NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 #Pemberontakan

​Suasana di dalam penthouse mewah yang terletak di lantai teratas salah satu pencakar langit ibu kota malam itu begitu hening, hanya menyisakan sayup-sayup suara bising jalanan dari balik dinding kaca tebal yang megah. Di tengah ruangan terhampar karpet beludru abu-abu gelap, di atasnya sebuah sofa kulit hitam berdesain minimalis Italia. Di sanalah Bara Fernandez duduk dengan santai. Satu tangannya memegang segelas minuman, sementara tangan lainnya memegang map dokumen tebal yang baru saja diserahkan oleh asisten kepercayaannya, Reno.

​Reno berdiri dengan sikap hormat di samping sofa, menanti tanggapan dari sang atasan. Baru satu jam yang lalu, setelah menyelesaikan rapat internal perusahaan, Bara memberikan perintah spesifik yang cukup mengejutkan Reno. Pria yang biasanya hanya memikirkan grafik saham dan ekspansi bisnis itu tiba-tiba memintanya melacak pemilik sebuah pulpen logam berinisial Z.A.S. dari Universitas Nusantara, jurusan Manajemen Bisnis. Bara ingin tahu siapa gadis yang berani menyentil harga dirinya kemarin malam itu.

​Bara membuka lembar pertama dokumen tersebut. Sepasang mata elangnya langsung terpaku pada sebuah pasfoto yang tertempel di pojok kanan atas. Foto seorang gadis muda berambut kecokelatan bergelombang indah, dengan tatapan mata yang berani dan seulas senyum tipis yang tampak menantang.

​"Zevanya Anneliza Sanjaya," gumam Bara, melafalkan nama itu dengan suara baritonnya yang berat dan rendah. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah garis senyum yang sarat akan ketertarikan.

​"Benar, Tuan Bara," Reno menimpali dengan sopan. "Gadis itu adalah putri tunggal dan anak kesayangan dari Bapak Tito Sanjaya, pemilik Sanjaya Group. Dia saat ini berada di semester akhir jurusan Manajemen Bisnis di Universitas Nusantara."

​Bara menyandarkan punggungnya yang tegap ke sandaran sofa, menutup map dokumen tersebut lalu mengetukkan jemarinya di atas meja kaca. "Putri Sanjaya... Menarik," bisik Bara pada dirinya sendiri.

​Pantas saja gadis itu memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi hingga berani menciumnya dan menyebut ciuman itu sebagai hadiah gratis yang harus disyukuri. Dia bukan wanita bayaran yang mencari keuntungan materi, dia adalah seorang putri konglomerat yang sedang bermain-main dengan kebebasannya.

Bara teringat sesuatu yang dikatakan kakaknya, Tomi Fernandez, baru-baru ini gencar membicarakan rencana perjodohan bisnis untuk Calvin, dan perjodohan itu diketahui dengan putri keluarga Sanjaya. Bara mendadak menyadari satu hal. Takdir tampaknya sedang menyusun sebuah skenario yang sangat menghibur untuknya.

****

​Satu minggu kemudian, suasana di dalam kamar utama kediaman Sanjaya terasa begitu tegang.

​Anya tidak bisa berhenti berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Jubah mandi yang dipakainya sejak tadi bergoyang mengikuti langkah kakinya yang menghentak kesal. Pikirannya benar-benar kalut. Selama seminggu ini dia sudah mencoba segala cara untuk membatalkan ide gila papanya, mulai dari pura-pura sakit, mengunci diri di kamar, hingga sengaja mogok makan malam. Namun, semua usaha mogoknya runtuh di hadapan ketegasan Tito Sanjaya yang tetap tidak bergeming. Malam ini adalah malam makan malam formal pertunangannya, dan Anya merasa seperti domba yang sedang digiring ke tempat pembantaian.

​"Aku tidak bisa pasrah begitu saja," gumam Anya, menghentikan langkahnya tepat di depan cermin besar. Matanya beralih menatap sebuah gaun berwarna soft pink dengan potongan sangat sopan dan tertutup yang tergantung di pintu lemari, gaun pilihan papanya yang dirancang untuk menampilkan citra gadis penurut berkelas.

​Anya mendengus sinis. "Papa ingin aku terlihat seperti boneka pajangan yang manis? No way."

​Otak cerdas mahasiswi Manajemen Bisnis itu langsung berputar, merancang sebuah strategi pemberontakan menit-menit terakhir. Jika dia tidak bisa membatalkan perjodohan ini dari sisi papanya, maka dia harus membuat pihak keluarga Fernandez sendiri yang merasa ilfil dan membatalkannya secara sukarela. Dia harus menghancurkan kesan gadis baik-baik yang mereka harapkan.

