya masih terlalu dangkal untuk menampung energi dalam jumlah besar, dan Meridian utamanya masih rapuh. Sun Chen menyadari sepenuhnya bahwa dalam kondisi seperti ini, terlibat dalam bentrokan fisik terbuka dengan siapa pun hanya akan membawa bencana bagi dirinya.
Sun Chen menyapu pandangannya ke depan. Saat melangkah keluar dari ceruk batu menuju batas hutan bambu, indra batinnya menangkap bau amis darah segar yang menyengat di udara.
Sun Chen merendahkan raganya, menyusup di balik kerapatan semak berduri. Di sebuah celah tanah lapang tak jauh dari posisinya, terlihat bekas pertempuran sengit. Beberapa batang pohon pinus patah terbelah dua, tanah terkelupas parah, dan guratan-guratan cakar berukuran besar membekas dalam di permukaan batu tebing.
Di tengah tanah lapang itu, tergeletak sisa-sisa bangkai Babi Hutan Berlapis Besi yang telah koyak.
Melalui bentuk bekas cakar di batang pohon dan pola rembesan darah di atas tanah, Sun Chen dapat menganalisis situasi secara presisi di dalam kepalanya. Ini adalah bekas wilayah pertarungan antara dua binatang buas tingkat rendah. Pemenang pertarungan ini pasti sesosok pemangsa yang sangat agresif dan masih berkeliaran tak jauh dari area ini untuk menjaga wilayah kekuasaannya. Sun Chen memetakan alur seresan tanah dan memilih berputar jauh mengitari area berbahaya tersebut.
Namun, di sekitar sisa bangkai tersebut, mata Sun Chen yang tajam menangkap beberapa helai tanaman liar berdaun merah darah yang tumbuh di celah bebatuan.
Tanaman Daun Bintang Merah.
Ingatan dari kehidupan masa lalunya mendadak bergetar. Sun Chen mengenali tanaman itu seketika. Ini adalah bahan alami berharga yang sangat ampuh untuk menghentikan pendarahan luar dan menetralkan racun hewan liar jika ditumbuk halus.
Sun Chen bergerak tanpa suara, memetik beberapa helai Tanaman Daun Bintang Merah tersebut dengan hati-hati, lalu menyimpannya ke dalam kantong kain simpanannya. Pengetahuannya sebagai mantan ahli bela diri tingkat tinggi kini menjadi senjata utamanya untuk bertahan hidup di alam liar, bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik murni.
Kretek...
Gesekan ranting pohon yang patah mendadak terdengar dari arah semak-semak sebelah kanan.
Sun Chen menghentikan tangannya seketika. Dari balik kegelapan semak belukar, muncul sesosok binatang buas setinggi pinggang orang dewasa. Binatang itu memiliki bulu abu-abu keras bagaikan sisik batu dan mata merah menyala yang liar.
Seekor Serigala Batu Muda.
Binatang pemangsa tingkat rendah itu mendengus pelan, tertarik oleh aroma amis darah yang samar-samar keluar dari luka goresan di bahu Sun Chen. Serigala Batu itu merendahkan dadanya, siap menerjang maju untuk memangsa anak kecil di hadapannya.
Sun Chen tidak memancarkan benih Qi-nya untuk menyerang. Bertarung secara langsung dengan binatang buas bermassa tubuh lebih besar hanya akan membuang-buang tenaga dalam dan mengundang binatang buas lainnya.
Dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang, Sun Chen meraih sepotong daging bangkai Babi Hutan yang dipenuhi darah di dekat kakinya. Ia melempar potongan daging berdarah itu sejauh belasan langkah menuju ke dalam wilayah celah tebing sebelah kiri tempat binatang pemangsa pertama tadi bersembunyi.
Serigala Batu Muda yang kelaparan itu tergiur oleh lemparan daging segar tersebut. Tanpa berpikir panjang, serigala itu melompat mengejar potongan daging ke dalam celah tebing sebelah kiri.
Auuu!
Hanya dalam hitungan detik, suara raungan marah dari pemilik wilayah asli bergema nyaring dari dalam celah tebing, disusul oleh suara benturan dan cakaran sengit antara dua binatang buas tersebut.
Sun Chen tidak membuang waktu. Memanfaatkan kekacauan pertempuran antara kedua binatang buas itu, ia melompat ringan meniti bebatuan tebing dan melesat pergi menjauh dari area tersebut. Kecerdikan dan pemanfaatan situasi sekali lagi membuktikannya jauh lebih efektif daripada kekerasan kasar.
Menjelang sore hari, kerapatan pohon-pohon pinus mulai menipis. Hawa dingin pegunungan bertambah pekat saat Sun Chen melangkah keluar dari batas hutan liar.
Dari balik bukit batu tempatnya berdiri, terlihat siluet megah Pegunungan Awan Hijau yang membentang luas menembus awan. Di kaki pegunungan itu, bentangan lembah hijau tampak tenang, menjadi perbatasan alami sebelum memasuki wilayah Provinsi Selatan.
Sun Chen menghentikan langkahnya seraya mengusap keringat di dahinya. Ia mengingat peta kulit pemberian Chou Tian; wilayah di kaki pegunungan ini adalah titik pertemuan berbagai faksi, jalur pedagang, dan lokasi persembunyian yang sangat strategis.
Saat menyusuri lereng perbukitan menuju ke arah jalan utama lembah, indra spiritual Sun Chen menangkap suara riuh derap kaki kuda dan derit roda gerobak kayu.
