NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

"Maaf Bu sebelumnya, salam kenal. Saya Zio, kepala Divisi 3."

"Baiklah Zio. Saya hanya ingin bertanya, dimana tempat untuk membuat kopinya?"

"Di lantai atas ada tempat untuk membuat kopi khusus pak Joshua. Saat keluar dari lift, ambil jalur kiri, karena kalau ke kanan, itu ruangan bapak. Di bagian kiri adalah tempat yang biasanya digunakan untuk membuat kopi."

"Baiklah. Terima kasih Zio. Maaf mengganggu pekerjaan kalian. Sekarang kalian boleh lanjutkan."

Dian keluar dan berjalan kembali ke lift. Syukurlah ia tidak harus ke lantai bawah.

Semua karyawan berjalan mendekat ke arah Zio. Zio pun dengan segudang pertanyaan di benaknya.

"Pak, bapak tahu tidak siapa orang tadi?"

"Tahu, katanya asisten baru pak Joshua. Tapi anehnya kenapa tiba-tiba ada asisten baru? Apa pak Arya melakukan kesalahan sampai harus diganti. Padahal pak Arya orang terpercaya pak Joshua. Sudah 8 tahun dia bekerja di bawah pak Joshua. Dan diturunkan begitu saja?"

"Tidak pak, anda salah paham. Pak Arya tidak diturunkan atau diganti. Katanya itu hanya sementara. Dan perempuan tadi, adalah calon istri pak Joshua."

"Calon istri.... What the hell.."

.....

Dian menaruh cangkir kopi yang selesai ia bikin ke dalam wadah. Ia sengaja berlama-lama di tempat itu, karena malas untuk terlalu cepat melihat muka Joshua. Makanya tadi ia sibuk memeriksakan ruangan apa saja di situ. Ternyata ada gudang buku yang lumayan berdebu. Dan kebanyakan buku nya membahas mengenai bisnis. Inilah salah satu yang ia mau. Ia akan mencuri waktu, untuk datang kemari.

"Ini kopi anda pak." Kata Dian sambil menyerahkan cangkir kopi pada Joshua.

"Bikin kopinya lama sekali ya?"

"Bagaimana tidak lama, anda tidak mengatakan kalau di ruangan sebelah ada alat untuk membuat kopi. Saya harus turun kebawa untuk menanyakan."

Puas!!!

"Saya mau menjelaskan, tapi seseorang seperti nya ingin segera keluar dari sini. Jadi tidak mendengarkan panggilan saya."

Joshua memeriksa setiap sudut gelas tersebut. Ia juga mencium aroma kopinya.

Wanita ini pasti diam-diam mencampur sesuatu.

"Bisakah kamu mencoba dulu."

"Kenapa pak? Ini kan kopi anda. Masa suruh saya minum. Saya nggak suka dengan takaran kopi anda."

"Saya takut, karena kamu marah sama saya, mungkin mencampur sesuatu di dalam."

Dian menjadi kesal mendengar perkataannya. Bukankah ia sekarang sedang dituduh.

"Pak, jika anda sangat takut diracuni saya, kenapa anda menyuruh saya untuk membuat nya?"

"Jika anda tidak mau minum, ya tinggal dibuang saja."

Saat Dian akan mengambil gelas cangkir nya, Joshua menghentikan nya.

"Tidak perlu. Saya percaya."

Joshua meneguk sedikit. Ia mengecap beberapa kali. Merasa ada yang kurang.

"Terlalu manis."

"Saya sudah menakar sesuai permintaan bapak. Tapi kalau salah, ya berarti bukan salah saya. Saya juga baru belajar."

Joshua tersenyum melihat wanita di hadapannya itu, raut kesalnya kentara banget. Tapi ia segera menyadarkan dirinya kembali. Ia kembali serius pada berkas-berkas dihadapannya.

Wanita ini ternyata sangat berbakat dalam bisnis. Tapi kenapa bakat seperti ini disia-siakan ayahnya. Seharusnya, ayahnya lebih mendukung untuk setiap perkembangan putrinya. Apa mungkin dia sadar, karena kejahatannya di masa lalu, mungkin dia takut putrinya terancam.

"Ada apa? Kenapa melihatku begitu? Apa ada sesuai di wajahku?" Kata Dian risih, setelah diperhatikan Joshua sebegitunya.

"Aku sungguh tidak percaya. Kamu begitu pintar menyelesaikan semua masalah pada pekerjaan kami."

"Menurutku, urusan seperti ini, solusi nya selalu ada di dekat kita. Setiap masalah pun, pasti ada penyebab awalnya."