​Anya melangkah tegas ke dalam ruang pakaian besarnya, mengabaikan gaun pastel pilihan papanya. Jarinya menyusuri deretan pakaian hingga berhenti pada sebuah gaun yang sudah lama tidak dia pakai. Sebuah gaun desainer berwarna merah menyala. Gaun itu memang berlengan panjang dan berbahan beludru mewah yang jatuh dengan elegan hingga ke lutut, namun bagian depannya memiliki potongan deep V-neck yang berani, mengekspos garis dadanya yang seksi dan kulit putih mulusnya tanpa noda.

​Anya mengenakan gaun merah tersebut, memadukannya dengan riasan wajah yang sedikit lebih berani dari biasanya. Lipstik merah merona yang mempertegas bentuk bibirnya. Dia membiarkan rambut kecokelatannya yang bergelombang jatuh bebas di bahunya. Saat dia melihat pantulan dirinya di cermin, Anya tersenyum puas. Penampilannya malam ini memancarkan aura wanita nakal, berani, dan sama sekali tidak cocok dengan kriteria menantu penurut keluarga kolot.

​Tok..Tok..

​"Anya? Buka pintunya, Sayang. Kita harus segera berangkat," suara Tito Sanjaya terdengar dari balik pintu, disusul dengan knop pintu yang berputar.

​Begitu Tito melangkah masuk ke dalam kamar, langkah kakinya langsung terhenti. Pria paruh baya itu membelalakkan matanya, menatap putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan ekspresi syok yang tidak bisa disembunyikan.

​"Zevanya! Apa-apaan pakaianmu ini?" protes Tito dengan suara meninggi, wajahnya memerah menahan kesal. "Mana gaun yang sudah Papa siapkan? Kenapa kamu malah memakai gaun merah yang... yang kurang bahan di bagian dada seperti ini?!"

​Anya membalikkan tubuhnya dengan anggun, memasang wajah tanpa dosa yang paling meyakinkan. "Gaun pastel itu kesempitan, Pa. Anya merasa sesak napas pakainya. Lagian, gaun merah ini kan berlengan panjang, masih sopan kok."

​"Sopan dari mana kalau dada kamu terekspos seperti itu, Anya?! Kita ini mau bertemu keluarga Fernandez, calon mertuamu itu orang yang sangat menjaga kehormatan dan kehormatan keluarga! Ganti sekarang juga!" perintah Tito tegas.

​Anya melirik jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Dia sengaja mengulur waktu sejak tadi justru demi momen ini.

​"Nggak sempat lagi, Pa," sahut Anya santai sambil meraih tas tangan kecilnya. "Perjalanan ke hotel Stars di pusat kota butuh waktu setengah jam kalau tidak macet. Jam tujuh tepat kita harus sudah sampai di sana kan? Kalau Anya ganti baju dan dandan lagi, kita pasti terlambat. Papa mau membuat keluarga Fernandez menunggu di pertemuan pertama?"

​Tito Sanjaya seketika terbungkam. Dia melihat jam tangannya sendiri, lalu mengembuskan napas frustrasi sembari memijat pelipisnya. Strategi Anya berhasil memanfaatkan ketakutan papanya akan ketidaktepatan waktu.

​"Kamu ini benar-benar nakal ya, Anya. Sengaja membuat Papa jantungan," gerutu Tito akhirnya, meskipun dia tidak punya pilihan lain selain mengalah. "Ya sudah, ayo berangkat sekarang. Tapi ingat, nanti di depan mereka, jaga bicaramu. Jangan mempermalukan Papa!"

​"Iya, Papa Sayang," jawab Anya dengan nada manis yang dibuat-buat, meski di dalam hatinya dia sedang bersorak gembira.

.

.

​Sepanjang perjalanan di dalam mobil sedan mewah milik papanya, Anya hanya terdiam menatap keluar jendela, memperhatikan gemerlap lampu jalanan kota Jakarta. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena gugup akan bertunangan, melainkan karena harapan besar yang dia pupuk di dalam dadanya. Dengan penampilan berani dan kesan nakal yang sengaja dia tonjolkan malam ini, Anya berharap putra kebanggaan keluarga Fernandez akan langsung menolaknya mentah-mentah.

​Semoga saja perjodohan sialan ini batal malam ini juga dari pihak Fernandez, doa Anya berkali-kali di dalam hatinya saat mobil mereka perlahan memasuki area lobi hotel bintang lima yang menjadi tempat pertemuan takdirnya.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!