Dari balik semak-semak di pinggir jalan, Sun Chen mengintip ke bawah. Sebuah karavan kecil tampak sedang berhenti beristirahat di tepi aliran sungai. Karavan itu terdiri dari tiga buah gerobak kayu bermuatan barang, dipimpin oleh beberapa pedagang paruh baya, serta dikawal oleh lima orang pendekar bayaran berpakaian kulit yang memegang pedang panjang. Tampaknya mereka adalah rombongan pedagang independen yang hendak menuju ke Pasar Pengelana.
Sun Chen tidak langsung menunjukkan diri. Mengandalkan kejelian matanya dari pengalaman masa lalu, ia mengamati gerak-gerik setiap anggota karavan itu dari jarak aman.
Sebagian besar dari mereka adalah pedagang biasa dan pendekar bayaran tingkat rendah dengan pola pernapasan yang jujur. Namun, mata Sun Chen terkunci pada dua orang pengawal yang berdiri di bagian belakang gerobak. Kedua orang itu mengenakan pakaian pengawal biasa, tetapi cara berdiri mereka yang selalu membelakangi cahaya, lirikan mata mereka yang terus menyapu area sekitar, serta aliran Qi yang sengaja ditekan di Dantian mereka menandakan bahwa mereka bukan pengawal karavan biasa.
Mereka adalah mata-mata yang menyusup ke dalam karavan.
Tiba-tiba, di dekat gerobak paling depan, seorang anak kecil perempuan berusia lima tahun yang merupakan anak dari salah satu pedagang sedang merayap memetik bunga liar di dekat semak-semak. Tanpa disadari oleh anak itu, seekor Ular Sisik Hijau beracun yang bertengger di atas dahan pohon rendah sedang menjulurkan lidahnya, siap mematuk leher anak tersebut.
Para pengawal dan orang tua anak itu sedang sibuk memindahkan barang dan tidak menyadari bahaya tersebut.
Sun Chen yang mengamati dari balik semak-semak atas bukit menyipitkan matanya. Ia tidak berniat menampakkan diri, namun ia teringat ajaran gurunya tentang hati nurani.
Sun Chen memungut sebuah kerikil kecil dari tanah, memancarkan seutas benih Qi halus ke jemarinya, lalu menjepretkan kerikil tersebut dengan presisi tinggi.
Wus!
Kerikil itu melesat cepat menembus udara, menghantam tepat pada dahan pohon di atas kepala Ular Sisik Hijau.
Brak!
Dahan pohon itu patah terbelah, membuat ular beracun itu terkejut dan jatuh terlempar ke dalam aliran sungai deras di bawahnya sebelum sempat mematuk.
Anak kecil perempuan itu terkejut oleh jatuhnya dahan pohon, lalu berlari kembali ke pelukan ibunya. Para pengawal karavan hanya mengira dahan pohon itu lapuk dan patah ditimpa angin, sama sekali tidak menyadari keberadaan Sun Chen yang tersembunyi rapat di balik bukit.
Saat karavan itu bersiap untuk melanjutkan perjalanan, Sun Chen mendengarkan percakapan dari dua pedagang yang sedang mengikat tali gerobak.
"Perjalanan ke Pasar Pengelana kali ini terasa sangat tegang," kata salah satu pedagang seraya mengusap peluh di lehernya.
"Kau benar," timpal pedagang kedua dengan suara berbisik. "Sejak dua hari lalu, banyak orang-orang berpakaian jubah hitam yang menyamar sebagai pengelana dan pedagang obat di sepanjang jalan menuju kaki pegunungan ini. Konon mereka sedang mencari seorang anak kecil."
"Anak kecil? Siapa anak itu sampai dicari oleh begitu banyak pendekar berpakaian hitam?"
"Mana aku tahu. Tapi yang pasti, orang-orang berjubah hitam itu membagikan lukisan sketsa ke setiap pos pemeriksaan pasar. Kita harus ekstra hati-hati."
Mendengar percakapan itu, jemari Sun Chen terkepal rapat di balik jubahnya. Jaringan organisasi pemburu yang dipimpin Pelindung Merah ternyata jauh lebih berakar dan luas di wilayah perbatasan ini dari yang ia perkirakan. Mereka telah menyebarkan sketsa wajahnya ke berbagai titik transit menuju Provinsi Selatan.
Karavan kecil itu kembali bergerak roda-rodanya, menyusuri jalanan tanah menuju ke arah lembah Pasar Pengelana.
Sun Chen memutuskan untuk mengikut mereka dari jarak jauh. Berjalan secara mandiri di jalan utama akan sangat mencolok, tetapi membayangi karavan pedagang dari balik kerapatan hutan di pinggir jalan memberikan perlindungan dan penyamaran yang sangat ideal.
Namun, saat Sun Chen mulai melangkah menyusuri lereng perbukitan untuk mengikuti karavan tersebut...
Jauh di atas puncak tebing batu yang menjulang tinggi di atas posisinya, sesosok pria tua berdiri tegak di balik terpaan angin sore. Pria tua itu mengenakan jubah kain abu-abu yang sederhana, memegang sebilah pedang panjang berukir kayu yang terikat rapi di punggungnya.
Rambut dan janggut putih pria tua itu berkibar pelan ditiup angin pegunungan. Matanya yang tajam dan jernih menatap lurus ke arah punggung Sun Chen yang melangkah di balik semak-semak bawah bukit.
Pria tua berjubah abu-abu itu memiringkan kepalanya sedikit, menyaksikan dari awal bagaimana Sun Chen mengelabuhi Serigala Batu, memanfaatkan medan, hingga menyelamatkan anak kecil menggunakan jepretan kerikil yang presisi.
Sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa kagum terukir di bibir pria tua itu.
"Anak sekecil itu..." bisik pria tua berjubah abu-abu seraya mengelus janggut putihnya, suaranya halus tersapu oleh angin sore. "Tetapi insting bertarung, efisiensi raga, dan kejelian matanya setajam seorang pendekar tua... Menarik."