Dian melihat jam ditangannya. Sudah mau hampir jam 12 siang. Itu waktu nya jam istirahat.

"Masa adikmu ikut homeschooling selama ini?"

"Iya, dia ambil kelas tambahan. Semuanya diatur oleh nya sendiri. Katanya harus pergi denganmu, makanya kelas untuk besok diambil lebih cepat. Biasanya pun homeschooling nya, selesai jam 11 lewat 35 menit."

Mendengar kata-kata Joshua, membuat Dian terharu. Segitunya Cindy, dia juga sama-sama berjuang. Mereka sudah sama-sama berusaha.

"Sungguh, persahabatan yang bikin iri."

Demi bisa melukis untuk teman karibnya, Cindy seberusaha ini.

"Kalau gitu, apakah aku bisa pulang lebih cepat hari ini? Aku akan menunggu Cindy."

"Makan siang lah dulu. Lagian dia kan selesai jam 2. Untuk apa kau menunggu di sana. Justru kehadiran mu, malah bikin konsentrasi nya terganggu."

"Makan siang!" Dian memikirkan nya dulu, sebelum membuat keputusan.

"Baiklah, dimana? Aku akan ke sana."

"Ikut aku!" Joshua keluar dari ruangannya, diikuti Dian dari belakang seperti anak ayam. Ternyata mereka malah naik satu lift lagi.

Dian melihat bagaimana desain ruangan tersebut sudah seperti restoran bintang lima saja.

Salah seorang menyambung kedatangan mereka.

Seorang koki profesional datang dan menyambutnya.

"Pak Joshua, silakan menunya. Mau dibikinkan apa hari ini?"

Sang koki menyerahkan buku menu pada Joshua.

Joshua memeriksa satu persatu. Dian yang duduk berhadapan dengan Joshua, masih mengagumi bagaimana desain ruangan tersebut. Bagaimana seseorang bisa berpikir, untuk membangun restoran dalam perkantoran.

Di kantornya ayah angkatnya saja, malah di suruh turun ke kafe di seberang.

Ini sih namanya bos yang peduli sama karyawannya.

Tapi, bukankah dia punya koki pribadi. Bahkan siap melayani nya secara langsung. Lalu kenapa, bikin kopi harus minta pada asistennya.

"Buatkan kami berdua steak stoffer juice. Untuk minuman, aku hanya air putih saja. Soalnya aku baru minum kopi tadi."

"Baik tuan. Untuk nyonya?"

Dian masih memilah milih. Banyak sekali minuman yang tersedia pada menu. Bahkan makanan juga banyak. Tapi karena makanan sudah dipilih Joshua, dia tidak perlu memilih lagi. Meskipun dalam menu, sangat banyak yang ingin dia coba.

"Aku lemon tea saja."

Sang koki mengundurkan diri. Dan tinggal Dian dan Joshua berdua. Tempat itu masih agak sepi, hanya beberapa orang, tetapi mereka berada di meja yang jauh dari tempat Dian dan Joshua berada. Tidak ada pelayanan spesial seperti mereka.

"Aku penasaran, hadiah apa sebenarnya yang ingin dibuat adikku, sampai harus ikut dengan mu."

"Pokoknya ada. Aku sudah janji pada adikmu, untuk tidak memberitahu siapapun."

"Tapi aku kakaknya, aku berhak tahu."

"Mungkin kamu akan tahu nanti. Kan kamu akan menyuruh seseorang menemani adikmu. Biasanya orang seperti mu, lebih mudah mendapatkan informasi."

"Uhmm, uhmm. Padahal aku ini bosmu. Tapi masih tidak sopan."

"Oh, iya. Aku lupa. Tolong dimaklumin ya, lagian ini juga hari pertama. Bukan yang setiap harus dipelajari pertama kalinya."

Kata Dian dengan ekpresi yang terlihat jengkel pada Joshua. 15 menit lamanya menunggu, makanan mereka datang. Dengan penyajian yang sangat mewah, berserta saos kecap yang terlihat enak, dan daging yang dihias dengan cantik.

Potongan pertama yang dibuat Dian, terlihat sangat lembut dengan tingkat kematangan yang pas, bahkan aroma wangi bumbu, bisa tercium dari steak tersebut. Dian mencampuri dengan saos kecap yang terlihat lumer, dan....

"Hap.... Hummmm yammi." Satu suapan ke mulutnya, terasa sangat lezat. Bagaimana gigitan lembut setiap isi dagingnya, campuran saosnya yang merata, membuat daging tambah gurih dan juice.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!